Buku pertama karya psikolog Barat yang mengeksplorasi kekayaan tradisi spiritual tasawuf sebagai jalan pengembangan pribadi.
Sarat gagasan pencerah mata-hati, buku ini mempunyai kekuatan untuk mengubah. Anda diajak untuk tumbuh—bertransformasi menuju kedewasaan sejati!
Diawali ulasan-komparatif yang tajam antara psikologi Barat dan psikologi sufi, buku ini menegaskan: pertama, tasawuf adalah pendekatan yang sangat holistik—mengintegrasikan fisik, psikis, dan spirit; kedua, ia menghindarkan jiwa dari bahaya model yang linear dan hierarkis, yang banyak ditemukan di berbagai sistem spiritual, model yang telah digunakan untuk membenarkan penindasan terhadap kaum perempuan dan kaum minoritas. Tasawuf adalah disiplin spiritual bagi semua orang dan semua budaya, tanpa kelas dan kasta.
Sebagai karya seorang profesor psikologi sekaligus mursyid sufi, buku ini memadukan kedalaman psikologi dan religius, kecanggihan sistematika pembahasan dan kelincahan bertutur yang menggugah!
Robert Frager tidak saja mengajak kita mereguk makna-makna simbolis pelbagai kisah, puisi, dan humor sufi, tapi juga menyuguhkan contoh-contoh keseharian yang menyenangkan dan latihan-latihan teratur untuk berhubungan dengan kearifan batiniah dalam diri, membuka hati, melesatkan jiwa, dan, di atas semuanya, merasakan kehadiran Tuhan.
***
Robert Frager, Ph.D. meraih doktor psikologi sosial dari Harvard University pada 1967. Tahun 1975, ia mendirikan the Institute of Transpersonal Psychology di Palo Alto, tempat kini dia menjadi guru besar psikologi. Sebelumnya, Frager mengajar psikologi dan studi agama selama 7 tahun di University of California, Berkeley dan University of California, Santa Cruz.
Pada 1985, ia dikukuhkan sebagai syekh atau mursyid. Selain menjadi psikolog transpersonal, konsultan, dan guru, kini sehari-harinya mengabdi sebagai Presiden Tarekat Jerrahi California dan sudah lebih dari 25 tahun menjadi pembimbing spiritual. Salah satu karya terbaiknya: Obrolan Sufi untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh.
Judul buku: Psikologi Sufi untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh Penulis: Robert Frager, Ph.D. Penerbit: Zaman, Jakarta Cetakan: Pertama, 2014 Tebal: 372 halaman
Ritme kehidupan manusia modern melaju dengan kecepatan tinggi. Rutinitas sehari-hari nyaris tak memberi jeda untuk sejenak merenung dan mengevaluasi terkait hal-hal mendasar yang sifatnya substansial. Tak heran, manusia modern kerap dihinggapi keterasingan.
Buku yang ditulis oleh Robert Frager, seorang mursyid yang juga doktor psikologi dari Harvard University, ini memberikan uraian sistematis untuk membawa pembacanya pada refleksi ke sisi terdalam diri manusia. Untuk masuk ke wilayah tersebut, Frager yang juga dikenal dengan nama Syekh Ragip al-Jerrahi ini tidak menggunakan perspektif psikologi Barat. Ia menggunakan pendekatan tasawuf.
Menurut Frager, psikologi Barat memiliki sejumlah kelemahan untuk bisa menyelam ke kedalaman diri manusia. Di antaranya, psikologi Barat menempatkan kesadaran rasional sebagai puncak kesadaran manusia. Selain itu, dalam kerangka psikologi Barat, perasaan akan identitas yang ditandai dengan harga diri dan perasaan yang kuat akan jati diri ego sangatlah penting. Padahal, itu semua akan menjelma tabir yang menghalangi diri manusia dengan Tuhan, unsur terpenting dalam pandangan dunia tasawuf (hlm. 38-41).
Salah satu kelebihan buku ini adalah uraiannya yang sangat sistematis. Setelah secara umum menjelaskan sudut pandang tasawuf dan perbedaannya dengan psikologi Barat dalam melihat manusia, Frager secara tertata menguraikan tiga unsur mendasar manusia, yakni hati, diri (nafs), dan ruh.
Dalam menjelaskan tentang hati, Frager menggunakan uraian sufi terkemuka, al-Hakim al-Tirmidzi, tentang empat stasiun hati. Menurut al-Tirmidzi, manusia memiliki empat stasiun hati, yakni dada (shadr), hati (qalb), hati-lebih-dalam (fu’ad), dan lubuk-hati-terdalam (lubb). Tiap stasiun menggambarkan tingkat spiritualitas yang berbeda. Dada (shadr) merupakan titik mula cahaya Islam yang menjadi tempat pertempuran kekuatan positif dan negatif. Jika kekuatan positif menang, unsur ilahiah dalam hati yang merupakan pusat spiritual akan menyala dan berkembang sehingga orang itu naik tingkat menjadi seorang mukmin (hlm. 64-66).
Di sisi lain, ada nafs (diri) yang dalam tawasuf digambarkan secara bertingkat. Manusia memiliki tujuh tingkat nafs yang juga menunjukkan tingkat spiritualitas. Namun, berbeda dengan empat lapis hati, nafs di tingkat terendah hanya menyimpan potensi keburukan. Itulah nafsu tirani. Saat manusia dikuasai nafsu tirani, yang terpikir olehnya hanya kenikmatan duniawi. Nafsu tirani menempatkan manusia pada posisi budak kesenangan pribadi. Ia kecanduan pada pujian. Sebagaimana namanya, ia menyerang diri manusia secara berulang dan berusaha membentuk menjadi kebiasaan (hlm. 102-105).
Transformasi diri terjadi saat seseorang bisa mengubah kekuatan utama yang menguasai dirinya dari nafsu rendah ke yang lebih tinggi. Secara berurut, ketujuh nafs itu adalah nafs tirani, penuh penyesalan, terilhami, tenteram, rida, diridai, dan suci (hlm. 99).
Sementara itu, ruh manusia tidak berupa lapisan atau tingkatan. Ruh manusia dalam model kaum sufi digambarkan memiliki tujuh dimensi. Ketujuh dimensi ruh itu—yakni ruh mineral, ruh nabati, ruh hewani, ruh pribadi, ruh insani, ruh rahasia, ruh maharahasia—memiliki unsur positif dan negatif sekaligus. Yang perlu dilakukan adalah menyelaraskan atau menyeimbangkan ketujuh sisi ruh tersebut (hlm. 164-167).
Selanjutnya, Frager menerangkan cara untuk menghidupkan hati, menjinakkan nafsu, dan menyeimbangkan ruh. Amalan-amalan tasawuf pada dasarnya mengarah pada hal tersebut. Frager menguraikan enam amalan utama tasawuf, yakni berpuasa, mengasingkan diri, adab, pelayanan, mengingat Tuhan, dan mengingat mati (hlm. 233-267). Selain keenam amalan tersebut, Frager menekankan pentingnya guru yang berperan sebagai pembimbing spiritual (hlm. 294-295).
Selain sistematika yang runtut, kelebihan buku ini adalah cara penyajiannya yang penuh dengan kisah penguat untuk mengantar pembaca pada refleksi mendalam. Selain itu, di setiap akhir bab, Frager memberi arahan berupa latihan yang bersifat praktis terkait tema yang dibahas.
Versi yang lebih pendek dari tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 15 Januari 2015.
Buku yang menarik, membahas ajaran2 dan praktik sufi dari kacamata psikologi barat. bahasanya mudah dipahami dan kaya sekali akan cerita2 sufi, sehingga membuat sufisme tampak lebih modern dan elegan. penulisnya, seperti menulis dengan hati, sehingga cukup dg membacanya saja, pikiran dan hati siapapun akan mudah tersentuh dan terenyuh. point plusnya, di buku ini juga diterangkan tentang bagaimana mengenali diri ; jiwa, ruh dan tingkatan2 diri yg lainya, termasuk mengajarkan bagaimana sebaiknya menjalani hidup. tidak seperti buku2 motivasi picisan lainnya, ini memang bukan buku motivasi, tpi setelah membacanya, kamu tidak akan pernah kekurangan motivasi hidup.
Kalau ada rating 10 saya kasih rating 10 untuk buku ini. Buku ini sangat bagus untuk dibaca, karena dapat menjelaskan persoalan Qalbu, dan Ruh yang tidak dibahas di psikologi barat. Bila mengikuti saran di buku ini insyallah dapat belajar memahami ruh dan qalbu sendiri.
This entire review has been hidden because of spoilers.
3.5 sih, sebenernya karena kebanyakaan teori, padahal lebih cocok diisi dengan kisahkisah yang lebih bisa menjelaskan maksud dari step by step memahami dunia sufi #biasa #yang #baca #sukanya #ngritik #aja :))
sebuah buku pembuka tentang mengenal diri sendiri, siapakah "aku" yang sebenarnya. membahas ruh dan hati perkara penting untuk kehidupan yang sering dilupakan.