Namaku Hardi Kobra. Kalau ada orang yang ngaku preman, penjudi, pembunuh, pemabuk, penzina, atau penguasa gelap suatu kawasan di Jakarta ini yang tak gemetar kala disebut namaku, pastilah dia orang baru di sini. Jika diadakan status jabatan presiden untuk dunia hitam ini, maka akulah presidennya! Berbagai jenis pertarungan, perkelahian, tawuran, dan pembunuhan pernah kulakukan. Bahkan, sekalipun kadangkala hanya atas nama sesuatu yang maya: kehormatan sebagai preman!
Itulah aku, Hardi Kobra, tapi itu dulu.... Di atas semua kemewahan dan kehormatan yang kumiliki sebagai penguasa dunia hitam di sini, di kala setiap preman tunduk atas titahku dan setia wanita nakal selalu setia dengan bangga menemani tidurku, aku tak kunjung menemukan jati diriku sebagai manusia yang berakal dan berhati. Jiwaku tak pernah bahagia dengan semua keduniawian ini. Ruhaniku selalu nestapa dan lara di atas semua kekejian dan kemungkaran ini.
Di manakah Engkau, Kebahagiaanku? Di manakah Engkau, Jiwaku? Di manakah Engkau, Ruhaniku?
Aku termasuk insan beruntung lantaran aku dihentakkan oleh suatu peristiwa mahadasyat yang menjebol semua kekelaman hatiku, Cahaya Keilahian itu begitu teduh menyelusupi hatiku, batinku, ruhaniku.
Inikah Yang Maha Kuasa itu? Inkah Engkau, ya Allah?
Novel inspiratif berlatar kisah kehidupan kelam dan keras dunia premanisme Jakarta ini menyajikan kesaksian-kesaksian perjuangan ruhaniah seorang pemuka preman paling digentari, Hardi Kobra. Setting nya yang kuat, alurnya yang kompleks tapi sangat terjaga, serta ledakan-ledakan konflik yang mengenaskan dan kadangkala mengharukan siap menghantarkan setiap kata untuk mengarungi jadad kelam premanisme ibukota. Sebuah bacaan religius Islam bercorak Thriller dengan citarasa lokal yang sanggup menggugah rasa penasaran pada setiap helainya... Inilah novel yang sangat inspiratif, yang akan menghantarkan Anda menjadi lebih menghargai kehidupan ini.
Andi Bombang (1970–2011). Ayahnya Bugis, ibunya Sunda. Masa kecil dilalui dengan penuh warna, antara lain pindah-pindah sekolah karena ayahnya sering berpindah tugas. Lulusan Institut Teknologi Bandung pada tahun 1995 kemudian bekerja sebagai wartawan. Tawaran bergabung dengan Gatra (kala itu Tempo barusan diberedel) terpaksa ditolak karena bersamaan dengan diterimanya dia di SDNP (Sustainable Development Networking Programme) di bawah UNESCO. Tidak lama di situ, beberapa bulan saja, kembali terdampar di sebuah grup perusahaan swasta nasional ternama. Merayap dari bawah, mulai dari Project Engineer sampai terakhir Operation Manager. Sepuluh tahun lebih, jenuh. Keluar, ceritanya mau wirausaha. Sambil itu, kembali menulis…. Kun Fayakun adalah novel perdananya.
kalo ada bintang 5 plus (kayak hotel aja), pasti aku kasih rating ini.
Di tengah kegalauannya sebagai preman top ibukota, dan di tengah pelariannya sebagai buronan tingkat atas, dia merasa hampa. Satu pertanyaan dalam hatinya "Tuhan itu Maha Tunggal tapi kenapa dia ada dimana-mana?, Maha Nyata tapi kok Maha Ghaib?" satu kalimat itu yang mengantarkannya pada sebuah pencarian tentang hakikat hidup, syariat islam, dan tarekat.
Bahkan saya baru bisa dalam tahap memahami dan mengerti apa yang dia tulis di 300 halaman terahir. Masalah 'rasa' yang dia tuturkan belum pernah kurasakan. Rindu dengan 'Rasa' yang dia jabarkan dalam buku ini. Begitukah keindahan semesta bertasbih? Begitu sempurnakah rasa rindu sama Sang Pencipta? Hingga surga bukanlah tujuan utama sang Hardi Kobra, tapi pertemuan antara makhluk dengan Allah lebih dirindukan dari pada apapun di muka bumi ini?
Bahkan ketika di akhir cerita, Hardi dihadapkan pada pilihan poligami, dia hanya memberikan 3 syarat. syarat 1: ditujukan kepada istri pertamanya, apakah dia rela untuk dimadu? syarat 2: ditujukan kepada calon istri keduanya, apakah dia juga rela dengan keadaan dirinya yang sudah memiliki istri dan anak? syarat 3: jika Allah menghendaki
Hardi Kobra pun menjelaskan jika pun syarat 1 & 2 sudah tidak masalah, namun jika syarat ke-3 tidak ada, maka pupuslah semuanya. Bagaimana dia menjalani hidup hanya karena Allah, bahwa langkahnya, geraknya, semua karena Allah semata. Kapan ya aku bisa gini? Rindu akan Engkau Ya Allah..
Kun Fayakun lebih enak dibaca dibandingkan novel2 religi yang lain, bahasanya mudah dicerna dengan setting yang mudah diingat, alur ceritanya bikin penasaran yang baca. Yang paling menarik adalah kita seolah-olah ikut terbawa ke dalam alur cerita, ikut deg.. deg.. an dalam pelarian Hardi Kobra, ikut terbawa dalam pencarian mursyid ... Membuat kita sadar Allah itu ada di mana pun kita berada, selalu ingat kepada Nya, Allah Maha Mengetahui, Allah mengampuni segala kesalahan2 kta asalkan kita benar2 ingin bertaubat dan kembali di jalan Nya....
Alur ceritanya bagus. walau ada beberapa yang seharusnya gak perlu, seperti penguasaan tenaga dalam, sepertinya dah gak jaman. Saya membayangkan kalau novel ini di film kan dengan gaya "merantau" misalnya, maka akan menjadi sebuah film yang dahsyat. akan menggambarkan sebuah pertarungan antara Yakuza dan kepala preman jakarta, akan ada kejar-kejaran dengan polisi. Tapi bagian yang menjadi kyai sepertinya gak perlu.
Kisah yang sangat menggugah, alurnya rapi, pembaca diantar secara perlahan kepada NYA...... sekalipun seorang penjahat, jika membaca ini, akan tergugah untuk kembali ke Jalan NYA... karena semua kita Dari NYA dan akan kembali kepada NYA...... Semoga Allah memberikan Rahmat dan kasih sayang NYA kepad Alamrhum Mas Andi Bombang, dan semoga semua buku-bukunya menjadi amal Jariah yang akan terus mengalir Pahalanya bagi beliau di Sisi Allah SWT....
Bagus. Banyak yang aq awalnya gak ngerti jadi ngerti. Misalnya ttg ilmu2 yang aneh2 tuh. Trus juga ajaran2...Ceritanya juga seru, gak romantis2an thok...