Novel ini dengan sangat memikat mengangkat sebuah tema tentang pencarian seseorang dalam menemukan Tuhannya. Dan, yang menarik lagi, seseorang tersebut adalah mantan seorang preman kawakan.
Namanya Hardi. Awalnya,pemuda asal Boe=ne,Sulaweis Selatan, itu merantau ke Jakarta hanya untuk mencari penghidupan yang layak. Tapi,nasib membawanya menjadi ketua geng preamn kelas atas ternama di Jakarta,Ancagar.
Kemampuan tenaga dalam yang dimiliki Hardi membuatnya disegani. Sebagai ketua geng,Hardi pun akrab dengan kehidupan super keras dan kelam.
Suatu ketika,ia terpaksa membunuh seorang ekspatriat dari Jepang. Hal itu membuatnya harus menjalani pelarian selama berbulan-bulan. Ia ikut berlayar di kapal milik temannya sesama dari Bone,Haji Amir. Dan,selama dalam pelarian itulah,perjalanan Hardi dalam mencari Tuhan pun dimulai. Dari sekedar risih tidak sembahyang,sedangkan para awak kapal lainnya sembahyang,Hardi pun mulai menjalankan ibadah wajib tersebut.
Lantas, bagaimanakah kisah selanjutnya ? Putus asakah Hardi dalam mencari Tuhannya, terutama setelah ia kembali ke daratan? Atau, ia tinggalkan kehidupan kelamnya dan selanjutnya menjadi Hardi yang baru ? Bagaimana pula dengan nasib geng Ancagar dan anak buahnya ?
Andi Bombang (1970–2011). Ayahnya Bugis, ibunya Sunda. Masa kecil dilalui dengan penuh warna, antara lain pindah-pindah sekolah karena ayahnya sering berpindah tugas. Lulusan Institut Teknologi Bandung pada tahun 1995 kemudian bekerja sebagai wartawan. Tawaran bergabung dengan Gatra (kala itu Tempo barusan diberedel) terpaksa ditolak karena bersamaan dengan diterimanya dia di SDNP (Sustainable Development Networking Programme) di bawah UNESCO. Tidak lama di situ, beberapa bulan saja, kembali terdampar di sebuah grup perusahaan swasta nasional ternama. Merayap dari bawah, mulai dari Project Engineer sampai terakhir Operation Manager. Sepuluh tahun lebih, jenuh. Keluar, ceritanya mau wirausaha. Sambil itu, kembali menulis…. Kun Fayakun adalah novel perdananya.
kalo ada bintang 5 plus (kayak hotel aja), pasti aku kasih rating ini.
Di tengah kegalauannya sebagai preman top ibukota, dan di tengah pelariannya sebagai buronan tingkat atas, dia merasa hampa. Satu pertanyaan dalam hatinya "Tuhan itu Maha Tunggal tapi kenapa dia ada dimana-mana?, Maha Nyata tapi kok Maha Ghaib?" satu kalimat itu yang mengantarkannya pada sebuah pencarian tentang hakikat hidup, syariat islam, dan tarekat.
Bahkan saya baru bisa dalam tahap memahami dan mengerti apa yang dia tulis di 300 halaman terahir. Masalah 'rasa' yang dia tuturkan belum pernah kurasakan. Rindu dengan 'Rasa' yang dia jabarkan dalam buku ini. Begitukah keindahan semesta bertasbih? Begitu sempurnakah rasa rindu sama Sang Pencipta? Hingga surga bukanlah tujuan utama sang Hardi Kobra, tapi pertemuan antara makhluk dengan Allah lebih dirindukan dari pada apapun di muka bumi ini?
Bahkan ketika di akhir cerita, Hardi dihadapkan pada pilihan poligami, dia hanya memberikan 3 syarat. syarat 1: ditujukan kepada istri pertamanya, apakah dia rela untuk dimadu? syarat 2: ditujukan kepada calon istri keduanya, apakah dia juga rela dengan keadaan dirinya yang sudah memiliki istri dan anak? syarat 3: jika Allah menghendaki
Hardi Kobra pun menjelaskan jika pun syarat 1 & 2 sudah tidak masalah, namun jika syarat ke-3 tidak ada, maka pupuslah semuanya. Bagaimana dia menjalani hidup hanya karena Allah, bahwa langkahnya, geraknya, semua karena Allah semata. Kapan ya aku bisa gini? Rindu akan Engkau Ya Allah..
Kun Fayakun lebih enak dibaca dibandingkan novel2 religi yang lain, bahasanya mudah dicerna dengan setting yang mudah diingat, alur ceritanya bikin penasaran yang baca. Yang paling menarik adalah kita seolah-olah ikut terbawa ke dalam alur cerita, ikut deg.. deg.. an dalam pelarian Hardi Kobra, ikut terbawa dalam pencarian mursyid ... Membuat kita sadar Allah itu ada di mana pun kita berada, selalu ingat kepada Nya, Allah Maha Mengetahui, Allah mengampuni segala kesalahan2 kta asalkan kita benar2 ingin bertaubat dan kembali di jalan Nya....
Alur ceritanya bagus. walau ada beberapa yang seharusnya gak perlu, seperti penguasaan tenaga dalam, sepertinya dah gak jaman. Saya membayangkan kalau novel ini di film kan dengan gaya "merantau" misalnya, maka akan menjadi sebuah film yang dahsyat. akan menggambarkan sebuah pertarungan antara Yakuza dan kepala preman jakarta, akan ada kejar-kejaran dengan polisi. Tapi bagian yang menjadi kyai sepertinya gak perlu.
Kisah yang sangat menggugah, alurnya rapi, pembaca diantar secara perlahan kepada NYA...... sekalipun seorang penjahat, jika membaca ini, akan tergugah untuk kembali ke Jalan NYA... karena semua kita Dari NYA dan akan kembali kepada NYA...... Semoga Allah memberikan Rahmat dan kasih sayang NYA kepad Alamrhum Mas Andi Bombang, dan semoga semua buku-bukunya menjadi amal Jariah yang akan terus mengalir Pahalanya bagi beliau di Sisi Allah SWT....
Bagus. Banyak yang aq awalnya gak ngerti jadi ngerti. Misalnya ttg ilmu2 yang aneh2 tuh. Trus juga ajaran2...Ceritanya juga seru, gak romantis2an thok...