Mungkin, di dalam cerita "Sisa Badai Di Sepanjang Mata" menjadi nyawa tulisan Puthut ini. Inilah drama yang terlalu jauh seperti judul bukunya. Sepasang mata itu seolah bercerita tentang kuburan tua, ladang-ladang yang terbakar dalam senja, pantai murung dengan onggokan kapal rusak dan lelah. Mata itu adalah mata penderitaan.
Ada 15 cerpen Puthut dan semua tentang Indonesia. Mungkin kecuali satu yang saya kira bisa dipakaikan ke manusia secara keseluruhan. Galeri Monster. Tapi bisa jadi dia sebenarnya menceritakan kejatuhan Orde Lama. Sebagian besar cerpen di sini memberi kesan kesedihan dalam, lalu sebagian dengan kemarahan, dan sebagian dengan penerimaan, sebagian dengan perlawanan. Dan luka karena rezim Soeharto. Sedangkan pilihan kata maupun pilihan kalimat beliau: mangkus & sangkil. Dari semuanya ada lima yang saya suka. Doa yang Menakutkan, Retakan Kisah, Anak-anak yang Terampas, Koh Su, Galeri Monster, dan Orang Terakhir yang Ditunggu. Urutan ini mode ascending btw. Alasannya personal. Karena fase mempertahankan keyakinan. Hehehe. Dari hasil membaca buku ini bisa dinikmati siapapun, yang tak paham sastra ataupun yang ingin melihat sejarah Indonesia dari sisi lain.
Akhirnya saya baca bukunya Puthut EA, setelah beberapa lama cuma ngelayanin pembeli-pembeli :))) Iya, ini buku yang saya jual, tapi saya belum baca. Ini buku pertama Puthut EA yang saya baca, sudah mengantri di belakang adalah Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta dan Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali.
Yep, 15 cerita yang kesemuanya menceritakan tentang penyakit. Penyakit manusia, penyakit masyarakat dan penyakit negara. Kesemuanya tetang drama tragedi, tentang hal-hal yang pengin disimpan rapi dan rapat tapi somehow, baunya menguar ke mana-mana. Namun meski semua tragedi, cara berceritanya sama sekali tak gelap atau surealis, seperti yang sering kita temui di cerpen-cerpen Agus Noor misalnya.
Selalu menyenangkan membaca cerpen-cerpen Puthut EA. Saya teringat pada pengalaman saya ketika membaca cerpen-cerpen SGA. Selalu ada rasa dan inspirasi yang membuat saya ingin membuat cerpen lagi. Jenis cerpen seperti inilah yang membuat seseorang merasa yakin dia juga bisa menjadi seorang penulis. Salah satu yang saya kagumi dari buku ini adalah kekayaan diksi yang dimiliki oleh sang penulis. Membuktikan bahwa sebuah cerpen adalah sebuah karya sastra yang serius. Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh tepat sekali menjadi judul buku kumcer ini. Sederhana sekaligus menarik untuk dinikmati. Bercerita tentang tragedi masa kelam di Indonesia pada dekade 90an. Penulis menghadirkan pengalaman dan sudut pandang baru dalam menyikapi tragedi kelam itu.
The most under-rated author yang ada di negeri ini. Dan beliau berdomisil di Yogyakarta, kota teristimewa di Indonesia yang menyimpan semua kenangan manis saya saat kuliah dulu #overdramatis. Btw, ini adalah buku kumpulan cerita yang membahas tentang masa-masa orde baru secara terselubung dan ala-ala. Sangat suka dengan gaya penulisan beliau yang renyah sehingga menyenangkan untuk dibaca. Cerita favourite saya pada buku ini yaitu "Doa Yang Menakutkan", sempat juga saya review sedikit di blog pribadi. Jadi buat yang pada saat itu belum lahir dan tidak sempat mencicipi 'kerasnya' kehidupan di masa orde baru, yuk mari di beli buku ini. dijamin tidak akan menyesal. bye!
Kumpulan cerpen yang kelam. Kebanyakan menceritakan tentang kelamnya masa reformasi. Orang-orang yang hilang dan tidak pernah kembali, pembantaian kaum minoritas, pembunuhan, dan berbagai kejahatan kemanusiaan. Cerpen favorit saya adalah "Ibu Pergi ke Laut". Sangat pilu.
Buku ini berisi 15 cerita yang sebagian bercerita tentang tragedi dan kehilangan. Yang paling kusuka cerpen "Ibu Pergi Ke Laut" yang bercerita dari sudut pandang seorang anak kecil yang....ah kujadi spoiler
Pertama kali baca karyanya Puthut EA dan berasa kalau buku ini worth to read deh. Suka banget dengan Koh Su yang bikin dag dig dug juga Berburu Beruang yang bikin 'eh?' setelah habis baca.