Jump to ratings and reviews
Rate this book

Suluk Abdul Jalil Syaikh Siti Jenar #1

Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar

Rate this book
Buku-buku yang ditulis belakangan tentang tokoh kontroversial ini sekedar menjelaskan sebab musabab kenapa dia dihukum.
Orang hampir tidak pernah disuguhi riwayat pribadinya sebagai manusia beriman. Buku ini memberikan perspektif baru dalam cara baca-pandang terhadap sejarah. Dengan merujuk kitab-kitab versi Cirebon, novel ini mampu menghadirkan sisi-sisi kemanusiawian Syaikh Siti Jenar.

334 pages, Paperback

First published April 1, 2003

41 people are currently reading
708 people want to read

About the author

Agus Sunyoto

17 books88 followers
Agus Sunyoto, Drs., M.Pd.,
Pendidikan S1 diselesaikan di Jurusan Seni Rupa, FPBS IKIP Surabaya tahun 1985. Magister Kependidikan diselesaikan tahun 1990 di Fakultas Pascasarjana IKIP Malang bidang Pendidikan Luar Sekolah.
Pengalaman kerja diawali sebagai kolumnis sejak 1984. Tahun 1986-1989 menjadi wartawan Jawa Pos. Setelah keluar dan menjadi wartawan freelance, sering menulis no­vel dan artikel di Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, Republika, dan Merdeka. Sejak tahun 1990-an mulai aktif di LSM serta melakukan penelitian sosial dan sejarah. Hasil penelitian ditulis dalam bentuk laporan ilmiah atau dituangkan dalam bentuk novel.
Karya-karyanya yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku adalah: Sumo Bawuk (Jawa Pos, 1987); Sunan Ampel: Taktik dan Strategi Dakwah Islam di Jawa (LPLI Sunan Ampel, 1990); Penelitian Kualitatif dalam Ilmu Sosial dan Keagamaan (Kalimasahada, 1994); Banser Berjihad Melawan PKI (LKP GP Ansor Jatim, 1995), Darul Arqam: Gerakan Mesianik Melayu (Kalimasahada, 1996); Wisata Sejarah Kabupaten Malang (Lingkaran Studi Kebudayaan, 1999); Pesona Wisata Sejarah Kabupaten Malang (Pemkab Malang, 2001).
Karya-karya fiksinya banyak dipublikasikan dalam bentuk cerita bersambung, antara lain di Jawa Pos: Anak-Anak Tuhan (1985); Orang-Orang Bawah Tanah (1985); Ki Ageng Badar Wonosobo (1986); Khatra (1987); Hizbul Khofi (1987); Khatraat (1987); Gembong Kertapati (1988); Vi Daevo Datom (1988); Angela (1989); Bait al Jauhar (1990); Angin Perubah­an (1990).Di harian sore Surabaya Post: Sastra Hajendra Pang­ruwat Diyu (1989); Kabban Habbakuk (1990); Misteri di Snelius (1992); Kabut Kematian Nattayya (1994); Daeng Se­kara (1994-1995); Sang Sarjana (1996); Jimat (1997). Di ha­rian Surya: Dajjal (1993). Di Radar Kediri, sejak tahun 2000 hingga sekarang: Babad Janggala-Panjalu dengan episode: (1) Rahuwahana Tattwa, (2) Ratu Niwatakawaca, (3) Ajisaka dan Dewata Cahangkara, (4) Titisan Darah Baruna. Di harian Bangsa: Suluk Abdul Jalil (2002).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
115 (52%)
4 stars
54 (24%)
3 stars
30 (13%)
2 stars
6 (2%)
1 star
13 (5%)
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
Profile Image for Palsay  .
259 reviews38 followers
May 14, 2008
Terlepas dari persepsi apapun tentang Syaikh Abdul Jalil, atau yang terkenal dengan nama Syaikh Siti Jenar, buku ini menyajikan kisah yang dapat membuat kita terpental sebentar ke masa lalu, di kala sang tokoh kontroversial ini hidup.

”...Kesadaran San Ali tentang hakikat ’aku’ pribadi dan ’Aku’ semesta itu telah membawanya kesuatu hamparan kegamangan luar biasa dalam memaknai hidup. Jika sebelumnya, seperti murid2 padepokan yang lain, ia memiliki harapan besar untuk bisa menjadi penghuni surga yang penuh kenikmatan maka kini ia meragukan harapannya itu sebagai kebenaran mutlak. Bukankan surga pada hakikatnya adalah ’aku’ pribadi dan bukan ’Aku’ semesta yang menjadi sumber segala ’aku’? Bukankah ’aku’-ku akan menyatu dengan ’aku’ surga jika harapanku memang kesana? Bukankah agama mengajarkan intisari hakikat innalillahi wainnailaihi rajiun, yang bermakna sesungguhnya semua ’aku’ berasal dari ’Aku’, dan semua ’aku’ akan kembali ke ’Aku’ sebagai asal segala ’aku’...?”

”...Jika keberadaan ’aku’ pribadiku saja belum kuketahui hakikatnya, bagaimana mungkin aku mengetahui hakikat ’Aku’ semesta? Dan jika hakikat ’Aku’ semesta belum kuketahui, bagaimana ’aku’ bisa sampai kepadaNya?...”

Berawal dari pertanyaan2 itulah, maka perjalanan spritual San Ali, alias Abdul Jalil, alias Siti Jenar yang mengagumkan itu dimulai.

Buku kesatu dari pentalogi Suluk Syaikh Siti Jenar ini mencoba menceritakan sisi manusiawi seorang tokoh spiritual yang hidupnya berakhir dengan tragis. Tanpa bermaksud melakukan pembelaan, Penulis berusaha memaparkan sebuah biografi perjalanan hidup anak manusia dan pemikirannya yang penuh dengan logika sufistik yang memang kadang sulit dicerna dengan logika orang kebanyakan.

Tengok saja orang-orang yang tercatat sebagai guru-guru spiritualnya. Abdul Jalil tidak membatasi diri berguru hanya kepada orang suci yang disebut Syaikh saja. Namun ia juga belajar pada seorang Brahmana Hindu, mantan Perompak yang insyaf, saudagar kaya, ulama bobrok sampai pada pengemis yang mengais-ngais sampah, yang kesemuanya semakin mendekatkan dirinya pada ”Aku” yang dicarinya.

Sikap toleran Abdul Jalil didasari oleh ajaran pamannya, Ario Damar, alias Ario Abdillah. Sabdanya, ” O, Anak, Engkau tidak bisa menilai sesuatu ajaran sebagai sesuatu yang najis atau suci. Sebab, semua itu berasal dariNya. Semua milikNya. Perbedaan yang engkau lihat sebenarnya hanya pada tingkat penampakan indriawi belaka; hakikatnya adalah sama, yakni menuju hanya kepadaNya. Yang gelap maupun yang terang, semua menuju kepadaNya”

Nikmat sekali membaca suluk SSJ ini, seolah menyantap se krim yang membuat kita makin haus, begitulah kisah perjalanan ruhani SSJ dalam mencari Tuhannya. Yang menarik, diceritakan juga saat Abdul Jalil menemukan makna dari hijab-hijab misterius yang menyelubungi rahasia Illahi, suatu metafor mengenai tujuh samudera, tujuh gunung, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh rimba dan tujuh benteng.
Dengan segala daya upayanya, Abdul Jalil berusaha menyingkap hijab-hijab tersebut, salah satunya menanggalkan keakuannya, termasuk merelakan kehilangan segala yang dicintainya. Dikisahkan, sebagaimana layaknya seorang pemuda berusia baligh, Abdul jalilpun tak luput dari cobaan yang bernama cinta, terhadap seorang gadis cantik yang telah melabuhkan dirinya di rumput kerinduan.

”...Makin kuat ia berjuang menghalau keindahan nafsa dari relung-relung ingatan dan mahligai jiwanya, makin hanyut ia ke pusaran sungai kerinduan yang bermuara ke samudera cinta. Pikirannya terbang ke angkasa melintasi awan khayalan, menggapai rembulan dan bintang gemintang. Dan bagaikan burung patah sayap, begitulah ia merasakan dirinya terkapar tanpa daya melihat khayalnya terbang ke angkasa bermadu kasih dengan bayangan Nafsa, bidadari jiwanya...”

”...Ketika malam dibungkus selimut hitam, saat orang-orang meringkuk kedinginan dalam tidur lelap, Abdul Jalil duduk di teras Masjid al-Isthilam sambil membatin, ’Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, o musafir papa, yang tak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak akan pernah kehilangan apa-apa’”

Titik balik dari keterpurukan Abdul Jalil dari jerat cinta, adalah kala ia menemukan sahabat yang berasal dari Tabriz, yang mampu membuatnya melupakan nafsa.
Dan puncak perjalanan ruhaninya di buku kesatu ini adalah saat Abdul Jalil menjalankan Ibadah Haji, salah satunya adalah dimana ia diberikan penjelasan gamblang mengenai apa yang dimasud dengan Ruh al Haq, oleh seseorang yang sangat misterius.

Saya merekomendasikan buku ini untuk siapa saja, karena mungkin dapat membuka wawasan baru tentang seorang Sufi besar yang pernah hidup di tanah Jawa ini beratus-ratus tahun yang lalu.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
November 11, 2015
Semasa SMA, kawan saya memboyong ketujuh serial buku Suluk Abdul Jalil yg masih terbitan LKiS. Semasa itu tidak ada niatan membaca, karena bukunya berbentuk buku saku, kertas dan hurufnya membuat cepat lelah dan mengantuk. Apalagi dulu pandangan saya sudah kadung negatif terhadap Syaikh Siti Jenar, yang kalau dalam Jawa sangat dihindari.

Namun saat tahu diterbitkan ulang oleh Mizan, dengan format lebih 'ramah' di mata dan enak dipandang saat dijejer di rak buku, tak ada niatan untuk menyangkal dan membelinya.

Kisah dalam serial pertama ini lebih fokus pada bagaimana San Ali atau Abdul Jalil atau Syaikh Siti Jenar kelak, semasa muda dan menimba ilmu keilahiaan dan tasawuf dari berbagai sumber. Memang belum sampai pada kasus-kasus yang menjadi misteri akan kehadirannya dalam dunia kebatinan Jawa dan Wali songo. Namun yang snagat kentara adalah bagaimana San Ali tumbuh menjadi pemuda kritis dan selalu 'rewel' terhadap pertanyaan-pertanyaan.
Bahkan ada satu penggalan menarik bahwa penghuni surga dan pemaksiat di dunia itu sama. Bedanya adalah kapan waktu menikmati hal-hal indah (arak, wanita, kebahagiaan)-nya.


Ditunggu serial selanjutnya, agar pembacaan ini tidak rumpang.
Profile Image for Ali Yusuf.
28 reviews1 follower
January 14, 2009
"tak ada yang bisa mengajari manusia menuju jalan-Nya kecuali Dia sendiri, dengan jalan-jalan yang ditentukan-Nya."
kata-kata tu ada di dlm buku ini, dalem tu maknanya buatku.
Profile Image for Nanto.
702 reviews103 followers
January 28, 2011
Wayang versi komik adalah bagian dari upaya menyebarluaskan cerita wayang kepada hadirin pembaca yang lebih muda dan lebih luas lagi, tak perlu mereka yang bisa berbahasa daerah dan harus menunggu hajatan besar untuk tahu apa itu cerita wayang. Hal serupa terlintas dalam benak saya saat menerima buku ini dari seorang aki-aki durjana penggemar chiklit akut. Syekh Siti Jenar dalam format chiklit! Chiklitlit yang nyufistik! ho ho ho Anda boleh bersolek, anda boleh bergaul semetro-metro-nya, anda boleh belanja-belenji, asal semua menuju Sang Aku. Sophie Kinsela pun jadi tak jauh beda dengan Rabiah nantinya. :D

Tapi cerita itu hanyalah hayalan lebay saya sahaja. Kalau mau membaca chiklit yang nyufistik, tunggu saja si aki-aki durjana itu tersambar pencerahan karena colekan sendu dari Sang Aku hingga ke-aku-an si aki-aki durjana bersaksi bahwa chiklit yang terbaik adalah chiklit yang meng-Aku.

Buku ini bercerita tentang tokoh besar di tanah jawa, Syekh Siti Jenar, a.k.a Syekh Lemah Abang, a.k.a San Ali. Cerita panjang mengenai latar belakang perjalanan hidupnya, jauh sebelum peristiwa perselisihannya dengan "Wali Sanga" yang berujung pada hukuman mati yang terkenal itu. Buku ini berupaya menggali sosok Syek Siti Jenar dari historiografi yang jarang dirujuk, naskah yang tersimpan di Kasultanan (kasunanan) Cirebon. Selain itu, buku ini menggali juga tradisi yang masih dilakukan oleh sejumlah pesantren di sekitaran Gunung Jati yang diwarisi sejak masa Syekh Siti Jenar nyantrik di sekitar wilayah Cirebon.

Hal itu menarik buat saya. Cirebon sendiri, setahu saya, menyimpan sejumlah naskah yang jaman penulisannya relatif lebih awal dibandingkan sejumlah naskah yang tersimpan di Solo atau Yogya. Ada beberapa naskah yang cukup menghebohkan yang sempat saya dengar, seperti penyebutan bahwa Raden Wijaya dari pihak bapak merupakan bangsawan Galuh. Hal yang menimbulkan sebuah hipotesa bahwa hal itu yang membuat Galuh tetap eksis sebagai kerajaan otonom meski wilayahnya dekat dengan kekuatan besar semacam Majapahit saat dibawah pemerintahan Hayam Wuruk, meski kemudian timbul perdebatan seputar otentisitas naskah karena bentuk susunannya yang sangat western (CMIIW).

Lepas dari persoalan itu, buat saya, naskah-naskah lokal yang tersedia yang belum banyak diungkap itu justru memunculkan gambaran yang jauh dari "sejarah" yang umumnya diamini oleh mayoritas masyarakat. Sumber lain yang kesannya dibiarkan membisu, atau dipaksa bungkam kerena "keliaran" ceritanya yang dapat menggugat kemapanan bayangan yang terlanjur diterima sebagai kebenaran sejarah sekian lamanya. Hal lain yang menarik adalah penggalian artefak dari tradisi yang masih diwarisi dari jaman San Ali masih nyantrik di sekitar Caruban merupakan kerja penelitian yang menarik, menyaring bagaimana sistem kemasyarakatan bertarung dengan zaman dalam rentang waktu yang demikian panjang. Hal ini mengingatkan tentang cara Geertz merekonstruksi Bali di masa lampau dengan sejumlah bukti hidup yang masih dilakukan oleh masyarakat di keseharian.

Dua hal itu, naskah lokal yang menjadi sumber historis alternatif, dan penggalian tradisi yang menyisakan artefak masa lampau yang membuat saya terkesan dengan buku ini.

Di dalamnya terdapat beberapa hal yang menguatkan dugaan saya tentang jalinan nusantara, termasuk tentang gelaran yang mirip yang tersebar tidak hanya di Jawa, tetapi juga di Sumatera, hingga ke Malaka. Penyebutan Cirebon dengan kasunanan, Susuhunan Kudus, membuat kita harus lebih peka bagaimana pengaruh bahasa asing terhadap sistem aristokrasi lokal yang terbentuk di era banyak kekuatan lokal tumbuh di Nusantara. Konon hal itu terjadi di masa Majapahit sedang surut pengaruhnya. Persoalan etnisitas dan keragaman yang berkembang pun menjadi lebih menarik karena Nusantara pada saat itu menjadi wilayah dengan keragaman yang terbilang tanpa hegemonik, Majapahit yang Hindu-Budha dengan panganut mayoritas namun kekuatan politiknya menurun, sedangkan kelompok islam yang minoritas namun dengan pengaruh politik yang berada pada kecenderungan meningkat. Di dalamnya terlihat bagaimana etnisitas dan keragaman dapat menjadi sumber keberkahan atau menjadi alat politisasi bagi kepentingan penguasa.

Hal penting yang jadi benang merah dalam buku - yang ternyata berseri - ini buat saya adalah perbedaan perspektif. Buku ini mencoba membangun sebuah perspektif emik atas sosok Syekh Siti Jenar. Perspektif yang jarang bisa ditampilkan dari naskah lokal atau sumber lisan yang cenderung diamini masyarakat luas. Syekh Lemah Abang yang mewarisi hingga kini istilah Abangan bagi pengikutinya telah menjadi sisi terpinggirkan yang jarang diajak bicara, sehingga kerap pemahaman yang tersebar luas tak lain hanyalah obyektifikasi atas kelompok bisu berabad-abad. Buku ini kiranya bagian dari melihat kelompok abangan sebagai subjek yang berbicara (yang entah sama atau tidak dengan istilah yang digunakan Geertz, atau juga kelompok yang dilabeli sebagai kiri karena abangan juga bisa berarti merah). Apakah dengan buku ini kaum abangan berhasil menjadi subjek, meng-aku seperti junjungan mereka yang mencari aku-nya untuk bisa bertemu dengan Sang Aku?

Jawabannya buat saya masih menunggu hasil laku perburuan seri berikutnya. Ada yang bisa membantu saya mendapatkan keseluruhan seri buku ini secara utuh? :D Tidak mungkin kan saya harus menunggu bertahun-tahun kedepan agar Aki Durjana menghadiahi satu seri saban saya ulang tahun.
Profile Image for Izza.
388 reviews8 followers
May 28, 2017
Awalnya agak ragu-ragu bisa mengikuti jalan cerita dengan baik. Karena kesan awal saya adalah ini novel kok temanya agak berat ya bagi saya. Tetapi setelah saya memulai membaca dan menikmati jalan cerita San Ali yakni Abdul Jalil, ternyata gaya bahasa dan plot mudah dicerna. Banyak pelajaran berharga mengenai sejarah islam di Nusantara dan nilai-nilai keagamaan dan iman saya dapatkan di buku ini. Saya sangat bersyukur bisa belajar banyak dari kisah Syekh Siti Jenar.
Profile Image for AOKHI.
4 reviews1 follower
March 7, 2016
Penafsiran kembali Kyai Sunyoto atas teks Caruban yang menjadi salah satu sumber dari Suluk Abdul Jalil ini patut diapresiasi. Kita akan kembali membaca penelusuran dan penafsirulangan masa lalu dimana monarki di Nusantara selama berabad lamanya pernah menjadi patron dalam tata kelola kehidupan berNusantara. Abdul Jalil digambarkan sebagai manusia paripurna melalui pengembaraan dirinya ; darimana asal, muasal leluhur, dan bagaimana proyeksi spiritualnya di antara usaha menyebarkan kalam ilahi di Nusantara. Penelusuran riwayat Abdul Jalil sendiri tersaji sangat rigor, kompleks, atau runut. Yang menjadi catatan adalah perlu pemisahan antara tafsir berdasar imaji dan fakta, dalam konteks novel ini pembaca musti kritis membaca supaya tidak tejebak pada generalisasi pelabelan atau satu kebudayaan berdasar cara pandang nilai baru yang datang dari universalisme versi pengarang yang mengatasnamakan terminologi Abrahamik. Cerita tentang kultur warga Nusantara seperti Pajajaran dan Majapahit dapat diverifikasi mengingat sejarah yang telah mereka torehkan selama berabad lamanya untuk diambil saripati dan kontekstualisasinya bagi hari ini. Ini bukan semata romantisme narsis tapi peran masa lalu adalah cerminan bagi kita manusia Indonesia hari ini yang semakin terasing dengan identitas originnya dan lebih implementatif pada seperangkat cara pandang di luar kultur Ibu mereka sesungguhnya.
Profile Image for Diaz Amar.
5 reviews
December 30, 2020
Syaikh Siti Jenar merupakan sosok yang kontroversial, ada yang menyebut dia orang saleh, namun tidak sedikit juga para 'ulama yang menyebut dia sesat. Terlepas dari berbagai pandangan tentang dirinya, saya penasaran bagaimana perjalanan hidup dia hingga berakhir menjadi pribadi yang seperti itu.

Saya menemukan jawabannya melalui buku ini. Buku ini menyajikan perjalanan hidup Syaikh Siti Jenar secara rinci disertai dengan penjelasan-penjelasan berdasarkan dalil dan logika berpikir tentang konsep hamba dan ketuhanan. Membaca buku ini perlu kehati-hatian karena konsep yang coba untuk disampaikan penulis merupakan sesuatu yang asing di kalangan umat beragama di Indonesia.
Profile Image for Hippo dari Hongkong.
357 reviews198 followers
Want to read
December 7, 2009
baru mulai baca pengantar dari KH A. Mustofa Bisri

"Apa yang bakal terjadi jika "akidah" penguasa sama dengan Syaikh Siti Jenar?

pertanyaan yang cukup menggelitik.
baru ngeh kalo ini buku pertama dari enam seri. kirain cuman atu. beuh..
7 reviews
May 27, 2020
buku membangkitkan semangat ruhani saya, khusunya agar lebih mensetubuhi agama yang saya anut, meskipun buku ini cukup ekstrem jika dibaca orang awam
Profile Image for Itus Tacam.
61 reviews2 followers
November 8, 2017
Duwulu banget pas aku masih esempe aku dengar nama siti jenar disebut sebut di kalangan mereka. Ibarat kereta api aku ketinggalan kisah mengenai beliau.

Semenjak itu kutafsiri sendiri bahwa siti jenar itu nama seorang wanita. Wanita kesatria wali wali, seorang pejuang serupa cut nyak dien.

Aku semakin percaya karena nama siti umumnya diberikan kepada bayi perempuan. Khususnya yang memeluk agama islam. Jadi dalam bayanganku, kata siti terdengar santun dan kearab araban. Masyarakat lawas gemar sekali menamai anak mereka dengan siti. Siti badriah misalnya yang bahkan eksis, tak tergerus, tak tergusur oleh olengnya jaman.
Selain itu, penulis perempuan yang kemunculannya di kala aku esema disinggung sunggung berbau amis alias vulgar dengan issue remaja, siapa lagi kalau bukan pemilik nama djenar mahesa ayu.

Terkutuklah aku andai bila yang empunya nama mengetahui hal tersebut. Lambat laun dengan sendirinya aku dituntun. Benar dituntun oleh siti itu sendiri. Ketika aku mengetahui bahwa temanku kerap menuliskan "siti hinggil" dan siti siti yang lain untuk menunjukkan nama sebuah tempat dalam titimangsa tulisannya. Aku menafsirkan sebuah tempat di jogja yaitu sebuah pendopo. Namun, saat aku melihat foto narsis seorang traveller, terdapat sebuah papan di puncak entah gunung entah bukit yang bertuliskan "siti inggil" dan itu bukan jogja.

Mau tidak mau akupun kepikiran. Nyatanya, siti itu serapan kata dari bahasa jawa yang berarti tanah. Sehinggan benar saja, siti inggil bukan saja diartikan nama tempat tertentu melainkan lebih luas lagi menunjukkan sebuah posisi tempat yang lebih tinggi, suci, serta difungsikan untuk kegiatan terpuji.

Jadi clear si siti itu tidak memiliki gender, baik laki laki maupun perempuan. Thats why siti digunakan untuk perempuan, aku mencerna berdasarkan kitab "perempuan* adalah ladang (bercocok tanam)". Jika disesuaikan konteks kali ini ladang memerlukan media tanam yaitu tanah. Sehingga perempuan disimbolkan dengan tanah.

Sedangkan untuk syeikh siti jenar didasarkan pada sejarah pemberian nama atau gelar oleh penguasa/masyarakat di sebuah tempat tertentu. Nama lain syeikh siti jenar dirujuk dari nama syeikh lemah abang. Lemah yang artinya tanah. Lemah abang sendiri merupakan sebuah wilayah di nusantara (maaf aku lupa pada masa kerajaan apa).

*) tepatnya "istri".
...

Pendeknya, agus sunyoto mempermudah aku mengenal sejarahnya syeikh siti jenar lewat sebuah novel. Sejak awal kukatakan sejarah itu membosankan, tapi dengan cara dikisahkan kembali dengan lebih ringan lewat novel, sisi imajinasi itu terasa lebih dekat dan informasi lebih gampang diserap meskipun bobot kebenaran mutlak sejarahnya akan lebih susah dibuktikan. Sebab, penulis amat menyadari bahwa fakta sejarah kadang kalah berhembus dibandingkan laju karya hikayat, babat, dongeng, mitos yang bisa saja dibuat buat sesuai kepentingan (propaganda, politik, kekuasaan, fitnah, dll).

21 reviews
March 21, 2021
Walau penggunaan bahasanya sulit untuk dicerna, dan pembawaan cerita yang berbalut tasawwuf, buku ini tetap terasa magikal dan membawa pembaca menyelami sejarah Syaikh Siti Jenar yang tercoreng namanya hingga sekarang.
Profile Image for Risna.
44 reviews12 followers
July 24, 2016
Jadi serial ini tuh biografi Syekh Situ Jenar, atau Syekh Lemah Abang, atau aku lebih suka menyebutnya San Ali, biar lebih akrab. Bapak Sunyoto penulisnya selalu bilang tentang buku ini, "Orang hampir tidak pernah disuguhi riwayat pribadinya sebagai manusia beriman," sebab kebanyakan pencitraan dirinya amat lekat dengan absurditas, ketakjelasan riwayat, sementara Pak Sunyoto bilang ia menulis ini berdasarkan babad apa apa gitu ya lupa males ngingetnya.

Jadi buku ini tuh perpaduan riwayat spiritual dan sejarah pada masanya yang melingkupinya. Memang agak gimana gimana gitu ketika katakanlah, narasi bimbingan spiritual ditulis berpadu dengan riwayat genealogis, ketika timbul tenggelam dalam suasana batin tetiba kita dipaksa untuk mengingat nama-nama, hahaha, kan lutjhuw. Jadi memang mungkin buku ini sengaja ditulis seperti itu biar dua tujuan itu tercapai, meskipun agak lucu jadinya kesannya. Eh, kesan saya.

Ada satu pertanyaan, karna saya tak mengenal Bapak Sunyoto, apakah Bapak itu mengerti apa tidak yang ditulisnya soal perjalanan atau fase fase perolehan derajat spiritual? Bagi saya, pengungkapannya dalam buku ini masih terlalu sangat teoretis. Berbeda dengan, lagi-lagi, Om Dozto--bila boleh saya sebut, ia terlihat sangat memahami ilmu kejiwaan dan strateginya dengan membuat karakter dan cerita yang dapat kita renungi secara praktis, dus cerita itu merupakan katalis bagi perjalanan ruhani kita sendiri secara langsung dalam mengenali aspek dalaman diri kita.

Oke mungkin cukup sekian dulu. Kita lanjut ke nomor dua, akan ada apakah gerangan? Kita lihat saja. Tapi btw, kurang seru ini, meski kepenasaranan saya membuatnya agak ga banyak mengantuk. Tapi yasudah dulu sajalah ya.
Profile Image for Ari.
7 reviews4 followers
October 2, 2007
sebagai sebuah novel memang tidak begitu terasa kaidah sastranya. Paparan tentang tahapan perjalanan ruhani pun sudah banyak buku yang menjelaskan. Yang unggul dari buku ini adalah kajian sejarahnya yang dalam serta mengambil perspektif yang berbeda dari selama ini saya pahami.
Profile Image for Tri Ahmad Irfan.
96 reviews
December 1, 2016
"Buku-buku yang ditulis belakangan tentang tokoh kontroversial ini sekadar menjelaskan sebab musabab kenapa dia dihukum. Orang hampir tidak pernah disuguhi riwayat pribadinya sebagai manusia beriman."
Profile Image for Anung.
5 reviews1 follower
September 29, 2007
c'est toujours bon, comme le trosieme coran. le premiere est le coran, le seconde est al hikam ibnu atha'illah, et le troisieme est ce-la.
Profile Image for Anwar.
33 reviews1 follower
March 7, 2009
menarik sejak kata2 awalnya..
gw selesaikan dlm waktu sejam, non-stop..
cari yg kedua ah..
Profile Image for Juan Rush Fox.
1 review1 follower
May 21, 2013
perjalanan nya cukup menarik ..bacalah semoga anda mendpt maafaat dr nye ...
1 review
November 9, 2014
Kebebasan dan keindahan alam ini terlalu indah untuk dilewatkan, menuju alam yang liar, jalanan adalah sekolah dan alam adalah rumah, dan jalan keluar selalu mengarah ke barat.
Displaying 1 - 23 of 23 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.