Kami terikat dengan dirimu Jiwa kami adalah jiwamu Ragamu adalah milik kami Dan kekuatan kami adalah milikmu...
Tertekan dalam keadaan yang tidak pasti. Para pengendali Naga hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang kekuasaan Tiran. Tetua Para Pengendali Naga berusaha keras melawan kekuasaan itu tetapi, akhirnya satu per satu dari mereka tumbang. Berawal dari terbunuhnya Tetua Naga provinsi Timur, bertahun-tahun kemudian, seorang Pengendali Naga muncul dan berusaha memperbaiki kekacauan ini.
Sayangnya... pertemuannya dengan musuh-musuhnya membuat pengendali Naga itu menjadi lemah hati. Mampukah dia melawan, sedangkan ia sendiri tak bisa mengontrol diri sendiri? Bisakah dia memenangkan pertikaian, sedangkan emosinya berkecamuk setiap kali bertemu dengan musuhnya?
Judul: Para Pengendali Naga: Nyanyian Perang di Tanah Naga Penulis: Dhia Citrahayi Penerbit: leutikaprio Halaman: 638 halaman Terbitan: April 2013
Suatu hari tiba-tiba saja seorang Dhia Citrahayi ngepost di forum Kastil Fantasi.
"Eh, gue ada buku ini 2 biji di rumah loh. Yang mau pm gue yah."
Bahasanya enggak gitu sih, tapi intinya begitulah. Melihat kesempatan untuk memperoleh buku gratisan buku yang memang masuk daftar "to-read" saya, saya pun mengirim pesan ke ybs. Setelah beberapa pertukaran pesan, akhirnya dikirimlah buku ini ke saya.
Butuh waktu sekitar satu bulan sebelum saya memutuskan untuk mulai membaca buku ini. Dua alasan: satu, bukunya tebel banget. Dua, saya masih tobat sama buku fantasi indie yang keluar hampir bersamaan dengan buku ini. Iya, yang nomor 2 itu harusnya gak ada relevansinya, cuma saya jadi merasa buku ini dan buku itu semacam kembar, jadi yah...
Para Pengendali Naga (PPN, kok jadi pajak yah kalau disingkat?) mengambil kisah di sebuah kerajaan bernama Avriedhas. Di kerajaan ini terdapat orang-orang yang disebut Pengendali Naga. Sesuai dengan namanya, orang-orang ini memiliki kemampuan untuk memanggil naga sebagai partner mereka.
Ada 6 daerah yang dibagi sesuai mata angin dalam kerajaan ini. Timur, Barat, Tenggara, Utara, Barat Daya, dan Selatan Masing-masing daerah itu dipimpin oleh seorang Tetua Naga. Selain berfungsi sebagai pemimpin daerahnya, para Tetua Naga ini juga menjadi semacam simbol perjanjian antara sang naga dengan raja.
Konflik cerita ada pada Azel, raja Avriedhas saat ini. Ingin melepaskan diri dari perjanjian dengan sang naga, Azel menekan para Tetua Naga dan merebut satu per satu kalung naga mereka.
Sedikit komentar soal perjanjian ini. Jujur sampai buku ini selesai saya agak kurang ngeh isi perjanjiannya sebenarnya apa. Intinya sih, si naga dulu memberikan tanahnya pada manusia untuk diusahakan. Lalu para manusia juga (tidak semua tampaknya) dapat mengikat perjanjian dengan naga lainnya. Masing-masing dengan satu naga yang menjadi semacam "jiwa" mereka. Kenapa saya bilang jiwa? Soalnya sistemnya begini: kalau naganya mati, orangnya mati. Kalau orangnya mati, naganya hanya kembali jadi kristal, menunggu hingga dia dipanggil orang selanjutnya. Selain itu si naga ini juga terhubung secara emosi dengan manusianya.
Harus ada pengorbanan anak gadis perawan tiap malam purnama? Nope. Harus kasih sajen pada si naga tiap setahun sekali? Nope. Harus melakukan penyembahan pada si naga? Nope.
Enggak ada hal aneh yang harus manusia lakukan. Cuma si raja ini kemudian "memberontak" dari si naga dengan alasan "tidak ingin mengikuti perjanjian yang dibuat bahkan sebelum dia lahir".
Ketidakjelasan motif dan arah cerita di awal sebenarnya bikin saya sempat berhenti dan pindah ke buku Ai-nya Winna Efendi.
Tokoh utama di PPN ini adalah Siyan, seorang gadis remaja yang pindah ke Avriedhas dan tinggal di rumah Ian, "pamannya" yang juga seorang jenderal kerajaan. Di awal cerita kebanyakan dia hanya pergi ke akademi, flash back ke pembantaian keluarganya, berinteraksi dengan Flyker, naganya. Dan ini sempat bikin saya bingung. Ini ceritanya mau dibawa ke mana? Baru agak di pertengahan saat dibilang bahwa Siyan ini adalah Tetua Naga provinsi Timur, baru saya ngeh jalur ceritanya.
Jadi si Siyan ini adalah salah satu anak yang selamat saat penyerangan kerajaan ke provinsinya dulu. Dia kemudian dipilih oleh kalung naga tetua sebelumnya sebagai tetua yang baru. Karena dendam dan lelah karena ditekan terus-terusan oleh pihak kerajaan, dia pun, dengan bantuan pamannya yang dulunya bersahabat dengan Ian, pindah ke ibukota dan mempersiapkan jalan untuk pemberontakan.
Level pemberontakan di sini bukan skala besar yang gimana sih. Lebih ke arah sistem gerilya. Serangan kecil-kecilan di dalam kota dengan bantuan teman-temannya dari provinsi Timur. Hingga akhirnya terjadi puncak cerita pada pesta perpisahan putri raja yang akan berangkat ke kerajaan tetangga untuk menjadi istri calon raja di sana.
Jadi...
Karakter? Ada terlalu banyak nama. Saya bisa mengerti sih soalnya ini melibatkan satu kerajaan dan konflik dalam skala besar, sehingga masuk akal kalau memang ada banyak nama. Hanya saja kadang nama yang belum tentu bakal muncul lagi pun ditulis dan ini agak mengganggu.
Saya cukup suka dengan Siyan. Minimal dia bukan tipe cewek utama dalam serial fantasi belakangan ini yang galau, "Duh gue sama si cowok kece A atau sama si B yang body-nya oke punya yah?", padahal saat itu dunia sedang terancam bahaya. Dia memang fokus ke apa yang harus dia lakukan dan menyelesaikannya. Ada romansnya? Ada, tapi kadarnya masih dikit banget. Cuma mungkin karakter-karakter pria yang potensial sebagai tokoh utama di buku selanjutnya, semacam Xiehst atau Alant belum terlalu menonjol di sini.
Plot? Saya masih agak bingung dengan perjanjian naga sebenarnya. Soalnya hal ini menjadi motif si raja yang memicu perang saudara dalam kerajaannya sendiri. Jelas tujuannya, bagi saya, bukan karena dia "haus kekuasaan" (rasanya ada bagian yang memaksudkan hal ini secara subtil, tapi mungkin saja saya salah tangkap). Kalau memang haus kekuasaan harusnya dia mengekspansi ke daerah lain dong. Ya kan? Ataukah sebenarnya sudah disebutkan tapi saya kemudian kelewat ya? Butuh konfirmasi pengarang tampaknya.
Penulisan? Sudah bagus. Gaya penceritaannya sudah baik. Typo? Bersih buat saya. Dalam artian saya gak ingat di bagian mana ada typo. Mungkin ada, tapi yang jelas jumlahnya tidak banyak. Yes, I'm looking at you, "twin brother". Selain itu pembagian babnya juga manusiawi untuk buku sepanjang ini.
Saran buat penulis, lebih baik efek suaranya dihilangkan saja. Perlukah untuk menuliskan efek suara sesering itu? Suara pintu terbuka: "CKLEK... KRIEET..." Suara kuda: "BLAK... BLAK..." Suara pedang beradu: "TRANG" Suara angin bertiup: "WHUUSH..." Sesuatu direnggut: "GYUT..." dan masih banyak lagi.
Satu-dua kali mungkin tidak apa-apa, tapi kalau jumlahnya sudah seperti di sini, sangat mengganggu.
Selain itu saya kadang merasa settingnya agak tercampur-campur. Seperti nama misalnya. Di provinsi Timur ada orang dengan nama Siyan (kesannya nama Cina), lalu ada yang namanya Belle (barat) dan Chissa (insting pertama saya Jepang). Juga ada nama Dharma dan Dhie (Indonesia, yang terakhir mirip nama pengarang :D).
Nama campur-campur? Okelah. Lagian nama-nama dari provinsi lain juga tidak ditunjukkan (kecuali Barat Daya). Jadi mungkin saja nama-nama itu sebenarnya wajar di provinsi lain. Yang paling keren sih ada tempe di provinsi Timur dan pada satu adegan Siyan sungkem ("mencium punggung tangan", tapi tidak masuk akal kalau mencium punggung tangan seperti seorang pria mencium punggung tangan seorang wanita kan) pada bibinya (hal. 455). O...ke. Dua hal ini yang paling bikin kening saya berkerut. Rasanya gak nyambung aja sama seluruh setting yang ada. Apalagi untuk budaya sungkem ini hanya muncul di satu adegan itu saja. Perasaan sebelum-sebelumnya gak ada deh. Buktinya waktu Siyan pertama kali bertemu Ian dia cuma membungkukkan badan tuh. Gak ada acara sungkem.
Ending? Gantung banget. Saya sudah dapat firasat di halaman 500-an sih. Soalnya sisa 100 halaman lebih sedikit dan konfliknya belum terselesaikan. Pada akhirnya masih ada beberapa bagian yang belum jelas. Khususnya yang menyangkut soal Raja Azel. Jelas buku ini direncanakan untuk memiliki sekuel. Untungnya plot utama di buku ini sudah selesai sehingga, secara plot, tidak berakhir menggantung.
Kesimpulan? Seperti arti 3 bintang di Goodreads, I like it. Buat saya cara penuturan pengarang sudah baik di sini. Karakternya juga likeable. Saya suka Siyan dan saya menunggu Alant akan menjadi seperti apa di sekuel buku ini. Saya juga cukup suka dengan adegan pertarungan di sini (walau adegan padang rumput jadi padang es lalu "padang air" rasanya agak... oh well). Secara keseluruhan buku ini bagus kok.
Buat yang mau mesan bukunya bisa cek di sini (ongkirnya gratis kalau saya lihat halaman ini). Atau tanya ke pengarangnya langsung tentu saja.
Terima kasih untuk Dhia yang sudah memberikan buku ini secara gratis untuk saya. Kalau diperbolehkan sih bukunya mau saya jadikan giveaway, tapi tunggu izin pengarang dulu deh (buku pemberian sih).
Kami terikat dengan dirimu Jiwa kami adalah jiwamu Ragamu adalah milik kami Dan kekuatan kami adalah milikmu
Itu merupakan ikatan antara naga dan para pengendalinya. Suatu hubungan timbal balik yang sebenarnya agak timpang. Mengapa demikian? Karena sebagai seorang pengendali naga, apabila si pengendali mati maka sang naga akan tetap hidup guna mencari tuan yang baru nantinya, sementara apabila sang naga yang mati, maka otomatis si pengendali naga pun akan mati. Tetapi para pengendali naga seolah tidak pernah memikirkan hal tersebut, dia akan sekuat tenaga untuk tetap berjuang bersama sang naga, guna tetap mempertahankan perjanjian yang telah terucap sejak lama antara kaum naga dan kaum manusia.
Buku ini merupakan buku fantasi lokal kedua yang saya baca setelah Nibiru-nya Tasaro GK. Seingat saya belum ada lagi cerita atau buku fantasi lokal yang saya baca dan begitu berkesan selain kedua buku ini. Buku ini ialah buku karangan seorang teman di salah satu forum terbesar di Indonesia, yaitu kaskus. Dicetak melalui jalur indie melalui Leutika Prio, jujur saja saya agak tercengang melihat penampakan dari buku ini. Dengan ketebalan 600-an halaman, kertas putih HVS, ilustrasi naga yang ada pada setiap bab-nya, hingga pembatas buku yang juga berilustrasikan sang naga membuat buku ini berkesan pada pandangan pertama. Tetapi jujur saja, saya kurang melihat korelasi antara cover buku dan ilustrasi-ilustrasi yang ada dengan naga-naga yang ada di dalam cerita. Seolah gambar naga pada cover hanya sebagai formalitas bahwa buku ini mempunyai judul yang berkaitan dengan naga.
Siyan, sang tokoh utama buku ini merupakan tetua naga provinsi Timur, salah satu provinsi dari enam provinsi yang dimiliki oleh kerajaan Avriedhas. Avriedhas ini memiliki seorang raja yaitu Azel. Seorang raja yang sangat berambisi untuk memusnahkan semua pengendali naga, terutama tetua naga dari keenam provinsi guna menghancurkan perjanjian yang telah dibuat semenjak dahulu kala antara kaum naga dan manusia. Tujuan Azel sebenarnya ialah untuk melanggengkan kekuasaannya dan meminiminalkan ancaman dari para tetua naga terhadap posisinya sebagai raja. Provinsi Timur ini merupakan salah satu provinsi selain Barat Daya dan Tenggara yang tetuanya belum takluk kepada raja atau dibunuh oleh sesama warga dari provinsi tersebut guna menghindari siksaan yang lebih berat dari raja. Siyan, yang mempunyai dendam pribadi terhadap Avriedhas akibat perbuatan raja dan ajudan-ajudannya membunuh ayah serta kedua kakak laki-lakinya, hingga membawa kabur ibu dan kakak perempuannya, diam-diam merencanakan untuk melakukan pemberontakan dan meruntuhkan tirani raja Azel. Apalagi posisinya sebagai Tetua Naga Provinsi Timur merupakan posisi yang juga sangat diincar raja untuk dihancurkan, makin memanaskan ambisi Siyan untuk menghancurkan Raja Azel. Mampukah Siyan memberontak dan meruntuhkan Avriedhas?
Dari isi cerita, sebelumnya perhatian pasti bakal tertuju kepada nama tokoh-tokoh yang terkesan aneh dan sulit diucapkan. Siyan, Xiesht, Alant, Lalita, Hises, dan lain-lain. Belum lagi nama-nama tempat dan istilah-istilah yang ada seperti Avriedhas, Da’anrha, Sarakhan, cukup sulit untuk diingat dan dihapalkan, apalagi dilafalkan. Namun, satu pujian layak diberikan atas penamaan klan manusia pada buku ini. Contohnya saja Siyan. Ia memiliki nama ayah Arest Restellyn Dion, maka nama panjangnya menjadi Siyan Restellyn Arest. Begitu pula Arest, dari namanya dapat ditebak bahwa nama ayahnya yang juga kakek dari Siyan ialah Dion, menarik!
Ada lagi sedikit ketidaknyamanan dalam membaca buku ini, suara-suara yang menurut saya kurang penting untuk dibahas, seperti suara pintu dibuka, suara langkah kecil, suara jantung yang berdebar selalu ditulis dalam tulisan yang mengganggu pandangan. Contoh penulisan ini ada prolog awal: ““KRESK...” Suara langkah kecil yang samar terdengar dari arah belakang.”. tulisan “KRESK” ini yang mengganggu, sebabnya tulisan-tulisan ini tidak muncul satu-dua kali, namun hampir sering terjadi, seperti “DEG”, “CKLEK”, dan banyak lagi. Ada baiknya penulis mengurangi penggunaan bunyi-bunyian tersebut. Atau mungkin dapat agak diminimalisir dengan tidak menulisnya dengan huruf kapital semua. Satu hal lagi, nampaknya penulis berhasrat untuk menjadi desainer pakaian. Ini terlihat dari sangat lengkapnya deskripsi pakaian yang digunakan oleh masing-masing tokoh di buku ini. Seperti contoh di halaman 33: “Gadis itu mengenakan pakaian lengan panjang yang longgar, mirip seperti kemeja laki-laki dengan panjang sampai ke lutut. Di pinggangnya terdapat kain putih yang melilit, dengan ikatan yang masuk ke dalam lilitan kain sehingga membuatnya terlihat lebih rapi. Celana panjangnya berwarna senada dengan warna pakaiannya, putih gading, dengan panjang sampai ke mata kaki“. Saya pikir untuk deskripsi pakaian tidak perlu sepanjang itu, karena jujur saja, saya tidak mau pusing-pusing membayangkan pakaian seperti apa yang dideskripsikan tersebut, lebih banyak saya banyak sekilas saja pada saat membahas “mode-mode” tersebut. Ada lagi sih masalah tentang makanan yang sepertinya kok Indonesia banget, sayur bayam, tempe goreng, sambal, sampai-sampai saya berpikir, apakah ini rumah makan sunda? Hehehe. Tapi hal ini tidak terlalu mengganggu dibanding dua hal di atas tadi.
Walaupun paragraf sebelumnya agak banyak keluhan tentang suara-suara dan fashion, namun dari sisi cerita saya sangat menyukainya. Seru, membuat penasaran, jalan ceritanya pun mengalir. Pembaca seolah dibawa ke alam para pengendali naga, merasakan pertempuran-pertempuran yang terjadi, hingga membayangkan memiliki naga seperti yang dialami Siyan dengan Flyker-nya (Flyker adalah nama naga dari Siyan), membuat iri! Selain unsur action dan petualangan, ada pula unsur romance pada buku ini. Hubungan antar anak manusia yang begitu unik dan mungkin saja benar terjadi di dunia nyata. Satu hal yang membuat kaget ada di akhir buku ini, ketika terjadi sebuah adegan kekerasan yang menurut saya terlalu sadis, sehingga pemikiran bahwa buku ini cocok untuk anak-anak seketika sirna ketika membaca adegan tersebut. Tapi hal ini bukan merupakan nilai minus, karena wajar saja apabila di dalam suatu pertempuran terjadi hal yang demikian. Overall, bintang empat saya berikan untuk buku ini, good job Mbak Dhia, walaupun ending ceritanya sangatlah kentaaaaaaaaaaaaaaang....
Hampir dua tahun sudah novel ini menghias laman dashboard goodreads saya. Begitu banyak yang dilalui novel ini hingga mungkin hasilnya masih belum saya publikasikan :D
Saat ini, para pengendali Naga 1 masih dalam tahap re-writing (kembali), begitu juga dengan para pengendali Naga 2 yang terpaksa berhenti proses re-writingnya. Suatu saat nanti, ada keinginan bagi saya untuk kembali menerbitkan anak pertama ini. Bagi yang sudah pernah membaca para pengendali Naga 1 mungkin akan terkejut kalau membaca revisiannya. (Yah mungkin, mungkin juga gak terkejut). Yang pasti, saya menanti ulang tahun kedua anak pertama saya, yang hanya berjarak sehari dari ulang tahun saya :)