Bagian pertama buku, "Santri Teror", langsung menjerumuskan ke dalam cara umat Islam sebaiknya memandang terorisme "atas nama Islam". Bagian terakhir, "Gunung Jangan Pula Meletus", menyikapi bencana tsunami Aceh dan dialektika azab yang selalu populer ketika mara terjadi di negeri ini. Tidak hanya menjawab "kekepoan" saya sebagai awam, tetapi juga menguliti prasangka yang saya asumsikan pada Islam. Topiknya yang "susah" tapi relevan, diolah dari perspektif Islam dan sensitivitas sosial budaya, meluruskan kembali bahwa nilai dasar Islam tetap kedamaian.
Dari esai "Sunnah Aceh dan Qudrah Nuh" misalnya, dijelaskan tentang qudrah, intervensi langsung Tuhan terhadap manusia melalui bencana, seperti zaman Nuh. Selain itu, juga ada "tradisi penciptaan Tuhan", sunnah, lengkapnya sunnatullah, berupa alam semesta dan hukum-hukumnya. Baik ada manusia atau tidak, gempa terus akan terjadi, gunung akan tetap meletus, pun dengan tsunami. Karena memang begitulah adanya. Manusia yang mempunyai akal justru dituntut untuk mempelajari tanda-tanda, terkait ini, dengan ilmu geologi. Jadi menyimpulkan bencana tak muluk langsung menunjuk Tuhan, justru dengan belajarlah, maka kita menyadari bahwa Indonesia memang berada di "ring of fire", jadi sangat wajar kalau itu terjadi. Ini menempatkan kembali, yang diciptakan Tuhan bukan hanya manusia, tapi juga alam dan hukum alamnya.
Esai "Generasi Kempong" sangat mengagetkan saya karena begitu relatable.
"... kalau makan kunyahlah 33 kali baru ditelan. Sekadar makan, harus dikunyah sampai sekian banyak kali agar usus tidak terancam dan badan jadi sehat. Lha kok tulisan, ilmu, informasi, wacana--maunya langsung ditelan sekali jadi."
Hal. 53
Menyindir budaya instan yang menjadi penyakit banyak orang Indonesia. Inginnya langsung mengerti, menyimpulkan, bahkan langsung solusi. Pantas saja, saat ini hoaks subur, ditambah orang-orang soktau menjadi makin banyak dan pede dengan ke-soktau-annya. Baru baca headline saja, langsung berasumsi ini itu, yang penting komentar dulu. Luar biasa memang, keresahan saya terwakilkan dan sudah sejak lama ditulis Cak Nun, ketika membacanya, sadar tak sadar saya selalu mengaitkan dengan masalah kontemporer.
Ada lagi esai yang analisis cadasnya begitu menggelitik. "Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua" menohok kemunafikan bangsa ini. Sebab goyangnya Inul semata adalah produk budaya yang lahirnya pun memang dapat diprediksi melihat gelombang budaya dangdut yang semakin vulgar dan sensual. Disandingkan dengan kritik naif raja dangdut sendiri, Rhoma Irama.
Dan masih banyak lagi esai yang menggugah. Yang jelas, asyiknya membaca ini, semua istilah Islam ataupun Jawa langsung diberi penjelasan artinya. Tidak seperti "Slilit Sang Kiai", di mana saya selalu bolak-balik googling untuk bertanya arti istilah Islam ini itu. Saya menyadari, karena diterbitkan Kompas, maka memang dipasarkan untuk nasional, dan itu memudahkan saya sebagai awam mengakses buku ini. Terlebih lagi, buku ini kesannya tak menggurui, dan selalu self-aware kalau memang tak mau menggurui. Layaknya Cak Nun cerita dan curhat ke kita. Selalu menyisakan ruang untuk kita genapi sendiri. Ini luar biasa, karena memantik dialog batin kita. Cak Nun menyediakan alur berpikir, kita yang menjalaninya, kalau memang mau berpikir hehe. Tak jarang satu esai menggema di pikiran, butuh waktu beberapa saat untuk mengendapkan, baru saya membaca tulisan berikutnya. Memang lihai Cak Nun dalam menulis. Bintang 5/5 untuk buku ini.