Amira Januari---psikolog muda terkenal---memiliki klinik yang selalu ramai, klien yang banyak, talkshow di radio dengan rating tinggi, dan mengasuh rubrik konsultasi di koran nasional. Masa depan yang cerah berada di genggamannya.
Hanya ada satu hal. Mira fobia pada publikasi dan pernikahan. Bahkan terhadap Ardi, pengusaha sukses di usia tiga puluhan.
Hingga suatu hari, sebuah peristiwa menempatkan Mira sebagai pesakitan. Publikasi yang berlebihan menghancurkan masa depannya, karier, hidup, dan nama baiknya.
Satu-satunya jalan baginya adalah melarikan diri....
Ide cerita novel ini sebenarnya sangat menarik. Tokoh utamanya Mira, seorang psikolog yang sering on air di radio dan mengisi rubrik di koran terkemuka. Karakternya hidup, ia psikolog yang cuek, saran-sarannya kepada klien terkadang kontroversial karena ia menyadari bahwa tugas psikolog bukanlah mencari solusi tapi membantu klien untuk menemukan solusi masalahnya sendiri. Ia sendiri belum menikah, tetapi sering menghadapi klien yang mengalami masalah rumah tangga. Prinsipnya adalah wanita harus bisa memiliki peran dan independensi yang sama seperti lelaki (ya, Mira ini feminis sejati). Jargonnya adalah "Marriage is not my thing". Ia merasa mandiri dan sebenarnya takut akan perceraian seperti yang dialami kedua orang tuanya dan para kliennya. Sayangnya, sebuah kejadian akibat kecerobohannya karena menjadi pribadi yang terlalu cuek, membuatnya kehilangan karirnya yang diimpikan sejak dulu.
Novel ini mengandung kisah cinta segi empat antara Mira, Ardi, Putra, dan Ayu. Hubungan Mira dengan klien yang terlalu akrab misal dengan bergandengan tangan jelas melanggar kode etik profesi psikolog. Kenapa Mira yang dikenal sebagai psikolog cerdas mengabaikan kode etik itu? Bisa dicabut loh, izin praktiknya kalau ada yang melapor ke HIMPSI. :(
Namun, tidak ada tokoh yang 'mubazir' dalam novel ini. Setiap tokoh memiliki porsinya masing-masing. Karakter tokoh-tokohnya manusiawi, tidak semuanya sempurna. Sayangnya saya kurang suka eksekusi konflik yang terlalu cepat. Misalnya tiba-tiba Ardi atau Putra sudah berada di dalam rumah Mira. Seorang perempuan lajang yang hidup sendiri, apa tidak takut membiarkan pintu rumahnya selalu terbuka? Atau ketika tiba-tiba Ayu hadir di tengah seminar Mira dan menghancurkan karir Mira seketika. Mira berkepribadian independen, cuek, rasional, tapi mengapa tidak berargumen ketika diserang? :(
Sayang aja sih, karena eksekusi yang terlalu cepat dan penggunaan POV-3 yang objektif, menjadikan kesedihan yang dialami Mira kurang bisa saya rasakan sebagai pembaca. Bayangkan saja karir yang dibangun bertahun-tahun (dan kuliah profesi psikolog itu susah), mendirikan klinik psikologi, mempunyai banyak penggemar, kemapanan finansial, lalu hancur dalam waktu yang cepat, ditambah lagi pria yang dicintainya menuduhnya macam-macam. Hal-hal seperti itu bisa bikin orang enggan melanjutkan hidup lagi kan? Teman-teman Mira yang juga psikolog tidak membantu masa pemulihan Mira. Ya mungkin karena Mira memang sekuat itu sehingga bisa me-reframing apa yang terjadi pada dirinya. Eh, tapi proses refleksinya juga terlalu cepat. Hehe, mungkin karena keterbatasan jumlah halaman ya... :D
Overall, suka, mau ngasih bintang 4 ga bisa karena hal-hal di atas. Lumayan menghibur kok buat mengurangi kejenuhan di tengah pandemi.
well yeah... di bagian endingnya harus kuakui itu lumayan cringe buat aku. dari awal cerita sebetulnya aku udah mulai suka, cuma makin ke belakang kok rasanya makin berantakan. sifat mira yang di awal digambarkan cuek itu kayak tidak sinkron, terutama ketika berhubungan dengan ardi. trus ardi juga nggak jelas banget, kayak, dia benci sama mira tapi tetep datengin walaupun itu buat ngata2in. trus endingnya juga aku kurang suka, lebih baik mira tetap ambil keputusannya. trus kan di awal, dia yang paling kekeuh ya kalo yang dilakuin sama putra itu bukan perselingkuhan, ya memang bukan, tapi itu kan bibit2nya? masak dia sebagai psikolog tidak tahu? trus begitu kena getahnya pun masih mau berdua dengan putra:) kok kayak nggak kapok.... trus aku rasa juga butuh pendalaman ttg masa lalu si orangtuanya mira
{just an archive for myself} ini novel aku baca karena dulu sempet punya cita- cita jadi psikolog, dan kesimpulan yg bisa aku tarik bahwa jd psikolog bahkan akan lebih sulit saat km sendiri yg berada di titik butuh konsultasi. Ini cerita cukup simple dan alur nya cepat, Mira yg beranggapan cinta bukan apa apa bahkan gada di kamus hidupnya bisa luluh dengan Ardi yg ditemuinya di resto Italia. Cukup enak dibaca dan plotnya padat, cepat.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku pertama karya Syafrina Siregar yang saya baca di tahun 2007 dulu dan cukup menyukai gayanya bercerita di sana. Konflik yang ditawarkan di buku ini cukup real.
Sorry banget, cuma kasih 2 bintang untuk buku ini. Setelah dianalisis, ternyata lebih banyak kekurangan daripada kelebihannya. Oya, bagi yang tidak setuju, silakan. Yang jelas, ini murni pendapatku kok.
Pertama, tokohnya nggak konsisten. Banget. Di sini ada sepasang tokoh yang namanya Putra dan Ayu. Mereka ini adalah suami istri. Ceritanya, si Ayu ini ngga tahan banget hidup rumah tangga sama Putra. Intinya, semenjak menikah, Putra tidak bisa memberinya kebebasan. Alhasil, si Ayu pun ngotot minta pisah dan uda ngajuin gugatan cerai ke Putra. Tapi Putra dia justru menolak mentah2 keinginan istrinya itu. Sepasang suami istri ini sama2 memiliki dua keputusan yang SANGAT bertolak belakang.
ANEHNYA, di pertengahan buku, semuanya berubah gitu aja. Keadaan malah jadi kebalik. Ayu yang awalnya ngoto banget minta cerai, ini malah narik gugatannya ke Putra. Sebaliknya, Putra yang awalnya nangis2 ga mau cerai, justru ganti ngotot minta cerai. Lahhh... ini maksudnya gimana? Kok bisa tiba2 berubah gini? Yang di awal2 tadi, gimana kabarnya? Nggak jelas gitu aja.
Kedua. Chemistry yang coba penulis bangun antara Mira dan Ardi lemah banget. Kayaknya sih, penulis lebih fokus ke permasalhan yang sedang Mira hadapi dalam dunia kerjanya. Alhasil, kisah cinta ini pun kurang begitu dieksplor dan terkesan sebagai angin lalu saja.
Ketiga. Ngga ada kejelasan hubungan antara Ayu dan Putra. Di ending, nasib hubungan pasutri ini pun seakan ngegantung. Ga ada tindak lanjutnya. Jadi... mereka akan cerai atau tetap bertahan? Ngga ada yang tahu.
Yang jelas, masih ada beberapa kekurangan yang lain untuk buku ini. Seperti penyelesaian konflik yang kurang logis, pemecahan masalah yang terlalu sederhana dan kurang masuk akal untuk sebuah konflik yang terbilang rumit, dan itu tadi.... banyak ketidakkonsistenan.
Tapi baiknya, buku ini memberi warna baru terutama dari bidang profesi tokoh utamanya. Ya, psikolog. Jadi lumayan tau sih tentang cara kerja seorang psikolog ini. Cukup baguslah. Ada juga beberapa pesan moral yang coba penulis sampaikan di sini. Salah satu di antaranya adalah mengajarkan kita untuk bangkit dari masalah yang menimpa kita. Pokoknya bagus deh.
Tapi sayang banget, aku tetap menilai buku ini secara keseluruhan. So, aku rasa 2 bintang sudah cukup.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Amira Januari---psikolog muda terkenal---memiliki klinik yang selalu ramai, klien yang banyak, talkshow di radio dengan rating tinggi, dan mengasuh rubrik konsultasi di koran nasional. Masa depan yang cerah berada di genggamannya.
Hanya ada satu hal. Mira fobia pada publikasi dan pernikahan. Bahkan terhadap Ardi, pengusaha sukses di usia tiga puluhan.
Hingga suatu hari, sebuah peristiwa menempatkan Mira sebagai pesakitan. Publikasi yang berlebihan menghancurkan masa depannya, karier, hidup, dan nama baiknya.
Satu-satunya jalan baginya adalah melarikan diri....
I feel like the characters are real. It's close to the piece of psychologist world. Konflik sosok psikolog yang berupaya untuk menempatkan masalah pribadinya secara proporsional, namun tetap tak bisa menolak arus gelombang persepsi sekilas masyarakat pada umumnya yang terkadang mengusik kehidupan pribadi sampai berimbas pada kepercayaan masyarakat tentang tuntutan profesionalitasnya. Kisah yang seru. Pengenalan karakter disajikan secara kuat dengan paparan yang singkat, sederhana, dan mudah dipahami. Sangat menyentuh dan rileks untuk dibaca. Early Dewi Nuriana, psikolog, http://earlyshine.blogspot.com
Dalam novelnya kali ini Syafrina menantang dirinya untuk keluar dari comfort zone dengan mengambil setting di Makassar yang jauh dari kesehariannya tapi masih konsisten dengan sosok tokoh utama perempuan yang bergelut untuk mandiri. Hasilnya? Jadilah sosok Mira yang tengah berusaha bangkit dari kesalahan yang pernah diperbuatnya. Ada pesan tersirat di sela-sela jalur ceritanya yang semoga ditangkap juga oleh penikmat novel ini. Rane "Jaf" Hafied, blogger, jurnalis, Singapura
Satu lagi karya Metropop dari Syafrina Siregar. Satu alasan utama saya membeli buku ini adalah keingintahuan saya tentang bagaimana seorang penulis non-psikolog mampu menggambarkan kehidupan tokoh Amira Januari yang berprofesi sebagai psikolog serta komplikasi dalam kehidupan karir serta kisah cintanya. Pada dasarnya penggambaran profesi psikolog dalam buku ini terasa seperti tidak mendalam dan terlalu stereotipikal. Banyak hal dan konflik yang digambarkan dalam buku ini memiliki solusi yang terlalu mudah sehingga terasa kurang riil. Amat disayangkan, karena tokoh-tokoh yang muncul dalam buku ini sebenarnya sudah dibuat berkarakter cukup kuat. Alur cerita terlalu mudah ditebak dan konflik yang terjadi terasa janggal atau dibuat-buat. Namun salut untuk ide dan usaha penulis untuk mengeksplorasi lika-liku kehidupan tokoh cerita yg berprofesi sebagai psikolog, profesi yang masih tergolong kurang populer dan dekat dengan pembaca dibandingkan profesi lain yang sering diangkat di dalam buku-buku chicklit maupun metropop selama ini.
Buku ini saya baca berdasarkan rekomendasi dari beberapa teman yang serempak bilang: buku ini bagus! Pake banget!
Akhirnya karena didorong rasa penasaran, dan kebetulan juga nemu ini buku di rental buku, akhirnya saya pun minjem dan langsung cus baca begitu nyampe rumah.
Daaaaaaaan kesan pertama yang saya tangkap dari buku ini: biasa aja. Maaf banget buat penulis dan fans buku ini, tapi serius, buat saya ini buku biasa aja. Ekspektasi saya langsung kandas(?) pada saat itu juga.
Ide ceritanya keren, tapi kayaknya cara penuturannya kurang cocok sama saya huehehe. Entahlah, buat saya penuturannya kurang ngalir dan agak kaku. Jadinya saya ga gitu gimana(?) sama ceritanya, ngebaca sampai habis karena ngerasa sayang aja, bukan karena saya penasaran sama cerita itu sendiri.
Dan akhirnya saya kasih ini buku tiga bintang karena kekerenan ide cerita dan covernya, dan dua bintang saya buang karena kurang sregnya saya pada isinya /plok /ditendang
Harlequin-style banget deh, jalan cerita dan endingnya agak maksa. Aku tidak suka tokoh Ardi Thamrin yang sok alpha-male, tapi plin-plan nggak jelas antara kepedean dan rendah diri saat mengejar Amira Januari. Adegan tamatnya? Mungkin maunya mirip film Sabrina, di mana Harrison Ford meninggalkan rapat mahapenting demi mengejar cinta Julia Ormond ke Paris. Bedanya mungkin rapat Ardi nggak penting-penting amat, dan dia memilih cara membatalkan tiket pesawat Mira demi mencegahnya pergi.
Bercerita tentang kemandirian wanita, buku ini berhasil menggambarkan sosok Mira sebagai wakil kaum wanita yang tidak ingin bergantung pada siapa pun. Setiap wanita juga punya keinginan yang sama dengan laki-laki, namun tetap punya sisi-sisi kewanitaan. Bacaan yang tergolong ringan, tapi dikemas dalam bahasa yang lincah dan penggambaran tokoh yang cukup jelas.
saya lupa-lupa inget ceritanya. tapi nama tokoh utamanya itu unik, jadi saya inget. namanya amira januari. dia psikiater. ceritanya saya lupa, yang jelas kalau gak salah reputasi amira sebagai psikiater terusik dan dia harus berhenti jadi psikiater. ah, saya lupa. entahlah. karena saya lupa, 2 bintang buat novel ini.
Trauma dengan masa lalu, Mira selalu menganggap "Marriage is not my thing". Di sisi lain dia adalah seorang psikolog terkenal di kotanya. Selalu dapat menyelesaikan masalah rumah tangga orang lain, tapi belum untuk masalah dirinya sendiri.. Nice book ;)
Ceritanya agak maksa...Interaksi tokoh2 Utamanya dikit bgt, cuman karena kebetulan ketemu beberapa kali lgs jatuh cinta tanpa tahu bagaimana kepribadian masing2. apalagi Mira yg punya prinsip "Married is not my Thing" tiba2 berubah pikiran dan menerima Ardi tanpa alasan yg jelas.
Buat saya yang sedang belajar menulis novel, buku ini bagus. Soalnya tema dan konflik yang diangkat datar, tapi cukup mampu membuat pembacanya penasaran dengan eksekusinya yang indah dan tidak berbelit-belit. Yah, ibaratnya, untuk membuat kalung bagus nggak harus dengan emas 24 karat, kan?