Seni sularin icinden cekip cikardi kalbim,Musa koydum ismini,Bir goz aydinligisin benim icin,Nil, bir kandil gibi asti seni icime.Musa koydum ismini,Seni sulardan cikardim…”Guzellik, bereket, iyilik ve comertlik onda toplanmisti. Asiye alcakgonulluydu, cesurdu. Kavgalari yatistirip anlasmazliklari cozen, baskalarinin selameti icin kendini feda eden, haksizliga isyan edendi o. Bir sutun gibi, catiyi kurup tasiyandi. Yuruyen bir nehir gibiydi Asiye. Sudan gelen ve suyun icinden yukselen hikmete kucak acan.Col/Deniz ve Siret-i Meryem kitaplarinda, insanlik tarihinin emsalsiz kadinlarinin hayatlarini kaleme alan Sibel Eraslan, bu defa Hz. Musa’ya annelik eden Nil’in Melikesi Hz. Asiye’yi konuk ediyor satirlarina.
Banyak pengetahuan sejarah yg kita dapat saat baca buku ini! Ternyata sejak kecil Haman,Qarun,Firaun dan Asiyah sudah berteman. Mereka semua masuk akedemi kerajaan, dan sejak kecil sudah terlihat kelebihan mereka masing2. Qarun sejak kecil sudah menguasai ilmu kimia dan hafal semua unsur2,tetapi sayangnya kecerdasannya membuat dia somobong,Ra/Firaun sejak kecil sudah memiliki jiwa2 peimpin,pandai berbicara, cerdas dan berkharisma tetapi kadang ini berakibat serakah dan tidak pernah puas hanya Asiyah yg berjiwa suci dan rendah hati yg bisa melurusakan Ka tetapi Haman tidak suka dengan kedekata Ra dengan Asiyah dan selalu menjadi penghalang antara keduannya, dan kadang hal ini berhasil. (Spoiler sedikit :D) Buku ini menceritakan kehidupan asiyah dari kecil, sampai jadi ratu, saat2 ketika dia merasa sendiri, memiliki 2 pengawal setia Tahnem dan Sare, bertemu dengan bayi Musa di sungai Nill, mengungsi,menjadi tahanan, dan akhirnya meninggal dengan cara yg menganaskan.... Pokoknya wajib baca! :D
Asiyah atau Yes merupakan salah satu dari 4 anak yang diselamatkan dari kehancuran peradaban Amarna. Bersama dengan Pare-Aton, Karonaim (Karun) dan Haman, Mereka berempat dibesarkan dan didik di lingkup kerajaan dibawah asuhan seorang abdi buta bernama Apa. Sejak kecil Asiyah sudah sangat terlihat kecerdasan dan ketulusannya. . Asiyah yang merupakan isteri Firaun di jaman Nabi Musa a.s. yang tetap memegang teguh ajaran tauhid yang dibawa oleh Yusuf. a.s. meskipun ia hidup ditengah-tengah kesombongan dan kekejian seorang Firaun . Kisah Asiyah tidak lepas dari persinggungannya dengan riwayat kehidupan Nabi Musa a.s. Sebagai ibu angkat Musa a.s. atas izin Allah SWT, beliau telah berjasa menyelamatkan sang Nabi dari kedzaliman dan kekejaman sang raja pada masa itu. . Membaca buku ini membawa saya menelisik sejarah peradaban Islam di mesir melalui tiga tokoh penting dalam satu periode, yakni Asiyah sosok yang cerdas, pemberani, dermawan, rendah hati dan sifat keibuan yang luar biasa, Seorang Nabi Musa yang tangguh dalam prinsip menegakkan ajaran tauhid, serta Fir'aun yang keji dan sombong yang menobatkan dirinya sebagai tuhan bangsa Mesir.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Asiyah, satu-satunya wanita yang berani menghadapi kematiannya di hadapan firaun membela Islam
Asiyah, salah satu tokoh ibunda nabi Musa, sosok yang mengantarkan kedewasaan beliau
Karena itulah, aku berekspektasi tinggi dengan cerita ini.
bagaimana Asiyah bisa memegang prinsip tauhid agama Islam di kala itu. bagaimana latar belakang Asiyah kecil dididik ? bagaimana hubungan Asiyah dan firaun di kala mereka masih pasangan muda ? bagaimana ceritanya Asiyah memegang prinsipnya sedangkan firaun tidak ?
seperti biasa sang pengarang memperkenalkan tokoh pendamping dulu, sebelum mengenal asiyah kecil. sang guru yang menemukan potensi pada Asiyah kecil, memasukkan Asiyah ke dalam sekolah.
yang menarik adalah prinsip tauhid islam yang sudah ada, walaupun minor di kalangan pemuja dewa-dewi mesir. untuk tahu hal ini, tentunya pembaca harus tau sejarah nabi-nabi, sebelum masuk ke nabi musa.
di sini, sang pengarang menceritakan, Asiyah berteman dengan Firaun dan Hamas (nantinya akan menjadi pendeta kepercayaan firaun) sejak kecil. aku kurang tau apakah ini beneran faktanya atau tidak. tapi bagaimana mereka bertiga dekat layaknya sahabat membuat cerita ini bittersweet.
tentunya menarik membaca sejarah yang dibalut fiksi. seperti kisah Fatimah dan Maryam, sang pengarang memperlihatkan imajinasinya di kala itu. bagaimana dengan orang-orang di sekitar sang tokoh dan dampaknya ke cerita.
cuman, entah kenapa, di cerita ini aku tidak merasakan ketertarikan dengan apa yang terjadi di sekitar Asiyah. tidak seperti cerita Maryam yang gamblang dengan bobroknya kaum pendeta yahudi. tidak juga seperti cerita Fatimah, yang jelas dengan lingkungan Rasulullah SAW.
terlalu diperpanjang ceritanya. justru ketika Musa kembali setelah pengembaraannya, mengajak firaun masuk islam dan bagaimana Asiyah dituduh penghianat kerajaan ketika tidak mau menerima ajakan firaun untuk menyembah dia sampai Asiyah dihadapkan ke hukuman matinya. di sinilah yang kupikir bisa banyak digali.
atau mungkin kurang referensi faktanya. mungkin.
terlepas dari itu, aku masih tertarik membaca kisah-kisah wanita Islam karya mba Sibel
Mmm... Ternyata Fir'aun yg membakar Asiyah bukanlah suaminya? Karena suaminya, Pare Amon telah wafat dan digantikan oleh Menmatre. Keduanya Fir'aun sih. Apa karena ini dikemas dalam bentuk novel shg cerita dibumbui fiksi?
Siapa tak kenal Sibel Eraslan? Melalui karya-karyanya ia berhasil menjadi novelis terkemuka dunia. Novelnya tak habis menuai decak kagum karena kedalaman makna dan keindahan diksi serta segudang kelebihan lain yang melekat dalam setiap karya-karyanya. Dan novel ini, adalah salah satunya. Novel berisi hampir 450 halaman ini secara padat dan kaya berhasil membawa pembaca pada masa ribuan tahun silam ke masa ganasnya kediktatoran Fir'aun Mesir. Di setengah buku kedua kegemesanku mulai mencuat dan memuncak. Betapa ambisi, kegilaan, dan hati yang telah tersegel benar-benar telah membuat Pare-Amon, suami sekaligus raja Mesir tak dapat melihat kemanusiaan. Satu fakta baru yang kuketahui dari buku ini dan cukup mencengangkan adalah peran Haman atau Ha-Amon sebagai kepala pendeta, yang menjadi kunci dari semua kegilaan Ra-Amon dan sukses menjadikannya Fir'aun, menuhankan diri dan melakukan banyak kerusakan dan penindasan di hampir seluruh negeri di Mesir, khususnya bagi kaum apiru, kaum kasta terendah, budak Mesir, sisa-sisa penganut agama Tunggal.
Kisah diawali dengan pengenalan empat anak kecil yang masing-masing memiliki pancaran sinar yang dapat dilihat seorang abdi buta Apa. Melalui mata hatinya, abdi tua Apa melihat kelebihan empat anak ini dan mengetahui bahwa di kemudian hari mereka akan menjadi orang-orang berpengaruh di mesir. Keempat anak ini adalah Yes atau Asiyah (nama arab yang diberikan Apa pada Yes), seorang gadis berusia 15 tahun dengan pesona kebaikan dan kemurnian hati serta kecantikan parasnya. Pare-Aton yang kemudian diberi nama Pare-Amon (amon adalah nama ketuhanan mesir), pemuda dua puluh tahun yang dibawa ke kerajaan Memphis setelah kampung halamannya Amarna habis diluluh lantakkan oleh Horemheb (Komandan Perang Memphis). Ia adalah seorang anak dengan kecerdasan kepemimpinan yang menonjol, karisma, dan pesona rupa yang menawan siapa saja yang memandangnya. Lalu Karonaim atau Ka-Amon, yang memiliki kecerdasan dan energi kebangkitan pemimpin para tuhan, adalah ahli dalam alkemi dan sihir di masa selanjutnya. Dan terakhir, Haman-Aton atau Ha-Amon. Ha yang sejak kecil tak pernah akur dengan Yes'a dan menjadi orang ketiga dalam hubungan persahabatan Yes dan Ra adalah pribadi yang licik, bermulut manis, ambisius, dan memiliki segudang trik dan tipu muslihat. Hingga ketika sah menjadi penasihat utama sekaligus kepala pendeta, ia benar-benar memanfaatkan kekuasaan tersebut untuk menjauhkan dan membuat jurang pemisah yang dalam bagi dua sahabat yang menjadi pasangan suami istri tersebut. Berkatnya, raja Ra sempurna tak memiliki satu-satunya mawar di gurun pasirnya, Yes'a atau Asiyah telah menutup hatinya dari cinta untuk suaminya ini.
Sebagai sebuah buku biografi salah satu perempuan pemimpin zaman ini, buku ini akan menyentuh nurasi dengan ketulusan dan keteguhan iman pada Tuhan yang Satu, Allah swt seorang ratu Mesir, Asiyah. Memuat syair-syair doa yang menyentuh, buku ini akan membelai pipi-pipi pembaca dengan rinai air mata. :D Selain satu sisi juga membuat bergidik dengan gambaran mengerikannya hati yang tersegel langsung oleh Allah swt. Perjuangan Asiyah melawan peradaban Fir'aun adalah tema besar yang akan banyak kita petik hikmahnya melalui buku ini. Di akhir kisah, saat menyambut pertemuan dengan Robbnya, Asiyah berdoa dengan sangat indah, "Ini adalah tangan kananku. "Ini adalah tangan yang selalu ingin kugunakan untuk memegang ibuku yang wajahnya tak aku ingat. Aku serahkan diriku kepadamu, ya Allah..." Orang-orang yang mengikatnya pun menangis... "Ini adalah tangan kiriku," ucapnya saat pergelangan tangan kiri mulai dililit tali. "Aku tak pernah bisa menulis dengan tangan ini, tapi jika aku bisa menulis dengan tangan ini maka aku akan menulis Allah. Aku serahkan diriku kepadamu, ya Allah..." Orang-orang yang mengikatnya pun menangis...
"Ini adalah kaki kananku," ucapnya ketika pergelangan kaki kanannya diikat. "Aku langkahkan setiap langkahku ke arah Musa putraku. Aku serahkan diriku kepadamu, ya Allah.... Orang-orang yang mengikatnya pun menangis...
"Ini adalah kaki kiriku," ucapnya ketika pergelangan kaki kirinya diikat. "Aku tak mencintai dunia, aku tak menemukan sebuah rumah yang melindungi diriku. Aku serahkan dunia kepadamu, ya Allah..."Yang mengikatnya pun menangis...
Mereka membakar Sultanah dalam tumpukan kayu yang menjulang tinggi di atas pasir panas... Bunga-bunga bermekaran, seperti lotus putih... Yang di ujung-ujungnya tak meneteskan darah.... Pintu-pintu langit telah terbuka.... "Ya Allah," ucapnya... "Berikanlah sebuah rumah yang hangat bagiku di sisi-Mu..." Hari itu adalah hari kepulangan Sultanah Asiyah ke rumahnya...
Pagi itu, Nil menangis untuk saudara perempuannya... Seluruh ikan yang berada di dalamnya, mutiara-mutiara yang berada di tepiannya, anemon yang berada jauh di dalamnya, pohon-pohon akasia yang berada di sudutnya, gurun-gurun yang menjaga bukit-bukit rahasia-rahasia di dalamnya... Semua menangis...
Berkisah tentang Asiyah (dengan nama asli Yes’a), yang sejak kecil telah sadar akan ketauhidan. Wanita yang tumbuh dewasa dengan kecerdasan dan kerendahan hatinya, menjadi ratu yang bersanding dengan Raja Fir’aun (PareAmon), teman masa kecilnya. Selama menjadi ratu, ia merasakan kehampaan, dia mencari ‘rumah’ yang selama ini tidak ia miliki. Sampai saat ia mendapatkan peti bayi Musa yang terombang-ambing di sungai Nil, ia mendapatkan hidupnya kembali.
🍃 Untaian kalimat indah dengan sajak-sajak puitis Seperti karya-karya Sibel Wraslan sebelumnya, buku ini dikemas dalam bentuk narasi yang panjang, dengan sedikit dialog yang juga penuh diksi indah.
🍃 Negeri Mesir yang megah tapi kejam Di sini penulis menggambarkan secara mendetail kondisi Mesir saat Fir’aun berkuasa. Negeri indah dengan hamparan sungai Nil, penuh dengan bangunan istana dan candi-candi. Tapi sang penguasa sangat kejam kepada rakyat Apiru (Ibrani), menjadikan mereka budak yang bekerja sepanjang hari di tengah teriknya padang pasir.
🍃 4 sekawan Asiyah sedari kecil memiliki teman akademi yaitu Ra, Ha, dan Ka. Ra dengan sikap kepemimpinannya menjadi Raja Fir’an PareAmon. Ka yang jenius menjadi kepala akademi Serta Ha dengan sifat yang licik dan serakah menjadi kepala pendeta yang senantiasa menghasut Raja Ra dalam mengambil tindakan. Hanya Asiyah yang tumbuh dengan sifat kedermawanan, menjadi ratu yang dicintai rakyatnya.
🍃 Kasih sayang Asiyah Selama menjadi ratu Raja Fir’aun, Asiyah tidak dikaruniai keturunan. Itulah mengapa ia sangat bahagia mendapatkan bayi Musa di tengah aliran sungai Nil. Ia memberikan segalanya untuk mengurus bayi Musa. Betapa sedihnya ia saat tidak bisa memberikan ASI kepada sang bayi sampai mencarikannya ibu susu di sekuruh pelosok negeri. Ia rela membawa bayi Musa keluar dari istana Fir’aun yang menolak hadirannya, pindah jauh ke istana lain agar bisa hidup bersama sang bayi.
🍃 Pengetahuan Baru Untukku yang selama ini mengetahui kisah Nabi Musa, mendapatkan pengetahuan baru bahwa raja Fir’aun yang melawan Nabi Musa bukan suami Ratu Asiyah, melaikan Fir’aun Menmatre yang menjabat setelah kematian Fir’aun PareAmon. Aku juga baru tahu bahwa Nabi Musa pernah difitnah membunuh, sampai ia harus mengasingkan diri, meninggalkan Ratu Asiyah selama 10 tahun.
🍃 Ending “Ya Allah, berikanlah sebuah rumah yang hangat bagiku di sisi-Mu..” menjadi kalimat terakhir Ratu Asiyah saat dieksekusi. Inilah akhir dari kisah sang wanita yang memegang tauhid hingga akhir hayatnya.
🍃 Rating 3,5/5 —— “Hari itu merupakan hari pembuktian bahwa politik, kekuatan jabatan, dan keinginan akan kekuasaan yang begitu besar dapat mengubah seorang manusia menjadi seseorang yang dzalim” -hlm. 220 . Kepedihan. Hanya itu yang aku rasakan selama membaca buku ini. Sangat banyak kekejaman penguasa Mesir yang tergambarkan. Salah satu yang membuatku sangat sedih adalah saat diberlakukannya tahun kematian dan kelahiran. Di mana pada tahun kematian, semua bayi laki-laki yang lahir akan dibunuh. Di tahun berikutnya (tahun kelahiran), bayi laki-laki dibiarkan hidup seperti tak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya di tahun-tahun berikutnya. Tak dapat dibayangkan bayi yang baru saja lahir langsung dibunuh oleh pemerintah Mesir😢 . Membaca buku ke-4 serial wanita penghuni surga karya Sibel Eraslan ini sama dengan buku seri 1 sampai 3 yang kubaca sebelumnya. Kalimat-kalimatnya puitis dan penuh makna. Lebih banyak narasi daripada dialog. Membacanya membutuhkan konsentrasi lebih. Jadi di waktu-waktu tertentu aku agak kurang memahami penerjemahan dalam kalimatnya. . Aku juga merasa kurang nyaman dengan beberapa typo dan bagian buku yang menempel di beberapa halaman menyebabkan bukunya sobek🥺 masukan untuk penerbit supaya bisa lebih baik lagi👌🏼
Terlepas dari cerita fiksi atau non fiksi yang jelas saya selalu suka dengan novel Sibel Eraslan! Ini buku ketiga yang saya baca serial wanita penghuni surga. 2 buku versi ebook (Khadijah & Maryam) dan kali ini versi buku yang saya dapat pinjam dari adik kelas.
Kata-kata akan terucap! 99 kata selamat tinggal 99 kata perpisahan 99 kata selamat datang
Ngebayangin sungai Nil berubah menjadi warna merah darah akibat pembunuhan masal anak bayi yang baru lahir dan juga ibunya masih susah karena serem gitu :( apalagi pas Sare dan anaknya dibakar di penjara :(
Dan, tak kalah penting di bagian akhir sang Ratu Baginda Yes'a alias Sultanah Asiyah dibakar juga. Mereka membakar Sultanah dalam tumpukan kayu yang menjulang tinggi di atas pasir panas... Hari itu adalah hari kepulangan Sultanah Asiyah ke rumahnya... Akhirnya beliau menemukan rumahnya... Do'a yang beliau lantunkan begitu adem sekali. "Ya Allah, berikanlah sebuah rumah yang hangat bagiku di sisi-Mu..."
Kematian bukanlah pertemuan yang tertunda. Ia hadir bersama dengan kelahiran di kehidupan ini. Perpisahan. Benar, sahabat kita adalah kematian. Setelah ini, kematian menjadi teman perjalanan kita.
"Ajarkanlah aku untuk mencintai tanpa berharap balasan, Ya Allah." - Sultanah Asiyah
Membaca buku ini seperti terbawa suasana Mesir. Sungai Nil, padang pasir, kurma, dan sebagainya yang menjadi khas Mesir. Dan paling penting adalah Piramida menjulang ke langit, yang menggambarkan kesombongan rajanya.
Asiyah, sultanah sekaligus ratu Mesir adalah sang mawar yang diceritakan dalam buku ini. Kesetiaannya akan Allah yang satu, menjadi murka Fir'aun, yang mengakui diri tuhannya tuhan Mesir.
Ada ucapan (doa) Sultanah Asiyah yang ketika dibaca mendebarkan hati. Kurang lebih bunyinya seperti ini "Ya Allah bangunkan untukku rumah di sisiMu"
Yang paling menyayat di buku ini yaitu di bagian akhir cerita. Ketika Sultanah Asiyah dihukum oleh fir'aun karena membela nabi Musa, dan menolak fir'aun sebagai tuhan.
Saya menyimpulkan bahwa kisah Raja fir'aun adalah pelajaran besar perihal kezaliman yang akan terus berulang sepanjang kehidupan manusia. Dalam hal ini, siapapun yang jadi pemimpin selalu ada kesombongan dalam dirinya selagi orang itu tidak mendekatkan diri pada Allah, tuhan yang satu.
Buku ini menceritakan kisah inspiratif Asiyah, yang melalui berbagai peristiwa penting di zaman Mesir Kuno. Pertemuannya dengan Ra yang kemudian menjadi Fir'aun, Ha (Haman), dan Ka (Karun) membawa Asiyah pada pahit manis kehidupan dan pelajaran berharga. Asiyah dikenal karena kebaikannya Meskipun ia menjadi seorang ratu, namun asiyah tetap menjadi pribadi yang baik dan mau menolong yang lemah.
Salah satu bagian yang paling mengharukan juga adalah pertemuan Asiyah dengan Nabi Musa dan keluarganya, yang memperlihatkan sisi kemanusiaan Asiyah. Buku ini tidak hanya memperkaya wawasan tentang sejarah dan budaya Mesir Kuno, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai moral yang relevan hingga kini.
Dengan gaya penulisan yang menyentuh dan informatif, buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang tokoh-tokoh penting dalam sejarah Mesir Kuno serta mengambil hikmah dari kisah hidup Asiyah.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dari sekian karyanya Sibel Eraslan, saya memutuskan untuk membeli karya beliau tentang Ibunda Asiyah terlebih dahulu. Saya sangat penasaran bagaimana seorang Sibel Eraslan mengemas kisah Asiyah ke dalam tulisannya. Karena sebelumnya saya sudah pernah baca yang Hajar, hasil dari minjam teman dan ada banyak hal yang buat saya terkagum-kagum.
Tentu saja kisah ibunda Asiyah benar-benar luar biasa. Tetap menjadi permata iman di tengah kekafiran yang begitu hebat. Tetap merindukan rumah sederhana padahal dirinya sedang berada di dalam istana termegah Mesir saat itu.
Yang sedikit disayangkan adalah beberapa kalimat terasa sulit dipahami atau lebih tepatnya kurang enak dibaca, mungkin karena ini juga merupakan terjemahan yang mana bahasa aslinya pun bahasa turki. Namun, terlepas dari hal itu, ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ibunda Asiyah.
Menurutku buku ini termasuk genre fiksi sejarah. Karena sejauh pemahamanku, dalam Islam (quran atau hadis) tidak disebutkan nama dari ibunda Nabi Musa as. Dan penulis tidak menyantumkan sumber yang beliau pakai untuk menuliskan cerita ini.
Tetap saja penceritaan menggunakan diksi puitis mengundang imajinasi seakan terbayangkan situasi pada zaman itu. Penulis bisa menempatkan di mana emosi pembaca akan tergugah lewat permainan kata-kata dan latar cerita. Termasuk juga kutipan-kutipan bijak yang banyak bisa diambil dari buku ini.
Meski terjemahannya ada yang sedikit membingungkan, mungkin karena memang di bahasa aslinya diksi yang digunakan serumit dan seindah itu.
Semoga buku lainnya pun kurang lebih seperti buku ini.
Ini seru ceritanya dan banyak sajak, puisi, dan kutipan bagus. Covernya nya juga menarik dan simple.
Untuk isinya ini sesuai dengan judulnya yaitu tentang Asiyah, jadi di jabarkan dari awal sampai meninggalnya Asiyah.
Bagian serunya itu di bagian pertengahan dan akhir. Untuk pertama kali baca aku suka ngantuk, tapi waktu di bagian tengah sampai akhir ini seru banget konfliknya, pokoknya bakal terhanyut dalam cerita deh pembacanya.
Kitabın içindeki aşırı duygusal ifadelerde ve özellikle de aynı kelimelerle başlayan cümlelerin tekrarlandığı yerlerde çok sıkıldım. Duygu yoğunluğu hissettirme çabası duygulardan kopardı ve bazı yerlerde hikayenin akışını ciddi bozdu. Aslında yazarın tarzı bana hiç uymuyor ama güzel konularda yazdığı için birkaç kitabını daha okumak istiyorum.
Suka banget, baru pertama kali baca buku karya Sibel Eraslan dan langsung jatuh hati. Narasinya puitis sekali, meskipun saat pertama kali baca agak kaget. Tapi lanjut aja. Pokonya keren buku ini, suka bgt.
Baca ini jadi tau banyak fakta-fakta tentang Sayyidah Asiyah yang gak banyak orang tahu salah satunya ternyata beliau dan Fir'aun, suaminya, merupakan teman masa kecil. Hands up buat Sibel Eraslan yang menceritakan kehidupan beliau dengan apik!
Diawal saya susah memahami gaya bahasanya.. Ditulis bahwa "Novel-novel ditulis dengan riset mendalam," saya penasaran bagian mana saja yg merupakan hasil riset
Mulanya Asiyah (kemudian dipanggil dengan nama Yes'a untuk menghilangkan garis keturunannya sebagai kaum Bani Israil), Ra, Ha, dan Ka adalah murid-murid yang berguru pada orang yang sama. Guru Apa namanya. Guru Apa kehilangan penglihatannya karena dipapar besi panas oleh pasukan Raja Mesir sebelumnya, Raja Horemheb. Karena pertimbangan politik, keturunan bangsawan dan Raja Matahari, termasuk Yes'a dan ketiga teman lelakinya dibawa serta ke Memphis untuk mendapatkan pendidikan dan menjadi abdi kerajaan Mesir di bawah titah Raja Horemheb. Waktu berlalu hingga ke-empat manusia dengan berbagai kelebihan ini tumbuh menjadi pemuda dan pemudi cerdas serta rupawan. Hingga seluruh jajaran kerajaan bersepakat untuk mengangkat Ra sebagai Raja Mesir yang baru dengan Ratu Yes'a(Asiyah) sebagai pendampingnya. Namun yang terjadi, lingkungan kerajaan memberikan warna kesombongan, keangkuhan serta keserakahan pada Ra, Ka dan Ha (sebagai kepala Pendeta penasihat kerajaan), bahkan hingga menuhankan Ra sebagai Tuhan Mesir yang baru. .
Asiyah berada di bawah banyak tekanan dan kesakitan untuk melindungi Musa, bayi yang satu-satunya selamat di tahun kematian karena dirinya. .
Hingga Musa diangkat menjadi Nabi, Firaun yang diwariskan dari Raja Ra yang sudah meninggal, diteruskan oleh Raja berikutnya yang tak kalah kejamnya. Disini aku baru memahami bahwa Firaun adalah julukan, bukan nama Raja. Puluhan penyihir dipenggal kepalanya karena malah berbalik mengikuti Musa, begitu juga dengan abdi setia Ratu. Dibakar hidup-hidup bersama anaknya yang masih tak tau apa-apa. Tak berhenti disitu, Sang Ratu pun menerima akibat dari ketidakpatuhannya untuk menuhankan sang Raja. Apa itu? Baca aja. .
Seru banget! Membaca novel ini serasa menyelami Mesir saat itu. Pengetahuanku juga bertambah perihal Karun (abdi kerajaan, teman kecil Ratu Asiyah) dan bagaimana orang-orang menyebutnya harta karun. Mesir memang negara dengan seribu satu cerita dan mimpi. Ada begitu banyak sejarah yang tertoreh disana untuk diambil ibrahnya. MasyaAllah. 5/5 Novel terjemahan dari Nil in Melikesi Author : Sibel Eraslan Penerjemah : A. Saefudin, dkk. Cetakan VI, 2018, Kaysa Media, 444 halaman.
"Jika kau beriman kepada Allah, kau akan selamat. Tinggalkanlah kesombonganmu." Hari itu, Fir'aun meledak dalam amarahnya. Jiwanya yang kelam tidak dapat menerimaa kebenaran yang diucapkan Sultanah Asiyah. Maka diperintahkannya kepada para algojonya untuk menyalakan api unggun yang besar, tonggak kayu dengan tali-tali yang menyakitkan. Mereka membawa Sultanah Asiyah, mengikatnya ditonggak kayu di atas pasir panas. Maka setiap kali tangan dan kakinya diikat, sang Sultanah berseru, "ini adalah tangan kananku, ini adalah tangan kiriku, ini adalah kaki kananku, ini adalah kaki kiriku, aku tak mencintai dunia, aku tak menemukan sebuah rumah yg melindungi diriku. Aku serahkan dunia kepadamu, ya Allah." Orang2 yang mengikatnya pun menangis. Mereka membakar Sultanah dalam tumpukan kayu yang menjulang tinggi diatas pasir panas. Bunga2 bermekaran, pintu2 langit telah terbuka menanti kedatangan sang Sultanah yang tak gentar menghadapi maut ditangan si zalim. Pagi itu, Nil menangis.
Wa ilallahi turja'ul umur... . ---------------------------------------- . Lima bintang rasanya masih kurang untuk buku ini. Sejak kelas 4 SD, saya sudah mengagumi sosok Asiyah, tepatnya sejak baca kisah singkat beliau di dalam buku kisah Nabi Musa Menghadapi Fir'aun. Buku yang tebalnya cuma 20an lembar. Sejak saat itu selalu berfikir, kenapa bisa Asiyah yang kuat imannya terhadap ajaran Nabi Yusuf, bisa menikah dengan Fir'aun yang mengaku tuhan? Bagaimana beliau menjalani hari2 di kerajaan? Bagaimana cara beliau menyembah Allah di tengah kesombongan suaminya? Belasan tahun kemudian akhirnya nemuin buku ini dan menjawab semua pertanyaan anak kecil itu. Ada teramat banyak informasi baru yang saya temui saat baca buku ini. Tentang Asiyah kecil, tentang raja Pare-Amon kecil (Fir'aun), tentang Karun dan pendeta Haman yang menjengkelkan. Dan yang lebih mengejutkan adalah fakta siapa yang membunuh Sultanah Asiyah yang sebenarnya.
Aselik ! Buku ini gak pantas cuma dapat 5 bintang 😢😭
Melalui karya Sibel Eraslan ini, kita bisa mengetahui seberapa teguh Asiyah dalam memegang akidahnya. Seberapa cerdasnya beliau ketika menjadi seorang putri yang serba ingin tahu. Seberapa dermawannya beliau ketika menjadi seorang ratu bagi rakyatnya. Dan seberapa sabarnya beliau bersanding di samping raja paling kejam di dunia, raja yang mengakui dirinya sebagai Tuhan, yaitu Firaun. Bahkan, kita pun tahu seberapa penyayangnya beliau terhadap anak yang sejatinya bukan anak kandungnya sendiri. Bagaiamana seluruh cintanya, dia berikan sepenuh hati untuk membesarkan seorang anak yang lahir di tahun kematian itu. Seorang anak yang kembali membawa senyumnya di kala dirinya hampir menyerah dan putus asa tinggal di istana Firaun. Dari kisah Asiyah inilah, banyak teladan yang dapat dipelajari. Banyak hal yang dapat dipetik dari sejarah lampau zaman nabi Musa. Bagaimana seorang wanita yang cantik jelita dan memiliki tahta namun mengorbankan semuanya demi menegakkan akidah Allah SWT. Bagaimana pula perasaan sesungguhnya Asiyah pada Firaun sebelum mereka naik tahta. Semua tergambar jelas dalam novel 'Asiyah : Sang Mawar Gurun Firaun' ini. Bahkan, kita pun tahu bagaimana Asiyah sangat dicintai seluruh rakyat Mesir, termasuk sang Firaun sendiri andaikan dirinya tidak terlalu dimakan kesombongan, ketamakan, dan seluruh kesempurnaan yang selalu dia agung-agungkan. Semuanya tergambar jelas dalam bahasa yang epik di novel ini. Bahkan, kita bisa merasakan bagaimana kehidupan pada zaman mesir dulu, ketika zaman nabi Musa.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kemuliaan yang sudah terlihat sejak gadis Yes'a masih kecil hingga menjadi Ibunda Asiyah dan Ratu Yesiyis (yang kemudian juga disebut sebagai Azizah) dalam menjaga aqidah, menjaga amanah dalam sosok Musa putra angkatnya, menjaga kesantunan sebagai perempuan, tegas melawan kezoliman tergambar lengkap di novel ini. juga deskripsi alam Mesir dengan Sungai Nil-nya yang memberi penghidupan & kemakmuran bagi rakyat, diceritakan deskriptif. sayang, banyak sekali typo kata dan kesalahan tanda baca di versi terjemahan ini. gaya penulisan Sibel Eraslan yang banyak memakai kiasan, metafor, dan beberapa sajak panjang membuat alurnya terasa agak lambat bagi saya.
"Setangkai mawar akan tetap indah, meskipun telah tiada. Meninggalkan kesan yang tak terlupkan. Asiyah adalah mawar yang tumbuh mekar mewangi di gurun-gurun Mesir. Memegang teguh akidahnya, percaya akan Alloh yang Maha Tunggal, bahkan hingga jilatan lidah api menyentuh kulitnya..."
"Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yg zalim".QS. At-Tahrim, 66:11
Sanggupkah menjadi seorang Asiyah dengan segala kesabarannya?.
dengan bahasa indah, buku ini menyajikan bagian-bagian kisah yang terlupakan.
ya.. baru 2 hari lalu aku akhirnya tahu raja suami asiyah, yang memberi perintah untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir di tahun itu, bukan firaun yang ditenggelamkan, sebutanya juga bukan firaun. raja mesir yang disebut firaun dan yang tenggelam di laut merah adalah raja setelah nya.
"seni suların içinden çekip çıkardı kalbim, Musa koydum ismini, Bir göz aydınlığısın benim için, Nil bir kandil gibi astı seni içime. Musa koydum ismini, Seni sulardan çıkardım"
Sibel hanımın kalemine sağlık. Olaylardan daha çok duygular içeren bir kitap o yüzden şu anda kitaptan ne hatırlıyorsun derseniz çok bir şey söyleyemem. Okuyalı da uzun zaman oldu. Yani Hz. Asiye'nin hayatını öğrenmek için doğru bir eser olmayabilir...
Dari buku ini jadi paham kenapa Asiyah jadi salah satu favoritnya Allah. Lumayan buat mengisi batrai semangat belajar karena Asiyah, Qarun, Firaun, dkk itu puinteeer dan aktif banget. Pengen kenalan sama Asiyah☹️.