“Mungkin Galang masih kesel gara-gara waktu itu ngira kalau kita pacaran beneran. And he might think, ’How could you stay with this man? Padahal lo baru putus sama gue’.” -Panji.
“Jadi menurut lo gitu? Dia ingin bikin gue terpuruk setelah liat undangan pernikahannya dia?” -Audrey
***
Audrey mencintai Galang selama dua tahun terakhir ia menjadi kekasih dari lelaki itu. Sampai akhirnya Galang menerima perjodohannya dengan seorang perempuan bernama Saskia, Audrey tahu, bahwa kisah cintanya sudah tamat.
Di tengah patah hati yang menderanya, Panji muncul kembali dalam kehidupan Audrey. Panji hadir sebagai teman. Sebagai seseorang yang setidaknya menemani Audrey untuk tertawa di tengah sepi yang mendera Audrey; kakaknya yang jarang ada di sisinya, juga Faya, sahabatnya yang menjaga jarak setelah mengakui kalau dirinya selama ini jatuh cinta kepada Galang.
Di tengah usaha Audrey—yang dibantu Panji—untuk merelakan Galang pergi, hubungan pertemanan Audrey dan Panji semakin dekat. Namun, situasi malah menjadi rumit ketika Galang bersikukuh ingin kembali kepada Audrey dan berniat meninggalkan Saskia.
Saat Audrey menyadari bahwa Saskia adalah seseorang yang pernah menorehkan luka di kehidupannya dulu, Audrey malah nekat ingin membuat Galang kembali ke sisinya—ia ingin memberi pelajaran kepada Saskia. Tapi ternyata, hatinya tidak bisa berbohong. Ada nama Panji yang kini menggaung di hati Audrey.
Audrey sudah jatuh hati. Jatuh hati yang tidak seharusnya. Karena Panji, adalah seorang lelaki yang memiliki sebuah masa lalu, yang bisa membuat Audrey pergi dari dirinya kapan saja.
AUTHOR OF ONLINE NOVELS: - Rose's Queen Anne (on going at Storial.co) - Here and Where You Are (on going at Storial.co) - (Un)Broken Wings (on going at Storial.co)
AUTHOR OF PUBLISHED NOVELS: - Friends with Bittersweet-Love (2020) - El Verano (2020) - Placebo (2019) - Little Secrets (E-Book) (2019) - Camera's Eye (Memento Series) (2018) - Afterword (2018) - Pendulum (2018) - Play with Fire (2018) - Never Too Far (2018) - Kohesi (2017) - The Whole Nine Yards (2017) - Pinocchio Husband (2017) - Roma (2016) - Dark Memories (2015) - Kata dalam Kotak Kaca (2015) - The Wedding Plan (2015) - Two Lost Souls (2015) - Weh (2014) - Deep Down Inside (2014) - Carrying Your Heart (2014) - Love Lock (2014) - Beautiful Sorrow (2014)
AUTHOR OF NOVELLA: - Violet's Heart (E-Book) (2016)
CONTRIBUTOR OF ANTHOLOGIES AND NOVELS: - My Beautiful World - Heartsick (Novel) - Senja yang Mendadak Bisu - Januari: Titik Balik (Novel) - Gadis 360 Hari yang Lalu - Curhatku untuk Semesta - Curhat LDR - True Love Stories
Novel Deep Down Inside ini bercerita mengenai perempuan 27 tahun bernama Audrey Vanissa yang mengalami patah hati oleh dua sebab. Pertama, ia tidak sangka kalau Galang, pacarnya selama dua tahun ini akan bertunangan dengan perempuan lain. Buruknya, kabar itu disampaikan oleh Faya, sahabat baik Audrey. Kedua, kenyataan Faya yang mengatakan jika selama ini dirinya mencintai Galang. Pengakuan ini membuat Audrey memikirkan ulang rasa percaya kepada sahabatnya itu.
Selama masa patah hati itu, muncul teman pria sewaktu SMA, sekaligus rekan kerja Galang, bernama Panji. Dua kali Panji mengaku suka kepada Audrey, dua kali juga ia ditolak Audrey. Pengakuan pertama saat mereka masih SMA dan pada saat itu konteks Panji hanya untuk memenuhi taruhan. Pengakuan kedua dilakukan Panji ketika ia bertemu kembali pertama kali di kantornya. Sayang sekali, waktu itu Audrey sudah berpacaran dengan Galang.
Panji yang kemudian berada di sisi Audrey selama masa menata hati untuk melepaskan Galang. Dan siapa yang bisa menebak kalau kedekatan mereka itu menghadirkan takdir baru, sekaligus membuka tabir-tabir yang selama ini tertutup.
Secara kasar menyebut, novel ini akan terkesan dipenuhi cerita yang mendayu-dayu dan sedih sebab berbicara soal patah hati. Jangan terkecoh, nyatanya novel ini punya diagram plot yang naik-turun, kadang menarik simpati dan kadang memunculkan senyum. Pengamatan saya, penulis seperti menjiwai penulisan kisah Audrey ini. Penulis membuat tikungan cerita yang tidak biasa dengan mengemas patah hati menjadi bukan kisah kelam. Dan saya paling suka adegan ketika Panji menghibur Audrey. Bagi saya, hubungan mereka pada saat itu sangat manis dan menghibur.
Ide besarnya, novel Deep Down Inside ini membahas proses penyembuhan patah hati, bukan proses meratapi patah hati. Sehingga kamu akan menemukan banyak sisi positif bagaimana menerima takdir yang tidak sesuai harapan kamu. Untuk klimaks cerita, saya tidak menemukan yang benar-benar menghantam dan membuat saya merasa ‘wow’. Semua puncak konflik ter-setting hanya di tengah ketinggian saja. Misalkan, pertemuan Galang dengan Audrey untuk menjelaskan kabar pertunangan dibuat narasi saja oleh penulis. Padahal, seharusnya kejadian itu akan seru jika diceritakan prosesnya. Perasaan hati yang hancur akan lebih mengena ke pembaca jika diceritakan dengan rinci.
Eksekusi cerita dibuat manis dengan ending cerita yang adil, meski lagi-lagi penulis menghapus bagian serunya. Misal, proses pertemuan Galang, Saskia, Deira, dan Audrey tidak dibuat rinci (hal. 185-187). Saya kehilangan adegan pembicaraan mereka dalam rangka menyelesaikan konflik. Justru bagian ini yang ingin saya pahami untuk mengetahui apa yang ada di benak keempat orang tadi. Apa yang dilakukan penulis terkesan terburu-buru mengakhiri ceritanya.
Profesi yang muncul di karakter dalam novel ini berpotensi memikat pembaca. Arsitek adalah profesi Panji dan Galang, Staff Regulatory Affairs adalah profesi Audrey. Namun, job desk mereka hanya dijelaskan sepintas sehingga dunia kerja mereka tidak cukup menempel pada karakternya. Oke, soal ini hanya selera saya, dan juga novel ini bukan novel yang mengedepankan cerita profesi.
Penulis menuturkan cerita dengan gaya bahasa yang lugas dan mengalir. Membantu sekali cara saya membaca dan dibuktikan hanya butuh waktu beberapa jam untuk menyelesaikan buku ini tanpa ada penundaan. Yang mengganggu adalah cara penulis membuat kalimat yang bertumpuk dengan menandai oleh tanda setrip (-). Contohnya, ‘Karena mungkin – tebaknya- mamanya Galang menyuruh anaknya itu pulang ke Jakarta karena rindu’ (hal. 13). Banyak sekali contoh kalimat yang demikian.
Tokoh utama novel ini adalah Audrey Vanissa, Galang Winanta, dan Panji Raihandra. Audrey Vanissa itu perempuan kuat yang bisa mengendalikan emosi buruknya untuk tidak melakukan hal bodoh pascapatah hati, bijaksana ketika ia menyadari kekeliruan kisah kakaknya dan membuat ia mendendam, dan pemikir sebab butuh waktu untuk menyadari dan mengakui apa yang ia rasakan terhadap Panji. Galang Winanta itu pria yang penurut pada orang tua meski akhirnya keputusan yang ia ambil menyakiti Audrey, tidak bisa komitmen karena setelah pernikahan ia masih membiarkan perasaannya untuk Audrey bercokol di hatinya, dan pesaing yang sombong dan suka meremehkan ketika ia dan Panji berkompetisi untuk mendapatkan Audrey dan tender. Panji Raihandra itu pria yang humoris dan konyol sehingga ia bisa membuat Audrey perlahan melupakan Galang, pekerja keras yang dibuktikan dengan usahanya untuk mendapatkan tender, dan penimbun benci terutama untuk mamanya atas masa lalu kelam yang ia harus lewati.
Kover yang memilih warna pink dan ungu sebagai latarnya menjadikan novel ini terlihat kalem, lembut, dan feminin. Kali ini saya tidak protes mengenai sisi feminin yang ditampilkan kovernya sebab tokoh yang ada di cerita adalah sosok perempuan dan penulis buku ini juga perempuan, sehingga perpaduannya sudah pas. Sedangkan siluet putih perempuan yang berpose seolah tenggelam, mewakili kondisi Audrey yang gamang sebab patah hati. Untuk judul novelnya, sampai saya menulis artikel ini belum tahu artinya apa, hehehe.
Pesan besar dari novel ini yang saya pahami adalah kita tidak boleh menghadapi hal atau kejadian buruk dengan berpikir negatif. Cara tanggap yang buruk akan melahirkan keburukan lainnya. Akhir yang akan dituai hanya penyesalan. Sebab itu, menjadi bijaklah dengan berpikir positif, dan jika ada masalah sebaiknya diceritakan kepada orang terpercaya untuk mencari opini yang netral. Sehingga keputusan yang dibuat akan lebih steril dari emosi.
Sebenarnya, dulu pernah diceritain sedikit premis utama novel ini sama penulisnya--yang kemudian membuat saya tertarik buat punya buku ini. Dulu kalau ga salah dibilang ceritanya pakai setting luar negeri, tapi pas baca kenyataannya nggak. Entah dirombak total saat revisi atau sayanya lupa yang diceritain itu naskah teh pia yang mana ya.... *jegger* Btw, saya sempat terharu pas baca "Thanks To" ada nama saya di sana. hiksss. thank you back, teh piaa... *susut airmata* *langsung drama* #halah Soal teknis penulisan, saya merasa agak terganggu sama font halaman 2-3 yang beda sendiri dari font lain di buku ini. Padahal buku ini memakai alur campuran, yang artinya nggak flashback cuma sekali. tapi..., cuma di halaman itu fontnya beda pas adegan flashback. Mungkin lebih halus kalau disamain aja kayak yang lain dengan kalimat yang mengarah ke flashback.
Terus juga, soal teknis penulisan yang kebanyakan sambungan "-nya" dalam satu kalimat. contoh di halaman 52: "Sebuah kecelakaan yang membuat dirinya kehilangan kedua orang tuanya dan akhirnya membuatnya harus bertahan berdua saja dengan Deira." (ada 4 akhiran "-nya" dalam satu kalimat). Atau di halaman 160: "Dipandanginya ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya dengan geram." Anw, kasus teknis itu ga hanya ada di dua halaman tadi aja, tapi juga di beberapa halaman lain yg saya lupa di mana aja. hehehhee...
Soal isi cerita, konfliknya padet. Muter2. Banyak masalah seputar relationship. Dan IMHO, sebenarnya lebih enak kalau banyak eksekusi di konflik batin. Biar kayak judulnya; Deep Down Inside. Tapi sayangnya, tempo cepat yang digunakan di sini nggak bersahabat sama konflik Audrey. Jadi yang kita tahu, Audrey sedih, nangis, terpuruk, tapi kurang dijelaskan gejolak batinnya.
Soal gaya penulisan, Teh Pia banget yang ngalir, campur2 Indo-English, jadi pembacanya enjoy untuk menikmati isj cerita. Dan oh ya, I love the cover. ciamik!!
novel ini tuh konfliknya banyak tapi pakai fast track bt eksekusinya. tdk bilang buruk, justru suka langsung to the point. saya jadi tahu, 1 lagi ciri khas penulis selain suka pakai timeline di novelnya (sejauh ini saya masih baca Carrying Your Heart, Beautiful Sorrow, dan DDI ini), adalah cerita yg konfliknya (seakan2) mbulet dan twist yang aslinya biasa aja--tapi tetep ngejleb banget--. sayangnya, dari cerita-cerita baru di novel yang sejauh ini saya baca, saya belum menemukan sesuatu yang 'unik', yang bisa bikin bertanya2 'oh, ternyata ada ya ginian di dunia ini.'
sayang yang kedua, di novel ini kok banyak ketidaknyamanan ya. maksudnya begini, ada contoh gabungan kata yang menunjukkan kepemilikan, misal 'apartemennya Audrey' atau '-nya' dari siapa, ini dari awal novel sampai akhir novel konsisten begini, dan ini terletak di paragraf narasi, bukan dalam dialog yang biasanya 'toleran' dengan bahasa tidak baku. ya, mungkin ini balik selera, sih, ya.
oh, iya, ending novel ini mengingatkan sekali pada ending sebuah novel penulis indonesia yang sedang cetar2nya karena salah satu novelnya mau diangkat ke layar lebar 2015 ini (kalau tdk salah informasi). mau tahu? silakan baca sendiri novel ini ya :)
yihaaa . Bikin review bukunya Pia Devina ,akhirnya nih ye bisa juga baca tulisan pia .
Nah ini review ala saya , hal yang paling bagus dari nih buku
Pertama : vocabulary nya berbeda dengan tulisan pia di buku sebelumnya, berasa kemampuan vocabualary pia bertambah gitu mungkin karena pekerjaan si tokoh jarang digeluti jadinya membuat vocabularynya bertambah menurut saya.
Kedua : alurnya tetap buat saya suka ,dan lagi,lagi di buat kaget oleh kejutan .
Ketiga : konflik yang terjadi suka .
KE Empat: suka sama karakter panji -( ini beberape nih ye yg bagus dari nih buku, sekarang yang jeleknya dari nih buku) Ke LIMA: hore ada lagunya tapi sayang cuman dua lagu yang aku tahu .
Hal paling jelek dari nih buku
1. Bukunya tipis,bukan pia banget kalau bukunya tipis.Mungkin karena aku terbiasa baca buku pia yang tebel kali ya .
2. Endingnya biasa
segini aja ye ,review ala saya . Kalau nggak suka maaf ya ,saya berpendapat apa adanya saja.
Novelnya kurang tebal mb Pia. Alias ceritanya kurang panjaaaaang :(. Aku suka sekali dengan konflik utama di novel ini. Hubungan Galang-Audrey-Panji. Pengennya sih konflik utama itu yang lebih digali. Biar lebih greget. Tapi, disini mb Pia banyak memunculkan konflik lainnya yang rasanya dialami tiap tokoh di novel ini. Dan hampir semua berkaitan dengan masa lalu. Ada yang masa lalunya saling berkaitan, ada yang tidak. Tapi sayangnya konflik2 itu jatuhnya nanggung. Kurang dikembangkan, sehingga kesannya terlalu cepat selesai dan feel nya berasa nanggung juga. Makanya tadi aku bilang coba ceritanya lebih panjang.. Hehehe...
Dan khas nya mb Pia, cerita ini menggunakan alur maju-mundur. Biasanya aku okey, cuma yg ini agak bikin mikir juga. Karena rentan waktunya terlalu dekat. Sepuluh menit yang lalu, beberapa jam sebelumnya. Itu agak bikin aku mikir.
konfliknya terlalu banyak, tapi serasa dikejar-kejar. konflik utamanya nggak terlalu digali, udah lompat-lompatan sama konflik-konflik pendamping lainnya. idenya bagus, tapi eksekusinya kurang matang.