Jump to ratings and reviews
Rate this book

Analisis Gender dan Transformasi Sosial

Rate this book
Buku yang menguraikan pengertian gender dan kaitannya dengan berbagai konsep tentang perubahan sosial. Buku pegangan bagi anda yang menggeluti isu-isu HAM, gender, dan gerakan sosial.

Lihat juga Edisi terbarukan, tahun 2016 .

186 pages, Paperback

First published November 1, 1998

118 people are currently reading
1443 people want to read

About the author

Mansour Fakih

20 books38 followers
MANSOUR FAKIH (1953–2004), kelahiran Bojonegoro, menyelesaikan sarjana teologi di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta tahun 1978, dan meraih Master dan Doktor bidang Pendidikan di University of Massachusetts at Amherst, Massachusetts, USA, pada tahun 1990 dan 1994. Pernah bekerja sebagai tenaga penyuluh lapangan pada program pengembangan industri kecil di LP3ES Jakarta dan Lembaga Studi Pembangunan (LSP). Lantas menjadi koordinator Program Pendidikan dan Pengembangan di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Tahun 1993-1996 menjabat sebagai Country Representative Oxfam-UK/I di Indonesia, serta menjadi anggota Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Pada tahun 1994, dia bergabung dengan sembilan kawan (Roem Topatimasang, Zumrotin K.Susilo, Wardah Hafidz, Abdul Hakim Garuda Nusantara, Fauzi Abdullah, Mahendro, August Rumansara, Roy Tjiong, Sugeng Setiadi, dan Wilarsa Budiharga) mendirikan Resources Management & Development Consultants (REMDEC) di Jakarta, suatu lembaga pelayanan fasilitasi dan konsultasi pengembangan kemampuan (capacity building) organisasi-organisasi non pemerintah dan masyarakat.

Pada rentang 1996-1997, Mansour Fakih bersama Roem Topatimasang menginisiasi suatu bentuk organisasi yang memfokuskan diri sebagai sistem pendukung gerakan sosial, terutama pada aras lokal dan akar rumput. Mereka berdua lalu mengajak beberapa kawan lama_para pegiat dan fasilitator senior ORNOP Indonesia seperti Rizal Malik, Sri Kusyuniati, Sita Aripurnami, Fauzi Abdullah, dan Wilarsa Budiharga mendirikan Institute for Social Transformation (INSIST) di Yogyakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
183 (44%)
4 stars
122 (29%)
3 stars
68 (16%)
2 stars
20 (4%)
1 star
21 (5%)
Displaying 1 - 30 of 49 reviews
Profile Image for ana.
244 reviews42 followers
October 13, 2011
Terdapat dua tanggapan atas perdebatan isu perempuan ini, tanggapan pertama memandang bahwa sebenarnya tak ada masalah antara posisi kaum laki-laki dan perempuan saat ini sehingga keadaan perempuan tidak perlu dipersoalkan. Kelompok yang berpendapat seperti ini umumnya adalah kaum yang mendapat keuntungan atas posisi perempuan saat ini dan mereka mempertahankan posisi yang membuat mereka nyaman. Tanggapan kedua adalah yang mengganggap bahwa memang ada ketidakadilan yang dirasakan perempuan saat ini, sehingga sesuatu harus diubah. Kelompok ini terbagi menjadi empat berdasarkan pertanyaan mengapa kaum perempuan tertindas, yakni: liberalis, radikalis, marxis, dan sosialis. Berikut uraian singkat mengenai kelomppok tersebut.
1. Golongan liberalis berasumsi bahwa kebebasan dan keadilan berakar pada rasionalitas
2. Golongan radikalis menganggap bahwa akar penindasan kaum perempuan adalah penindasan kaum laki-laki.
3. Golongan Marxis berpendapat bahwa eksploitasi kaum perempuan merupakan bagian dari eksploitasi kelas dalam hubungan produksi yang disebabkan oleh kapitalisme.
4. Golongan sosialis berpendapat bahwa perempuan, sebagai suatu kelas, mengalami penindasan hampir di setiap aspek kehidupan.

Manifestasi Gender pada Posisi Kaum Perempuan
Berdasarkan bab-bab sebelumnya persoalan perempuan merupakan persoaln yang sifatnya saling terkait dengan banyak hal lain. Perbedaan gender melahirkan adanya ketidakadilan gender yang kemudian melahirkan sifat dan stereotipe yang kemudian dianggap masyarakat sebagai ketentuan kodrat bahkan ketentuan Tuhan. Konstruksi/ rekayasa sosial ini mengakibatkan beberapa posisi perempuan, seperti:
1. Subordinasi kaum perempuan di hadapan laki-laki
2. Marginalisasi perempuan
3. Pemberian label yang memojokkan pada kaum perempuan
4. Tenaga perempuan lebih banyak keluar dibanding laki-laki
5. Kekerasan dan penyiksaan
6. Citra posisi/kodrat beredar di masyarakat tidak menguntungkan perempuan

Pelanggengan subordinasi, stereotipe, dam kekerasan terhadap kaum perempuan secara tidak sadar dilakukan oleh kultur patriarki. Namun, yang bisa disimpulkan dari penjabaran sebelumnya adalah perjuangan membela kaum perempuan tidak sama dengan perjuangan kaum perempuan melawan kaum laki-laki. Ini bukanlah perlawanan terhadap kaum laki-laki tetapi kepada struktur dan kultur ketidakadilan masyarakat yang sudah mendarah daging. Beberapa agenda guna mengakhiri sistem yang tidak adil ini antara lain:
a. Melawan hegemoni yang merendahkan kaum perempuan dengan cara melakukan dekonstruksi ideologi.
b. Melawan paradigm developmentalism yang berasumsi bahwa keterbelakangan kaum perempuan disebabkan oleh kaum perempuan yang tidak berpartisipasi dalam pembangunan.

Ketidakadilan Gender Harus Dihentikan
Salah satu kesulitan dalam mewujudkan posisi perempuan yang setara dengan laki-laki adalah spektrum ketidakadilan yang amat luas, dari masing-masing kepala kita, hingga urusan negara. Pemecahan ketidakadilan ini tak bisa dilakukan sekaligus dan harus bertahap.
Pertama, haruslah dibuat dan dilaksanakan upaya yang bersifat jangka pendek untuk mengatasi marginalisasi kaum perempuan dengan program pengembangan kaum perempuan serta melibatkan perempuan dalam menjalankan kekuasaan di sektor publik. Dalam mengatasi subordinasi, perlu diupayakan pelaksanaan pendidikan dan pengaktifan organisasi perempuan. Untuk menghentikan masalah kekerasan, kaum perempuan sendiri harus dengan tegas menyatakan bahwa mereka yang melakukan kekerasan harus berhenti karena bila tetap diam, mereka menganggap kaum perempuan diam-diam menyukai kekerasan tersebut. Kemudian, kaum perempuan juga harus dibekali teknik untuk menghentikan kekerasan tersebut, dengan cara menulis di buku harian atau media massa gara bisa menjadi bukti jika suatu saat harus dibawa ke jalur hukum.
Rencana jangka panjang untuk persoalan ketidakadilan kaum perempuan adalah memperkokoh berbagai upaya jangka pendek tersebut dan melancarkan kampanye kesadaran kritis dan pendidikan umum kepada masyarakat untuk menghentikan ketidakadilan gender. Langkah pendukungnya ialah studi tentang pelbagai bentuk ketidakadilan gender untuk kemudian dilakukan advokasi guna mengubah kebijakan, hukum dan aturan pemerintah yang dinilai tidak adil atas perempuan.

Agenda Mendesak
Feminisme, sebagai gerakan sosial telah mencapai beberapa kemajuan di bidangnya, misalnya dalam politik, perempuan telah memiliki hak untuk memilih. Dalam pendidikan prestasi perempuan juga mengalami kemajuan yang signifikan dibanding laki-laki dan di bidang kesehatan, kondisi perempuan mengalami perbaikan yang luar biasa. Pada bidang ekonomi, kesempatan kerja untuk kaum perempuan pun meluas karena dianggap produktif. Prestasi terbesar gerakan feminisme justru pada kemampuannya dalam membawa isu perempuan sebagai isu global. Kini, banyak organisasi international dan negara merdeka mempunyai program untuk perempuan dan memmiliki divisi/kementrian sendiri yang mengurusi urusan perempuan.

Gerakan Feminisme di Indonesia: Tantangan dan Strategi Mendatang
Walaupun gerakan feminisme telah ada sejak tahun 60-an, namun pekerjaanya secara nyata dan menghasilkan perubahan barulag akhir-akhir ini. Pada periode pertama, yakni tahun 1975-1985, hampir semua LSM menganggap masalah gender bukanlah masalah yang penting. Periode dasawarsa kedua adalah tahun 1985-1995, saat itu merupakan tahap pengenalan dan pemahaman dasar tentang apa yang dimaksud dengan analisis gender dan mengapa gender menjadi masalah pembangunan. Tantangan yang muncul pada dasawarsa kedua antara lain tantangan dari pemikiran dan tafsiran keagamaan yang patriarki serta tantangan gerakan kilas balik dari aktivis baik lelaki maupun kaum perempuan sendiri. Pada dasawarsa mendatang, dua strategi yang diusulkan adalah mengintegrasikan gender ke dalam seluruh kebijakan dan program berbagai organisasi dan lembaga pendidikan dan strategi advokasi.
Persoalan penindasan perempuan bukanlah datang dari laki-laki secara langsung tetapi dari persoalan sistem dan struktur ketidakadilan masyarakat dan ketidakadilan gender. Gerakan kaum perempuan adalah proses gerakan untuk menciptakan hubungan antarsesama manusia yang secara fundamental baru, lebih baik, dan lebih adil. Maka sesungguhnya gerakan feminisme bukanlah gerakan untuk menyerang kaum laki-laki, namun merupakan gerakan perlawanan terhadap sistem yang tidak adil, serta citra partriarkal bahwa perempuan itu pasif, tergantung, dan inferior.
Profile Image for raafi.
930 reviews452 followers
March 5, 2021
Buku penting bagi yang sedang tertarik untuk membaca perihal isu gender dan seksualitas--atau yang sekiranya ingin tahu perspektif orang lokal tentang feminisme. Buku ini bagai kitab.
Profile Image for Yudha P, Sunandar.
8 reviews
January 12, 2008
buku yang sederhana dan cocok untuk siapa saja yang mau belajar tentang gender. dari buku inilah pertama kali aku tau istilah bias gender. dari buku ini juga aku dapat merasakan bahwa memang benar kaum perempuan masih tertindas. dan dari sini pula aku memutuskan untuk lebih menghargai perempuan.
Yudha P Sunandar
Sn
Profile Image for Zawani.
82 reviews22 followers
March 22, 2018
Naskah yang baik untuk dibaca bagi mereka yang baru mahu mengenali apa itu feminisme; sejarah kemunculannya, aliran-aliran di dalamnya, isu yang diperjuangkannya, bagaimana ia memberi impak pada masyarakat sekitar dan permasalahan yang dihadapi. Selain itu turut diselitkan pada awal bab beberapa definisi penting seputar perbincangan gender seperti perbezaan makna gender dan jantina (sex).

Ramai yang tersalah anggap bahawa gender ditentukan faktor biologi, sedangkan ini merujuk pada jantina (sex). Gender sebenarnya merujuk pada sifat yang diletakkan pada lelaki mahupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial atau budaya. Misalnya perempuan itu dikenali dengan sifat lemah-lembut, emosional manakala lelaki dianggap rasional dan kuat.

Menariknya, buku ini juga memfokuskan perkembangan feminisme di bumi Indonesia. Pengenalan WID (Women in Development) kepada negara-negara dunia ketiga awal 1970-an sebenarnya lebih mengundang kritikan dan sepertinya WID ini lebih mahu mengekang dan menjinakkan wanita. Industri pertanian di Indonesia dahulunya dipelopori oleh kaum wanita dan sistem ini dipanggil 'pertanian perempuan'. Akan tetapi disebabkan kemasukan teknologi yang lebih maju (revolusi hijau) seperti menggunakan jentera sawah telah mengurangkan peluang pekerjaan bagi wanita. Dan terdapat satu polisi di bawah WID di mana setiap keluarga hendaklah menghantar seorang lelaki mewakili satu keluarga untuk diajar tentang pengunaan mesin jentera. Perkara ini akhirnya mengakibatkan diskriminasi terhadap kaum wanita dalam sektor pertanian, kerana petani lelaki yang diambil bekerja kerana tahu selok-belok pengendaliam jentera dan bukannya petani wanita. WID juga turut dikritik kerana bias feminis liberal, kelas menengah putih, tidak membawa kepentingan pembebasan kaum perempuan di negara-negara dunia ketiga.

Perbincangan mengenai feminisme dan dunia patriarki dalam agama juga disentuh tetapi tidak secara mendalam. Hanya disebut bahawa autoriti agama mempunyai masalah dengan feminisme yang dianggap cuba menganggu-gugat kuasa dan budaya yang sedia ada. Feminisme berpendapat perlunya pentafsiran semula ayat-ayat Al-Quran yang bias pada kaum lelaki kerana budaya patriarki yang menebal. Pendapat ini sebenarnya ada betulnya. Islam tidak datang ke kepulauan nusantara dengan ayat-ayat sucinya sahaja, ia turut membawa budaya patriarki orang arab.

Feminisme itu sendiri punyai banyak aliran, daripada feminis marxist (kiri), pertengahan, sehingga feminis liberal. Dan di America tempat kelahiran gerakan ini sendiri telah melalui fasa ombak feminisme yang keempat. Tetapi perbincangan paling penting yang tidak disentuh oleh penulis adalah feminisme yang beraliran nusantara. Sudah tiba masanya gerakan feminis di nusantara menilai serta mengembangkan ideologi ini dalam konteks nusantara dan tidak hanya berkiblatkan barat.
Profile Image for Femina Sagita Borualogo.
17 reviews12 followers
April 5, 2008
I read this book when I was in undergraduate years. I left this book in my parents' home in Jakarta, so I tried to memorize what I felt first time I read it. It is a very difficult book to be understood. First, Fakih just spoke as if all readers already have same perception on what it meant Transformation, Gender, etc. Those concepts were really "weird" ones at that time. However, as a pioneer on Gender Issues' books, this book is a very worth one.
142 reviews
November 30, 2008
Buku saku dengan sii yang ringkas tentang gender, tapi cukup memberi wawasan tentang kesadaran gender.
Profile Image for Dee Ibrahim.
8 reviews1 follower
June 9, 2013
Canggih pisaaaan :)
Meski tema kajiannya lumayan berat -gender-, tapi bahasa yang digunakan penulis itu ringan dan ngena, ga 'njelimet'. Buku ini telah mengubah pemahaman saya.
Profile Image for Yuli Utomo.
22 reviews1 follower
December 5, 2014
Buku kajian Gender Pada mahasiswa pascasarjana Unud sangat menarik dan enak di telaah
Profile Image for Isti Bani.
27 reviews29 followers
April 20, 2015
belajar sosioekonomi yang jadi basic gender di buku ini menyenangkan. easy to relate.
47 reviews
December 30, 2025
Menurutku buku tipis 167 halaman ini cukup komprehensif. Meskipun tipis, tapi tidak reduksionis. Mansour Fakih menjelaskan konsep-konsep yang berkelindan di seputar gender.

Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama lebih memfokuskan pada penjelasan konsep-konsep, definisi, dan alasan terjadinya ketidakadilan gender yang disebabkan oleh perbedaan gender. Di bagian kedua, lebih fokus pada metode-metode antar berbagai aliran feminis.

Mungkin sebelum lebih lanjut memahami feminisme, buku ini bisa dijadikan sebagai muqadimah.
Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
November 7, 2017
Barang-barang tidak dikenal perlu diteliti dan diklasifikasi sehingga kau tahu itu apa dan bagaimana menggunakannya. Juga ketika memutuskan untuk mengambil mata kuliah pengantar gender, barang bernama ‘gender’ itu perlu kau teliti dan klasifikasi, digunakan atau tidak, itu keputusanmu. Tapi untuk meneliti dan mengklasifikasi itulah, buku ini dicekokkan ke dalam kepalamu. Tidak ada alasan pasti mengapa dalam kepalamu cerita bertahan lebih lama daripada serangkaian penjelasan. Karena itu, membaca buku ini, kau merasa perlu menggunakan semacam catatan untuk dapat mengingat sebagian isi buku. Sebab, buku ini membahas buanyaaak hal, dari beda gender dan jenis kelamin, pengertian pembangunan, hubungan pembangunan dan gender, beda feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis, dan feminisme sosialis (yang, kata buku ini, gabungan dari paham fem. Radikal dan marxis, jadi kata yang ini, akar masalah penindasan perempuan nggak cuma sistem patriarki tapi juga kelas), lalu pembahasan hubungan ketidak adilan gender dengan tafsir agama (uh seneng banget sama yang gini-ginian aku), begitulah.
Profile Image for Thya Basmar.
13 reviews2 followers
October 20, 2017
Entah apakah buku ini masih relevan dengan konteks masa kini, atau apakah hingga saat ini belum ada perubahan signifikan mengenai kajian gender di Indonesia.
Profile Image for Shrunkula.
62 reviews
July 19, 2020
im reviewing this because it helped me with my undergraduate thesis. the writing can be tedious at times but if you pushed through it, like i did, it gives you a lot of knowledge.

there are several points i like about this book, first it gives you background about what feminism is. where it started, and what caused it. It also explained that feminism is not a monolith ideology, it has a lot of perspective. this book stated the big three feminist thoughts which is radical feminism, socialist/marxist feminism, and liberal feminism. so for first learner about feminism, it gives you background before you delve further into this book.

the next thing i like is it hooked between islam, as the majority beliefs in indonesia, and feminism it self. I cant say much because i might give away too much of this book.

the third point is as far as we know the common enemy is feminist thoughts are patriarchy and classicism. this book stated that men are also the victim of patriarchy. not just women, as a lot of people might think. men and women are the victim in systemic patriarchal society esp those who belong to the worker class.

the last point is how the writer did not afraid to critics feminism movement itself. critics are important to improve the movement. .

anyway this is a great book esp for those who just started learning about feminism.
Profile Image for Frisca Alexandra.
31 reviews
March 21, 2018
Jauh sebelum isu feminis sepopuler dewasa ini, Mansour Fakih sudah memberikan analisisnya terkait isu gender dan sejak terbit pertama kali ditahun 1996, buku ini tidak henti diproduksi terus menerus mengingat semakin tingginya relevansi isi buku ini dengan kondisi dunia saat ini.
.
Buku ini terbagi kedalam tiga bagian, di bagian pertama sang penulis mencoba meluruskan berbagai persepsi yang mungkin salah dipahami oleh masyarakat selama ini. Sang penulis memulai dengan meluruskan pemahaman tentang apa itu gender serta perbedaan antara gender dan juga sex kemudian penjelasan berlanjut pada ketidakadilan yang dialami oleh perempuan karena bias gender, mulai dari marginalisasi, stereotype hingga kekerasan terhadap perempuan.
.
Permasalahan-permasalahan inilah yang kemudian melahirkan sebuah gerakan yang kini populer dengan sebutan feminisme. Banyak pula mispersepsi terkait tujuan dari gerakan feminisme tersebut, banyak masyarakat yang mengira bahwa gerakan feminisme ada untuk menyetarakan kedudukan antara pria dan wanita padahal gerakan feminisme lahir untuk memperbaiki sistem, yang mana sistem yang berlaku baik ditingkat lokal, nasional maupun internasional selama ini dirasa bias gender dan merugikan perempuan sehingga gerakan feminis lahir untuk memperbaiki sistem agar menjadi lebih adil terhadap perempuan.
.
Tentu saja ada banyak tipe feminis, mulai dari feminis radikal, liberal hingga feminis marxis.
Apa yang dilakukan oleh gerakan feminis dewasa ini sesungguhnya lebih banyak mengacu kepada pemikiran kaum feminis liberal dimana untuk dapat memperbaiki sistem yg patriarki dan bias gender maka perempuan terlebih dahulu harus memantaskan diri dengan menjadi cerdas, jika perempuan sudah cerdas maka mereka dirasa akan mampu bersaing dengan para lelaki dalam sebuah sistem yang bias gender tersebut.
.
Tentu saja untuk merubah sistem yang bias gender atau pun untuk menghilangkan budaya patriarki bukanlah hal yang mudah, bahkan perempuan yang berjuang untuk hal tersebut tidak hanya berjuang menghadapi kaum lelaki tetapi juga berjuang menghadapi sesama perempuan. Secara sederhana, bukankah masih banyak perempuan yang jahat kepada sesama perempuan ? Hal inilah yang membuat perjuangan kaum feminis masih membutuhkan waktu yang panjang dan perjuangan ini harus dimulai dengan mencerdaskan para perempuan itu sendiri.
Profile Image for Saji.
98 reviews5 followers
May 20, 2021
Buku ini diawali dengan pembahasan perbedaan gender dan sex. Sangat recommended untuk pembaca yang ingin belajar tentang itu.
Saya baca buku ini untuk menambah wawasan tentang gender, tapi ternyata di dalamnya juga berisi pembahasan lain, terutama yang berkenaan dengan 'transformasi sosial'. Buku ini juga membahas berbagai aliran feminis.

Yang kurang saya suka dari buku ini, mengapa ada banyak sekali pengulangan? Awalnya saya merasa saya aja yang salah meletakkan pembatas baca. Namun, ternyata tidak. Memang banyak sekali pengulangan dan itu bukan perkalimat, tapi beberapa paragraf utuh. Pengulangannya memang tetap nyambung aja dengan pembahasan yang dikaitkan. Tapi, kok kalo dibaca gak secara sekaligus (alias dijeda-jeda) seperti membingungkan. Pengulangan sebenarnya bisa dilakukan dengan mengambil kalimat inti dari suatu paragraf tanpa harus mengambil semua kalimat di dalamnya.
Profile Image for Kahfi.
140 reviews15 followers
February 8, 2018
Buku yang tidak bisa dikatakan sebagai buku saku meskipun ukuran yang relatif kecil, ada banyak kelebihan yang ditawarkan oleh buku ini. Salah satunya adalah pemahaman mengenai gender yang masih banyak disalah pahami oleh mayoritas masyarakat.

Selain itu, pemahaman mengenai gender dikaitkan dengan kondisi teraktual Indonesia yang semakin membuat buku ini relevan dibaca saat ini. Analisis gender memperlihatkan bahwa demokratisasi di Indonesia masih jauh memayungi semua kalangan.

Untuk itu perlulah kiranya dibaca buku ini, buku old school namun jaman now sekali kritiknya.
Profile Image for Setra.
12 reviews
May 8, 2020
Fajar Martha kamu ingat ga pernah memotret aku ketika sedang khusyuk menuntaskan buku ini? Sampai akhirnya aku seakan lega ketika tuntas membaca ini walau pusing kemudian. Sebagai pemula, buku ini yang membawa aku mengenal jenis-jenis penindasan perempuan. Sampai kucel dan penuh coretan. Kelak aku akan sangat mau untuk membacanya kembali, selain mengasah ingatan tentu saja mengulang memori menyenangkan 💕
Profile Image for Dalila.
51 reviews7 followers
March 31, 2022
Not my typical book genre to read but this one’s really a good one! I didn’t expect this to be a very light read with its complex topics, mulai dari deskripsi sampe contoh-contoh yang ada, jadi lebih gampang memahami masalah-masalah emansipasi perempuan & gender inequality yang dibalut dengan cara pembahasan yang ringaaan banget! Cocok sih bukunya sebagai pengantar kalo mau dive deeper into this kind of topic!
3 reviews
June 1, 2024
Buku ini menarik dibaca untuk orang yang pertama kali ingin mempelajari terkait gender. Mansour Fakih berhasil menjelaskan gender dan dikorelasikan dengan teori-teori lain.

Dari buku ini, kita dapat mengetahui berbagai mazhab feminisme. Selain itu, kita juga diajak berpikir untuk menganalisis isu perempuan ini di era developmentalis. Akhir buku ini, membuka pikiran kita bagaimana keadilan gender akan menciptakan transformasi sosial.
Profile Image for Qurrotul Uyun.
17 reviews33 followers
December 23, 2019
Mayoritas dari kita tersesat dalam menganalisis bagaimana membagi peran antara peran perempuan dan laki-laki secara adil karena ketidakpahaman atas konsep dasarnya yaitu konsep gender. Buku ini sangat direkomendasikan bagi yang ingin mengetahui konsep gender dan keadilan gender. Bahasa yang digunakan tidak rumit serta disertai contoh-contoh peristiwa sehingga memudahkan dalam pemahaman.
Profile Image for Gigih Alpha Rabi.
9 reviews3 followers
September 5, 2022
Buku yang bisa menjadi pengantar buat kawan kawan yang mau belajar tentang isu Gender. Juga buku ini buku pertama saya dalam memulai belajar Kajian Gender. 167 halaman tapi setidaknya memberikan gambaran tentang Gender itu apa, bedanya Gender dan Sex serta ada Pembahasan singkat tentang Gerakan Feminisme.
Displaying 1 - 30 of 49 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.