Aariz Ali adalah seorang pemuda Pakistan berusia 26 thn, tampan, kaya dan terdidik yang sedang jatuh cinta pada seorang gadis Pakistan yang telah lama tinggal di London, Komal.
Komal memang cantik, pintar, modern dan berasal dari keluarga pengusaha yang kaya pula. Sayangnya, Komal berasal dari mazhab yang berbeda. Hubungan mereka ditentang keras, terutama oleh ibu Aariz.
Untuk itu Sa’dia, ibunda Aariz, memaksa anaknya menikah dengan gadis desa, Zeest. Pernikahan terlaksana, walaupun begitu Aariz tidak pernah menganggap Zeest sebagai istrinya. Hubungan Aariz dan Komal tetap berlanjut. Namun, karena peristiwa tertenu Komal cemburu meninggalkan Aariz dan tidak pernah kembali. Aariz menderita tekanan batin, padahal ia juga baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam suatu musibah. Tragis!
Karena stress Aariz masuk rumah sakit jiwa. Dua tahun direhabilitasi sampai sembuh total. Dan itu tidak lepas dari jasa seorang laki-laki yang amat dihormatinya, Paman Maulana.
Setelah sembuh, amenyadari bahwa gadis yang paling cocok dan didambakannya adalah Zeest, gadis desa itu, yang dipilihkan ibunya untuknya. Gadis tabah, suci dan siap memberikan cinta sepenuhnya kepada suaminya. Namun dimanakah Aariz harus mencarinya? Bukankah ia sendiri yang telah mengusirnya 2 tahun yang lalu?
“…saya percaya bahwa ada sesuatu yang…menjamin koherensi novel : kesatuan tematik… tersatukan oleh tekhnik penceritaan… namun di atas semua itu adalah oleh tema dasarnya” (Art Of Novel, Jalasutra, halaman 126)
Saya membaca petikan kalimat itu sebagai hasil wawancara Milan Kundera dengan Christian Salmon ketika mereka membahas tentang kata “tema”. Lalu masih di buku yang sama, Milan Kundera menjelaskan bahwa tema adalah pencarian eksistensial seorang penulis (ketika menelurkan karyanya). Atau menurut saya, sebuah tema adalah :
“Apa yang ingin dikatakan penulisnya”
Sebagai penulis, saya selalu diajarkan untuk memegang sebuah tema dasar—disebut juga Surface Message—yang sanggup mengikat cerita secara keseluruhan dan disajikan sambil dihiasi oleh beberapa tema kecil yang saling berhubungan.
Namun ketika membaca novel karya Dr Ikram Abidi yang berjudul “Cinta Yang Terlambat”, saya merasa tidak bisa menemukan tema dasarnya. Karena keseluruhan tema di novel itu terlihat sama besar dan mendapat prioritas yang hampir sama untuk diungkapkan. Tampak tanpa maksud untuk merumitkan pembaca, penulisnya mengajukan sekitar lima tema untuk dinikmati. Dimana kelimanya berpotongan secara rapi dan diselesaikan secara rapi pula.
Ceritanya sendiri berlatar belakang negara Pakistan. Diawali dengan penceritaan tokoh Aariz—seorang penyair—yang baru keluar dari rumah sakit jiwa, lalu oleh seorang penggemarnya bernama Deeba yang menyamar menjadi wartawan, Aariz diwawancara sampai pada satu titik dimana dia menceritakan masa lalunya.
Lalu dengan sebuah flashback cerita novel ini dimulai. Terungkaplah kisah cinta Aariz di masa mudanya dengan Komal, seorang wanita Pakistan yang tinggal di London. Namun cinta mereka tidak disetujui ibunda Aariz yang akhirnya memaksa putranya menikahi Zeest, seorang wanita berhijab yang masih kerabat jauhnya.
Sampai di sini, novel tersebut didominasi kisah rumah tangga Aariz dan Zeest dengan selipan kisah Komal yang harus menghadapi Sikander tunangannya, juga dialog Deeba dengan adiknya Sheeba tentang berbagai hal. Juga kisah debat di televisi antara Sania Rubab dan Zeest tentang pentingnya sebuah hijab
Sekilas terlihat jelas apa yang ingin diceritakan oleh Dr Ikram Abidi, secara sederhana kita sebagai pembaca bisa menunjuk pada kisah rumah tangga Aariz dan Zeest. Tapi ketika dibaca, akan terlihat bahwa tema dasarnya bukan itu.
Kenapa? Baiklah kita lihat lagi arti tema dasar menurut Milan Kundera, tema dasar adalah tema yang menjamin koherensi sebuah novel, atau mengikat novel tersebut. Otomatis sebuah tema dasar harus terlihat dominan dalam sebuah karya agar pembaca tetap ada dalam jalur yang diinginkan penulis. Secara persentase sebuah tema dasar biasanya memakan tempat 75%-90% dalam sebuah karya.
Suatu angka yang tidak tercapai dalam “Cinta Yang Telambat”, sebab secara matematis, novel itu terbagi sebagai berikut :
Kisah Aariz dan Zeest (42%), kisah Aariz dan Komal (16%), kisah Komal dan Sikander (10%), kehidupan Deeba dan adiknya Sheeba, termasuk mimpi Deeba (14%), kisah hidup Aariz di luar kisah cintanya, termasuk wawancara dengan Deeba dan monolog Aariz (11%), lalu acara debat televisi antara Zeest dan Sania (7%)
Ternyata tidak ada satupun tema yang melebihi 50% novel, bahkan kalau kisah cinta keempat tokoh utamanya disatukan (Aariz, Zeest, Komal, Sikander), hanya didapat angka 68%. Sebuah angka yang menurut saya tidak bisa dijadikan persentase sebuah Surface Message.
Ternyata Surface Message memiliki lawan yaitu Inner message atau tema tersembunyi. Maka setelah tema dasar tidak ditemukan di luar, saya kini mencari tema tersembunyinya.
Awalnya saya curiga akan bagian terakhir, kenapa acara debat televisi yang tidak ada hubungannya dengan sebuah kisah cinta digambarkan dengan teliti sampai 37 halaman? Awalnya menurut saya ini tidak efektif, bagian ini sungguh mubazir.
Namun setelah diteliti, saya dapati 7% bagian itu hanya semacam final conditioning dari apa yang disinggung-singgung penulis dari awal. Ada semacam ikatan sehingga pembaca terseret pada pembahasan “Pentingnya hijab bagi wanita Muslimah”
Sebab sejak halaman depan sudah sering ada dialog atau monolog yang membahas hijab. Memang kisah tentang debat itu ada di halaman 426, tapi menurut penghitungan saya sebelum halaman itu saja ada sekitar 80 dialog tentang hijab. Saya kutip tiga saja :
Saya hanya bisa memandang anda hanya bila anda dalam pakaian dan hijab yang tertutup. Saya tidak…” (Aariz kepada Deeba, hal 60)
Ia adalah simbol sempurna ”jangan sentuh diriku” bagi orang lain kala ia mengenakan hijabnya… (Monolog Aariz, Hal 268)
“Dia bukan mahramku, dan aku sedang tidak mengenakan hijab.” (Zeest kepada Sarah, hal 337)
Menurut saya ini brilian! Seringkali kita membaca sebuah karya fiksi Islam dan hampir tidak bisa membedakannya dengan sebuah teks ceramah karena pesan penulis dijelaskan tanpa sebuah penghalusan. Namun Dr Ikram Abidi mampu menggiring pembaca pada satu kesimpulan tentang hijab secara halus. Bila saja ada pembaca yang melewatkan 37 halaman debat televisi ini, hal itu tidak akan berpengaruh karena pesan penulis tetap akan sampai.
Ini juga pesan yang bagus bagi para penulis Islami, kenapa kita tidak mencoba “menginfeksi” pembaca dengan sebuah penghalusan? Semata-mata agar pembaca tidak merasa dicekoki berlebihan oleh sebuah nasihat.
Jadi apa yang harus kita lakukan? Tetaplah menulis, biarkan tulisan itu mengalir seperti air, menetes seperti madu, dan berdoalah semoga Allah mengerti perjuangan kita.
"Sebagian orang berharap dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai. Doaku sedikit berbeda: Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi"
What a wonderful words.. inspiring, dan siapa tahu bisa saja kita yang akan berada pada posisi tokoh utamanya?
Don't judge a book by it's cover sangat pas untuk menggambarkan nasib buku ini. Terbit dari tahun 2005 di Indonesia, dan kalah pamor dibandingkan Ayat-ayat Cinta just because the cover and the publisher. Yup, membuat buku ini sama sekali ga menarik untuk dibaca. Kusam, berwarna abu-abu dengan Font berwarna merah aneh untuk tulisan "Cinta yang Terlambat". Well, judulnya pun udah ga banget. Apalagi kalo liat publishernya adalah Pustaka Hidayah (apaan tu?). Kata-kata seperti : "Novel Pakistan paling Greget" tetap kurang kuat untuk membuat buku ini dilirik pada pandangan pertama. But, sekali lagi, don't judge begitu aja karena dapat dipastikan Anda akan mengalami penyesalan mendalam yang hampir sama dengan Ami ;) (untungnya, diriku dah membaca novel ini sejak awal 2006 lalu. hehehe, telat 1 taunan lah..)
Cinta yang terlambat ditulis dengan gaya yang ringan dan mudah dibaca. Tidak berbelit, to the point dan penuh dengan humor. G nyangka kalo ini adalah novel terjemahan. Sejak awal, novel ini sudah mampu membawa pembacanya untuk terus merasa penasaran dan ingin mengikuti lembar demi lembar tanpa terlewat sedikitpun. Dan yang lebih mengherankan adalah kemampuan penulisnya (which is Dr Ikram Abidi) untuk tetap mempertahankan alur yang tidak bisa ditebak sampai hampir akhir! Belum lagi kekuatan pemahaman penulis terhadap Islam, konflik yang terjadi dan penyelesaian yang indah. my four thumbs up ga akan cukup untuk bilang: betapa brilliant nya penulis menceritakan "inilah konsep Islam terhadap Cinta".
Dibuka dengan alur flash back.. langsung dibuat bertanya-tanya ada apa dengan orang ini? bagaimana latar belakangnya? akhirnya secara ga sadar kita akan terus dibawa penulis menyusuri setiap pesona kata-kata. Konflik, ketegangan, sambil ga lupa membayangkan seberapa tampan dan cantiknya tokoh-tokoh dalam buku ini (well, pakistan gitu lho ;) ). Kekesalan, tangisan dan keharuan dipadu padankan dengan sisi kesabaran, ketenangan dan kerendahan hati. Subhanallah, begitu banyak hikmah yang bisa diambil dari sini.
Jadi, untuk pecinta cerita berkualitas (bukan hanya novel), buku ini sangat (kalo perlu diulang 100kali) worth untuk dibaca.
Resensi Novel Cinta yang Terlambat Judul novel : Cinta yang Terlambat Pengarang : Dr. Ikhram Abidi Katgori buku : Buku fiksi Isi buku : Novel ini menceritakan seorang pemuda tampan, kaya dan terdidik berusia 26 tahun bernama Aariz Ali. Dia tergolong dari keluarga terhormat. Ayahnya adalah seorang pengusaha terkenal di Karachi. Dikisahkan pemuda ini tangah mencintai seorang gadis tyang berasal dari keluarga terhormat pula. Gadis itu bernama Komal. Sayangnya, komal berasal dari mahdzab yang beda denagn keluarga AAriz, membuat Komal ditentang oleh keluarga Aariz, terutama ibunya. Bahkan Komal sudah dijodohkan dengan orang kepercayaan ayahnya yang bernama Sikander Riza. Lalu ibu Aariz menjodohkan Aariz dengan gadis desa yang berjilbab yang bernama Zeest. Pernikahan Aariz dengan Zeest jauh dari kebahagiaan, karena Aariz sangat membenci Zeest. Dalam masa itu, Aariz tetap berhubungan dengan Komal, namun Zeest selalu sabar menghadapinya. Ketika kedua orang tua Aariz meninggal karena dibunuh dan Komal pergi meninggalkannya membuat Aariz shock. Lalu ia mengusir Zeest dari rumahnya. Karena shock yang diderita Aariz rerlalu berat sehingga ia direhabilitasi di rumah sakit jiwa. Dua tahun berlalu membuat kejiwaan Aariz berangsur sembuh dan ia mulai menyadari sebuah ketulusan sang istrinya, Zeest. Namun hal tersebut sudah terlambat karena Zeest telah ia usir sejak dua tahun yang lalu. Kelebihan : Bahasanya rinagn dan mudah difahami, namun tidak meninggalkan gaya puitis sastranya. Selain itu juga mengandung nilai – nilai religius yang kental.
Buku yang sarat nilai islam. walaupun bukan orang islam, buku ini tetep enak dibaca. Yang gue dapet dari buku ini sih pesan yang umum, tp sangat mengerikan kalo terjadi : "You'll never know what you've got. Until it's gone"
ini novel pakistan pertama yang menjadi koleksi-ku. ceritanya bagus banget lah... ada banyak hal yang baru saya ketahui pas baca nih novel... pokok e mantabs!
Menjalani rumah tangga sebagai seorang muslim yang menjaga akidah ternyata penuh tantangan dan ujian. hal ini terjadi pada Zest seorang gadis lugu yang tiba-tiba harus menikah sebelum ayahnya menghembuskan nafas terakhir. Zest harus menikah dengan seorang pemuda kaya yang hatinya telah tertambat pada gadis lain. disinilah konflik terjadi, suaminya meminta ijin utk menikah lagi karena berulang kali dia bilang bahwa dia sama sekali tidak pernah mencintai Zest.Penuh dengan hikmah yg bisa dipelajari, Dr.Ikram sebagai pengarang memasukkan unsur akidah islam dengan contoh-contoh yang bisa diterima logika. namun sayangnya ada kebingungan di akhir cerita, usia Zest dari awal cerita sampai akhir tidak pernah berubah padahal setting novel ini ceritanya berlangsung selama 2 tahun weks...
Buku roman pertama yang saya baca. Gara-gara buku ini juga tema 'perjodohan' menjadi tema buku favorit saya.
Buku terjemahan khas timur tengah, dengan budayanya yang kental. Dan nuansa islam yang juga begitu lekat. Baca buku ini tu kita dibuat benci banget sama Aariz and then perasaan kasian juga muncul di tengah-tengah cerita. Kagum sama Zeest yg punya pendirian teguh, melawan rasa takutnya pada sang suami dari pada dapat murkanya Allah. Cara Zeest mencintai suaminya juga salah satu daya tarik buku ini.
Entah sudah berapa kali baca buku ini tetep aja ga bosan.. Apalagi pas hero-heroin ketemu lagi setelah 2 tahun berpisah dengan perasaan yg sama2 merindukan itu the swetest moment. Pokoknya buku ini jadi buku favorit saya sepanjang masa :)
"Sebagian orang berdoa agar menikah dengan laki-laki yang mereka cintai" Doaku sedikit berbeda, " Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi"
Itulah kata2 terakhir dari buku ini yang membuat hati saya tergelitik..
Bercerita tentang kisah hidup Zeest dan Aariz yang disatukan secara "paksa" oleh ibu Aarist, sungguh menyentuh.. Ketabahan dan keteguhan Zeest benar2 membuat buku ini lebih berwarna..
Buku yang beralur maju mundur ini pokoknya memiliki cerita dan konflik yang menarik serta tidak biasa..
Gaya bahasa yang enak membuat buku terjemahan ini tidak terlalu sulit untuk dimasuki..
cinta yang terlambat sebuah novel yang mengisahkan seorang gadis pakistan yang sangat suci dan selalu menjaga kesuciannya. seorang wanita yang lembut dan mempunyai karakter yang kuat. "sebagian orang Berharap dapat menikah Dengan laki-laki Yang mereka cintai Doaku sedikit berbeda : Aku dengan rendah hati Memohon kepada Tuhan Agar aku mencintai laki-laki Yang aku nikahi" baik dibaca oleh kaum hawa yang merindukan kesucian dan kekuatan cinta yang tulus.
Dari judulnya memang kesannya kok cerita2 roman picisan sekali. Tetapi ternyata ceritanya sungguh mengharukan. Dengan tulisan yang enak dibaca membuat saya penasaran bagaimana akhir dari cerita novel ini. Dan buku yang tebal ini saya habiskan hanya kurang lebih 3 hari.
Mengangkat budaya Keislaman Pakistan yang kental dan norma2 yang dijunjung tinggi. Kisah percintaan antara suni-syiah yang sangat ditentang melebihi percintaan berbeda agama. Membuka cakrawala tetang budaya pakistan.
cerita tentang keteguhan seorang istri yang setia pada suami yang ga menginginkan dy.................. mengharukan dan bikin semangat, bahwa untuk menjadi wanita sholihah itu menyenangkan..... dan dibuku ini aku baru nyadar klo dy mengungkap arti jilbab yang sebenarnya cuman pas baca aku jg blum ngerti apa itu jilbab.. udah gitu nama tokohnya keren lagi Zest Zehra dan AAriz Ali a dan z
jodoh memang di tangan Tuhan. manusia tidak akan pernah tau siapa cinta sejatinya. manusia hanya berhak untuk mencari dan memaknai setiap pencarian cinta semata2 untuk meningkatkan kualitas diri, jadi lebih bijak, lebih taat kpdNya. nikmati segala liku2 didalamnya...karena toh bagaimanapun keadannya, jodoh kita sudah disediakan olehNya...
setelh baca ayat-ayat cinta, aku jadi suka banget cerita berlatar timteng, hunting deh novel-novel sejenis. akhirnya nemu novel ini. ternyata yang kita anggap pas buat kita tidak selalu baik buat kita, karena hanyalah Allah yang Maha Tau apa yg terbaik buat makhluknya.
menghanyutkan... cinta dari seorang perempuan sederhana yang berharap dengan sederhananya bahwa ia akan mencintai laki-laki yang menikahinya... mengharukan... di novel ini, terlihat betapa egoisnya lelaki... agree??? ;P
it soooo pakistan! we can know pakistan cultures from this novel. This novel also show us about the power of family in pakistan culture. for me, this novel very similar with salah asuhan, one of indonesia best novel
buku mampu menampilkan gejolak perasaan ketika konflik cinta muncul dalam ragam perbedaan budaya, agama & pola pikir.. alur nya bagus, konflik nya terasa... selamat membaca!