Di akhir tahun pertama kuliah, saya berkenalan dengan seorang mahasiswi Pendidikan Luar Biasa. Ia sempat bercerita tentang ketertarikannya pada bidang itu dan pengalamannya selama ini.
"Teriak mah udah biasa banget. Digigit, diseret... wah, macem-macem deh pokoknya, Fa. Dosen aku malah sampe tiga kali hapenya rusak gara-gara ada aja yang ngambil dan ngebanting."
Ini buku pemenang naskah pilihan Wanita dalam Cerita kedua yang saya baca, dan sepertinya saya bisa menemukan selera juri di sini. Tema psikologi yang melatari, alur yang menyimpan 'ranjau' di tiap titik, tokoh yang tegar. Termasuk sampulnya yang berlatar putih juga saya masukkan sebagai salah satu persamaannya.
Namun, saya akui, sampul Sequence ini yang lebih menarik hati saya. Seperti jodoh. Saya tahu saya akan membacanya pertama kali melihatnya.
Tiga cangkir, macaron warna pastel, bunga mawar, cat air. Dan oke, warna pink. It only takes those five things to catch my attention *sighs*. Tulisan Sequence-nya orisinal, seperti dilukis dengam brush kaligrafi di sotosop atau perangkat lunak apa pun yang mensponsorinya. Hanya font nama pengarangnya yang saya kurang sreg, mainstream.
Lanjut ke cerita. Saya tidak menemukan masalah berarti selama membacanya, nyaman dan lancar. Hanya ada beberapa 'kebocoran' karena awalnya saya kira dituturkan dari orang ketiga terbatas, dilihat dari tiap judul yang mewakili tokohnya--Klarissa, Ine, Yuni.
Dan panggil saya udik--saya suka kata 'seturut'.
Risetnya berhasil, tidak kerasa tempelan. Saya malah bisa me-relate dengan baik, mungkin karena pengalaman ngobrol sama anak PLB juga, jadi paham sedikit-sedikit. Terlihat penulisnya memang punya perhatian khusus dengan masalah autisme ini.
Ini mungkin saya yang belum dewasa. Saya masih suka meraba-raba apa akan begitu rasanya kalau sudah lulus nanti. Sudah bekerja. Sudah terikat dengan pasangan. Sudah punya anak. Lagi-lagi, saya menemukan 'pola'--ada bau-bau cheating yang juga ditemukan di (Bukan) Salah Waktu. Dan, ugh, kenapa?!
Saya enggan bilang lebih jauh, takut spoiler. Hehe.
Ada ke-tidak-konsisten-an, tapi hanya sekali. Dari gue-lo tahu-tahu aku-kamu.
Meskipun tidak dijelaskan bagaimana ciri-ciri fisik para tokohnya, saya bisa membayangkan sendiri, terutama Choky. Kemeja biru laut garis-garis, celana bahan coklat, ikat pinggang, kulit sawo, senyum.
Sekali lagi, benar-benar Naskah Pilihan. Saya senang membacanya. Untuk yang sedang mencari buku roman dengan pesan berisi tapi tidak membuat kening berkerut, Sequence adalah kandidat terkuat yang saya rekomendasikan.