Pelabuhan Cilacap pernah menjadi pintu gerbang ekspor di masa Hindia-Belanda. Namun kebijakan pemerintah yang tidak jelas menjadikan tempat ini merosot peranannya dalam lalu-lintas maritim dunia. Susanto Zuhdi memperlihatkan bagaimana kebijakan pemerintah yang tumpang-tindih di zaman Hindia-Belanda meruntuhkan satu pelabuhan penting di Jawa.
Dalam bukunya, penulis membagi pembahasan buku ini dalam lima bab utama. Seperti judulnya, bab dalam buku ini juga dimulai dari tahun 1830 hingga 1886 yang menjadi latar informasi pengisi bab pertama, Sebelum Kereta Api Prospek Pelabuhan dan Kebijakan Pemerintah Batavia.
Melengkapi bab pertamanya, bab kedua berisi informasi setelah keberadaan kereta api, dengan judul Sesudah Pembukaan Kereta Api. Yang sayangnya tidak mencantumkan tahun. Pada bab ketiga, dilanjutkan dengan Depresi dan Pelabuhan Cilacap 1930-1940. Periode waktu yang lebih pendek jika dibandingkan latar pada bab pertama dan kedua. Bab keempat kemudian diisi dengan Pertumbuhan dan Perkembangan kota Cilacap lalu Kota Pelabuhan Cilacap Menjelang Perang Pasifik sebagai bab penutup, atau bab kelima.
Melalui pelabuhan banyak hal yg bisa masuk ke suatu daerah. Hasil produksi suatu daerah didistribusikan melalui pelabuhan. Budaya asing dan produknya juga bs masuk melalui pelabuhan. Jarang ada buku yg membahas ttg kota2 kcl.spt ini.