Kisah-kisah dalam Cerita di Balik Noda ini seolah menyadarkan kita betapa anak-anak adalah sumber kebijaksanaan hidup yang tak pernah kering jika kita mau melihatnya dengan cinta. Kenakalan mereka adalah kilau emas, dan kepolosan mereka adalah mentari pagi yang menghangatkan jiwa.
Barangkali karena yang melahirkan anak-anak, para ibulah yang umumnya mampu melihat semua itu dengan cinta mereka. Tidak heran bila kisah-kisah dalam buku ini kebanyakan ditulis oleh kaum ibu. Mereka berbagi cerita tentang hubungan ibu-anak yang telah memperkaya jiwa mereka.
Fira Basuki, salah seorang novelis Indonesia terkemuka sekarang ini, mengembangkan cerita-cerita para ibu tersebut dengan tetap mempertahankan gaya tulisan aslinya. “Ketika saya diminta untuk mengembangkan buku Cerita di Balik Noda ini, saya seolah sedang bergelut dengan pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Saya merasakan gairah sebagai seorang ibu,” tulis Fira dalam pengantarnya.
Fira Basuki (born June 7, 1972) is a well-known Indonesian novelist. Arguably her most famous work is her trilogy debut consisting of Jendela-Jendela (The Windows), Pintu (The Door) and Atap (The Roof). The trilogy concerning the journeys of Javanese brother and sister Bowo and June; from graduating high school, studying abroad in the US, their meta-physical experiences (especially Bowo's "second sight" and aura-reading capabilities), relationships with people of different nationalities (especially June's Tibetan husband), and their return home to Indonesia.
Her novel, Brownies, was adapted to a movie which was nominated for Best Picture at the 2005 Indonesian Film Festival, eventually losing out to Gie (though Brownies did earn a Best Director Citra award for Hanung Bramantyo). She recently launched to widespread media acclaim a popular biography on media person Wimar Witoelar, her first work in non-fiction.
Her latest novel, scheduled to be published July 2007, is entitled Astral Astria. As per August 2007, she works as Chief Editor at the Indonesian edition of Cosmopolitan Magazine.
Cerita Di Balik Noda; Mari Melihat Noda Dengan Cinta
Judul Buku: Cerita Di Balik Noda: 42 Kisah Inspirasi Jiwa
Penulis: Fira Basuki
ISBN: 978-979-91-0525-7
Tahun Terbit: Januari, 2013
Jumlah Halaman: xii + 235 halaman; 13,5 x 20 cm
Harga: 40.000,00
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Genre: Fiksi
“Anak-anak adalah sumber kebijaksanaan hidup yang tak pernah kering jika kita mau melihatnya dengan cinta. Kenakalan mereka adalah kilau emas, dan kepolosan mereka adalah mentari pagi yang menghangatkan jiwa.”
Sepenggal kalimat di atas juga tertera pada pembatas buku Cerita Di Balik Noda. Yaitu bagian kedua yang saya baca setelah bagian sampul. Mampu menjelaskan benang merah dari buku ini pada tahap awal, yang hipotesi saya menggunakan media noda. Namun sesungguhnya, buku ini ingin menyampaikan agar lebih bijaksana untuk menyikapi permasalahan. Termasuk noda, karena pembelajaran yang terbaik didapatkan anak adalah melalui alam semesta dimana ‘noda’ pun tidak dapat dihindari.
Fira Basuki merupakan penulis yang telah menerbitkan buku buku best sellers, masih dengan gayanya yang lugas ia membawa buku ini mengalir. Menyentuh hati setiap pembacanya sesuai dengan pengalaman hidup masing masing. Sangat dekat dengan realita, membuat keempat puluh dua cerita dalam buku ini dapat hidup. Dan itulah yang menjadi kekuatan Cerita Di Balik Noda.
Bos Galak adalah pilihan yang tepat untuk mengawali cerita yang lain. Menunjukkan kendati cerita dalam buku ini ditulis ulang oleh Fira Basuki, tetap terdapat perbedaan dalam menangkap dan kemudian menyampaikan cerita dari masing masing, termasuk Fira. Tidak melulu mengenai cerita standar ibu rumah tangga modern dan anaknya. Tapi menegaskan jika setiap orang memiliki ‘noda’ dalam hidupnya, seorang bos sekalipun. Hanya perlu berusaha bijak dalam memandang dan memberi cinta kasih, agar dapat belajar satu sama lain.
Ketika membuka lembar berikutnya maka kita akan mendapatkan cerita yang bervariasi. Misalnya, Tulisan Di Kain Sprei yang menceritakan Chatya, seorang anak yang yang di bully. Ia tetap memiliki keberanian untuk menegur dan menghentikan tingkah teman-temannya melalui media sprei. Foto, Perban Nenek, Kaki (Harus) Kotor dan cerita-cerita lain yang mampu menginspirasi. Bukan hanya menginspirasi sebagai orang tua, juga sebagai anak, saudara, sebagai anggota keluarga yang lain tapi sebagai seorang manusia.
Blunder buku ini justru terletak pada kesalahan pengetikannya, ada typo dimana-mana. Pada cerita berjudul Sarung Ayah, terdapat kesalahan nama yang tidak konsisten hingga akhir cerita. Sehingga perlu konsentrasi dari pembaca untuk menyadari bahwa yang dimaksud adalah tokoh sebelumnya. Kesalahan ini akan menjadi lebih baik jika segera direvisi pada cetakan selanjutnya, untuk penyempurnaan sebuah karya menjadi lebih baik.
Walaupun buku ini berawal dari lomba menulis di Facebook oleh Rinso Indonesia, bertemakan “Cerita Di Balik Noda” namun apa yang ingin disampaikan bermakna lebih dari sekadar noda pada baju. Bukan sekadar kampanye untuk berani menghadapi noda pada pakaian anak-anak, tapi lebih luas dari itu. Bagi saya, Cerita Di Balik Noda merupakan kumpulan kisah yang pantas dibaca setiap jiwa, bukan hanya ibu.
Membaca buku ini (di tahun 2019) membuat saya merasa kembali ke masa kecil saya, menikmati cerpen dan dongeng yang sarat makna dari majalah Bobo. Walau beberapa cerita kesannya 'terlalu indah untuk jadi nyata', kumpulan cerpen ini bisa saya nikmati dari awal hingga akhir.
Saya kaget waktu melihat rating buku ini (sebelum saya berikan rating, tentu saja) :-D. Seriously, people, cuma 2,66? Memang buku ini tidak sempurna, tapi rentang 3,00-4,00 masih pantas lah. Meninjau review pengguna Goodreaders yang lain, ada yang mengkritik 'pesan sponsor' dan kesannya buku ini jadi kurang tulus. Menurut saya tidak, tuh. Kata 'Rinso' hanya disebutkan dalam prakata dan halaman terakhir buku ini (ajakan untuk mengirimkan cerita ke laman Facebook Rinso Indonesia). Bagi saya Fira Basuki sebagai penulis sudah objektif dalam mengadaptasi kisah warganet yang menjadi basis penulisan kumcer ini sehingga saya tidak merasakan 'pesan sponsor' selama menyelami buku ini.
Akhirnya, saya berikan bintang 5 untuk buku ini untuk mendongkrak rating Goodreads-nya yang saya rasa underrated. Cast your stones and judgements, people. Mungkin mental saya yang jenuh dengan hal-hal negatif atau sampah dari media dalam beberapa tahun terakhir ini, merasa tersentuh oleh kepolosan tokoh-tokoh dalam buku ini serta nostalgia - sehingga merasa buku ini bagus. Mungkin ketika saya makin dewasa, makin tegar dan makin cuek menghadapi ketidaksempurnaan dunia, saya akan merasa kumpulan cerpen ini cheesy dan bullshit. Tapi satu hal: Cara Fira Basuki merangkai kata demi kata dalam buku ini layak untuk mendapatkan setidaknya 3 bintang.
Cerita di Balik Noda karya Fira Basuki merupakan buku dengan kisah-kisah pendek di dalamnya. Kisah yang disajikan sangat menyentuh dengan kisah yang kebanyakan berasal dari para ibu dan anak. Bagaimana anak berkembang dengan berbagai hal baru di dunianya.
Walaupun kisah di dalam buku sangat baik dan menyentuh, namun untuk menyelesaikan buku ini membutuhkan energi yang lebih, hal ini karena buku kisah-kisah ini bukan hal yang saya sukai. Namun buku ini benar-benar bagus untuk dibaca para orang tua, karena banyak kisah menyentuh tentang parenting dari pengalaman orang-orang di dalamnya.
Buku ini menarik menurut saya. Kumpulan cerita dari orang-orang yang bajunya kotor (terutama anak-anak) dan bukan karena mereka nakal saat bermain, tetapi karena mereka justru melakukan hal-hal baik.
Beberapa waktu yang lalu seorang kawan meminta saya mencarikan buku berjudul Cerita di Balik Noda. Sebagai seorang yang hobi mengunjungi toko buku, maka sayapun menyanggupinya. Ternyata, mudah sekali menemukan buku tersebut. Buku bersampul putih dengan bercak coklat yang menggambarkan noda itu terpajang di rak buku baru di TM Book Store, Depok.
Baru membaca uraian singkat mengenai buku Cerita di Balik Noda di sampul belakangannya saja sudah membuat saya teringat akan ulah keponakan saya. Namanya Aqila. Tetapi saya memanggilnya Keyla. Dia anak dari kakak perempuan saya. Keyla adalah keponakan saya yang suka sekali menggambar. Sayangnya, Keyla seolah tak mengenal tempat untuk menuangkan kreasinya. Ia menggambar di buku, di balik kalender bekas, dan tak terkecuali di tembok rumah saya.
Keingintahuan saya untuk mengetahui cerita yang mungkin serupa membuat saya membawa pulang buku karya Fira Basuki tersebut --tentunya setelah saya ke kasir untuk membayarnya ^^v--
Terdapat 42 kisah inspiratif yang tertuang dalam buku 235 halaman itu. Semua kisahnya bertemakan tentang noda. Kisah-kisah di dalamnya sesungguhnya bukan murni karya Fira Basuki. Hanya 4 judul saja yang merupakan buah karyanya: Bos Galak, Sarung Ayah, Pohon Kenangan, dan Foto. Selebihnya merupakan kisah-kisah yang ditulis oleh para ibu peserta lomba menulis yang diselenggarakan Rinso. Fira kemudian memolesnya hingga terasa renyah, tanpa harus menghilangkan gaya tulisan asli Sang Penulis.
Buku ini memberi banyak pencerahan bagi saya tentang arti noda itu sendiri. Saat pertama kali saya menemukan noda spidol di tembok rumah saya, rasa kesal sempat hadir di dalam dada. "Tembok rumah ini kan baru dicat, masa' udah kotor lagi?" Tapi segera saja saya tepis rasa itu. Saya bertanya pada Keyla tentang makna coretan-coretan yang telah ia goreskan. Dan ternyata apa yang ia gambar menghasilkan sebuah cerita --meski masih teramat imajinatif, hehe--.
Membaca buku Cerita di Balik Noda bukan hanya membuat saya seolah memiliki teman senasib yang sama-sama harus mengatasi "kenakalan" si kecil. Aneka noda yang diceitakan di sana memberikan arti noda yang lebih luas lagi. Noda bisa membangkitkan kenangan, seperti dalam kisah "Sarung Ayah". Noda juga membangkitkan rasa saling tolong menolong (ada banyak kisah yang memberikan pesan ini, seperti Agi TIdak Pelit dan Siluman Tikus). Dan yang tak boleh dilupakan, noda juga menjadi awal sebuah kreatifitas anak. Ceritanya bisa dibaca di kisah Koki Cilik dan Baju Kreatif.
Karena setiap noda punya cerita. Jadi, kenapa harus takut dengan noda? Asalkan kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah di baliknya, mengapa tidak? Berani kotor itu baik, kok! ^__^
harusnya pas ambil buku ini di rak gramed langsung 'ngeh' dg judulnya. "noda"...identik dg salah satu iklan sabun cuci..yup..bener...buku ini adalah kumpulan cerita yang dikirim oleh ibu2 mengikuti kontes tulisan ttg noda.jadi bukan cerpen karangan fira basuki. Ya namanya yg bikin cerita dr berbagai background pendidikan, ada bbrp cerita yg pesannya dalam, ada yg dangkal, secara keseluruhan intinya tdk ada noda tdk belajar. beberapa cerita di awal menceritakan ttg anak2 korban perceraian, korban meninggal ayahnya, yg masih blm bs melupakan dan masih menutup diri dari kehidupan normalnya...dannn..ini yg bikin sedih..hikss...anak-anak usai 7-10th yg harusnya ceria, tapi sedih berkepanjangan akibat salah satu angota keluarga yg meningggal. lainnya, cerita ttg kepolosan anak2, ketulusan anak2 membantu org di sekitarnya walo berakibat bajunya terkena noda...cling lgsg bersih kok kalo dicuci....cuman, bbrp cerita agak nggak make sense, ah masak iya siy anak seusia segitu memiliki inisiatif dan kepekaan tinggi ngajakin temennya masak buat korban banjir...hedeh...gmn rasanya ya....?....xixixixi......
Pertama-tama, ini bukan review yang objektif. Saya belum baca buku ini, tapi buku ini kebetulan dibeli Ibu saya pada kunjungan kami ke Gramedia beberapa minggu yang lalu.
Waktu melihat cover dan judul, saya sempet terpikir, ini cerita tentang noda apaan, ya? Sampai akhirnya Ibu saya membaca beberapa halaman dan kemudian berkomentar betapa kagetnya beliau waktu menyadari noda di buku ini adalah noda harafiah. Noda kotor. Noda.. yang bisa dibersihkan dengan Rinso!
Saya jadi ikutan ketawa. Ya kaget aja, nggak nyangka noda di sini, dengan cover seperti itu, ternyata bener-bener bermakna harafiah.
Ibu saya nggak nyelesein baca buku itu - dan jujur aja, mendengar ternyata ini cerita dari kumpulan lomba Rinso, saya nggak berminat baca.
Kalau model Chicken Soup, ya bolehlah. Tapi kalau ada unsur iklan, aduh, kok mau menghayati jadi gak genuine ya rasanya.
Jumat, di rekomend teman utk baca, di hari sabtunya tgl 23 Maret ada meet & great with Fira Basuki di Gramedia PIM, mampir, lalu beli bukunya...
Kumpulan cerita yg berkisah tentang dari segala noda yg kita perolah selalu ada hikmah, ada pembelajaran dan ada positifnya..., cerita yg disponsorin juga oleh Rinso..
dan yg paling disuka..tentuuu dapet tanda tangannya..si penulis cantik, Fira Basuki.., padahal saya tidak terlalu nge-fans banget dengan Fira.. ;-)
isi bukunya sendiri, bagusss banget..banyak pesannya.., tulisannya Fira sendiri ada pada judul; Boss Galak, Sarung Ayah, Pohon Kenangan dan Foto..
Cerita di Balik Noda. covernya bukunya bagus, minimalis, berwarna putik dan ada cipratan noda cokelat. tidak begitu tebal. dengan judul yang apik, "cerita di balik noda." membuat saya langsung memutuskan untuk membelinya.
buku ini berisi kumpulan cerita para Ibu-ibu yang diceritakan ulang oleh Fira Basuki, selain itu ada juga kisah yang ditulis oleh Fira Basuki sendiri. pesan moral yang terkandung dalam buku ini tentunya, Berani kotor itu baik. :)
akan tetapi, mungkin karena terlalu banyak cerita yang termuat dalam satu buku membuat buku ini menjadi agak membosankan. dan saya memutuskan untuk tidak menyelesaikannya. :(
Buku ini kumpulan beberapa cerita yang ada hubungannya dengan noda ya iyalah kan ini buku juga ada kaitannya sama sebuah merk sabun cuci baju yang taglinenya harus berani kotor overall sih isinya lumayan ada cerita yang bagus tapi ada juga yang rada ngga nyambung tapi agak disambungin sama "noda". Intinya sih ngga kayak novelnya Fira Basuki pada umumnya aja
Anak - anak adalah sumber kebijaksanaan hidup yang tidak pernah kering. Kenakalan mereka adalah kilau emas dan kepolosan mereka adalah mentari pagi yang menghangatkan -fira basuki-
Beli buku ini karena ada embel-embel nama Fira Basuki. Ternyata gitu sampe rumah baru sadar, 'gue salah beli buku!'. Buku ini lebih ditujukan untuk pembaca ibu-ibu yang punya anak kecil dibanding pembaca remaja dan belum punya anak yang bahkan masa bodo kalau anak kecil mau coret tembok atau baju baru. Kirain judulnya mengandung makna kiasan, eh ternyata noda beneran haha.