"Esensi cerita pendek yang baik bukan soal pendek panjangnya, akan tetapi bagaimana dalam dan lewat suatu pengisahan peristiwa kecil yang kompak dapat bercahaya suatu pijar pamor kemanusiaan yang menyentuh". - Y.B. Mangunwijaya.
-
Ketujuhbelas cerpen Kompas tahun 1995 ini dihiasi nama-nama sastrawan kondang seperti, Kuntowijoyo, Beni Setia, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, Ahmad Tohari, dan nama-nama lain yang tidak kalah hebat dalam kepenulisan. Tema yang diusung tetap sama seperti kumcer Kompas lainnya: tentang kehidupan dan kemanusiaan. Beberapa cerpen yang sangat berkesan bagi saya antara lain;
Laki-Laki yang Kawin dengan Peri
Tentang Kromo Busuk yang dikucilkan karena katanya berbau busuk dan tak bisa hilang baunya walaupun sudah mandi kembang segala rupa. Akhirnya, Kromo terpaksa tidur di tengah sawah. Tiba-tiba ada peri yang menghampiri dan mereka kawin!
Paduan Suara
Sugeng, seorang ahli dalam seni tarik suara diminta oleh bosnya untuk membentuk tim paduan suara demi acara besar di kantor. Tapi, sayangnya, dari banyaknya orang yang dipilih oleh Sugeng, banyak yang "disingkirkan" si bos karena katanya "tidak pantas" berada sepanggung dengan orang lain karena jabatannya "rendah". Sugeng galau sekali. Padahal yang katanya "orang jabatan rendah" itu punya suara bagus-bagus.
Rampok
Hamsad sedang memperjuangkan istrinya agar bisa lulus ujian untuk menjadi guru PNS. Caranya? Dengan menyogok sejumlah empat juta rupiah secara kontan. Tentu gaji Hamsad tidak sebesar itu, rumah saja masih kontrak, gak mungkin bisa dapat empat juta. Yak, Hamsad merampok orang demi kelulusan istrinya menjadi abdi pemerintah.
Putri Keraton
Malam itu Topo, tukang becak Solo, tak hanya mewujudkan impiannya. Ia juga mengubah nasib istrinya dan nasib Sisri, pelacur yang hobi mangkal di warung Pak Karyo, menjadi orang kaya dalam semalam. Topo bukan jin pengabul permintaan. Tapi, ia cerdas dan banyak akal. Malam itu, Sisri disulap menjadi Putri Keraton Solo.
Pernikahan
"Barangkali hidup ini adalah sebuah pengembaraan yang sama. Sampai kita temukan hal-hal yang berbeda. Waktu itu baru peradaban bergerak lagi satu langkah. Lalu kita jadi sadar betapa kita hanya sebuah noktah yang begitu kecil". Konsep pernikahan ternyata sudah menjadi isu yang hangat sejak 1995, atau bahkan jauh sebelumnya. Dan memang, ya dimana-mana pernikahan sama saja. Dalam cerita ini, pembaca dibawa oleh perdebatan alot antara si "aku" dan istrinya yang mempermasalahkan tentang pernikahan kawan dekatnya.
-
Itu adalah beberapa cerpen yang memberikan kesan bagi saya setelah membacanya, bahkan beberapa cerpen saya bacakan nyaring untuk teman saya yang malas membaca. Itu adalah salah satu keuntungan membaca cerpen, kita bebas membaca dari bagian mana saja atau malah tidak membaca salah satunya sama sekali.
***