Dimulai dengan cerita Hazel yang hadir dalam kegiatan perkumpulan yang terpaksa di hadirinya atas saran dari dokter langganannya dan paksaan dari Ibunya yang menginginkan Hazel untuk lebih banyak beraktivitas di luar rumah dan tidak hanya mengurung diri di dalam kamarnya yang dianggap oleh sang Ibu sebagai salah satu gejala depresi. Padahal Hazel hanya ingin hidup biasa saja, menghabiskan waktu dengan seminimal mungkin menjadi menjalin interaksi dengan orang lain. Hazel, Gadis berusia 16 tahun si narator dalam buku ini, menderita kangker tiroid metastasis (penyebaran kangker kebagian lain tubuh) dan sudah menyebar ke paru-parunya, memutuskan pada akhirnya dengan terpaksa untuk datang ke perkumupulan itu dan di sanalah dia bertemu dengan Augustus Waters, cowok mantan pemain basket berusia 17 tahun yang menderita osteosarkoma dan harus mengamputasi salah satu kakinya, seperti kebanyakan kisah pada pertemuan yang menimbulkan percikan antara satu dengan yang lain, maka terjalinlah kisah diantara mereka, kisah yang sudah memiliki kepastian yang diketahui oleh masing-masing bagaimana kisah tersebut akan berakhir.
Menyenangkan rasanya mengenal Hazel yang juga suka membaca buku, beberapa bagian cerita membahasa kegiatan Hazel membaca buku dan komentar-komentarnya tentang isi buku atau tokohnya, mengingatkan pada diri sendiri. Obsesi Hazel pada satu buku berjudul An Imperial Affliction (Kemalangan Luar Biasa) yang di tulis oleh penulis bernama Peter Van Houten yang menurutnya adalah karya terbaik dan begitu jujur, buku yang begitu dekat dengan kehidupan Hazel (tentu saja kita akan menyukai buku yang seperti ini), membuatnya mengagumi Van Houten sebagai penulis yang jenius dan merekomendasikan buku ini pada Augutus.
Dan setelahnya Augustus pun merasakan perasaan yang sama dengan Hazel kesal dengan buku karya Van Houten yang memiliki ending mengantung dan membuat penasaran mereka berdua, sampai akhirnya Augustus berhasil melacak keberadaan Van Houten melalui asistennya, dan begitulah cerita singkat yang mengantatkan Hazel dan Augustus mengunjungi Amsterdam.
Hubungan yang menyenangkan antara Hazel dan Augustus yang bertukar buku bacaan satu sama lain dan membahasnya bersama.
Buku ini menyajikan hampir seluruh isinya membahas tentang kehidupan seorang gadis remaja penyitas kangker, hidup dengan kangker dan bukan sekarat gara-gara kangker, dengan segala peralatan yang mendukungnya untuk tetap mendapatkan oksigen yang cukup bagi paru-parunya. Kehidupan yang tidak kembali normal, dan Hazel mengatakan mengibaratkan dirinya sebagai granat yang bisa meledak sewaktu-waktu, dan dia berusaha meminimalkan korban yang akan terkena ledakannya, jadi untuk itulah dia berdiam diri di rumah menghabiskan waktunya untuk membaca, memutuskan untuk tidak berteman dengan siapapun, karena Hazel tidak ingin melukai siapapun.
Indiapolis yang dingin dan lembab menjadi saksi biksu yang cerita Hazel dan Augustus terjalin, tentu saja ini karena John Green tinggal disana. Kemudian Setelah Indiana Hazel dan Augustus mengajak pembacauntuk menelusuri Amsterdam, dengan segala kanal dan perahunya serta gedung-gedung tuanya yang menjadi bagian dalam keberhasilan Augustus memenangkan hati Hazel.
Keseluruhan cerita berasal dari sudut pandang Hazel sebagai Narator, dan tentu saja semua yang terjadi di gambarkan dari sudut pandang Hazel yang menurutku cukup detail, membuat pembaca merasakan apa yang di alami oleh karakter lain atau apa yang sedang terjadi. Dan sepertinya ini menjadi ciri khas John Green pada setiap bukunya yang menggunakan sudut pandang orang pertama (koreksi jika salah, karena aku baru membaca dua buku karya John Green).
John Green menyampaikan pada akhir bukunya bahwa setiap kejadian yang berhubungan dengan kangker dalam buku ini seperti obat yang membantu Hazel menjadi lebih baik adalah fiksi belaka. Dan sepertinya aku menemukan kesamaan anatara buku ini dengan karya Van Houten, maksud ku antara Hazel dan Anna, benarkah?