Jump to ratings and reviews

Kresek Hitam

Maera pikir, masuk asrama rehabilitasi merupakan hukuman terbaik atas penebusan dosa-dosa masa lalunya . Ternyata, hukuman yang sesungguhnya didapat setelah dia keluar dari sana. Dia kehilangan saudara dan teman, di-DO dari kampus, dan yang jauh lebih buruk, tak lagi dipercaya kedua orangtuanya.

Ketika Maera berusaha menata ulang kehidupannya, orang-orang yang dia harap bisa menolong malah berbalik menghancurkannya. Apakah beban yang terlampau berat ini mampu dihadapi Maera di usianya yang baru sembilan belas? Haruskah hidupnya berakhir bagaikan kresek hitam yang akan disingkirkan oleh keluarganya?

184 pages, Paperback

Published July 2, 2023

Loading...
Loading...

About the author

Honey Dee

26 books18 followers

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
27 (39%)
4 stars
37 (54%)
3 stars
3 (4%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 24 of 24 reviews
Profile Image for Yandi Asd.
116 reviews4 followers
December 24, 2023
Mbak Honey dah nggak perlu diraguin lagi soal nulis. Sepanjang baca novel ini, aku dibuat hanyut sama penyampaiannya. Novel ini emang tipis, nggak sampe 200 hal, tapi isinya "dalam". Konfliknya berat, tapi ada banyak pencerahan yang bisa kita dapetin. Di beberapa bagian tertentu bikin aku kesel dan ikut sedih, tapi ada banyak juga bagian yang bikin aku lega. Dan aku suka sama proses penyelesaiannya~
Profile Image for Azfa.
300 reviews2 followers
October 21, 2023
#temanduduk📚
⚠️ 15 thn +
🔍 dibaca via @gramediadigital

》Berkisah tentang Maera seorang anak dari keluarga politisi partai Islam. Suatu malam ia kedapatan tengah mengonsumsi narkoba, akibatnya ia harus direhabilitasi selama 3 bulan. Setelah ia diperbolehkan pulang kembali ke rumah, ternyata rumah tempatnya pulang tak menyambut. Orang tuanya bahkan tak mencoba bertanya tentang kronologis lain yg turut membuat nama dan keluarganya tercemar. Kamudian di suatu malam peristiwa buruk kembali terjadi pada Maera, orang tua dan keluarganya masih sama, tak ada yg mempercayainya. Mereka justru memaksakan pilihan 'kresek hitam' pada Maera utk menutupi apa yg sedang terjadi. 🤧😥

》Kisahnya sedih, ada bagian yg terasa menegangkan. Ikut dibuat merasakan kesal, sakit hati atas perlakuan orang di sekitar Maera. Syukurnya penulis menghadirkan tokoh lain yg bukan keluarga tapi bertindak sbg kelurga dalam menemani Maera.

》Latar kisahnya membuat cerita ini terasa nyata utkku. Gaya dan bahasanya nyaman diikuti, ada beberapa dialog bahasa banjar yg diselipkan dan ada terjemah di footnote. Anehnya, padahal aku udah nda asing dgn bahasa itu, tapi kok tetap auto ngebaca footnotenya. 😂

》Cukup puas dgn ending yg dibuat, meski sedikit menyisakan sesak. Melalui kisah di novel ini, mengingatkan pesan penting utkku sbg pendidik dan calon ortu nanti agar tidak menjadikan hafalan Qur'an sbg tujuan, melainkan fokus pd penanaman nilai quran dan islam dalam perwujudan sikap keseharian (bukan tampilan luar saja).

》Selain itu, ada banyak pesan moral lain yg dapat dijadikan pelajaran dan juga pengetahuan utk perempuan bila mana mengalami kekerasan seksual. Recommended 👍 🌻✨

#jejak_sibuku
Profile Image for blackferrum.
766 reviews63 followers
April 4, 2024
Actual rating: 3,8

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kira-kira begitulah pepatah yang menggambarkan Maera. Setelah terpergok memakai obat-obatan terlarang, dia dikirim ke Rumah Rehabilitasi untuk menjalani rehab selama 3 bulan. Setelah kembali ke rumah, Maera tidak merasa disambut siapa pun, termasuk orang tuanya. Dosanya belum bisa diampuni oleh Abah dan Mamah, apalagi kasusnya memang sempat mencoreng nama baik Abah sebagai orang yang memiliki ilmu agama tinggi dan petinggi parpol keagamaan. Di kala semua orang tidak mendengarkan kebenaran versinya, Maera mendapati orang yang sangat perhatian dan peduli padanya ternyata iblis yang menjelma menjadi manusia.

Trigger warning: rape, drug use, verbal abuse

Baca buku ini bikin ngilu. Bagian pemerkosaannya memang tidak dijelaskan dengan detail, tapi membaca deskripsi sesudah kejadian dan korban berjuang bangkit, bukannya sudah ngeri?

Jadi Maera itu susah banget. Dia memang melakukan kesalah, tapi nggak ada yang mau dengar kebenaran dari sisi dia. Ya karena dia ngobat, otomatis omongannya ngawur. Begitulah anggapan orang-orang. Rasanya nggak adil banget langsung menuding atau melabeli orang hanya karena masa lalunya yang buruk. Seolah pertobatannya bukan berarti apa-apa.

Enggak perlu bahas soal si iblis busuk di sini. Emang pada dasarnya otak dia di selakangan aja. Nggak peduli dia hafiz atau punya kemampuan apa pun yang dekat dengan agama, yang namanya penjahat kelamin ya tetap penjahat. Agak miris mengingat hafiz itu menghafal Al-Quran, tetapi nggak bisa mengamalkan di kehidupan.

Perjuangan Maera mencari keadilan sering kita lihat pada kasus-kasus KS yang makin ke sini makin marak terjadi. Apalagi kebanyakan korban dibungkam dengan alasan bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan lalu berujung solusi dinikahkan. Edan opo nikah sama orang yang bikin korban trauma berat!

Unsur agamanya dimasukkan lewat penuturan karakter A, B, dan C, bukan Maera langsung. Jadi, seolah Maera mendadak teringat nasihat orang-orang di sekitarnya. Jujur, aku kurang sreg di bagian penuturannya ini karena masih ada kesan menggurui. Bukan karakter yang berbicara, melainkan penulis yang ingin berdakwah.

Karakterisasi Maera juga sempat goyah di pertengahan, sampai nggak bisa meraba sebenarnya Maera ini berdiri di cetakan karakter yang mana? Berhadapan dengan Mahisa dia jijik. Ini wajar, sih, karena prinsip Maera kan lebih baik menjauhi laki-laki yang bukan mahram. Lalu, sewaktu percaya dan bersikap seolah bisa menerima pinangan Mahisa rasanya lain. Kayak pasrah, tapi masih ada penolakan. Lah, gimana tuh?

Terus aku menyayangkan porsi Ratri dipotong, sih. Di awal pengkhianatannya cuma diceritakan sekilas dan kesan jahatnya nggak bisa menguar. Apa mungkin bagian ini dipotong?

Anyway, bukunya bagus. Banyak insight baru atau lama, jadi serasa segar lagi. Semangat buat para pejuang keadilan korban KS di luar sana, kalian nggak sendirian <3
Profile Image for Ruang  Baca Indah.
10 reviews
September 6, 2026
Miris bangettt nasib maeraaa:((((((((
Anyway aku sedikit kaget karena latar tempatnya ada di Samarinda, sebagai yang pernah merantau 2 tahun disana rasanya jadi mengobati kangen wkwk.

Ada dua pelajaran sih yang bisa diambil disini, pertama, ga semua yang keliatannya alim beragama itu punya akhlak yang sama dengan covernya seperti keluarga Maera. Kedua, dalam agama, jika ada umat yang mencoreng nama baik agama tersebut ya cukup umatnya aja yang bersalah bukan agamanya. Tidak ada agama di dunia ini termasuk Islam yang mengajarkan kebejatan melainkan ulah umatnya sendiri.

Suka buku ini yang begitu ringan tapi cukup traumatis kalo mau di baca lagi, soalnya enek bangett sama kelakuan munafik keluarga Maera:((( untungnya Maera punya orang-orang baik dan Allah sebagai penyelamat ✨
Profile Image for Riyu Reading Room.
4 reviews
May 15, 2025
જ⁀➴
𝑺𝑼𝑴— Setelah terjerat kasus penggunaan narkoba, Maera ingin memperbaiki diri. Ia menjalani rehabilitasi dan bertekad untuk berhijrah—kembali ke jalan Allah, kembali pada pribadinya dahulu saat masih menjadi pemeluk agama yang taat. Namun, keluarga yang Maera harapkan menjadi tempat pulang justru tidak memberinya kepercayaan dan meninggalkannya sendirian.

Meski sudah meminta maaf dan mengakui kesalahan, orang-orang di sekitarnya lebih percaya pada berita simpang siur yang beredar daripada mendengarkan fakta melalui Maera langsung. Maera bahkan dicurigai telah melakukan hal-hal yang tidak pernah ia perbuat sama sekali.

Masalahnya, kesalahan Maera tersebut justru berawal dari orang tuanya yang terkenal sebagai pemuka agama sekaligus tokoh masyarakat yang punya citra baik. Pembiaran dan tidak adanya teguran dari orang tua terhadap perbuatan dilarang agama yang dilakukan oleh dua kakaknya menjadi awal mula kekecewaan Maera. Ia merasa keluarganya adalah orang-orang yang berbeda ketika di luar dan di dalam rumah. Seolah-olah mereka menyembunyikan wajah di balik topeng dengan rupa lain. Dari sanalah pemberontakan Maera dimulai.

⭒⭒⭒

Dikemas dengan POV 1 dari sudut pandang Maera membuat berbagai emosinya tersampaikan dengan tepat tanpa sekat. Terutama perasaan kecewa dan kemarahan Maera pada keluarganya.

Aku puas sekali pada karakterisasi Maera yang realistis atas kejujuran respons dan reaksinya terhadap semua konflik. Sebagaimana yang sering terjadi pada usia dewasa-muda. Cukup untuk membuatku juga ikut frustrasi saat membacanya.

Novel ini menyampaikan realitas yang terjadi di masyarakat. Mulai dari fenomena orang-orang yang mudah menyimpulkan sesuatu hanya dari rumor tanpa menggali fakta, orang tua yang abai pada pendidikan agama dan moral anak-anaknya, hingga seseorang dianggap ahli agama padahal tidak lebih dari penjual agama yang berlindung pada ayat-ayat kitab suci demi memenuhi ego dan hawa nafsu belaka.

⭒⭒⭒
Yang tidak kusangka, selain kekecewaannya pada orang tua, pemberontakan Maera ini rupanya juga didukung oleh seorang teman. Ajakan temannya untuk melakukan larangan agama disetujui Maera karena ia pikir itu cuma sementara, dan tidak akan dilaporkan pada orang tuanya.

Nyatanya, itu hanyalah siasat sang teman untuk menghancurkan hidup Maera atas dasar rasa iri. Secara tidak langsung hal itu menyampaikan pesan bahwa kuatnya rasa dengki mampu mengubah seseorang—membenci teman sendiri padahal ia sangat disayangi.

Satu lagi yang membuatku terhenyak saat membaca kisah Maera adalah saat seorang laki-laki yang dikenal saleh justru melakukan kekerasan seksual terencana hingga memfitnah korban sebagai pelaku. Benar-benar jauh dari citra yang ia tampakkan di luar.

Aku dibuat makin geram saat keluarga korban justru lebih percaya pada pelaku karena citra salehnya itu. Sampai-sampai mereka tidak mau mendengarkan pembelaan korban dan malah menuduhnya yang bukan-bukan.

Dan sedihnya, hal itu sering kali juga ditemui di dunia nyata—orang-orang yang berlindung dengan tameng agama—mengenakan atribut keagamaan dan mengandalkan ayat-ayat kitab suci untuk mengelabui orang lain.

Kendati demikian, seperti yang Maera katakan dalam novel ini, “Jangan jadikan kasus-kasus yang menyeruak dan menyeret nama pemuka agama belakangan ini sebagai alasan untuk alergi terhadap agama dan menganggap rendah orang-orang yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada agama. Hijab ini tidak salah. Hijab ini wajib hukumnya. Jenggot itu tidak salah. Jenggot itu sunnah hukumnya. Yang salah adalah oknum­nya. Dia melakukan kejahatan dengan membawa simbol-simbol agama, sama dengan orang yang menipu dengan menggunakan seragam TNI. Tentu saja kita nggak akan menyalahkan TNI, bukan? Penipu itu yang salah besar."
— Hal. 173

⭒⭒⭒
Oh, iya! Ada sedikit "rasa manis" dari kisah romansa di sini. Aku suka karena porsinya cukup—tidak berlebihan—untuk genre fiksi islami. Plotnya tetap lebih fokus pada perjalanan spiritual Maera sebagai tokoh utama.

Begitu juga dengan persahabatan Maera dan Rima (kali ini sahabat yang benar-benar sahabat, bukan seperti yang sebelumnya) yang meskipun terpisah jarak antara Samarinda dan Jakarta hubungan mereka tetap terjalin erat. Rima pun selalu ada saat Maera dalam kesulitan.

Di antara konflik penuh emosi ini, aku lega Maera masih memiliki orang-orang yang tulus peduli padanya.

⭒⭒⭒
Sebagai orang yang sangat akrab dengan bahasa daerah Banjar, aku senang sekali dengan dialog-dialognya. Dengan mengambil latar di Samarinda, cerita ini juga terasa dekat denganku.

Hal lain yang ingin aku apresiasi dari buku ini adalah penulis menyelipkan penanganan pertama jika seseorang mengalami tindak kekerasan seksual—melalui adegan tokoh utamanya. Langkah-langkah yang harus dilakukan korban untuk mengumpulkan bukti mengenai kasus tersebut dijabarkan cukup detail di sini.

Aku juga suka dengan pemilihan kata untuk judul tiap babnya; Kecipak, Kelindan, Keriut, Kecenaan, Kerjap, Ketahiran, Kerjap, Kericau, Keriuk, Kerikil, Kelontang, Kerisik, Kejap, Kecam, Kelana, Ketaban, Kejat, Kelat, Kerat, Kenang, Kedap, Kelabakan, Kemala, dan Keliman. Masing-masing satu kata yang mewakili isi tiap bab cerita.

Hanya saja bagiku terasa ada bagian yang kurang sedikit karena ganjaran untuk si teman pengkhianat itu tidak ditunjukkan lebih detail. Atau barangkali pembaca memang dibebaskan untuk menginterpretasikannya sendiri.

⭒⭒⭒
Secara keseluruhan, aku suka sekali dengan cara penceritaan di sini. Temponya tidak terlalu cepat, juga tidak lambat—tetapi tetap "gesit"—jadi menarik untuk terus diikuti dan tidak membosankan. Halamannya juga tidak lebih dari 200, cukup padat untuk konflik yang kompleks. Dengan begitu, buku ini sukses jadi salah satu fiksi islami kesukaanku.

Kalau kamu tertarik dengan isu-isu tersebut, aku berani mengatakan bahwa ini adalah fiksi islami yang mesti kamu baca minimal sekali seumur hidup.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for gq .
155 reviews
September 19, 2024
"Adik-adikku yang baik, agama itu untuk kita peluk, bukan kita pakai sebagai sesuatu yang kita banggakan." - Kak Sukma, hal 64.

buku ini bagus banget banget banget banget. highly recommended. aku akan selalu mempromosikan buku ini kalau suatu saat ada yang minta saran terkait novel religi. buatku, Kresek Hitam sebagai "islamic fiction" udah masuk paket lengkap. nasihatnya gak berkesan menggurui, dan aku suka gimana Maera yang percaya dengan agamanya, percaya dengan Tuhan-nya. Maera mungkin memang pernah tersesat, tapi fokus Kresek Hitam adalah pertobatan Maera. aku suka ceritanya yang menggambarkan kebesaran dan kuasa Allah SWT, gimana Allah SWT tidak akan mengingkari janji-Nya, dan gimana suatu hal yang terlihat sulit akan selalu ada kemudahan dibaliknya. selain itu sisi hubungan anak-orang tua bener-bener tepat sasaran, aku paling suka narasi ini:
membiarkan anak-anaknya melakukan kegiatan segalanya sendiri saat dirinya melakukan banyak kegiatan di luar rumah rasanya tidak termasuk dalam parenting. namun, semua orang berkata kalau itu simbol keberhasilan Mamah dan Abah dalam mendidik anak. semua anaknya mandiri. sepertinya mendidik kemandirian anak dengan penelantaran memang tidak jauh berbeda.

aku juga puas banget sama endingnya. setelah terus-terusan ada masalah buat Maera, untungnya di akhir cerita masalahnya terselesaikan dengan baik. ada orang2 yang mendukungnya. dan Maera gak kembali ke keluarganya. aku suka Maera yang gak maksa kembali dan hanya menitipkan harapan kalau suatu saat dia bisa kembali.

oh iya satu lagi yang mau aku highlight, deskripsi perasaan Maera pas kejadian bejat yang dilakuin Mahisa. rape nya-untungnya-gak terlalu digambarkan detail. karena melihat kepiawaian menulis ka Honey Dee kayaknya bakal triggering banget. tapi dari deskripsi perasaan Maera aja udah terasa gimana menjijikkannya kejadian itu. coba bayangin, segimana menjijikkannya kejadian tsb sampai-sampai Maera berdoa siapapun bisa membantu menjauhkan dia dari Mahisa, bahkan malaikat maut sekalipun.

kurangnya paling di bagian Ratri aja sih. walaupun dijelasin singkat lewat dialog dan narasi Maera, rasanya masih kurang gitu. bagian Maera ngefly itu sepertinya memang tujuannya cuman jadi bumbu konflik ya, dimana peran antagonis akan lebih memilih dengerin Mahisa, si penghafal Quran dibandingkan Maera, si penyabu. sedih sebenernya karena kasus kayak gini banyak, semoga saja kita gak jadi ekstrimis kayak penganut Ustad Riyadh. ada baiknya memang untuk gak terlalu-atau bahkan gak sama sekali mengidolakan orang lain, bahkan pemuka agama sekalipun, selain Rasulullah SAW.


Ah, cowok! Baru sedikit melakukan kebaikan sudah berlagak seperti pahlawan! - Maera, hal. 6

"Seburuk-buruknya orangtua, kita tetap nggak boleh kasar sama mereka, Mae. Memang, ada orangtua yang jadi rezeki, ada juga yang jadi ujian buat anaknya.Anggap orangtuamu ini ujian buat kamu, Nak. Allah pengin tahu, kalau kamu dikash orangtua seperti ini, apa kamu akan tetap melakukan perintah Allah untuk berbakti pada orangtua? Nantinya, kita akan mendapat balasan yang sesuai dengan perilaku kita, bukan perilaku orangtua kita. Kalau kamu mau masuk surga, orangtuamulah kuncinya." - Mama Rima, hal. 170.

"Banyak orangtua yang bangga anaknya bisa menghafal Al-quran, tapi amat sangat jarang orangtua yang bangga saat anak-nya meminjamkan barang pada teman, melerai teman yang berkelahi, atau saat anaknya mengantre dengan benar, padahal justru itu yang menunjukkan kalau anak itu sudah berhasil melaksanakan ajaran dalam Alquran dengan baik. Agama dilihat sebagai sebuah keahlian, kelebihan, kehebatan, kekuatan, bahkan dipertunjukkan dan dibanggakan ke sana sini. Lalu, apakah benar anak yang hebat itu di dalam dirinya telah memeluk Islam dengan benar?" - Kak Sukma, hal 63.
"Orang-orang ini kerjanya memang begini. Anak diporsir untuk hafal ini-itu, tapi nggak mau benerin akhlak anak. Jadinya, anak-anak pada rusak semua." - Pak Maulid, hal. 119.

"Apa kira-kira yang akan Bapak bawa kalau Bapak menghancurkan tiga putri Bapak sendiri? Apa mungkin ibadah Bapak bisa menyelamatkan Bapak kalau menjaga putri-putri Bapak sendiri saja Bapak tidak bisa?" - Bang Izar, hal. 153



Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,662 reviews78 followers
June 11, 2024
One more great book that I've read today. Ini buku kedua Honey Dee yang kubaca. Jedanya lumayan lama dari waktu aku baca Rooftop Buddy. Seingatku dia memang andal dalam merangkai adegan-adegan yang memperlihatkan para tokoh antagonis yang nyebelin.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Maera. Gadis putri ketua partai Islam ternama di Samarinda. Meski keluarganya sangat religius dan gemar berdakwah, rupanya Maera tak merasakan perhatian yang cukup dari kedua orangtuanya. Mereka sibuk berdakwah di luar, tapi tak memperhatikan kesejahteraan psikis anak. Anak pertamanya Olif, hamil di luar nikah dan itu ditutup-tutupi dengan pernikahan. Anak keduanya, Fathiya, akhirnya ketahuan pacaran dan dinikahkan juga. Pernikahan bagi keluarga ini tak lebih dari kresek hitam untuk membuang aib. Maera sendiri akhirnya malah tertangkap pesta narkoba dan melepas hijabnya di hotel bersama beberapa "kawan lelaki". Sebenarnya baru sekali itu Maera bertindak bodoh. Dia dipengaruhi Ratri, temannya yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Ratri dengki dengan berbagai kelebihan Maera sehingga ia pun menjebak Maera untuk menghancurkan masa depannya sendiri. Orangtua Maera lebih percaya pada apa kata media dan fitnah Ratri. Mereka menuduh Maera pesta seks.

Setelah Maera pulang dari tempat rehabilitasi setelah dirawat di sana selama tiga bulan, keluarganya terkesan "membuangnya". Maera lalu didekati sepupunya, Mahisa, si hafizh Quran yang jelalatan. Astaghfirullah. Hiperrealisme dalam novel ini menyajikan berbagai bentuk kemunafikan orang-orang yang membungkus kebusukan hatinya dengan bungkus agama.

Maera hanya memiliki dua teman yang mau percaya padanya. Itupun teman online yang hanya ditemui via video call. Mereka berkenalan di Instagram dan langsung akrab seperti saudara. Mereka adalah Rima dan abangnya, Izar. Ketika Izar mengirimkan kue pada Maera dengan maksud bercanda, Mahisa memfitnah Maera dengan mengatakan bahwa kue itu dari pasangan mesumnya. Dan keluarganya percaya begitu saja. Mahisa kemudian bahkan memperkosa Maera dan... keluarganya percaya bahwa Maeralah yang membius Mahisa agar mau berhubungan dengannya. Astaghfirullah. Menyakitkan ketika justru keluargamu yang jadi musuhmu.

Dalam kondisi luluh lantak seperti itu, Maera untungnya masih mengingat ajaran Kak Sukma soal tindakan pertama yang harus dilakukan seorang korban pelecehan seksual: mengumpulkan bukti. Urutan caranya benar-benar detail di sini. Sungguh edukatif. Setelah itu Maera kabur ke rumah rehabilitasi. Sepanjang perjalanan ia mendapat bantuan tak terduga dari banyak orang. Dengan hape-hape pinjaman, ia menghubungi Rima dan meminta bantuan. Meski jauh di Jakarta, Rima membantu dengan mengirimkan taksi online. Bahkan keluar uang sampai jutaan agar Maera bisa segera tiba di Rumah Rehabilitasi ketika Samarinda dilanda hujan deras dan banjir yang sangat parah. Aku suka diingatkan lagi bahwa pertolongan Allah itu dekat dan nyata. Dalam kondisi seperti itu, Maera tetap salat di depan toko, mohon bantuan pada Tuhan. Allah....

Dan sekali lagi aku bersyukur karena setelah menyajikan konflik yang menyesakkan seperti ini, kisah Maera ditutup dengan resolusi yang melegakan.
Profile Image for nadinosaurus.
368 reviews8 followers
June 27, 2026
"Agama dilihat sebagai sebuah keahlian, kelebihan, kehebatan, kekuatan, bahkan dipertunjukkan dan dibanggakan ke sana sini. Lalu, apakah benar anak yang hebat itu di dalam dirinya telah memeluk Islam dengan benar?"

tw: rape, dysfunctional family

Novel religi tersukses yang pernah aku baca, karena beneran membuatku banyak menyebut nama Allah sebab emosi dan deg-degan. Menyakitkan, menyebalkan, menegangkan, tapi kalau tidak dilanjutkan aku justru disiksa dengan rasa penasaran. PUSIINGGGG!



Pertama kali baca tulisan Kak Honey Dee, aku langsung penasaran mau baca buku-buku beliau yang lain. Kalau bukan karena kekuatan narasi cerita dan suasana, karakter toksik nan munafik di sini gak akan membuatku sesak sebegininya. Batinku menjadi seakan terikat dengan Maera dan ikut menanggung beban mentalnya sebagai sesama muslimah.

Lingkungan yang ditinggali Maera tidak asing di telingaku, mengangkat fenomena ini pastilah membutuhkan keberanian. Di mana segelintir muslim merasa berhak memberi penghakiman terhadap maksiat yang dilakukan muslim lain, bahkan mengakar banyak pemahaman bernada kebenaran yang sebenarnya bentuk penyelewengan syariat. Seperti, manipulasi dengan bawa-bawa dalil, menjadikan persaksian sebagai syarat taubat, menjadikan pernikahan sebagai solusi perzinaan sekalipun dalam kasus pemerkosaan. Tidak ketinggalan, menilai seseorang berdasarkan hijab hingga ukurannya.



Kresek Hitam bisa menjadi pilihan jika sedang butuh bacaan tipis yang padat akan nasihat untuk selalu mengingat Allah sekalipun dalam momen-momen menyesakkan. Kemampuan Maera dalam berprasangka baik ke Allah patut diteladani. Bakal cocok jadi hadiah untuk teman-teman yang sedang dalam proses hijrah, sebab banyak paragraf "ceramah" yang mungkin saja bisa jadi teman yang menguatkan.

Btw, nasib inisial R gimana, nih, Penulis? Saya gatel pengen nyubit.

"Pernikahan bukan kresek hitam buat buang aib-aib Abah dan Mamah. Pernikahan itu suci, Abah."

"Jangan jadikan kasus-kasus yang menyeruak dan menyeret nama pemuka agama belakangan ini sebagai alasan untuk alergi terhadap agama dan menganggap rendah orang-orang yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada agama. Hijab ini tidak salah. Hijab ini wajib hukumnya. Jenggot itu tidak salah. Jenggot itu sunnah hukumnya. Yang salah adalah oknumnya. Dia melakukan kejahatan dengan membawa simbol-simbol agama, sama dengan orang yang menipu dengan menggunakan seragam TNI."
Profile Image for Adni.
7 reviews
August 3, 2026
3.8/5. Selesai dalam sekali duduk, ini gak terbilang ringan juga, sih. Berat banget. Walau udah tau apa yang akan terjadi sama Maera dan selebihnya buku ini membahas tentang apa, tetep aja gak kuat begitu dibaca. Setiap Maera istighfar, aku ikut juga. Setiap dia berusaha sabar, AKU GAK BISA. Berkali-kali misuh karena kok keluarganya bisa sampai akhir sama sekali gak menunjukkan belas kasihnya sama sekali, sialannya lagi malah ada di sisi penjahat.

Maera baru aja keluar dari rumah rehabilitasi setelah 3 bulan tinggal di sana karena suatu kesalahan, yang akhirnya membawa dia juga ke keadaan selanjutnya. Selama akhirnya 'pulang' ke rumah, semuanya udah berubah. Maera berusaha sabar menunggu keluarganya bisa nerima dia lagi, tapi di tengah-tengah dia berusaha, malah kecemplung masalah lagi aja. Dicemplungin lebih tepatnya. Aku rasa yang membuat semua masalah Maera ini jadi semakin berat adalah dia sama sekali gak didengarkan siapapun di rumahnya. Bodohnya aku sama kayak Maera yang sempet berharap orang tuanya akan terpukul atas kejadian yang menimpa anaknya, tapi waduh, politik emang di atas segala-galanya.

Semua orang baik di sini (termasuk polisi) too good to be true, tapi aku harap beneran akan semakin banyak orang-orang yang pure membantu korban KS tanpa mengharap apapun, apalagi manfaatin giringan opini publik yang gak menentu. Penulis pun menyisipkan dalam tulisannya tentang gimana penafsiran tiap individu itu beda-beda dan bisa bahaya, satu oknum bersalah, bukan lagi cuma orangnya yang disalahkan tapi merembet ke agamanya, institusinya, dan sebagainya yang malah jadi melupakan inti masalahnya; pelaku.

Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari buku ini, kecuali bumbu romance nanggung antara lelaki usia 30-an dengan perempuan 19 tahun yang baru saja mengalami pengalaman traumatis. I mean... tanpa itu semua ceritanya tetap akan berlanjut dengan baik, he's already a nice person without even trying to make him VERY NICE offering a marriage to a girl after everything she going through.
Profile Image for kik the &#x1f96a;.
176 reviews1 follower
March 20, 2024
aku kebetulan non islam, tapi tertarik baca buku ini sampai kelar karena ceritanya sebagus itu. yah walaupun aku nggak ngerti di beberapa ayat atau istilah, tapi cerita ini masih sangat mudah dipahami dan sangat relate dg fenomena asli di negara ini 🤐😯

aku juga suka banget sama petuah-petuah tentang agama/ketuhanan/keimanan dalam buku ini. bisa jadi reminder juga untuk aku supaya lebih taat beribadah, karena seperti kata-kata dari rumah rehabilitasi, "Kita yang butuh Allah. Kalau kita berobat tapi nggak percaya dengan obatnya, 'kan sama saja sia-sia. Gitu juga dengan ibadah. Kalau kita beribadah tapi nggak percaya Allah sebagai penyelamat kita/jalan keluar dari setiap masalah kita, sia-sia." (damnnnn kalimat yang sejuk tapi sangat menampar di hati sampai berbekas dalam 🥲🙏🏻)

oh ya dan tentu saja aku SANGAT EMOSI DENGAN KELAKUAN KELUARGA MAERA DAN MAHISA. LEBIH JELEK DARIPADA TAI 🤬🤬 makanya aku hepi banget sama endingnya kek HAHAHAHA MAMPUS LU MAHIRA. asli deh, gedek banget sama orang-orang macem keluarga maera dan mahisa ini. semoga pada kena karma atau balasan dari Tuhan, deh.

another opinion that I want to highlight, buku ini berpotensi buat nunjukin Islam yang baik ke orang-orang lain di luar sana, khususnya non-Islam kayak aku ini. aku pribadi merasa cukup banyak belajar dan sadar kenapa bisa ada stigma negatif tersebut, lalu yang benar itu apa. nggak bisa memungkiri juga kalau di setiap agama pasti ada aja orang-orang buruk yang memunculkan kesan negatif pada ajaran agama. padahal, kayak kata maera, agamanya nggak salah. ajarannya nggak salah. Tuhannya nggak salah. yang salah adalah oknumnya.

bravo buat Honey Dee. ini karya keberikutnya dari beliau yang bikin aku speechless and entertained. what a joyful ride selama baca buku ini.
Profile Image for Yoyovochka.
326 reviews9 followers
November 12, 2024
Bukan Honey Dee namanya kalau gagal mengaduk-aduk emosi pembaca dengan isu yang aktual dan berhubungan dengan keluarga. Ini bukan buku pertama penulis yang saya baca dan saya memang nekat baca buku ini meski yakin isinya menyakitkan dan beberapa tokohnya yang manusiawi alias memang manusia begitu adanya, terbilang menjijikkan.

Honey Dee berhasil membuat emosi saya tersulut melalui keluarga Maera yang saya rasa bisa ditemui di mana-mana saat ini: tampilan luar sempurna, dalamnya bobrok. Isu yang dibahas aktual banget — pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang ternama, “suci” atau dianggap “suci” oleh masyarakat dan kecenderungan orang kita yang senang menyalahkan korban terutama jika pelakunya dianggap suci dan saleh. Akhir cerita ini realistis. Saya suka bagaimana Maera mengambil keputusan soal hidupnya.

Yang kurang saya sukai adalah beberapa bagian kerasa banget ceramahnya. Beberapa hal juga kurang sreg buat saya. Tapi ini cuma masalah beda pandangan. Selebihnya, buku ini bagus buat dibaca apalagi oleh anak remaja ya. Juga ortu yang senang memaksakan ambisi mereka ke anaknya.
Profile Image for Dina Meiladya.
39 reviews
October 1, 2025
Pernah denger istilah akhi-akhi trash? Nah, novel ini bisa jadi referensi kamu untuk mengenal modelan laki-laki begini: tampilan luarnya kayak pemegang kunci surga tapi sikap aslinya cocok jadi sahabat karib penghuni neraka (read: setan). Dan bisa tebak apa yang paling buat kesel dari akhi-akhi trash ini? Gak akan ada yang percaya kalau mereka buat dosa! Persis seperti yang sudah dialami Maera, setelah harga dirinya dirampas, Maera bukannya dibela tapi malah disalahkan karena sudah dianggap pendosa, lebih parahnya lagi oleh orang tuanya sendiri!

Alur cerita novel ini bener-bener sukses menguras perasaanku, mulai dari kesel, marah, sedih, harap-harap cemas, sampek terharu. Melalui sudut pandang orang pertama yang digunakan, aku bisa merasakan jugkir baliknya dunia Maera saat ia berjuang mempertahankan harga diri yang sudah dihancurkan oleh keluarganya sendiri.

Review lebih lengkap ada di sini yaa guys~ https://www.dinameiladya.my.id/2025/0...
Profile Image for Arutala.
559 reviews1 follower
April 30, 2025
Ceritanya nagih banget dan bikin gregetan. Karakter pada diri Maera yang pernah direhabilitasi dan dibenci keluarganya memang membangkitkan iba sekaligus kekaguman. Diksi dan kalimat religi yang dilontarkan cukup memikat dan bikin betah membaca sampai akhir. Kekurangannya hanya pada nada yang menggurui menjelang persidangan Mahisa. Namun di atas semuanya ini adalah sebuah cerita yang inspiratif, emosional dan reflektif.

Novel ini mengingatkan pada kisah yang dialami seorang wanita yang dipaksa kawin gantung. Memang agak beda jalan ceritanyaa tapi esensjnya sama, di mana si perempuan yang telah dilecehkan ini tak mendapatkan dukungan dari keluarga dekatnya, justru malah kawan dari LSM-lah yang mendampingi sampai menang tuntutannya.
Profile Image for Eyowfiii.
18 reviews
July 8, 2024
WOW speechless...apa apaan ini?? lingkungan macam apa ini??
Itu adalah reaksi waktu aku baca karya Honey Dee ini. Miris, gak ada kata lain yang bisa diutarakan selain itu. Sulit untuk membayangkan diri berada di posisinya Maera. Sedih ga sih nyatanya keadaan seperti ini banyak dilingkungan kita. Untung masih ada tokoh baik, seenggaknya bisa meredakan emosi :)
BUT buku ini bagus karena ngajarin kita arti TAWAKAL dan selalu berserah diri kepada Tuhan 🕊✨
1 review
August 15, 2026
Sekali baca habis, mengangkat isu yang cukup sensitif. Rangkaian kalimat terasa ringan, mengalir, adanya solusi gamblang yang mungkin dapat diterapkan bagi yang mengalami kejadian serupa, tipe cerita yang sulit dilupakan.
Profile Image for Aii Chi.
22 reviews
December 27, 2023
Bukunya bagus... banyak menceritakan tentang kebaikan dan hijrah. Tapi menurutku ada trigger warning tentang kasus pemerkosaan.
Profile Image for sasa .
100 reviews2 followers
October 9, 2024
"setiap ujian akan mencapai akhirnya, setiap badai akan berhenti pada waktu yang tepat.
Allah tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian"
Profile Image for Ica Agustin.
99 reviews1 follower
February 6, 2025
salah satu buku terbaik yang aku baca di tahun 2024. saat baca buku ini rasanya semua emosiku tumpah; sedih, gregetan, terharu, kesel.
Profile Image for Aaya.
54 reviews
April 14, 2026
"Rasa cinta itu asing, tapi menyenangkan."

Adanya Bang Izar benar-benar mempermanis semua masalah Maera ...
Profile Image for Yourloube.
12 reviews
June 4, 2026
RECOMMENDED!!! walaupin nyesek dibeberapa bagian, ingin puk-puk meira dan korban - korban lainnya diluaran sana agar tetap kuat melawan ketidakadilan!
Profile Image for Isa.
62 reviews3 followers
July 19, 2026
topiknya agak ujung jurang
Profile Image for Asmira Fhea.
Author 8 books32 followers
June 11, 2025
"Pernikahan seharusnya menjadi ibadah suci yang dilakukan atas dasar ketaatan pada Allah, bukan untuk menutupi aib, bukan buat jadi kresek hitam pembuang sampah. sampah tetap jadi sampah walau sudah dibungkus pernikahan."

suka tema yg diangkat! org2 religius yang kelihatan casingnya doang, ternyata punya dark side yang ngalahin orang "biasa2 aja". diungkapkan juga asalnya dari tuntutan keluarga yg pengin kelihatan wah...


Maera di sini mungkin representatif banyak orang yang gak dipercaya orang tua sendiri, karena demi ego mereka for the sake "agama". sedihnya dapet banget. meski dari awal, saya gak menemukan false belief yg dipatahin sepanjang plot. dari awal sisi Islaminya kuat, bahkan ketika diterjang badai sekalipun. dan yaaah... beberapa paragraf di sini menyertakan dalil, jadi somehow ngingetin kayak buku agenda ramadan😂

- AF
Profile Image for Flazia.
Author 6 books81 followers
July 21, 2024
Wow.
Hands down the best Laiqa I've read so far.
MasyaAllah. Sampai bingung mau ngomong apa saking bagusnya karya yang ditulis Kak Honey Dee ini. Layak banget dapet juara satu, wajib banget dapat rating bintang lima! Makasih banyak Kak udah nulis cerita islami sekeren ini. Ditunggu karya selanjutnya :)
Displaying 1 - 24 of 24 reviews