Terlepas dari persepsi apapun tentang Syaikh Abdul Jalil, atau yang terkenal dengan nama Syaikh Siti Jenar, buku ini menyajikan kisah yang dapat membuat kita terpental sebentar ke masa lalu, di kala sang tokoh kontroversial ini hidup.
”...Kesadaran San Ali tentang hakikat ’aku’ pribadi dan ’Aku’ semesta itu telah membawanya kesuatu hamparan kegamangan luar biasa dalam memaknai hidup. Jika sebelumnya, seperti murid2 padepokan yang lain, ia memiliki harapan besar untuk bisa menjadi penghuni surga yang penuh kenikmatan maka kini ia meragukan harapannya itu sebagai kebenaran mutlak. Bukankan surga pada hakikatnya adalah ’aku’ pribadi dan bukan ’Aku’ semesta yang menjadi sumber segala ’aku’? Bukankah ’aku’-ku akan menyatu dengan ’aku’ surga jika harapanku memang kesana? Bukankah agama mengajarkan intisari hakikat innalillahi wainnailaihi rajiun, yang bermakna sesungguhnya semua ’aku’ berasal dari ’Aku’, dan semua ’aku’ akan kembali ke ’Aku’ sebagai asal segala ’aku’...?”
”...Jika keberadaan ’aku’ pribadiku saja belum kuketahui hakikatnya, bagaimana mungkin aku mengetahui hakikat ’Aku’ semesta? Dan jika hakikat ’Aku’ semesta belum kuketahui, bagaimana ’aku’ bisa sampai kepadaNya?...”
Berawal dari pertanyaan2 itulah, maka perjalanan spritual San Ali, alias Abdul Jalil, alias Siti Jenar yang mengagumkan itu dimulai.
Buku kesatu dari pentalogi Suluk Syaikh Siti Jenar ini mencoba menceritakan sisi manusiawi seorang tokoh spiritual yang hidupnya berakhir dengan tragis. Tanpa bermaksud melakukan pembelaan, Penulis berusaha memaparkan sebuah biografi perjalanan hidup anak manusia dan pemikirannya yang penuh dengan logika sufistik yang memang kadang sulit dicerna dengan logika orang kebanyakan.
Tengok saja orang-orang yang tercatat sebagai guru-guru spiritualnya. Abdul Jalil tidak membatasi diri berguru hanya kepada orang suci yang disebut Syaikh saja. Namun ia juga belajar pada seorang Brahmana Hindu, mantan Perompak yang insyaf, saudagar kaya, ulama bobrok sampai pada pengemis yang mengais-ngais sampah, yang kesemuanya semakin mendekatkan dirinya pada ”Aku” yang dicarinya.
Sikap toleran Abdul Jalil didasari oleh ajaran pamannya, Ario Damar, alias Ario Abdillah. Sabdanya, ” O, Anak, Engkau tidak bisa menilai sesuatu ajaran sebagai sesuatu yang najis atau suci. Sebab, semua itu berasal dariNya. Semua milikNya. Perbedaan yang engkau lihat sebenarnya hanya pada tingkat penampakan indriawi belaka; hakikatnya adalah sama, yakni menuju hanya kepadaNya. Yang gelap maupun yang terang, semua menuju kepadaNya”
Nikmat sekali membaca suluk SSJ ini, seolah menyantap se krim yang membuat kita makin haus, begitulah kisah perjalanan ruhani SSJ dalam mencari Tuhannya. Yang menarik, diceritakan juga saat Abdul Jalil menemukan makna dari hijab-hijab misterius yang menyelubungi rahasia Illahi, suatu metafor mengenai tujuh samudera, tujuh gunung, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh rimba dan tujuh benteng.
Dengan segala daya upayanya, Abdul Jalil berusaha menyingkap hijab-hijab tersebut, salah satunya menanggalkan keakuannya, termasuk merelakan kehilangan segala yang dicintainya. Dikisahkan, sebagaimana layaknya seorang pemuda berusia baligh, Abdul jalilpun tak luput dari cobaan yang bernama cinta, terhadap seorang gadis cantik yang telah melabuhkan dirinya di rumput kerinduan.
”...Makin kuat ia berjuang menghalau keindahan nafsa dari relung-relung ingatan dan mahligai jiwanya, makin hanyut ia ke pusaran sungai kerinduan yang bermuara ke samudera cinta. Pikirannya terbang ke angkasa melintasi awan khayalan, menggapai rembulan dan bintang gemintang. Dan bagaikan burung patah sayap, begitulah ia merasakan dirinya terkapar tanpa daya melihat khayalnya terbang ke angkasa bermadu kasih dengan bayangan Nafsa, bidadari jiwanya...”
”...Ketika malam dibungkus selimut hitam, saat orang-orang meringkuk kedinginan dalam tidur lelap, Abdul Jalil duduk di teras Masjid al-Isthilam sambil membatin, ’Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, o musafir papa, yang tak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak akan pernah kehilangan apa-apa’”
Titik balik dari keterpurukan Abdul Jalil dari jerat cinta, adalah kala ia menemukan sahabat yang berasal dari Tabriz, yang mampu membuatnya melupakan nafsa.
Dan puncak perjalanan ruhaninya di buku kesatu ini adalah saat Abdul Jalil menjalankan Ibadah Haji, salah satunya adalah dimana ia diberikan penjelasan gamblang mengenai apa yang dimasud dengan Ruh al Haq, oleh seseorang yang sangat misterius.
Saya merekomendasikan buku ini untuk siapa saja, karena mungkin dapat membuka wawasan baru tentang seorang Sufi besar yang pernah hidup di tanah Jawa ini beratus-ratus tahun yang lalu.