Saya telah baca banyak buku motivasi dan pengembangan diri. Semuanya memiliki pemodelan masing-masing. Di kubik leadership ini sebagian besar dicuplik dan diramu sedemikian rupa sehingga menghasilkan panduan kepemimpinan diri yang lengkap. Justru karena itu saya merasa skeptis dengan beberapa konsep yang ada di buku ini. Kalau buku ini diringkas menjadi satu kalimat, itu adalah "Bagaimana Menjadi Manusia Sempurna, Dimana Anda Harus Mengejarnya namun Tidak Mungkin Mencapainya"
Saya setuju dengan niatan yang dibawa dalam buku ini. Buku ini sungguh bagus dalam mendefinisikan apa saja yang harus kita penuhi agar dapat menggapai puncak kesuksesan. Kesuksesan harus diawali dengan keyakinan yang meliputi prinsip alam, manusia, dan Tuhan. Kemudian mulai beraksi dengan dasar 3-AS (kerja kerAS, kerja cerdAS, kerja ikhlAS). Sikap dan perilaku pun memegang poin esensial. Seseorang harus bersikap positif, produktif, dan kontributif. Hilangkan semua energi negatif. Ciptakan dan sebarkan energi positif melalui 4-TA (HarTA, TahTA, KaTA, dan CinTA). Dengan mengaplikasikan semuanya, hidup akan berjalan lebih baik. Apakah mungkin? Ya mungkin saja. Karena itulah jalan yang sempurna.
Alasan saya skeptis terhadap buku ini yaitu pelaksanaan yang menuntut kita melakukan hal yang bertentangan. Orang pintar mampu bekerja secara analitis sekaligus kreatif, mampu berpikir rasional sekaligus mengerti secara emosional, berambisi sekaligus berbagi. Sejauh yang saya tahu, setiap orang memiliki kecenderungan kecerdasan. Ambil contoh MBTI, intuition dan sensing adalah kecerdasan yang berlawanan. Namun disini dianggap dua kecerdasan berbeda yang bisa dimaksimalkan. Kalau ada yang bisa seperti itu, menurut saya Tuhan tidak menciptakan dengan adil. Makna puncak seperti itu seharusnya kita berkolaborasi untuk saling melengkapi.
Sisanya sih fine. Hanya saja sikap skeptis yang muncul di hati ini membuat saya tidak bisa enjoy bukunya secara maksimal.
Setelah berkali-kali download di Ipusnas, akhirnya buku ini selesai saya baca. Meskipun sebenarnya kepala saya terlalu sempit menampung ilmu yang sangat besar di buku ini. Saya mencoba berbagi hal-hal yang sempat tersimpan.
Buku Kubik Leadership ini menjelaskan tentang bagaimana kita meraih hidup sukses dan mulia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Ada tiga anatomi kepemimpinan diri: 1. Pimpin Keyakinan (Prinsip Manusia, Prinsip Alam, Prinsip Tuhan), diibaratkan akar pohon yang memberi kekuatan 2. Pimpin Aksi (Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas), ibarat batang, ranting, dan dedaunan yang melejitkan kekuatan 3. Pimpin Pekerti (Sikap dan perilaku positif, produktif,dan kontributif), ibarat buah yang menjaga kesucian dari kekuatan.
Buku ini sangat menarik dibaca dan dipraktikkan di kehidupan kita masing-masing.
Ada satu ungkapan menarik yang saya baca. "Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh."
Orang lapar sangat menghargai sesuap nasi, dan akan berusaha sekuat tenaganya untuk memperbaiki kehidupannya.
Orang bodoh tidak memiliki prasangka, dan akan selalu terbuka untuk berbagi tentang temuan barunya. Orang yang merasa bodoh tidak akan pernah berhenti belajar.
Enlightening! Mengingatkan kita untuk selalu menebarkan energi positif-apapun yg terjadi, sebab apa yang kita terima adalah apa yang kita berikan, meskipun bentuknya tidak selalu sama.
Untuk hidup sukses mulia, kita haruslah mampu melakukan 3 hal: 1. Pimpin keyakinan Dalam memimpin keyakinan Anda, 3 hal yang harus diperhatikan adalah Prinsip Manusia (motivasi meraih keberhasilan jangka panjang dengan mengakses nurani dan proyeksi bintang terang melalui semangat berilmu, bersyukur, dan bersabar), Prinsip Alam (hukum energi positif dan kaitan 4 TA: Harta, tahta, kata, dan cinta untuk menjadi bahagia yang masing-masing adalah epos mesin kecerdasan STIFIn), dan Prinsip Tuhan (mengakses energi tuhan agar Anda menjadi gardu epos bagi sekitar).
2. Pimpin aksi Terdiri dari 3 AS etos kerja, yakni kerja keras, kerja cerdas (maksimalkan STIFIn dengan meningkatkan skala dan waktu untuk Sensing, mengefektifkan sistem untuk Thinking, mengkapitalisasi aset untuk Intuiting, menempa orang untuk Feeling, dan memperlancar keadaan untuk Instinct) dan kerja ikhlas.
3. Pimpin pekerti Melahirkan tiga sikap: positif, produktif, dan kontributif.
Itulah intisari yang saya dapatkan dari buku ini. Jujur saja, saya berekspektasi untuk pembahasan STIFIn yang detail namun ternyata hanya sedikit. Selebihnya bahasan leadership dengan gaya bahasa akademisi yang cukup tinggi. Hingga saya pusing dan tak mengerti maknanya. Bahkan beberapa terasa seperti rumus di fisika. Terlalu cerdas bagi saya penulis buku ini hingga bahasanya cukup melangit. Atau sayanya yang kurang upgrade? Hehee...
Mencerahkan adalah satu kata yg tepat untuk menggambarkan buku ini buat aku pribadi. Melalui buku ini aku diajarkan bagaimana caranya berfikir, bersikap serta bertindak dalam mengarungi arus kehidupan. Dengan tiga As, yatu pekerja keras, pekerja cerdas dan pekerja ikhlas. serta diakhiri dengan tawakal.
Selain tiga As buku ini memberikan arahakan bagaimana cara mempimpin diri yaitu dengan cara pimpin pekerti. Pekerti adalah sikap mental yang melahirkan kecenderungan perilaku sehari-hari. Pekerti yang baik tidak akan lahir tanpa dibarengi oleh sikap dan perilaku yang positif, produktif dan kontributif.
Buku ini pemberian salah satu senior dikantor, disaat beliau mau pensiun, beliau memberikan buku ini kepada saya. Mungkin dengan harapan agar saya mampu "mengendalikan" diri sendiri. Dan ternyata isi buku ini sangat menarik, mengajarkan kita untuk menentukan kemana hidup akan diarahkan, apa saja yang ingin kita lakukan dalam hidup dan jalan mana yang harus kita tempuh untuk mencapainya. Bukunya tebal banget, butuh energi ekstra untuk menyelesaikannya, tapi worthed lah,.. layak untuk dimiliki untuk refleksi diri.
mengingatkan kpd qta utk slalu menebarkan energi positif, sebab apa yg qta terima adalah apa yg qta berikan, meskipun bentuknya tdk slalu sama.. to be + 1/to have + valency