Jump to ratings and reviews
Rate this book

Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani

Rate this book
Dari sejarah pergolakan mahasiswa menentang rezim totaliter Orde Lama Orla) pada dekade 1960-an, bangsa Indonesia patut mencatat dan mengenang satu nama. Ia patut dikenang tidak semata-mata karena andil dan keterlibatannya dalam menyukseskan perjuangan mahasiswa menghancurkan otoritarianisme kekuasaan Orla, tetapi lebih dari itu, ia pantas mendapatkan tempat terhormat di hati dan ingatan warga bangsa karena totalitas perjuangan dan sikap hidupnya yang luar biasa dan mengagumkan dalam upaya menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.

Sebagai seorang aktivis mahasiswa, ia adalah pribadi yang istimewa. Hal itu tampak melalui cakrawala pemikirannya yang visioner, militansinya yang nyaris tanpa batas, serta komitmennya yang kukuh pada prinsip-prinsip demokrasi dan humanisme universal.

Karakter demikianlah yang selanjutnya menghadirkan sosoknya sebagai intelektual dan humanis sejati. Dialah almarhum Soe Hok Gie, sosok intelektual muda pendobrak tirani Orla yang dibahas oleh John Maxwell dalam bukunya, Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Soe Hok Gie bukanlah nama yang populer. Bahkan, sebagai aktivis mahasiswa, sosoknya hanya dikenal oleh komunitas masyarakat terbatas. Pikiran dan sepak terjang perjuangannya tidak banyak diketahui publik di Tanah Air. Menurut penulisnya, hal itu karena kendati pernah terlibat secara aktif dalam politik, ia berbeda dengan para tokoh politik dari generasinya. Ia tidak mencurahkan seluruh hidupnya untuk politik.

Kehidupannya yang tergolong singkat, yakni hanya 27 tahun, juga tidak banyak memberikan peluang padanya untuk mengukir prestasi gemilang, baik secara individual maupun politis. Walau demikian, menyimak kegigihan perjuangannya, sukar untuk membantah bahwa anak muda ceking keturunan Tionghoa itu adalah seorang intelektual dan pejuang yang luar biasa.

Dalam konteks demikian, selain menambah khazanah studi Indonesia modern tentang biografi tokoh-tokoh politik, penerbitan buku ini juga memperluas peluang publik untuk lebih memahami pandangan dan sepak terjang politik adik kandung sosiolog Arief Budiman ini. Lebih dari itu, buku ini memiliki nuansa lain dibandingkan dengan biografi tokoh-tokoh politik yang telah ada sebelumnya semisal biografi tentang Soekarno, Hatta, Sjahrir, ataupun Soeharto.

Karena berbeda dengan biografi-biografi tersebut, yang notabene mengulas para tokoh politik terkemuka, biografi yang satu ini justru membedah seorang tokoh "minor" dalam politik Indonesia. Minor dalam pengertian, meskipun merupakan salah satu tokoh dalam pergerakan mahasiswa dekade 1960-an, ketokohan politiknya tidak pernah dikenal luas di Indonesia. Posisinya dalam peta politik nasional pun tidak pernah cukup sentral jika dibandingkan dengan para tokoh di atas.

Selalu Memberontak

Maxwell melukiskan, sebagai intelektual, komitmen Soe Hok Gie untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan tidak perlu disangsikan lagi. Jiwanya selalu memberontak tatkala menyaksikan berbagai praktek dehumanisasi, pengingkaran demokrasi, dan pelecehan terhadap akal sehat. Keberpihakannya pada nilai-nilai prinsipil itu membuatnya tidak memedulikan siapa pun yang mesti dihadapinya dan risiko apa pun yang bakal menimpanya. Yang ia kehendaki hanyalah "yang lurus-lurus" saja.

Sebagai intelektual non-partisan, demikian Maxwell, loyalitasnya hanyalah pada nilai-nilai, melampaui segala sekat dan kepentingan. Ia adalah intelektual bebas yang tidak terjebak pada interest tertentu, entah itu kapital, kuasa, ataupun pamrih politis.

Sikap antinya terhadap ketidakadilan sesungguhnya telah tumbuh sejak usia dini. Sementara, benih perlawanannya terhadap penguasa Orla berawal saat ia masih duduk di bangku SMA. Suatu ketika, ia bertemu dengan seseorang, yang jika dilihat dari penampilannya, bukanlah pengemis. Namun, orang itu kelaparan, dan untuk mengobati rasa laparnya, orang itu terpaksa makan kulit mangga. Karena tak tega, Hok Gie akhirnya memberikan seluruh uang yang dimilikinya pada orang itu.

Sebenarnya pengalaman itu bukanlah hal yang luar biasa di Jakarta. Menjadi luar biasa karena peristiwa itu terjadi tak jauh dari istana kepresidenan, tempat yang saat itu menjadi simbol kemewahan dan keglamoran. Kenyataan pahit itu semakin mengentalkan kebenciannya kepada penguasa Orla.

Sikap kritisnya terhadap pemerintah Orla semakin mengental saat ia menjadi mahasiswa UI, bertepatan dengan kian menguatnya otoritarianisme dalam politik dan kegagalan pemerintah dalam mengatasi perekonomian Indonesia yang merosot tajam. Dalam berbagai refleksi kritisnya di media massa, peme-rintah Orla senantiasa jadi sasaran utama kritikannya.

Ketidakpuasannya terhadap berbagai pembatasan kebebasan berbicara yang dilakukan oleh Demokrasi Terpimpin melalui sensor pers dan pelecehan terhadap lawan-lawan politik bung Karno membuatnya semakin intensif melontarkan kecaman-kecaman terhadap pemerintah Orla.

Mengin...

443 pages, Paperback

First published July 1, 2001

24 people are currently reading
510 people want to read

About the author

John R. Maxwell

2 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
142 (52%)
4 stars
74 (27%)
3 stars
35 (12%)
2 stars
10 (3%)
1 star
9 (3%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for htanzil.
379 reviews150 followers
August 24, 2009
Yang terhormat,
Kami mahasiswa univeritas di Jakarta, dengan penuh rasa hormat bersama ini kirimkan kepada anda "perwakilan mahasiswa" di DPR-GR, paket Lebaran dan Natal. Dalam suasana Lebaran dan Natal ini kami menghormati perjuangan yang telah kalian lakukan selama berahun-tahun di lembaga "perwakilan" rakyat ini.

Kondisi demokrasi Indonesia dan Rule of The Law saat ini jelas merupakan hasil dari perjuangan kalian semua, mahasiswa yang tak kenal ampun dan tak terkalahkan, yang tidak pernah menyerah, dan yang tidak kenal kompromi dengan apa yang benar!

Bersama surat ini kami kirimkan kepada anda hadiah kecil kosmetik dan sebuah cermin kecil sehingga anda, saudara kami yang terhormat, dapat membuat diri kalian lebih menarik di mata penguasa dan rekan-rekan sejawat anda di DPR-GR

Bekerjalah dengan baik, hidup Orde Baru! Nikmatilah kursi anda-tidurlah nyenyak!

Teman-teman mahasiswa anda di Jakarta dan eks-demonstran’66

(hal.364)

Sebuah paket yang berisi pemulas bibir, cermin, jarum dan benang, disertai surat terlampir diatas yang berisi kumpulan tanda tangan dikirim oleh Soe Hok-gie dan kawan-kawannya untuk para mahasiswa yang pada saat itu duduk di kursi DPR-GR sebagai perwakilan mahasiswa.

Paket tersebut diantar pada tanggal 12 Desember 1969, beberapa saat sebelum keberangkatan Soe dan Mapala UI menuju Jawa Timur untuk mendaki puncak gunung Semeru. Rupanya itulah akitvitas terakhir Hok-gie dalam mengkiritsi keadaan politik yang berkembang di Indonesia. Empat hari kemudian Soe Hok-gie menghembuskan nafasnya karena menghirup gas beracun di puncak Semeru.

Nama Soe Hok-gie memang identik dengan gerakan mahasiswa di tahun 60-an. Pemikiran-pemikiran kritisnya selama menjadi mahasiswa UI yang dituangkan baik dalam ide-ide pergerakan maupun tulisan-tulisannya di media massa telah melahirkan sejumlah demonstrasi-yang akhirnya menumbangkan kekuasaan Orde Lama dibawah pemerintahan Presiden Soekarno.

Soe Hok-gie dilahirkan pada 16 Desember 1942 . Ayahnya Soe Lie Piet adalah seorang jurnalis peranakan yang pernah menjadi redaktur harian Tjin Po (1925-1926), selain itu Soe Le Pit juga sempat menulis cerita-cerita pendek dan novel pada tahun 1935-1950an. Rupanya jejak Soe Lie Piet sebagai seorang penulis peranakan berpengaruh besar terhadap anak bungsunya, Soe Hok Gie. Kegemaranya menulis catatan harian telah diketahui oleh publik semenjak diterbitkannya buku hariannya yang diberi judul "Catatan Seorang Demonstran" (LP3ES,1983.). Tulisan-tulisannya yang tajam kerap dimuat di harian-harian nasional di tahun 60-an

Seperti yang dikenal dalam buku hariannya, Soe Hok-gie mulai secara intens menulis kesehariannya dan pemikiran-pemikirannya semenjak menduduki bangku SMA. Dalam usia yang masih relatif muda (17 tahun) Soe Hok Gie telah memiliki daya kritis yang luar biasa terhadap kondisi bangsanya. Tulisan-tulisannya menunjukkan keyakinan yang kuat dan keteguhan moral yang luar biasa, yang menegaskan bahwa generasinyalah yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan segala masalah.

Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya pada tahun 1961 Soe Hok-gie mendapat kesempatan mendalami subjek yang telah menarik perhatiannya sejak tahun-tahun terakhir masa SMA-nya, ia diterima di Fakultas Sastra UI Jurusan Sejarah. Masuknya Hok-gie di UI sesuai dengan minatnya ini membuat ia semakin matang dalam segi intelektual dan emosinya dalam mencermati kondisi politik Indonesia. Meskipun Fakultas Sastra adalah fakultas yang terkecil dan kurang bergengsi di UI namun hal ini membuat semangat fakultas Sastra UI memiliki esprit de crops tertentu yang mudah terlihat oleh mahasiswa yang baru diterima. Hal ini juga membuat fakultas Sastra terlihat lebih independen dan mandiri dan membentuk ciri khas intitusional tersendiri terutama setelah fakultas sastra dipindahkan jauh dari kampus utama UI di Salemba ke kampus baru di Rawamangun. Keadaan kampus Sastra UI yang idependen inilah yang turut membentuk Hok-gie dalam kemandiriannya dalam berpolitik.

Di masa-masa kuliahnya Hok Gie terlibat aktif dalam perdebatan dan diskusi dengan berbagai kelompok dan individu sehingga memberi bentuk dan makna bagi persepsinya yang baru tentang keadaan masyarakat dan politik Indonesia. Di masa-masa inilah Soe Hok Gie memperkuat ketetapan hatinya untuk menolak kebijakan pemerintahan Soekarno dan akhirnya melahirkan komitmennya untuk ikut aktif dalam usaha menjatuhkan pemerintahannya. Hok-gie adalah konseptor dan pencetus ide-ide demonstrasi mahasiswa di tahun 60-an yang pada akhirnya akan membawa pada pergantian pemerintahan dari era Soekarno kepada Soeharto.

Setelah pemerintahan berganti Hok-gie tak lantas otomatis masuk dalam struktur pemerintahan yang baru dibawah Presiden Soeharto, Hok-gie berpendapat keterlibatan langsung mahasiswa dalam politik nasional sebagai fenomena sementara dan merupakan reaksi spontan terhadap kiris politik yang melanda Indonesia. Ketika krisis berakhir Hok-gie berpendapat bahwa partisipasi aktif mahasiswa dalam politik nasional harus diakhiri. Menurut keyakinanya, para dosen dan mahasiswa kini seharusnya kembali kepada tugas utamanya, yaitu mengajar dan belajar. Namun daya kritis Hok Gie tidak berhenti begitu saja, selama ia kembali ke kampusnya di awal masa Orde Baru ia masih aktif menulis dan mengkiritsi pemerintahan orde baru di berbagai media kampus dan koran-koran nasional. Di tahun-tahun akhir hidupnya Hok-gie mulai kecewa terhadap apa yang telah ia perjuangkan, isu korupsi masih mengental di masa awal pemerintahan orde baru, pembersihan sisa-sisa aktivis PKI dan masalah penangan tahanan PKI yang tak berperikemanusiaaan membuat ia terus mengkritisi pemerintahan baru yang turut ia bidani kelahirannya. Kegelisahan-kegelisahan pribadi dan kekecewaan terhadap kampus dan pemerintahan baru negaranya membuat Hok-Gie bersama kawan-kawannya kerap menyingkir dari hiruk pikuk politik dan kampusnya untuk mendaki gunung. Setelah ia dan kawan-kawannya mengirim paket Lebaran-Natal untuk mahasiswa yang menajdi perwakilan di DPR-GR, Hok-gie dan kawan-kawannya melakukan pendakian ke Semeru. Tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 27 keganasan gas beracun Semeru membuatnya harus mengakhiri aktivitas politiknya untuk selama-lamanya.



Kehidupan Soe Hok Gie secara lengkap mulai dari masa kecil hingga akhir dari hidupnya, beserta pandangan-pandangan politiknya terangkum secara komprehensif dan rinci dalam buku ini yang diberi judul :SOE HOK GIE :Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani karya Indonesianist asal Australia John Maxwell.

Buku ini tentunya melengkapi sejumlah buku mengenai Soe Hok Gie yang telah terbit terlebih dulu seperti "Catatan Seorang Demonstran (LP3ES, 1983), Di Bawah Lentera Merah (Bentang.), Orang-orang Di Simpang Kiri Jalan (Bentang) dan Zaman Peralihan (Bentang).

Bisa dikatakan buku ini melengkapi apa yang tidak terungkap di catatan hariannya yang telah diterbitkan. Buku ini juga memberikan latar belakang peristiwa dari sejumlah entri yang ditulis dalam catatan hariannya. Sehingga bisa dikatakan buku ini sangat baik dibaca baik setelah atau sebelum membaca buku hariannya.

Buku ini adalah sebuah terjemahan disertasi doktoral John Maxwell yang berjudul Soe Hok-gie: A Biography of a Young Indoensian Intellectual, berisi studi biografi Soe Hok Gie, seorang aktivis politik dan intelektual muda yang luar biasa dan paling terkemuka pada dasawarsa 1960-an. Karena merupakan disertasi doktoral tentu saja buku ini dikerjakan dengan sangat serius oleh John Maxwell. Selain riset pustaka melalui arsip-arsip tulisan Hok-gie yang tersebar di berbagai media massa dan ratusan buku yang relevan dalam penulisan biografi ini, John Maxwell juga menyempatkan diri berkunjung ke Indonesia guna mewawancarai keluarga Soe Hok-gie dan lebih dari 50 nama lainnya yang merupakan sahabat dan orang-orang yang pernah bersinggungan dengan Soe Hok Gie selama masa hidupnya.

Buku ini dibagi menjadi enam bagian besar yang berjudul :1) Asal-Usul, 2)Konteks, 3).Tahun-tahun awal di Universitas: Kemunculan Seorang aktivis Politik, 4) Terjun Ke Kancah Aktivisme Politik :Demonstrasi Mahasiswa 1966, 5)Membersihkan Orde Lama, 6) Bergulat dengan Kemunculan Orde Baru.

Kesemua bab dalam buku setebal 417 halaman ini terurai secara lengkap dan komprehensif, selain mengungkap sisi-sisi kehidupan pribadi Soe Hok-gie, buku ini juga memberikan gambaran yang lengkap mengenai peta politik Indoenesia semenjak dimulainya Demokrasi Terpimpin di tahun 50-an hingga akhir periode Soekarno dan awal-awal kemunculan Orde Baru. Gerakan-gerakan mahasiswa paska peristiwa G30S juga terungkap secara jelas, kecermatan riset pustaka dan wawancara dengan tokoh-tokoh eks demostran’66 membuat buku ini begitu hidup dan rinci dalam menggambarkan situasi chaos di tahun 66 yang akhirnya akan meruntuhkan rezim Orde Lama.

Buku ini juga dilengkapi dengan Bibliografi yang memuat lengkap daftar karya lengkap soe hok-gie baik yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan

Buku ini hingga saat ini meruapakan satu-satunya biografi Soe Hok Gie yang ditulis secara lengkap. Walau bukan buku baru (terbit 2001) buku ini akan selalu relevan dibaca bagi merkea yang ingin mengetahui kehidupan Soe Hok-gie dan sepak terjang mahasiswa di tahun 1966 ditengah hiruk pikuk politik di akhir pemerintahan Soekarno, buku ini juga dapat mendampingi buku-buku tentang Soe Hok-gie yang akhir-akhir bannyak diterbitkan ulang semenjak ini namanya kembali dibicarakan orang menyusul difilmkannya tokoh ini dengan judul "GIE"

@h_tanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com

Profile Image for Mario Muhammad.
23 reviews2 followers
December 8, 2024
Buku biografi Soe paling lengkap yang pernah saya baca. Karya ini merupakan hasil disertasi Maxwell yang dipublikasikan ke khalayak umum. Mengapa saya bilang paling lengkap? Karena Maxwell tidak hanya mengungkapkan Soe sebagai pribadi, tetapi juga mengeksplorasi kejadian-kejadian di sekitarnya yang sekiranya turut membentuk sikap dan prinsip sang demonstran. Tidak kurang dari 34 halaman Maxwell mengupas mengenai rezim Demokrasi Terpimpin secara ringkas tetapi menyeluruh, demi memberikan gambaran awal kepada pembaca mengapa pada akhirnya Soe dan kawan-kawan memilih berkata tidak pada Sukarno. Buku ini juga menuliskan secara rinci konflik politik di sepanjang tahun 60an awal hingga akhir, baik ketegangan di dalam kampus UI antara organisasi intra kampus yang ingin berdiri independen versus esktra kampus macam GMNI, HMI, PMKRI yang mencoba melakukan intervensi. Pergolakan ini yang membuat Soe yang ingin menjaga posisinya sebagai orang netral yang bergantung pada kebenaran turut memprakarsai berdirinya KAMI dan aktif dalam GemSos serta Gerakan Pembaharuan. Buku yang dengan sangat baik memperlihatkan pertarungan di dalam diri Soe, bagaimana ia jatuh-bangun menghadapi para lawan dan kawannya pada waktu itu, baik untuk urusan intern kampus maupun ekstern kampus, yaitu melawan rezim Sukarno. Kita juga bisa membaca banyak potongan tulisan Soe yang diterbitkan di media massa, dikutip oleh Maxwell untuk menunjukkan sudut pemikiran Soe Hok-gie dalam memandang problematika yang ada.

"Setelah bertemu Yap, aku semakin yakin bahwa di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau idealis dan sejak awal aku telah memilih untuk menjadi seorang idealis sampai batas yang sejauh-jauhnya."

Potongan statement yang sangat tegas dan lugas, menggamnbarkan keseluruhan karakter Soe selama hidupnya. Desember ini adalah bulan kehadiran serta kepergiannya, selamat ulang tahun Soe, terima kasih telah menjadi pohon oak.
Profile Image for Michael Jarda.
5 reviews
September 4, 2013
About Soe Hok Gie
659620
Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.

Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.

Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).

Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.

Hok Gie meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis, di puncak Gunung Semeru akibat menghirup asap beracun gunung tersebut.

John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).

Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film Gie.
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
February 17, 2014
Buku bagus buat anak muda yang masih percaya dengan semangat non-partisan dan nilai-nilai humanis kolektif dari seorang akademisi/aktivis Tionghoa, Soe Hok Gie. Saya sendiri memang baru membacanya setelah selesai menonton "Gie" di tahun 2006. Buku yang akan selalu mengingatkan tentang tanggung jawab sosial yang kita miliki, terlepas dari atribusi dan relasi sosial yang sudah kita miliki sejak lahir.
Profile Image for Azia.
243 reviews11 followers
May 25, 2010
ternyata buku ini belum aku kasih rating..pfufu,salah satu buku favorit yang aku dapatkan secara tak terduga di Kwitang-yang sekarang tinggal kenangan. dulu pernah bikin reviewnya..*obrak-abrik folder*
Profile Image for Christian Pramudia.
Author 1 book7 followers
June 12, 2014
I know Soe Hok Gie, from this book and, "Oh, Gie, you are cool!" Buku ini membantu ngerjain skripsiku ttg analisa skenario GIE. Thank you, Maxwell... HEHHEE....
Profile Image for Fandy Hutari.
Author 15 books13 followers
Read
October 5, 2012
Maxwell sangat tau Soe Hok Gie. Diceritakan dengan bahasa yang mengalir. Sayang sekali buku ini harus hilang! Hufft.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.