Edwin adalah lulusan sekolah bisnis elit di Prancis. Berbagai tawaran kerja menunggunya begitu ia lulus. Namun tragedi yang menimpa adiknya telah mengubah pandangan hidup Edwin. Membuatnya melihat kembali arti masa muda yang begitu berharga sekaligus begitu rentan.
Edwin semakin putus asa melihat kenyataan bahwa benua Eropa kini menua dan tak menjanjikan apa pun lagi bagi kaum mudanya. Semua posisi penting pengambil keputusan dipegang dan hanya dipercayakan kepada orang-orang tua. Pemuda Eropa justru lebih dihargai di negeri orang. Dalam kondisi itu Edwin bertemu John yang menawarinya pekerjaan tidak lazim: menjadi pembunuh bisnis bayaran.
Edwin beroperasi di manca negara seperti Brasil, Afrika, Kuba, China, India, dan Indonesia. Anehnya, pekerjaan berdarah dingin itu justru membawa Edwin semakin dekat dengan kemanusiaan. Kebanyakan kasus yang ia hadapi berhubungan dengan sumber daya alam. Ia bersimpati pada kenyataan banyak negara yang kaya akan sumber daya alam tetapi justru miskin dan tidak mendapat hasil dari kekayaan itu.
Perlahan kehampaan dan kegersangan hati datang di tengah gaya hidup jet set yang dijalani Edwin. Ketika bertugas di Indonesia, ia terpesona dengan solidaritas, keramahan, dan daya tahan masyarakatnya. Ia menemukan negeri yang ia yakini menyimpan kemudaan dan energi dunia baru dengan Jakarta, the Big Durian, sebagai pusatnya. Indonesia adalah masa depan dunia. Di negeri inilah Edwin menemukan makna yang selama ini ia cari untuk hidupnya.
Jakarta! adalah novel yang ditulis oleh pemuda berdarah Prancis-Inggris, Christophe Dorigné Thomson, sebagai perwujudan rasa cinta dan keyakinannya atas potensi besar yang dimiliki bangsa Indonesia.
%%%
"Novel Jakarta! memberikan inspirasi yang berharga bagi pemuda kita mengantarkan Indonesia menuju puncak dunia. Christophe mendukung pandangan bahwa sudah bukan masanya lagi ada pemuda Indonesia yang merasa inferior terhadap bangsa lain. Buku ini akan menggugah pembacanya untuk berbuat, sadar bahwa Indonesia mampu menjadi pusat dari peradaban dunia. Sudah saatnya Indonesia berdiri sama tinggi dengan bangsa lain. Saatnya Indonesia setara!" —Sandiaga. S. Uno; Pengusaha
Untuk kesekian kalinya, I judged a book by its cover (and endorsements). Tapi saya lupa, di tanah air tercinta ini, orang terkenal bisa asal endorse buku tanpa pernah baca sekalipun.
Dan kecewalah saya..
Menurut saya, buku ini sama sekali nggak menarik, karena: 1. Sebagai esai geopolitik, angle sebagian besar negara yang disajikan buku ini terlalu general. Fakta dan opini2 yang ada bisa di-compile dari berita dan google oleh siapapun yang niat meng-compile. Tidak ada angle yang tajam untuk ukuran sebuah esai. Angle cukup tajam hanya saya temukan pada pemaparan tentang Perancis,yang memakan banyak tempat dalam novel ini, mungkin karena penulis cukup familiar dengan 'homeland' nya tersebut. Ironisnya, angle paling membosankan justru saya temukan pada bab tentang Jakarta yang jadi judul novel ini. Keramahtamahan penduduk, kreativitas, kehidupan malam, potensi jumlah penduduk, raising middle class, klise.
2. Kekurangan dalam hal angle itulah yang membuat esai yang dinovelkan ini jadi membosankan. Alur cerita maju satu arah yang membosankan. Tanpa dialog pula.
3. Karakter yang dimunculkan dalam novel ini menurut saya terlalu 'fictionalized'. Sebagai penulis novel, sang penulis kurang sekali dalam riset karakter. Dengan mengesampingkan dialog, kelihatan sekali penulis cuma pengen cepat selesai dan males susah2 mikir dialog (yang merupakan sarana pembaca membayangkan karakter). Terus.. pembunuh bayaran? Please.. Make something more 'realistic' unless you're an expert in making such character. Cerita membunuh klien jadi gak seru sekedar lewat saja. Business traveler rasanya lebih make sense buat saya.
4. Seperti banyak pembaca di sini, saya kecewa, judulnya jakarta! koq membahas Jakartanya cuma sedikit di akhir halaman, dan terkesan dipaksakan agar cepat selesai. Katanya, dari saat dia memanggil taksi di bandara, Edwin jatuh cinta dengan Jakarta. Buat saya tidak masuk akal. Sebagai esai geopolitik, pembahasan Jakarta terasa janggal dengan banyaknya elemen kehidupan malam, kreativitas (apa sih yang dia bilang kreatif? orang jualan dvd itu ya?), dll. Perbandingan seperti banyaknya orang kaya dibanding negara lain juga subjektif dan 'maksa'. Saya pernah baca artikel tentang jumlah 'orang kaya' Indonesia yang dua kali lipat lebih banyak dari singapura. Tapi, mari kita lihat persentase. Singapura itu jumlah penduduknya lebih sedikit dari Jakarta. Intinya, berbagai alasan Edwin untuk jatuh cinta dengan Jakarta buat saya terlalu dipaksakan.
Novel ini mungkin idenya pengen meniru Confessions of the Economic Hit Man. Tapi pengemasannya gagal total. Kualitasnya jauh sekali. Sepertinya penulis novel ini harus banyak ikut kelas penulisan kreatif.u
This book is overrated. I don't know how Chris got endorsements from Sandiaga Uno and Anies Baswedan (sorry, Rio Dewanto, I don't count your comment in), but I can bet you that Mr. Uno and Mr. Baswedan never read Jakarta! Sebuah Novel in its full format.
This is the first (so-called) novel I ever read that didn't have any single monologue, not to mention dialogue! Give it a pass if you have other (even slightly better) book to read.
Pertama kali tahu buku ini dari situsnya Gramedia dan dari sinopsisnya, sangat menarik. Ditulis oleh cowok berdarah Prancis-Inggris dengan bahasa Indonesia dan karakternya adalah seorang pembunuh bayaran. Interesting!
Awal baca, ngerasa bosen setengah mati dan berasa ini lebih kayak baca berita ekonomi danripada baca novel, terlebih lagi, setelah tahu nggak ada dialog sama sekali. Tapi semakin ke belakang, semakin tertarik untuk menyelesaikan novel ini dan ketika akhirnya selesai, cuma satu kata : WOW!
Christophe mengangkat tema yang luar biasa berani, kalau menurutku. isu-isu dunia dan pandangannya tentang kaum muda Eropa yang dianggapnya telah mati di benua mereka sendiri karena golongan tua yang menjalankan Eropa, tidak terbuka terhadap perubahan. Pergaulan kaum muda Paris dan bagaimana masyarakat disana memandang kesempurnaan, dijelaskan dengan gamblang oleh Christophe.
Buku ini memang bukan buat semua orang, karena tema yang diangkat sangat kompleks dan serius. Namun, menurutku, Christophe berhasil menyusun novel ini menjaid begitu menarik, sekalipun tanpa dialog. Tidak ada kesan menceramahi atau sok pintar karena semua dipaparkan melalui tokoh Edwin, yang terlatih untuk mengetahui banyak hal. Tidak semua penulis bisa menggabungkan isu-isu dunia dengan cara komunikatif dan informatif seperti yang dilakukan Christophe.
Aku rasa, novel ini bisa jadi benchmark buat penulis2 lain yang berniat untuk mengangkat tema serumit dan sekompleks ini, tanpa jadi membosankan dan jadi seperti baca berita.
Ini bukan jenis novel ringan tapi ada begitu banyak pesan moral yang bisa aku dapat dari buku ini, hingga akun twitterku pun penuh dengan kutipan2 dari buku ini :)
4 Stars from me and Christophe, you did a GREAT job!!
Meski judulnya Jakarta, Jakarta baru akan disebut pada halaman 350 dari 376, jadi jangan terkecoh. Setelah tidak berharap tentang Jakarta, menarik disimak ide dan pandangan penulis yang mendasari buku ini. Buku ini bisa jadi lebih bagus lagi kalau terjemahannya diperhalus. Menariknya adalah, buku ini tidak mengandung satupun kutipan!
Beli karena si mas di Gramedia katanya dapat komisi kalau jual buku ini. Ya udah aku beli. Isinya idih banget. Jadi bacanya kaya memindai aja. Sehari juga beres. Ini kayanya ditulis sebagai curhat atau keluhan pengarang. Tapi saya juga ngeluh bacanya
Beberapa jam pada siang hari itu saya berkeliling di Toko Buku Gramedia Jember, mencari buku (apa pun) yang paling ingin saya bawa pulang. Toko buku di salah satu jalan ramai di Kota Jember itu tidak bisa dibilang besar, walaupun terdiri dari tiga lantai, hanya satu lantai yang memajang buku-buku. Saya agak kehabisan pilihan karena sebagian besar novel bergenre itu-itu saja. Dua buku saya baca, bahkan sampai hampir sepertiganya, tapi tidak cukup menggairahkan saya untuk membelinya dan membaca lanjutannya di rumah.
Sampai saat saya memutuskan untuk pulang saja, saya terhenti di salah satu rak buku-buku terbitan baru dan terpaku pada buku berjudul “Jakarta!”. Buku ini menarik pada kesan pertama. Mengapa?
Pertama, karena penulisnya bukan orang Indonesia. Saya selalu tertarik pada pandangan-pandangan orang luar Indonesia yang bercerita tentang Indonesia, entah buruk atau (apalagi) baiknya.
Kedua, saya membuktikan “teori” saya sendiri bahwa endorsement dari orang terkenal pada sampul buku bisa mempengaruhi penilaian kita pada suatu buku bahkan sebelum kita membacanya. Di bagian belakang buku ini tertulis beberapa endorsement dari beberapa tokoh terkenal. Sebut saja, Sandiaga S Uno, Anies Baswedan, Irman Gusman, dan Rio Dewanto … tuh kan salah satu aktor favorit saya aja ikutan nongkrong :D. Sementara mengenai isinya, saya hanya membaca paragraf pertama sebelum memutuskan membeli. Sebenarnya saya tidak pernah bisa sepenuhnya menikmati novel-novel terjemahan, tapi saya ‘terpaksa’ membuat pengecualian untuk novel ini karena penasaran dengan isinya.
Jangan berekspektasi bahwa Anda akan menemukan banyak cerita soal Jakarta disini. Dari 17 Bab, hanya dua bab terakhir yang menceritakan dengan sedikit detail tentang Jakarta khususnya, dan Indonesia pada umumnya, setelah pada bab-bab sebelumnya pembaca diajak berkeliling ke berbagai negara di semua benua berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tokoh utama dalam novel ini, Edwin Marshall.
Kalau begitu, mengapa Jakarta! yang dipilih sebagai judul novelnya? Di halaman paling belakang, penulis menulis seperti ini:
“Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, saya percaya kepada negeri ini. Saya selalu akan percaya Indonesia memiliki masa depan yang cerah”
Dan itu pula yang dideskripsikan pada dua bab terakhir novel ini. Bagaimana akhirnya si tokoh utama menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling ingin ditinggalinya setelah dia berpengalaman berkunjung ke berbagai negara. Dia jatuh cinta pada Indonesia, pada pandangan pertama, pada keramahan dan keunikan penduduknya, serta berbagai potensi yang dimilikinya. Menurutnya penduduk Indonesia kreatif, mampu berpikir out of the box, semua orang di Indonesia melakukan sesuatu yang spesial untuk hidupnya. Semua tentang Indonesia diceritakan dengan optimis, bahkan dia melihat orang dari lapisan paling miskin di Indonesia yang bekerja di jalanan, sebagai populasi yang berkarya dengan solidaritas kokoh. Maka dari itu, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara adikuasa melihat ukuran negaranya, jumlah dan karakter penduduknya.
Di novel ini, penulis seolah-olah sedang menceritakan dirinya sendiri melalui representasi tokoh utamanya, termasuk latar belakang pendidikannya, dimana tokoh utama novel merupakan lulusan sekolah bisnis terbaik di Prancis, sama halnya dengan penulis, kecuali pekerjaannya, saya yakin Chritophe tidak bekerja seperti Edwin Marshall. Saat ini penulis aktif di berbagai organisasi internasional.
Jadi, apa yang membuatmu tidak optimis pada masa depan Indonesia, sementara seorang warga asing mengangkat nama Jakarta! yang tak pernah bebas macet dan banjir ini dalam novelnya?
***
Sedikit mengomentari sampul bukunya, disana digambarkan sebuah bola dunia yang menunjukkan kepulauan Indonesia diletakkan di atas sebuah kulit durian. Durian adalah buah khas Asia Tenggara, dijuluki sebagai raja buah dan harganya tidak bisa dikatakan murah. Durian tercium dan terasa sangat lezat bagi orang-orang yang menyukainya, termasuk saya, sebaliknya bagi yang tidak menyukainya, baunya saja sudah membuat pusing. Baunya kuat menyengat dan bisa memengaruhi udara di sekelilingnya. Jadi, apa maksudnya Indonesia seperti buah durian?
Pertama, saya kecewa dengan alur ceritanya; tidak seperti yang saya bayangkan, tidak pula seperti yang digambarkan pada sinopsisnya. Bisa saja, mungkin karena buku ini terbitan Indonesia, sinopsisnya dan komentar-komentarnya terlalu mengagung-agungkan dan melebih-lebihkan Indonesia padahal isi ceritanya sendiri hanya kurang dari 10% yang berlatar di Indonesia. Bagaimanapun juga, penulis tetaplah sebagai seorang asing yang menggunakan kacamatanya untuk melihat Indonesia, khususnya Jakarta. Dalam penggambarannya tentang Indonesia dan Jakarta (yang hanya disisihkan dalam dua bab terakhir), sebagian besar penilaiannya hanya berpusat pada dunia malam Jakarta yang glamor, padahal penulis sebenarnya bisa mengambil latar suasana lain yang lebih tepat menggambarkan Jakarta ketimbang suasana klub-klub malamnya.
Di sisi lain, saya memuji kelebihan penulis atas wawasannya terhadap dunia, sesuatu yang hampir-hampir tidak bisa lagi dilihat oleh sebagian besar orang zaman sekarang dengan berkembangnya stereotip dan ideologi-ideologi bermuatan politis yang membuat orang-orang tidak melihat dunia dengan kacamata netral sebagaimana Dorigné-Thompson melihatnya. Selain itu, kisah ini juga memberikan berbagai inspirasi menarik bagi kaum muda untuk tidak takut keluar dan menghadapi perkembangan dunia global saat sekarang. (Khususnya sebagai seorang lulusan sekolah bisnis, cara Dorigné-Thompson melihat perkembangan ekonomi dan politik global benar-benar membuka wawasan saya dan memberikan saya inspirasi.) Terlepas dari peran tokoh utama yang cukup kontroversial sebagai pembunuh bayaran, isi cerita ini sendiri memberikan ide-ide dan inspirasi-inspirasi yang menarik.
Saya membeli dan membaca buku ini karena rekomendasi dari saudari kembar saya. Katanya bukunya bagus (tapi ternyata dia belum baca juga, baru dapet dari review Gramedia). Ya, awalnya saya sungguh interest dengan buku ini karen sinopsisnya sungguh membuat hati saya dag dig dug karena penasaran. Expectation saya mungkin terlalu tinggi. Di awal bab sungguh saya harus sangat bersabar untuk membaca satu persatu kalimat yang kebanyakan berisi tentang ilmu ekonomi. saya yang notabene anak kesehatan benar-benar nggak ngerti apa-apa (bagian ini tujuannya bagus sih, jadi ada pencerahan ttg ilmu ekonomi tapi mungkin dibuat lebih enak aja tulisannya). Hingga akhirnya saya membutuhkan waktu 6 bulan untuk menyelesaikan novel ini! selain karena 'sedikit' malas, tugas kuliah juga sedang banyak-banyaknya. But, bagusnya nih, buku ini ditulis sama orang asing yang sepertinya menaruh hati sama Indonesia. Dari buku ini saya juga dibawa berkeliling dunia karena tokoh utama dari tokoh ini kerjannya loncat-loncat dari satu negara ke negara lain. Banyak ilmu dan pengetahuan baru yang saya dapat dari buku ini. pertanyaannya, kenapa dikasih judul Jakarta? soalnya saya menemukan konten Jakarta hanya di akhir novel dan menurut saya sangat kurang pembahasannya.
Buku ini, pernah diulas di salah satu acara talkshow televisi: orang Prancis-Inggris yang memutuskan tinggal di Indonesia dan membuat buku berjudul Jakarta. menarik tampaknya. Oh, saya penasaran.. apa sih yang diceritakan di bukunya tentang jakarta... tapi sudah hampir sepertiga buku ini tidak ada bahasan sama sekali tentang jakarta, membaca kisah di buku ini dengan penuh kegelisahan... manaaaaa jakartanyaaa.. (bukannya terhanyut sama kisah pembunuh bayaran di berbagai negara di dunia ini). oh, akhirnya nemuu. jakartaaaa, di halaman 350 dari 367 halaman buku ini:( harusnya saya bisa menikmati kisahnya, kalau saya ga terobsesi menemukan manaaa cerita jakartanyaaa -___-'
mungkin ini salah satu akibat dari saya harus berfikir keras di bab-bab pembukaan. Ini novel kaan novel..tapii... *ahsudahlah saya yang terlalu berharap banyak jadi kecewa
Wah akhirnya selesai juga baca buku ini, tidak lain karena penasaran sama isu yang diceritain sang penulis tentang Indonesia. Agak kecewa juga ternyata cuma nyempil sedikit di bagian akhir. Tapi secara keseluruhan saya suka dengan pemikiran dan isu-isu yang diangkat oleh sang penulis, buat saya jadi pengin tahu lebih lanjut tentang setiap negara yang sudah dijelajahi oleh pemeran utama dalam buku ini, Edwin. Buku ini juga bisa menambah pengetahuan saya tentang geopolitik dunia. Sejujurnya, saya memang suka mempelajari tentang dunia. ^^v
Nggak akan review banyak-banyak karena merasa reviewnya sudah sangat diwakili oleh review Bang Harun Harahap.
Cuma sayang aja, judulnya Jakarta tapi Jakarta-nya sendiri cuma nyempil di bab terakhir. Mungkin judulnya dibuat untuk menarik perhatian calon pembeli--well, semacam saya--tapi hasilnya gagal total. Pembaca sejak awal berekspektasi tentang buku ini adalah mutlak mengenai Jakarta, atau Jakarta dibandingkan dengan negara lainnya. Tentu saja begitu menyadari Jakarta cuma selewatan disebutkan, saya sebagai pembaca merasa dikhianati. *putar lagu emo-mengiris-bawang*
(Once again) I judged a novel by its cover, and feel dissapointed until I finished it. Alur ceritanya cukup oke dari pertengahan halaman ke belakang, berbeda saat awalnya yang membosankan sekali. Terdapat ambigu apakah ini novel fiksi atau non-fiksi, dan mungkin bahasanya terlalu berat bagi novel. Saya membeli novel ini dengan harapan cukup enjoy membacanya, namun faktanya saya seperti membaca buku perkuliahan dengan aroma politik bisnis yang kuat. Kesimpulannya yang bikin saya cukup kecewa adalah judulnya.
I didn't even know why I bought this book in the first place. Maybe I wasn't sober enough at the time and when I looked at the cover, I was thinking, "Oh hey look! a red gun! catchy.. Is this book about killing Jakartans? Oh wait, DURIAN! Good, I'm hungry!"
After reading couple of pages, I was rushing to find out if there's any dialogue in this book and I left with disappointment.
Can someone tell me what was the book about? Because maybe I throw it away somewhere I couldn't remember.
tertarik sama buku ini karena covenrya yang menurut saya unik gak kaya novel biasanya,dan dengan judul nama kota asal saya,dan penulisnya adalah orang luar yang membuat saya penasaran adalah "why" kok judulnya Jakarta tapi kenapa ini karya orang luar...
di awal2 baca buku ini agak sedikit membosankan bahkan saya membaca ini saya selingi dengan buku lain di awal-awal sampai dengan pertengahan buku ini
buku ini menceritakan seorang pembunuh bayaran,yang berkeliling kemana pun sesuai dengan kontrak kerjanya
yang cukup saya sayangkan adalah "why" pada bab jakarta ceritanya hanya sedikit.
buku ini membosankan. direkomendasikan untuk orang-orang yang banyak waktu untuk mencerna inti dari buku ini. kota jakarta sih ditongolin belakangan. tapi ya, silakan baca, kalau ada waktu luang yang buanyak.
Novel tanpa percakapan yang terasa bukan novel deh. Dan Jakarta-nya dibahas cuma secuplik menjelang tamat. Setelah melanglang dunia si tokoh utama merasa cocok untuk menetap di Indonesia.
Ya...memang jangan tertipu dengan judulnya. Tetapi cukup bagus bahwa dia sang penulisnya memberikan penilaian positif bagi Indonesia. Sebuah laporan perjalanan bisnis. Tanpa dialog.
Cerita yang sama sekali tidak mencerminkan judulnya. Seharusnya diberi judul "Adventure of An Early Murderer". Sangat bagus membuka wawasan global kita dengan dialog minim #jakarta #novels
Actually I like the story, but the translation of Indonesian version is too bad. Very bad. So much disturbing while I tried to enjoy it. So, unfortunately I can only enjoy it on two stars.
setidaknya dari buku ini kita akan tahu bahwa dunia tidak selalu seperti apa yang kita lihat. bahwa berita kematian tidak seringan yang dikisahkan, apalagi tokoh yang memiliki kekuatan. selalu ada entah kepentingan atau keinginan untuk individu atau pun kelompok agar segala urusannya berjalan dengan lancar. banyak informasi baru yang bisa diperole dari buku ini