Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dworkin and His Critics: With Replies by Dworkin

Rate this book
"Dworkin and His Critics" provides an in-depth, analytical discussion of Ronald Dworkin's ethical, legal and political philosophical writings, and it includes substantial replies from Dworkin himself.
Includes substantial replies by Ronald Dworkin, a comprehensive bibliography of his work, and suggestions for further reading.
Contributors include Richard Arneson, G. A. Cohen, Frances Kamm, Will Kymlicka, Philippe van Parijs, Eric Rakowski, Joseph Raz and Jeremy Waldron.
Makes an important contribution to many on-going debates over abortion, euthanasia, the rule of law, distributive justice, group rights, political obligation, and genetics.

438 pages, Paperback

First published February 8, 2004

Loading...
Loading...

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
3 (42%)
3 stars
3 (42%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (14%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Ginan Aulia Rahman.
221 reviews24 followers
April 15, 2015
Kritik Pada Dworkin dalam Kebebasan Memilih

Pendahuluan

Dworkin berargumentasi bahwa seorang individu mesti bebas memilih untuk diri mereka sendiri bagaimana menguasai kehidupan mereka. Komitmen mengenai kebebasan untuk memilih berperan penting pada argumentasi Dworkin mempertahankan Intitusi politis yang liberal, khususnya perlindungan kepada sipil dan kebebasan politis.

Komitmen ini telah mendapat kritik dari komutarian melalui dua jalan; Sebagian komunitarian mengkritik liberal karena terlalu menekankan nilai kebebasan untuk memilih; sebagian komunitarian yang lain menerima pentingnya kebebasan memilih, tapi mengkritik liberal karena mentakacuhkan prekondisi sosial yang membuat kebebasan itu menjadi mungkin.

Dworkin sudah berusaha untuk menjawab kedua kritikan tersebut. Pada beberapa kesempatan dia memaparkan ragam sosial dan kultur lingkungan yang memungkinkan adanya pilihan individual. Terutama, ia membuat argumen menarik mengenai jalan untuk kebebasan memilih itu tergantung pada kultur struktur tertentu, oleh sebab itu untuk tegaknya negara liberal membutuhkan perlindungan pada struktur yang mendukung kebebasan memilih.

Dalam tulisan ini Will Kymlicka memeriksa ide mengenai struktur kultural secara lebih dekat. Bagaimana kita mengidentifikasi sebuah struktur, bagaimana pilihan individual bisa terkoneksi dengan struktur, apa kriteria yang dibutuhkan untuk melindungi struktur tersebut, dan, lebih umum lagi, apa status yang mereka mesti miliki dalam teori liberal. Pemikiran Dworkin berimplikasi pada teori liberal dan praktiknya tapi Dworkin tidak membahasnya.

Pemikiran Dworkin

Mengapa kita perlu menilai pilihan individual? Beberapa liberalis berpikir nilai dari pilihan sangatlah jelas tidak perlu pembelaan. Manusia sebagai agen rasional yang bisa berpikir rasional tentu saja bisa memilih. Tapi permasalahannya, seringkali manusia atas dasar kebebasan memilih, dia mengambil keputusan dan pilihan yang tidak akurat kemudian membuat dia tidak bahagia dalam hidupnya. Pembiaran kita terhadap kebebasan memilih yang membuat orang melukai dirinya sendiri terlihat seperti tindakan yang tidak menghormati orang tersebut, juga terkesan tidak peduli. Mengapa kita tidak boleh mengintervensi dan melarang orang lain untuk membuat kesalahan dalam memilih?

Meski kita memiliki asumsi bahwa orang mungkin salah dalam mengambil pilihan dan kemudian kita mengintervensi si pemilih untuk mempertimbangkan ulang pilihannya, argumen kebebasan memilih memiliki jawaban dan merenspon secara subjektif. Keputusan tidak memiliki nilai benar dan salah, tapi keputusan itu hanyalah ekspresi arbiterer dari preferensi seseorang, tidak berkaitan dengan justifikasi rasional dan pikiran kritis. Maka, ketika tidak ada yang lebih baik dan buruk, tidak ada landasan yang memperbolehkan intervensi pada pilihan individual.

Pemikiran Dworkin sebaliknya, kita memerlukan kebebasan dalam memilih justru karena kita bisa salah, dan kebebasan bisa membuat kita mendapatkan pilihan yang tepat. Dia mengembangkan pertahanan argumen yang menarik pada kebebasan, berdasarkan model revisabilitas rasional pilihan.

Berdasarkan Dworkin, kita menginginkan kehidupan yang baik, untuk mendapatkan berbagai kandungan hidup yang baik. Tapi membawa hidup ke arag yang baik itu berbeda dengan membawa keyakinan pada kebaikan saat ini, kita mungkin salah tentang kepatutan atau nilai atas apa yang sedang kita lakukan. Kita bisa jadi mencoba dan membuang waktu menngejar tujuan yang salah kita pertimbangkan kepentingannya. Karena kita mungkin salah dalam memilih,, adan karena tidak ada orang yang ingin melandasi hidupnya dengan kepercayaan yangs alah atas sesuatu yang patut, ini menjadi hal penting yang fundamental kita menggunakan kapasitas rasional untuk berpikir tentang konsep dan informasi baru atau pengalaman, dan merevisi semuanya jika tidak patut dan tidak sesuai dengan pencarian tujuan kita. Allen Buchanan menyebut hal ini sebagai model revisabilitas rasional pada pilihan individual.

Rawls pun menganjurkan model ini. Dia mengatakan bahwa anggota masyarakat liberal memiliki kapasitas untuk membentu, merevisi, dan rasional dalam megejar konsepsi kebenaran. Ini penting untuk mencatat bahwa Rawls secara eksplisit menyebutkan kapasitas untuk merevisi konsepsi satu kebenaran, di samping kapasitas untuk mengejar satu konsepsi yang ada. Melatih kapasitas kita untuk membentuk dan merevisi sebuah konsep kebaikan adalah urutan tertinggi dari minat manusia. Maka, tentu saja, sangat penting untuk bisa mencapai kemampuan tersebut. Oleh karena itu, orang memiliki minta utama yang berdiri tegak untuk menaksir kepatutan yang akan ia dapat.

Kita bisa tetap berada di pilihan kita lalu kemudian menanyakan nilai-nilai mereka pada kita. Fokus pada keputusan yang kita buat, pada poin kepastian pada hidup kita. Ini penting bagi kita untuk tidak melandasi hidup dengan kepercayaan yang keliru. Ide bahwa beberapa hal itu layak untuk kita lakukan, dan tidak kita lakukan, itu tertanam dalam pemahaman pribadi kita. Kita mengambil secara serius perbedaan layak dan tidak layak pada beberapa aktivitas, bahkan jika kita tidak selalu yakin mana yang layak dan tidak layak.

Tapi, jika kita bisa keliru, mengapa tidak boleh sebuah negara melakukan intervensi untuk melindungi kita dari kekeliruan pilihan kita, dan untuk mendorong kita mengambil hidup yang lebih baik? Untuk hal ini ada beberapa alasan praktis mengapa intervensi negara bukanlah ide yang bagus. Pemerintah mungki juga keliru,, dan beberapa individu mungkin memiliki kebutuhan yang rumit, personal, dan sulit bahkan negara tidak bisa mengatasinya.

Dworkin memiliki sangkalan umum terhadap intervensi negara, bahwa hidup tidaklah menjadi lebih baik dengan mendatangkan intervensi dari luar berdasarkan saran atau dorongan nilai orang lain.

Mempertimbangkan bahwa seseorang menginginkan kehidupan homosexual, tapi mengadopsi gaya dan aturan heterosexual yang takut pada hukuman masyarakat yang mengkriminali-sasikan tindakan homosexual. Dworkin mengatakan,
“If he never endorses the life he leads as superior to the life he would otherwise have led, then life has not been improved, even in the critical sense, by paternalistic constraints he hates.”

Maka kita memiliki dua prekomdisi untuk memenuhi minat esensial kita untuk mendapatkan kehidupan yang baik. Pertama kita menguasai pilihan-pilihan kita dari dalam diri kita, mengacu pada kepercayaan kita yang akan memberikan nilai pada kehidupan. Kedua kita bebas untuk mempertanyakan kepercayaan, dan memeriksa kepercayaan itu pada informasi, contoh, dan argumentasi yang tersedia oleh kultur kita. Seorang individu pasti memiliki kondisi kultural nisacara untuk menyadari perbedaan padangan yang baik, dan kemampuan untuk memeriksa pandangan ini dengan intelek. Oleh karen aitu, rata-rata pemikir liberal tradisional menekankan pentingnya pendidikan dan kebebadan untuk berekpresi dan berasosiasi. Kebebasan macam ini tersedia untuk kita memutuskan apa yang berharga dengan mencari perbedaan aspek pada warisan kultur kita.

Penting untuk menekankan bahwa masyaraat liberal tidak hanya membolehkan seorang individu untuk mencapai kebebasan berkeyakinan, tapi juga membolehkan mereka untuk mencari pengikut baru bagi keyakinan mereka, untuk mempertanyakan doktrin atau pemimpin gereja, atau untuk mengingatkan kembali seseorang yang berpindah keyakinan atau menjadi ateis. (murtad boleh, bid’ah boleh, Menolak keyakinan tertentu boleh). ini ada beberapa contoh, misalkan Islam yang memiliki kebebasan untuk menolerir agama lain seperti katolik dan yahudi dan membiarkan mereka beribadah dalam damai. Tapi, murtad, bid’ah, dan menolak keyakinan dalam tubuh agama islam oleh muslim itu sendiri terlarang.
Sebuah masyarakat liberal, secara kontras, tidak hanya membolehkan orang untuk mendapatkan kebaikan dalam hidup mereka, tapi juga memberikan mereka akses pada informasi tentang jalan lain yang mungkin bisa ditempuh oleh orang tersebut, sehingga ia bisa memilih jalan lain. Ini dimodali dengan kebebasan berekspresi. Dan tentu saja bagi anak kecil diberikan fasilitas untuk belajar tentang berbagai macam jalan yang tersedia untuk dia meraih kehidupan yang bahagia, dan membuat kemungkinan untuk orang mendapatkan revisi yang radikal dalam hdiupnya tanoa diberikan hukuman.

Tentu saja aspek masyarakat liberal ini hanya asumsi bahwa merevisi keyakinan akhir kita itu mungkin, dan kadangkala kita berhasrat untuk itu, karena mereka tidak mendapatkan kepatutan dan kebahagiaan. Untuk alasan ini, model revisabilitas rasional tersedia.
Profile Image for Adrian Fanaca.
225 reviews
March 15, 2026
A long book and difficult to read, but I still give it 4 stars because I am a political philosophy fan. We find a lot of commentary from various public intellectuals, including von Parijs or his rival G A Cohen. We find a lot of interesting ideas of Dworkin's philosophical egalitarian ideas, like equality of resources, assisted suicide or abortion. Good food for thought from one of the best philosophers we had as our contemporaries.
Profile Image for Soha Bayoumi.
51 reviews26 followers
July 31, 2011
An interesting collection of critiques on Dworkin's political and legal philosophy with replies by Dworkin...
Displaying 1 - 3 of 3 reviews