Sore itu, saat Jakarta baru saja hujan, koper-koper besar telah terisi penuh. Sahabat saya itu benar-benar telah siap berangkat. Perasaan kami menjadi sedikit melankolis. Tentu kami bergembira akan keberangkatannya ke Eropa, tetapi perpisahan untuk waktu yang lama membuat kami bersedih juga.
“Surel dariku akan menghujanimu!” “Kita akan berkontak lewat Skype!” “Aku akan menyusulmu ke sana!” “Tentu saja kau akan menyusulku, tinggal naik Kopaja!” Kami pun terkikik-kikik.
“Tuliskanlah untukku kisah-kisah perjalananmu di sana. Ceritakanlah tentang bunga tulip, tentang jalan yang dilalui Jesse dan Celine di film Before Sunset, atau tentang rumah para vampire di Rumania,” pinta saya.
“Tuliskanlah juga kepadaku kisah-kisah petualanganmu. Tentang senja-senja terbaik yang kau lihat, juga tentang kawanmu yang ganjil itu, si Arip Syaman,” pintanya.
The Dusty Sneakers pun dimulai. Lewat kata, Gypsytoes dan Twosocks berusaha memaknai setiap perjalanan, dan tentu saja, menjembatani jarak yang jauh di antara mereka.
Catatan dari Paris yang bercahaya menyapa renungan di titik nol di Merauke. Pekat malam puncak Merapi larut bersama sudut misterius Kota Praha. Siprus yang berwarna biru mengisi wajah Bali yang murung sebelah. Ini adalah kisah-kisah si gadis petualang kutu buku dan si pemuda melankolis yang terkadang jenaka. Kisah yang menggantikan bincang-bincang mereka di antara bercangkir-cangkir teh dan kopi, kisah kawan di ujung sana.
Catatan perjalan dari para pembelajar dan pembaca selalu menyenangkan saya - travelogue favorit saya masih Motorcycle Diaries-nya Che Guevara. Banyak yang bisa menikmati perjalanan, tapi cuma sedikit yang bisa memaknainya, dan bukan sekadar renungan sok bijak. Beruntung bukan pengikut blog Dusty Sneakers, sehingga kisah-kisahnya terasa baru bagi saya. Shakespeare & co, kisah Golem, gunung Ceremai, Arip Syaman, orang Baduy, Bangalore, dan beragam kisah yang saling berjauhan, sekaligus saling melengkapi.
Like all good things in life, this book is liberating.
"The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana" do not pretend to know the formula to a perfect trip which will generically work for everyone. Hence, while other books on travelling usually dwell too much on the features of various destinations, talking mostly in an advertisement-like pitches to consumers of beautiful places, Kisah Kawan di Ujung Sana takes an honest approach by sharing primarily about memorable and genuine connections they felt towards a place.
This is then not a book where you can find information about the perfect place to go for your next holidays, or what to do in a particular place. In fact, this is not a book about answers. And I love this, because I believe that wanderlust is fueled less by answers than good questions, and fulfilling escapades is less about knowing than experiencing.
As I slowly go through stories of connections made by The Dusty Sneakers to places they visit, I find that reading this books gave me the joy of bumping into a dear friends whom you haven't seen in ages while travelling somewhere for the first time. The homeyness of any place will surely increase at least tenfold by presence of such friends. And it just so happen that home, family and friendship are among the leitmotif of this book (with a dash of reflections about various things from social injustice, literary histories and development issues, which perhaps can be seen as sweet spillovers from their endless curiosities as well as their day job as development workers).
Akin to the calming force from the strokes within Hokusai's famous painting of the Great Wave of Kanagawa, "The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana" danced beautifully in between various entangled yet seemingly contradictory forces.
"...This reminds me of an imperfect comfort I felt in a place that I couldn't entirely call home" said Gypsytoes in one chapter, reminiscing about her childhood home in Jakarta while travelling to Taipei, after subtly yet powerfully piercing the veil of silence surrounding what happens to her fellow Chinese Indonesian in the 1998 riots in Jakarta.
In other chapter, Twosocks evokes a haunting picture about commodification of religious & cultural life in his home, Bali: " When visitors' enjoyment becomes king, genuine veneration towards local culture becomes eroded... [How sad it is today] to see gifted artists from villages around Bali being moved around by trucks like a herd of cows to perform at luxurious hotels". Teddy then closed the chapter not with an answer, but with a delicate commitment to realize another world where the old adage "No paradise has a future", is wrong.
Another pleasurable features of this book is its ability to make me feel that I can reenact the joy that Gypsytoes and Twosocks felt in their trip wherever I am at the moment, so long as I can borrow their grateful appreciation to the major minor details of my mundane and imperfect existence.
Siapa sangka kedua penulis ini kemudian mendirikan POST, bookshop yang cukup terkenal di kalangan kami para pembaca. Mungkin di antara cerita penjelajahan mereka dalam buku ini yang menginspirasi mereka, untuk membuat sebuah "rumah" yang nyaman bagi pembaca di tengah belantara kota Jakarta
Tak hanya sekedar membaca catatan perjalanan, dalam buku ini saya dibawa untuk menyelami sendi-sendi kehidupan. Bagaimana seorang manusia yang pergi ke Eropa untuk menyelesaikan pendidikannya, bertemu dan menjelajahi tempat baru. Benar saja bahwa suatu perjalanan adalah cara terbaik untuk mengenal diri sendiri. Tak banyak yang dapat memaknai setiap perjalanannya Twosocks dan Gypsytoes tahu betul arti sebuah perjalanan.
Genrenya memang memoar. Jadi isinya memang sebuah catatan perjalanan.
Gypsytoes dan Twosocks. Nama karakter yang dipilih untuk menuliskan kisah perjalanan mereka dari Belanda dan Indonesia. Dan sangat terasa perbedaan cara bercerita mereka. Gypsytoes lebih ke arah kisah tempatnya, sedangkan Twosocks lebih cenderung sisi manusianya. Gypsytoes yang terstuktur menjelaskan sejarah setiap tempatnya dan Twosocks yang menyentil hati dengan obrolan orang asli. Teknis dan emosi. Apalagi di awal-awal langkah.
Satu hal yang sama : dua-duanya sangat terasa berasal dari hati dan passion. Dan dua-duanya membuat saya ingin segera memakai sneakers saya dan berkelana ke berbagai tempat. Dan membuat rindu sahabat.
Tapi tetap saja yang terbayang adalah Mbak Maesy dan Mas Teddy. Bagaimana serunya mengobrol bersama mereka saat saya berkunjung ke Post Santa. Yes, terus terang beli buku ini karena saya fans Mas Teddy dan Mbak Maesy. Mereka adalah pasangan super keren (mereka yang punya toko buku Post di Pasar Santa.) Dan baca tulisan-tulisan di blog mereka, saat berkunjung ke sana langsung ambil buku ini (dan sekalian minta tanda tangan.)
Hmm, next time bakal tanya sudah berhasil diajak ke gunung belum ya Gypsytoes?
“Kami akan menulis pengalaman-pengalaman pribadi yang kami alami, perasaan-perasaan yang timbul, obrolan-obrolan yang tercipta, orang-orang yang menarik yang kami jumpai, atau refleksi-refleksi yang timbul darinya.”
Menegaskan kembali sepenggal kesepakatan di antara sepasang sahabat --yang mencintai perjalanan dan kejutan yang ada di dalamnya--, meski buku ini adalah tentang perjalanan, segera lupakanlah buku ini bila yang Anda cari adalah tips dan trik memilih penginapan, rekomendasi kuliner khas destinasi wisata, ataupun koleksi foto profesional dengan judul manis nan puitis. Namun bila yang Anda cari adalah sebuah ide mengenai perjalanan, motivasi untuk melangkah lebih jauh dan menghidupkan imajinasi, komparasi atas hasil refleksi diri, atau bahkan untuk sekedar merasakan sensasi hangat saat bertanya pada diri sendiri ‘kapan saya bertemu partner bepergian dan berbagi seserasi mereka?’; Anda wajib menyelesaikan buku ini.
Dengan gaya penulisan yang ringan dan tidak terasa dibuat-buat, serta keintiman yang membuat saya menangkap bahwa buku ini murni berasal dari gairah pribadi dalam proyek personal mereka, thedustysneakers.com; Twosocks –si kawan di Ujung Timur— sukses memerankan sisi kontemplatifnya lewat pendakian gunung bersama sahabatnya, obrolan singkat mengenai kampung halaman bersama bibinya, hingga dialog dengan sahabatnya di ujung sana; alih-alih Gypsytoes –si kawan di Ujung Barat—sukses memerankan sisi imajinatifnya lewat pengalaman ruang saat berada di Shakespeare and Co., pertemuan kecil mengejutkan dalam dunia yang kecil pula (Un Piccolo Mondo), hingga fakta mengenai pelecehan seksual yang memojokkan wanita dan masih terjadi hingga saat ini.
“Banyak orang bisa menikmati perjalanan, tapi sedikit yang bisa memaknainya.”,
merupakan kutipan yang saya baca di awal buku ini sebagai sebuah prolog namun terus saya amini hingga buku ini berakhir, karena The Dusty Sneakers –sebagai pejalan dan pencerita— sangat berhasil melakukan keduanya dalam tiap jenis perjalanan mereka: baik sendiri maupun berdua; bersama kawan lama maupun kawan baru; jauh maupun dekat; hingga perjalanan yang seringkali tidak kita anggap sebagai perjalanan, yaitu keseharian.
3.5 stars, I suppose, to be exact. I was ready to give this book somewhere between 2-3 stars, in fact I was ready to just DNF it for once because I really couldn't get into it. I hated the slow melancholic tone of the writing, and I was completely irritated by the many "pseudo-Indonesian" sentences, aka Indonesian sentences that make more sense when translated to English than they do in Indonesia. I'm glad I didn't stop though, as the second half of this book redeemed itself. I liked how the essays became deeper and more meaningful.
All in all, quite a worthy read, and it is making me want to travel and study in Europe, and start a blog (again) too.
Buku yang ringan untuk dibaca. Seperti yang dapat dilihat di covernya, buku ini menceritakan perjalanan dua orang yang berada di tempat yang berbeda. Dengan buku ini, saya dibawa berkelana ke tempat-tempat yang dikunjungi oleh Gypsytoes dan Twosocks. Bukan hanya jalan-jalan semata, namun juga memaknai sejarahnya. Cara penyampaian pesan dalam buku ini sangat mendalam sekaligus menyenangkan. Ah, buku ini juga membuat saya ingin melakukan banyak hal. Ingin berjalan-jalan ke tempat baru, ingin menjadi travel blogger, ingin kembali mengisi blog yang sudah agak lama saya tinggalkan, dan tentunya, ingin punya sahabat yang super klop (dan semanis Twosocks, kalau bisa).
Saya sangat suka dengan memoar perjalanan ini karena ditulis oleh pasangan, Teddy dan Maesy. Mereka adalah pendiri dan pemilik Post Press dan Post Bookshop di Pasar Santa. Cerita-cerita di dalamnya saling bersambung karena Teddy dan Maesy bergantian menceritakan petualangan masing-masing ketika Maesy sedang menempuh studinya di Belanda sedangkan Teddy tetap berada di tanah air. Ada pula salah satu cerita ketika mereka reuni di Bangalore yang sungguh mengharukan. Saya jadi tidak sabar untuk membaca karya-karya mereka yang lain. Buku ini juga saya baca karena saya kepincut dengan gaya bercerita mereka di novel pertama yang berjudul Semasa.
Kenapa saya membeli dan membaca buku ini? Awalnya karena tertarik dengan judulnya: The Dusty Sneakers. Sebagai penyuka sneakers, judul buku ini sangat mudah diingat. Kalimat yang terucap dalam hati ketika membaca sinopsisnya, “Sepertinya bagus!” Dan satu hal selain karena judul dan sinopsisnya, cover-nya simpel dengan perpaduan dua jenis warna biru pastel yang enak dilihat.
Bagaimana dengan isinya? Ini tentang perjalanan … … dan persahabatan.
Saya sangat suka bagian prolognya. Dari sesuatu hal yang tampaknya sederhana—dari dua pasang sneakers berdebu, diuraikan menjadi ide cemerlang yang melahirkan judul The Dusty Sneakers. Apabila pembukanya menarik, saya akan terus melanjutkan membaca hingga titik terakhir. Itulah yang terjadi.
Menurut saya konsep The Dusty Sneakers ini bagus. Kisah perjalanan dari dua benua yang berbeda dijadikan satu dalam sebuah buku yang layak dibaca di sela hari-hari yang sibuk. Apalagi untuk pembaca yang suka traveling, ya.
Secara tidak langsung, The Dusty Sneakers mengajarkan kepada kita bagaimana cara bertahan di suatu tempat yang asing. “Saya selalu mengagumi mereka yang merantau, yang dengan gagah berani membuka diri untuk kemungkinan-kemungkinan tak terbatas di tempat yang sama sekali asing.” (hlm. 76)
The Dusty Sneakers ditulis dari dua sudut pandang yang berbeda, sepasang sahabat yang menjuluki diri mereka sebagai Twosocks dan Gypsytoes. Twosocks menjelajahi sudut-sudut di Indonesia, sedangkan Gypsytoes berkelana di Eropa.
Saya suka cara penyampaian Twosocks. Melankolis dan sarat pesan moral. Cerita yang kelihatannya sederhana disampaikan dengan pemaknaan mendalam sehingga saya pun ikut terbawa oleh suasana hati yang dirasakan Twosocks di setiap perjalanannya. Seperti pemaknaan tentang kebebasan pada perjalanannya di daerah Baduy. Bertemu dan merasakan tinggal bersama Suku Baduy membuat Twosocks bertanya-tanya apakah budaya leluhur yang harus dihormati itu harus membatasi hak-hak individu misalnya saja hak untuk memperoleh pendidikan. Dan, apakah kebebasan berbanding lurus dengan kebahagiaan?
Gypsytoes menceritakan kisahnya secara mendetail, seperti karakternya: terstruktur. Ya, patut diacungi jempol.
Tidak semua perjalanan menyenangkan. Ada kejadian yang unik dan menggelikan di subjudul “Road Trip”. Saya menertawakan kecerobohan Twosocks dan temannya. Ada pula kisah perjalanan yang sempat mengesalkan yang dialami Gypsytoes di Portugal. Gypsytoes membuat saya ingin mengunjungi “Siprus yang Berwarna Biru”. Pemandangan yang ada ditulis dengan detail hingga saya bisa membayangkan keindahan Siprus dengan warnanya yang meneduhkan. Biru.
Salah satu judul bab yang menarik adalah “Wajah Bali yang Murung Sebelah”. Perumpamaan yang dalam dan dramatis. Mengapa dikatakan murung?
Twosocks menuturkan tentang keadaan alam Bali yang sekarang jauh berbeda dengan keadaan dulu ketika ia masih tinggal di Bali. Siapa sih, yang tidak tahu Bali yang terkenal dengan eksotismenya? Ketika pertama kalinya saya ke sana, pada hari terakhir berada di Bali, dalam hati saya mengucapkan salam perpisahan di perjalanan meninggalkan tepian pantai. Berjanji akan kembali lagi ke sana. Tiga tahun kemudian, kembali lagi mengunjungi Bali, lalu perasaan ‘terpanggil’ itu muncul. Kini saya ‘terpanggil’ lagi untuk traveling ke Bali karena membaca kisah Twosocks. Ah, Bali memang tidak mudah untuk dilupakan. Ehm, mungkin tidak ada karya yang benar-benar sempurna. Seperti halnya buku ini. Ada kata makian di halaman 193 yang membuat saya kurang nyaman ketika membacanya. Menurut saya perlu ada sensor. Atau memang kata sekasar itu memang tidak perlu disensor apabila tercantum dalam sebuah dialog? Saya kurang tahu. Sayang saja kalau dibaca anak sekolah. Hehehe…
Penilaian subjektif saya: Dialog-dialognya terasa kurang natural karena bahasanya terlalu formal sehingga menciptakan ‘jarak’ di antara percakapan dengan teman, terlebih sahabat.
Terlepas dari kekurangan itu, tidak ada kesalahan pengetikan dalam buku ini. Editornya sangat teliti.
:)
Kisah yang tak kalah bagus untuk diceritakan adalah saat Gypsytoes kembali ke Jakarta, Indonesia. Pada “Melangkah Pulang”, disebutkan nama Taman Suropati yang tahun lalu pun saya sering ke sana untuk lari pagi. Hehehe… Yang perlu digarisbawahi: Di luar segala kepenatan, Jakarta tidak selalu bernilai negatif. Ada hal-hal yang bisa dinikmati di Jakarta, terutama kalau kita menggunakan sudut pandang sebagai ‘pejalan’, atau petualang. Dan di ibukota Indonesia tercinta ini, banyak event-event bagus yang sayang untuk dilewatkan seperti pertunjukan seni, festival, pameran buku, konser musik, dan sebagainya.
“Jakarta menyimpan berbagai sudut yang mendendangkan kisah-kisah kemanusiaan. Bukankah perjalanan juga tentang itu? Melihat dan merasakan kemanusiaan-kemanusiaan yang ada di sebuah tempat?” (hlm. 256)
Dan ini kutipan yang menarik: “Kita akan berkenang-kenang dengan setitik perasaan haru. Namun, pada saat yang sama, kita juga menyimpan harapan-harapan untuk hari-hari yang akan datang. Hari-hari mendatang yang mungkin akan diisi dengan kisah-kisah pertualangan yang tak terbatas. Bukankah tidak ada yang lebih indah dari harapan-harapan?” (hlm. 257)
HARAPAN. Saya pun memiliki harapan untuk keliling Indonesia, Eropa, dan dunia!
Yah, Twosocks dan Gypsytoes sudah mewakili saya berkeliling Indonesia dan Eropa. Pada akhirnya, saya berterima kasih kepada Twosocks dan Gypsytoes yang telah menulis The Dusty Sneakers dengan manis.
Ketika memasuki ‘Langkah Ketiga’, kebetulan saya membaca buku ini di Salatiga, kota kecil tempat saya menghabiskan masa kecil. Saya juga sehabis makan semangkok mi ayam lezat yang kerap saya kunjungi saat tinggal di sini. Saya jadi langsung mengerti maksud Gypsytoes saat dia melahap mi di Taipei. Seperti Twosocks, saya juga merindukan masa kecil saya di kota kecil ini.
Gypsytoes dan Twosocks menggarap buku ini dengan sangat apik. Saya terhayut dengan cerita-ceritanya yang dalam dan bermakna. Tak sabar menunggu buku kalian selanjutnya!
Memoar perjalanan sepasang sahabat ini ditulis dengan bahasa renyah dan begitu mudah dinikmati. Tak hanya berisi gambaran tempat-tempat yang dijelajahi, tapi juga kisah, rasa, dan detail-detail dalam perjalanan itu sendiri. Serasa menikmati novel keren bertema perjalanan. Membuat saya terketuk untuk melakukan perjalanan juga. Hikmah dan pesan-pesan yang hendak disampaikan begitu mengena. Lima bintang.
Yang saya suka sekali dari buku ini adalah buku ini bukan hanya sekadar catatan perjalanan tentang kalo jalan ke kota X enaknya makan dimana, tips dan trik dlm traveling tetapi tentang pengalaman/pendewasaan diri apa yang mereka dapatkan ketika traveling sehingga banyak atau bahkan seluruh kisahnya begitu hangat terutama kisah yang menceritakan Bali yang semakin tergerus pembangunan dan ekonomi yang membuat saya sedih.
Pertama kali saya mendengar tentang The Dusty Sneakers, saya sedang menguntit Twitter Noura Books. Ada pemberitahuan tentang event yang diadakan di POST, toko mungil milik pasangan penulis buku ini. Saya pun memutuskan harus ke POST dan melihat sudut kreatif yang mereka buat di Pasar Santa. Mungkin membeli The Dusty Sneakers selagi berkunjung. Tapi ketika bertemu mereka, jujur saya kehilangan setengah otak saya. Apa yang harus saya katakan? HAI-AKU-NGEFANS-BLOG-KALIAN-BOLEH-BELI-BUKUNYA-ENGGAK. Oke. Bukan respons yang kedengaran intelek sedikitpun. Saya pun pulang… setelah membeli buku Alice in Wonderland dan Kisah Masa Kecil Roald Dahl. Target membeli buku The Dusty Sneakers gagal semata-mata terlalu kikuk untuk mengambilnya.
Untungnya kakak tercinta Farisa membeli buku ini kemudian sehingga saya bisa membacanya. The Dusty Sneakers berkisah tentang perjalanan-perjalanan dua sahabat yang terpisah. Gypsytoes di Belanda dan Twosocks di Indonesia. Kisah-kisah Gypsytoes menceritakan pertemuannya dengan orang-orang baru, tempat-tempat yang tak pernah ia sangka akan ia kunjungi, dan memaknai baru arti perjalanan. Di lain sisi, kisah-kisah Twosocks mengajak kita melihat Indonesia dari sisi lain, membawa kita berkenalan dengan teman-teman lamanya, dan mempertanyai apa yang bisa kita lakukan untuk negeri ini.
Kalau diandaikan, kisah Gypsytoes bagaikan menari bertelanjang kaki di alun-alun kota dan Twosocks bagaikan pemain musik yang mengiringinya. Kedua cerita menambah kesenangan membaca. Saya senang karena tidak ada kesan menggurui dalam penceritaannya. Terkadang gaya penceritaan Twosocks mengingatkan saya kepada Andrea Hirata. Yang paling saya ingat dari kisah Gypsytoes adalah perjalanannya ke India dan kalimatnya bahwa yang paling penting dari perjalanan adalah teman perjalananmu. Dalam perjalanan, bahkan sahabat terbaik pun pasti dapat bertengkar. Saya sendiri dari pengalaman pribadi telah mengalaminya berkali-kali: how traveling can bring the best and the worst of us.
Akhir kata, saya merekomendasikan The Dusty Sneakers untuk para di luar sana. Buku yang lebih mirip jurnal kedua sahabat ini ditulis dengan apik dan terasa jelas dari hati. Sayang sekali tidak ada foto disertakan dalam kisah-kisah mereka sehingga pembaca terpaksa cukup puas membayangkan tempat-tempat yang mereka kunjungi. Buku ini sendiri cukup tipis dan saya yakin dapat diselesaikan dalam satu kali duduk. Saya yakin setelah membaca The Dusty Sneakers, perasaan berpetualang kamu akan semakin sulit dibendung!
Seperti inilah buku traveling yang ingin saya baca --dan atau saya tulis jika punya kesempatan. Ini bukan buku traveling biasa. Bukan tulisan berisi gambaran keindahan suatu objek wisata --meskipun di dalamnya memang ada-- atau tips-tips dalam melakukan perjalanan ke suatu tempat.
Buku lebih seperti diary, memoar, atau kisah reflektif. Traveling tak melulu soal keasyikan berpesiar. Kedua penulisnya mengisahkan sebuah perjalanan dengan sudut pandang yang berbeda. Tentang orang-orang, budaya, pandangan, perasaan, dan pemikiran.
Buku ini begitu manis. Apalagi bagi orang yang suka traveling dan suka baca buku. Bahasanya enak diikuti. Iramanya lambat, santai, dan renyah. Ditambah sedikit romansa di dalamnya yang bisa membuat sebagian pembaca menjadi baper (terbawa perasaan).
Dipastikan ini adalah salah satu buku paporit saya... Menemukan buku biru ini nyempil di rak buku di toko buku yang baru saya datangi... Hampir gak minat ngambil karena tipis... Eh tapi begitu liat bagian belakang, hati langsung berdebar, mata melebar dan senyum langsung merekah... I’m in love with this book, ya karena perkenalan di halaman belakangnya itu...
Hal di bagian itu yang membuat tertarik adalah: 1. "Tuliskanlah untukku kisak-kisah perjalananmu di sana. Ceritakanlah tentang bunga tulip, tentang jalan yang dilalui Jesse dan Celine di film Before Sunset, atau tentang rumah para vampir di Rumania." ".... , juga tentang kawanmu yang ganjil itu, si Arip Syaman."
Belom apa-apa saya sudah excited mo diajak dalam kisah perjalanan di dalamnya... Deskripsi singkat ttg si kawan sudah sukses bikin saya berasumsi akan suka ma gaya berceritanya...
2. Gypsytoes dan Twosocks I love their nicknames... Really... Langsung suka mungkin karena saya mengagumi hal-hal berbau etnik... Gysytoes mengingatkan akan hal itu... Twosocks mengingatkan akan hal yang berbau perjalanan...
Dan selanjutnya yang terjadi pas sudah baca dalamnya adalah saya merasa ikut bepergian dan berpetualang ma Gypsytoes... Pendiem yang punya banyak hal di dalam isi kepalanya... Saya menyukai wanita-wanita keren seperti itu... I love books, tapi dia lebih dari itu... Saya suka dengan keberaniannya... Saya suka sekali dengan kisah perjalanannya yang super fun... Ahhh iri sekali... Gak bisa diitung berapa kali saya berdoa agar mendapatkan kesempatan yang sama...
Tentang Twosocks, pria pendiem yang saya idamkan, halah, hahahahaha... Paling berkesan tentangnya adalah tentang his deep thoughts... His thoughts ttg suku Badui, tentang Balinya dan tentang makna dibalik mendaki gunung... Those words nyampeeeee sekali di dalam hati... Iya,pas baca itu serasa Ping! ada yang juga memikirkan hal yang sama yang kadang saya pikirkan...
Dan romansa keduanya, cihhh, bikin mupeng aja... Hahahaha... Meski digambarkan sangat tipis dan sopan, tapi aduhhhhh, berasa tebel dan mengena sekali... I love love love romantisme seperti itu... Hal yang terbersit lainnya di dalam kepala adalah mereka adalah orang yang sangat peduli, positif, open mind dan mudah untuk disukai...
Buku yang saya sukai adalah ketika mengakhirinya, saya merasa terhibur, mendapatkan pengetahuan baru, perasaan positif dan optimis... Saya mendapatkannya dari buku ini.. Good job The Dusty Sneakers..
Sama sekali nggak kaget kalau ternyata buku ini bagus. Enak dibaca, menarik sepanjang halaman, romantisss dan mengharukan. Melebihi ekspektasi saya sewaktu memutuskan membeli buku ini --padahal saya bukan orang yang mampu beli semua buku yang saya inginkan--.
Terasa sekali ketulusan kedua penulisnya sewaktu menulis tentang satu sama lain, tulus menulis untuk pembaca, atau juga tulus menulis untuk... menulis itu sendiri.
(Di blognya, Gypsytoes bilang bahwa ketika menulis dia membayangkan satu orang saja yang akan baca tulisannya, dan itu adalah Twosocks. Itu membuatnya merasa lebih mudah menulis dan tidak terbebani dengan perasaan bahwa tulisannya akan dibaca oleh orang banyak. Ini trik yang bagus juga).
Dan menyentak. Salah satunya waktu Twosocks memberi pemahaman baru buat saya tentang orang-orang suku Baduy Dalam, dan juga waktu Gypsytoes mengungkap pandangannya tentang diskriminasi keturunan Tionghoa di Indonesia. Hampir semua paragraf di buku ini membuat saya jadi berpikir mendalam --kecuali tentunya yang tentang Arif Syaman ;p )
Very well written, ditulis oleh orang-orang yang well-read. Kerenlah pokoknya.
Ketertarikan saya pada buku ini dimulai pada sebuah workshop yang diadakan di Museum Nasional, di IRF 2014. Saat itu, kedua penulisnya menjadi narasumber yang seketika menyadarkan saya kalau tulisan dalam Travel Diary -- di blog -- saya selama ini lebih banyak kosong, kekurangan arti.
Setelah akhirnya habis membaca buku ini, saya tersadar akan beberapa post it yang saya tempel sebagai bagian yang saya sukai.
Saya menyukai gaya bertutur Twosocks (Teddy W. Kusuma) yang romantis, melankolis, dan lucu -- terutama di bagian Arip Syaman. Sementara Gypsytoes (Maesy Ang) menarik saya pada berbagai fantasi akan tanah Eropa juga beberapa kali membuat saya memejamkan mata sembari berdoa, "Tuhan, aku ingin menjejak Praha, Siprus, Brussels." Bahkan aku dibuai oleh beberapa kisah dongeng yang disajikan Gypsytoes.
Sesekali memang ada beberapa kisah yang terasa kurang mendalam, tak cukup memuaskan keingintahuan saya sehingga memancing saya untuk mencari referensi lain di internet mengenai beberapa tempat yang keduanya kunjungi.
But so far, this book made me wanna have a travel story like them. And made me known, travel is just not about a place, but about how its feel.
Semacam kehabisan kata-kata untuk mengomentari sebuah buku perjalanan yang ditulis dengan begitu apik. Perjalanan tak melulu soal ke mana dan bagaimana melainkan pula mengenai manusia-manusia yang ditemui pun mereka yang menjadi teman seperjalanan; memperdalam kontemplasi soal kemanusiaan maupun hidup itu sendiri. Romantis, sendu, manis, getir, dan terkadang kocak adalah kesan yang saya dapatkan selama menyelami tiap lembar dalam buku ini. • Rasa-rasanya seperti menemukan teman baru yang begitu bersemangat membagikan perenungannya pada setiap perjalanan di tempat-tempat yang belum terjangkau mata pun mengajak saya untuk melihat suatu tempat dari kacamata yang berbeda. • Buku yang sudah pasti takkan bosan saya baca lagi dan lagi karena di beberapa cerita saya seolah bisa menemukan diri saya sendiri. • Saya melahap buku ini sembari berjalan-jalan ke beberapa tempat wisata. Membuat para kawan seperjalanan bertanya-tanya kenapa saya selalu membawa buku ke mana pun kaki melangkah. Pertanyaan yang saya jawab dengan senyum kecil lalu bertanya balik, "Kenapa tidak?" • Karena bagi saya buku adalah teman. Buku adalah napas. Seperti buku ini.
Aku mengenal kedua penulisnya. Bukan mengenal dengan baik, hanya satu kali bertemu dalam satu acara temu traveler. Tapi saat itu, Twosocks meminjam buku favoritku, dan Gypsytoes tersenyum manis sekali. Ketika aku tahu ia menulis buku, it would be a good book. Beberapa kali aku pernah mampir ke blog mereka, dan menemukan rasa yang manis dan hangat. Dan itu yang membuatku, ah, aku harus punya buku mereka, hehe!
Dan aku langsung suka dengan cara bercerita mereka yang kenes dan lincah. Tulisan Gypsytoes sangat rapi seperti deretan gigi-giginya, sementara tulisan Twosocks segar seperti cara ia tertawa. Tanpa ada keterangan siapa yang menulisnya, aku bisa membedakan mana tulisan Twosocks atau Gypsytoes.
Cerita mereka menginspirasiku untuk menuliskan kisah yang, ah, tidak bisa dibilang sama. Tapi ya, tulisannya mengingatkanku untuk menulis pada gaya lama, bercerita pada seseorang. Seperti menulis surat saja. Cerita Twosocks keliling Indonesia, atau cerita Gypsytoes keliling Eropa.
Well Done Gypsytoes & Twosocks! Nice Trip, Nice Story!
Buku ini bercerita tentang dua sahabat yang harus terpisah selama dua tahun lamanya! Mereka berjanji akan menuliskan trip-trip mereka dalam web yang mereka buat. Selama dua tahun itu pun mereka berbagi cerita mengenai trip mereka di The Dusty Sneakers blog. This is Real Story! Gypsytoes dengan fantasinya di Eropa dan Twosocks bersama teman ganjilnya di Nusantara.
Jujur, buku ini berhasil membangkitkan Fantasy dalam diri saya. Entah mengapa saya merasa harus membuat memori dengan pergi ke suatu tempat dimana Fantasy saya berada.
Ditulis oleh dua sepasang sahabat yang berbeda gaya. Mampu membuat saya larut terbawa dalam trip-trip yang mereka ceritakan. Begitu detail tempat-tempat yang mereka ceritakan, dan juga begitu dalam pesan-pesan yang ditulis sepaket dalam kisah perjalanannya.
Love This Books, Love The Story! I think 5 Starts is very reasonable for this book!
"Jika kau ingin mengetahui apakah seseorang mencintai buku, lihatlah sisi tempat tidurnya. Terlepas dari seberapa banyak koleksi buku atau seberapa rapi rak bukunya tertata di ruang tengah,seorang pembaca sejati selalu membawa buku ke kamar."
"Karakter seseorang tidak dilihat dari apakah dia menjadi frustasi atau tidak, tetapi bagaimana dia menangani frustasinya."
"Banyaknya manusia yang membanjiri juga menciptakan masalah sampah. Setiap hari belasan ribu meter kubik sampah dihasilkan dengan hanya kurang dari setengahnya yang sanggup tertangani."
I'm not into travel book with itinerary or tips, that's why I choose this book when in book store. And... gotcha! I think i choose it well.
Semua orang mampu menikmati perjalanan, tapi tidak setiap dari mereka mampu memaknainya, termasuk kehidupan.
seorang teman pernah berkata...., menulis atau merancang, pada dasarnya sama, sama sama menghasilkan karya dan sama sama berawal dr pengalaman empiris sang pekarya..,
ini yg kental sekali hadir di buku ini...., sudut pandang yang berbeda dalam memaknai setiap pengalaman....
ada beberapa pandangan twosocks yg cocok dengan saya pribadi ketika menginjakkan kaki d tanah papua, begitu jg mengenai pandangan terhadap suku baduy dalam....,
itulah mengapa saya sebut..., it's a nice book, good book and a must read for me... ;)
well saya bilang buku ini sangat kaya. berisi tentang perjalanan dua sahabat yang satu keliling eropa yang satu keliling indonesia walaupun setiap bab di ceritakan berbeda penulis namun saya cukup menikmatinya alur yang di gunakan pun sering maju mundur yang well kalo orang gak membaca secara seksama mungkin agak sedikit bingung overall menurut saya buku ini cukup bagus
Buku tentang perjalanan yang menyenangkan untuk dibaca, setiap kata dalam lembar yang tidak membosankan, tidak ada satu bagianpun yang dipercepat atau dilewati membacanya. Bacaan tentang perjalanan yang bermakna karena mampu memaknai setiap perjalanan. Bila semua pejalan begini, maka setiap kenangan akan menjadi manis dan bermakna. One meaningful travel book. <3
Buku yang bagus adalah buku yang mampu membuatmu mengerti, lebih dewasa dan berfikir ulang definisi-definisi yang belum tepat pada hidupmu. Buku yang bagus tidak hanya mampu menghiburmu tetapi juga mengubahmu. Jalan-jalan tak lagi tentang kemana tapi dengan siapa. Selalu ada sahabat serta kejutan-kejutan yang membahagiakan ketika kita membiarkan kaki dan semesta yang mengarahkan perjalanan.