Dalam novel ini Sobary bicara soal “absurditas”. Baginya, dunia sosial memiliki struktur yang tampak teratur, pola-polanya mudah dibaca, aturan-aturannya jelas, seperti dalam birokrasi kantor, tapi jalan hidup manusia tak selalu setia pada garis yang ditentukan struktur sosial.
Ada garis hidup yang tak terbaca mata dan hati kita, tapi berkuasa dan sangat menentukan. Dan itu yang baginya selalu menjadi kejutan-kejutan kecil yang keindahannya tak mudah dimengerti. Tak mengherankan ia pun selalu bertanya dan memperoleh jawaban yang lebih merupakan pertanyaan-pertanyaan baru yang membuatnya makin penasaran.
Inilah pertanyaan Sobary: Aku mungkin hanya musafir iseng tak punya tujuan? Apa yang kucari? Aku terpenjara oleh kantor, oleh keluarga, oleh orangtua dan mertua, oleh istri dan anak-anak. Tapi siapa bilang aku tak terpenjara oleh nafsuku sendiri, dan kecenderungan-kecenderungan sok mengejar apa yang abadi, tapi tak sadar telah kandas di atas segala yang fana?
Mohamad Sobary (biasa dipanggil Kang Sobary, lahir di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 7 Agustus 1952; umur 57 tahun) adalah budayawan yang sering menulis di beberapa surat kabar Indonesia. Kolomnya sampai sekarang masih muncul di Harian Kompas Minggu di rubrik Asal-Usul. Mantan Pemimpin Umum Kantor Berita Antara ini sekarang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan[1] (Partnership for Governance Reform).Jabatan tersebut berakhir bulan Juli 2009. Kini Sobary sedang memfokuskan diri pada penulisan Novel tentang keluarga Syalendra yang membangun Borobudur. Ditengah kesibukan itu dia juga menyelesaikan segenap kenangan dengan Gus Dur : 1. Jejak Guru Bangsa: Meneladani Kearifan Gus Dur, minggu ketiga Februari 2010 terbit di GRAMEDIA 2. Kenangan lainnya, dialog-dialog dengan Gus Dur yang pernah direkam dan diperjualbelikan, akan diterbitkan kembali dengan judul Gus Dur dan Kang Sobary : KeIndonesiaan dan Kemanusiaan.
Senang bisa membaca buku ini~ Buku ini aku temuin di bengkel buku Taman Ismail Marzuki karena ga dapet dapet di toko buku biasa yang sekarang. Isinya tidak mengecewakan di setiap babnya pasti kita bisa mengambil sebuah pelajaran hidup. Buku ini lebih membuatku memahami kalau hidup di dunia sebercanda itu banyak banget hal yang membuat kita malah menjadi manusia yang penuh dengan dosa jika yang kita pikirkan atau yang kita lakukan semata-mata hanya untuk dunia seperti pekerjaan, hubungan kita dengan manusia, dan lain-lain. Mohammad Sobary juga mengajarkan kita agar ketika kita beraktivitas di bumi ini kita tidak boleh lupa untuk selalu melibatkan Sang Pencipta di setiap keadaan karena kesuksesan kita tidak lain dan tidak bukan berasal dari takdir yang Dia ciptakan. Buku ini adalah kegundahan dari Ahmad Sobary sendiri melalui pertanyaan untuk dirinya sendiri:
"Aku mungkin hanya musafir iseng tak punya tujuan? Apa yang kucari? Aku terpenjara oleh kantor, oleh keluarga, oleh orangtua dan mertua, oleh istri dan anak-anak. Tapi siapa bilang aku tak terpenjara oleh nafsuku sendiri dan kecenderungan-kecenderungan sok mengejar apa yang abadi, tapi tak sadar telah kandas di atas segala yang fana?"
Intinya adalah beliau ingin siapapun yang membaca ini untuk lebih menikmati segala manis pahit kehidupan dengan berusaha terus diniatkan untuk yang abadi jangan sampai kita hanya sok mengejar apa yang abadi tapi ternyata di tengah jalan kita sudah kandas diatas segala yang fana.
Pertama kali berkenalan dengan novel Sang Musafir, lantaran dihadiahkan kawan saya dari Salatiga "ini hadiah untukmu", dibaca yaa sampai habis (pesannya). Sekilas membaca catatan singkat di cover belakangnya, sontak saya berkesimpulan bahwa buku ini bagus dan layak dibaca sampai tuntas. Tidak mudah mencerna susunan kalimat yang digunakan Kang Sobari, diperlukan perenungan, bahkan pengulangan dalam membaca dan memahami satu persatu pesan dalam setiap paragraf. Banyak hal yang dapat dipelajari dari setiap judul yang disampaikan. Meski terkesan sedikit serius, tapi justru menjadi cambuk bagi yang memiliki rasa, yang mampu menyelami kata-kata hikmah yang dikandungnya. jujur, ini adalah salah satu buku yang memaksaku menempelkan ragam wana kertas di halamannya, sebagai bukti betapa buku ini sarat akan kata-kata hikmah untukku dan anda.
Terima kasih Good inspiration.. Salam sukses selalu.
Banyak kata/kalimat yang saya kutip lantaran mengandung makna yang sangat dalam. Bahkan mungkin hampir seluruh kata yang ada di dalam buku ini sarat makna. Saking banyaknya, saya sampai kewalahan dibuatnya karena apa yang disampaikan di dalam buku ini penuh dengan pembelajaran, perenungan, dan pemahaman yang kompleks.
Seperti dipereteli satu per satu sampai ke akarnya. Tentang jiwa, diri, juga satu kesatuan tentang makna dan arti hidup, bukan hanya yang bersifat duniawi, tapi juga persoalan tentang tujuan akhir yang abadi.
Terima kasih sudah menulis ini. Buku yang sangat bagus dan bergizi. Melalui novel 'Sang Musafir', saya temukan banyak berlian. 😊
1. Bab awal buku nampak seperti memoar. 2. Penggunakan sudut pandang orang pertama tapi kok serba tahu, terutama bagian mengenai penjelasan pekerjaan, orang-orang disekitarnya, kehidupan masa lalu, semuanya penuh dengan pengetahuan pasti tanpa memberikan ruang untuk keraguan. 3. Konflik yang tidak jelas. Bab awal merupakan konflik dalam diri si tokoh aku dan idealismenya dengan realita di lapangan, lalu tiba-tiba mengabur dan melantur ke berbagai hal yang tak jelas benang merahnya. 4. Pamernya terlalu berlebihan.
Namun bukan berarti buku ini tak berisi petuah atau pelajaran yang bisa diambil, hanya cara penyampaiannya saja yang tak sesuai seleraku.
Buku ini memberikan perspektif baru tentang kehidupan. Ternyata masih banyak hal di luar sana yang luput dr jangkauan mata kita. Pak Sobary menulis segala luapan dan pemikiran selama menjadi si musafir, bertemu segala macam orang dan situasi situasi baru.
Saya mengenal Mohamad Sobary sebagai esais dan penulis kolom yang oke. Ia rutin menjadi salah satu pengisi asal-usul Kompas Minggu, juga sering menulis artikel-artikel lepas yang menarik di media cetak yang ‘mikir’ seperti Tempo dan Editor (alm) hingga majalah yang ‘ringan’ seperti Jakarta-Jakarta dan Hai. Sebuah kumpulan esainya yang dibukukan, ‘Kang Sejo Melihat Tuhan,’ membuat saya terpesona karena kelucuannya dan juga, terutama, karena kejeliannya memotret kisah-kisah kehidupan bersahaja dan sosok-sosok rakyat kecil dan menggali kebijaksanaan dari mereka. Ketika mendengar Sobary meluncurkan novel ‘Sang Musafir’ bulan Agustus lalu kontan saya bertanya dalam hati, adakah novelnya itu semenarik tulisan-tulisan pendeknya selama ini? Pertanyaan saya itu terjawab usai saya merampungkan novel itu tadi malam.
Melihat strukturnya, Sang Musafir absah sebagai novel. Ia dibuka dengan mukadimah, disusul dengan 14 bab isi dan sebuah epilog. Menyimak keseluruhan isinya kita akan mendapati sbuah perjalanan hidup narator dari masa kanak-kanak saat ia tinggal di desa, beranjak dewasa dan merantau ke kota, hingga usia tua dan menetap di ibu kota. Membaca beberapa bab awal, pembaca mungkin akan segera menarik kesimpulan bahwa novel ini adalah semacam otobiografi dari penulisnya sendiri, yaitu Sobary, dan itu beralasan sebab peristiwa-peristiwa yang dimunculkan sepertinya adalah rekaman fakta perjalanan hidup Sobary sendiri.
Menuliskan kisah hidup sendiri dalam sebuah otobiografi jelas tak gampang, kalau tak berhati-hati, bisa saja penulis akan tergelincir menjadi narsis atau mengunggulkan diri sendiri. Rupanya Sobary sadar sepenuhnya akan hal itu dan sepanjang novel ia tampak mati-matian berusaha tidak sampai menjadi jumawa. Hal ini terlihat misalnya saat ia menceritakan keberhasilan sang tokoh utama menyelamatkan kantor berita milik pemerintah yang dipimpinnya dari ambang kebangkrutan. Kantor berita ini, seperti lembaga-lembaga pemerintah lainnya, secara administrasi bobrok dan menderita penyakit keuangan yang serius, namun perlahan mampu bangkit setelah gebrakan-gebrakan yang dilakukan nakhoda baru/sang tokoh.
Seperti dalam esai-esainya, dalam Sang Musafir Sobary kerap mengambil referensi pewayangan dan filosofi Jawa. Beruntung ia selalu meletakkan dua hal itu ke dalam konteks cerita sehingga pembaca yang asing dengan hal-hal tersebut tak akan menemui kesulitan pemahaman. Terjemahan Indonesia yang selalu disertakan pada kosakata bahasa Jawa juga sangat membantu.
Pembaca yang berharap akan menemukan penghiburan dalam novel ini mungkin akan sedikit kecewa. Saya juga agak heran dengan betapa minim humor dalam Sang Musafir, sesuatu yang biasa saya temukan bertebaran dalam kumpulan esainya. Namun bukan berarti novel ini jelek, tidak sama sekali. Pengalaman sang tokoh berjibaku membenahi kantor yang dipimpinnya bisa menjadi peta bagi pembaca untuk mengetahui berbagai aspek permasalahan lembaga birokrasi sekaligus upaya pembenahannya. Perjalanan rohani sang tokoh juga dapat menjadi cermin betapa perjalanan rohani manusia itu berliku-liku dan tak berkesudahan hingga manusia menghadap Sang Khalik.
Hingga hari ini, ibaratnya aku terus berjalan menuruti gerak nuraniku, untuk tahu aku ini sebenarnya seperti apa, dan kelak hasilnya akan tampil dalam sosok pribadi macam apa. Aku tukang potret yang sedang memotret diriku sendiri dan belum bisa menyerahkan hasilnya. Banyak hal yang belum terlalu jelas dalam hidup.
Satu paragraf yang saya kutip dari Bab 1 di atas kiranya dengan sangat baik menjelaskan keseluruhan novel ini, bahwasanya meski otobiografi ini telah selesai ditulis, apa yang tertuang dalam novel ini hanyalah beberapa keping dari pengalaman hidup sang penulis. Apabila diibaratkan Sobary membuat potret diri, novel ini adalah sekadar hasil sementara dari ikhtiarnya menangkap perjalanan hidupnya. Sementara itu potret/hasil jadinya belumlah ada karena, seperti yang ia akui, ia masih terus berproses, menjalani hidup yang seringkali belum terlalu jelas, dan belum sampai ke titik akhir.
Mohamad Sobary punya resep sendiri untuk membuat pembaca bukunya (baca : saya) merasa nyaman untuk terus menerus mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri. Merenung, menimbang, lalu berlanjut dengan melemparkan pertanyaan berikutnya. Tak banyak buku yang membuat saya seperti itu.
Tak banyak pula buku yang membuat saya bolak-balik menempel kertas kecil warna-warni di banyak halamannya, sebagai penanda kalimat-kalimat yang kena buat saya. Kena di sini tak hanya berarti saya setuju dengan apa yang ditulis Sobary, tapi bisa juga berarti saya kena tendangan pisang, kena sindir dengan pelan tapi tepat sasaran.
Ini buku kedua karya Mohamad Sobary yang saya baca. Buku pertamanya yang saya baca adalah Kidung, hadiah ulang tahun dari sahabat saya. Intinya, Kidung membuat saya ketagihan mencari buku lain karya Mohamad Sobary. Ketagihan yang hampir sama dengan ketagihan yang saya rasakan pada cerpen-cerpen karya Gunawan Maryanto. Ketagihan semacam ini membuat pencarian menjadi mendebarkan. Untunglah saya tak lupa singgah di toko buku Taman Ismail Marzuki. Di sana saya temukan Sang Musafir.
Sang Musafir adalah kisah tentang pergulatan tokoh Aku yang mendapat mandat untuk menjadi pemimpin umum dan pemimpin redaksi kantor berita milik pemerintah. Dalam buku ini, tokoh Aku bicara banyak hal, mulai tentang masa kecilnya, Tuhan, keluarga, rasa bahagianya ketika bekerja di “rumah kebebasan” Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hingga upayanya untuk menghadapi “politik kantor” di tempat tugas barunya. Ujian yang dihadapinya di kantor baru tak menggoyahkan tekadnya untuk bekerja dengan baik, dengan lurus, sesuai kata nuraninya.
Dalam buku ini, Mohamad Sobary seperti sedang bicara dengan dirinya sendiri tentang apa yang dia rasakan ketika menjadi pemimpin. Hal yang sama juga saya dapati ketika membaca novel Kidung yang menceritakan masa kepemimpinan Mohamad Sobary di Partnership. Dua buku ini semacam otobiografi bergaya novel. Kalimatnya mengalir lancar, menghanyutkan, kaya pengalaman.
Bagi mereka yang akan (atau ingin) jadi pemimpin untuk orang lain, dua buku tersebut bisa jadi pilihan bacaan. Kalimat-kalimatnya memang tak sebombastis buku-buku motivasi, tapi kesederhanaannya justru membawa perenungan.
Hidup seperti sebuah perjalanan. Setiap manusia yang lahir di dunia ini, kita mengucapkan selamat bagi mereka. Dan bagi yang meninggal dunia, kita mengucapkan selamat jalan, sebab mereka sedang melanjutkan perjalanan kita, dan kita akan bertemu kelak di suatu perhentian.
Berapa lama kita telah berjalan? Apa saja yang kita lihat dan dapat selama dalam perjalanan? Adakah suka dan duka? Adakah membawa kearifan dan kebijaksanaan? Seorang musafir senantiasa percaya bahwa setiap rute perjalanan adalah proses pembelajaran, walau itu saja kadang tidaklah cukup.
Novel ini adalah tulisan Mochamad Sobary yang dikumpulkan sehingga kepingan tersebut menjadi suatu perjalanan. Masa kecil yang indah, mimpi untuk meraih cita-cita. Merantau ke kota meninggalkan kampung halaman tercinta; Memimpin suatu lembaga yang seperi gerobak kelebihan beban; dan proses pencarian Tuhan dalam segi-segi kehidupan.
melihat Pengalamannya memimpin lembaga kantor berita negeri ini menjadi gambaran bagi kita betapa sulitnya mengatur birokrasi. Ia mengalami dilema antara melakukan perubahan, menjadi agent of change, dengan karakter dan watak orang-orang lama di dalamnya. Seperti pejabat negara pada umumnya, ia kadang terlibat hal-hal yang tidak punya dampak langsung pada perbaikan organisasi, seperti menghadiri makan malam dengan orang-orang penting negeri ini, bertemu dengan Dubes dan sebagainya. Sementara itu, ia harus memikirkan mengenai keuangan lembaganya yang ia nilai tidak efisien.
Berbagai kepenatan dan kejenuhan dalam kesibukan, akhirnya ke rumah ia berpulang. Ia sangat menyukai berkumpul dengan keluarga. Ia sering meminta adik-adiknya untuk berkumpul di rumah dinasnya. Ia senang suasana kampung dibawa ke rumahnya, namun ia sendiri memilih menyendiri di kamar lain, mendengar dari kamar celotehan adik-adiknya dan saudara iparnya.
Novel ini sarat dengan spritualisme. Kelihatan sekali Sobary sangat dipengaruhi oleh ajaran guru agama dan meniru teladan orangtuanya, dan itu ia terapkan dalam menjalani hidupnya seperti musafir itu. Dan perjalanan masih berlanjut.......
Luapan curhat yang mendalam dari Sobary---tentang hari-harinya bekerja untuk Kantor Berita Antara, dan yang membuatnya merindukan gua kecilnya yang nyaman dan bersahaja di LIPI. Konon dia sudah tiga kali merevisi "kemarahannya" ini, sebelum akhirnya meloloskan draf final yang sudah sangat "watered down". Tak terbayang bagaimana pekatnya draf pertama oleh kegondokan yang sudah terpendam lama. Thankfully, this was therapeutic for him.
Yang saya kagumi sejak dulu dari Sobary adalah renungannya yang mendalam, meskipun saya bukan Muslim. But it's a universal language. Kita menghilangkan batas-batas agama, dan mata dan hati hanya tertuju pada kebesaran Tuhan Yang Mahakuasa. Bacalah dengan nikmat bab ketika Sobary duduk merenung di tengah malam, di halaman belakang rumahnya, ketika seorang manusia duduk diam mendengarkan suara-suara yang paling lirih, yang mustahil terdengar pada siang hari di tengah kota yang hiruk-pikuk.
Saya sangat tersanjung membaca proof buku ini sebelum diterbitkan. Awaiting eagerly for your next book, Kang.
Sebenarnya banyak yg pingin di-review pas baru saja selesai baca buku ini. Antara lain tentang sang narator yg sekedar berbagi pergumulan2 dan perjalanannya sbg musafir, tanpa merasa harus menjadi penasihat praktis yg harus memberikan sesuatu pada pembacanya. Tapi justru dg gaya begini, banyak pelajaran yg bisa didapat. Dan didapat dalam keadaan segar pula, gara2 gaya bercerita sang musafir, walaupun mungkin topik yg sama sudah pernah didengar sebelumnya. Tapi ya, sekalipun banyak yg diamini pada saat membaca bukunya, utk saat ini yg teringat kok cuma soal terjebak ya. Sebenarnya sang musafir bilang terpenjara sih, tapi yg sedang bolak-balik lewat di kepala ini kata terjebak. Terjebak dalam keinginan, pasangan, pekerjaan, cita-cita, identitas...
yah, mungkin review ini akan bersambung, ntar kalau udah selesai baca bukunya lagi utk yg kedua kalinya (ini bukan bermaksud ngeles lho ya ;D)
Walau bukan dimaksudkan sebagai versi Mite Sisifus ala Wong mBantul, buku ini juga berbincang tentang absurditas. Apakah idealisme yang dibangung itu sendiri merupakan sebuah bentuk lain dari ego yang seharusnya diperangi?
Sobary bukanlah Camus yang mengulas abusurditas via Sisyphe Myth, Sobari lebih suka mengulasnya lewat tembang anak desa. Bab awal yang agak berat, terbayar dengan cerita anak desa dengan sawah dan wejangan orang tua. Desa adalah rumah ketika lelah datang mendera.
Kepenatan dan kepusingan juga seharusnya tidak ada dalam membaca buku ini. Karena toh, bila dibandingkan dengan buku lainnya, masih ada tema yang berat dan meng-awan dari Sobari. Yang ini jelas lebih berpijak pada narasi anak desa yang bergulat di kota.
Duh, gak tahu kenapa agak bingung juga baca tulisan pak Sobary di Sang Musafir, entah mengapa butuh pemahaman yang agak lama terhadap apa yang ditulis, belum pengulangan-pengulangan yang sedikit membosankan, tapi akhirnya selesai juga baca buku ini, meski perlu energi yang lebih...fuiiih!
Eiiiiiiiiiittttt.... jangan salah banyak pelajaran hidup dibuku ini terutama hasil perenungan-perenungan dalam diamnya Pak Sobary. Terlebih dalam kehidupan birokrasi dan berkeluarga tapi yang utama dalam bersosialisasi dengan berbagai macam orang dari berbagai kalangan, mau atas ataupun bawahan...Good as a Role Model...at the end no regret to read this book.
Bapak saya memiliki novel ini, lengkap dengan tanda tangan pengarangnya di halaman pertama. Beliau berkata bahwa beliau memperoleh buku ini langsung dari pengarangnya pada saat acara launching novel Sang Musafir ini.*Wow* Suatu hari, saya menyempatkan diri untuk membacanya. Akan tetapi, belum ada niat untuk menyelesaikannya sampai sekarang. Dari hasil proses membaca saya yang sekilas itu, dapat saya simpulkan bahwa novel ini bercerita tentang pengembaraan seseorang. Saya belum bisa mengatakan novel ini bagus atau tidak karena belum membacanya secara keseluruhan. Mungkin suatu saat saya akan menyelesaikan membaca novel ini.
sore ini sy ketemu kang sobary. selain mijit temen sy (he.. he.. kang sob ternyt jg tukang pijat yg mumpuni lho), dia ngasih buku ini. meski baru spintas ku baca, sy langsung berani memberi point maks utk buku ini. pesan yg ingin disampaikan kbetulan sgt cocok dgn alur pikir sy.
membaca buku ini, seperti membasuh kerinduan saya akan bacaan yang menyejukkan hati dan pikiran. lama, saya mencari2 buku yang seindah tulisan Kuntowidjoyo. Meskipun ini novel, tetapi seperti kisah hidup sang penulis.
Lumayan, tapi sebagai novel memang buku ini termasuk baru... sebagai novel otobiografi tentunya.
Sebuah pencarian yang oleh penulisnya digambarkan sebagai pencarian ke dalam diri tapi dilakukannya dengan keluar dan pencarian pada hal yang tidak mustahil lewat kemustahilan.
banyak panutan hidup yang dituturkan di sini. baik dari segi budaya Jawa maupun ajaran agama Islam dengan kecenderungan ke arah sufisme. diceritakan dengan mengalir dan 'tenang' meski di beberapa bagian terasa agak membosankan.
awalnya agak bete karena isinya tentang politik, tapi lama-lama asik juga....
ini tentang kehidupan pribadi m.sobary waktu beliau jadi ketua di kantor berita ANTARA... politik, sosial, religius,,mmmm...perpaduan yang menarikkk....
Sebuah kisah pencarian dan penetapan eksistensi jati diri. Pertarungan nurani melawan kejamnya gemerlap dunia. Kang sobary adalah salah satu petarung yang berhasil selamat dari godaan eksistensi semu dunia. Proficiat Kang!
Penulis yang jalinan katanya selalu memikat hati, buku ini mengajak kita untuk mendalami arti suatu kehidupan yang kita jalani, kita pun di ajak pula untuk bertanya tentang diri kita siapa dan untuk apa kita hidup!
penokohannya agak rumit ya.. saya menebak2, apa tokoh yang disebut sebagai "musafir" ini adalah Mohammad Sobary sendiri, atau tokoh "fiksi".. tetapi masih dilanjutkan bacanya sih.. :)
Aku ndak ngerti kenapa buku ini diletakkan rak obral 10ribu di Gramedia, Percayalah, buku ini bagus banget, serasa aku benar-benar ada saat si penulis menceritakan ini-itu. Tidak dibuat-buat, asli