Prima Rusdi is an Indonesian screenwriter and writer. She was born in Göttingen, Germany and raised in Jakarta, Indonesia. She has a Master's degree in Communications from University of Canberra (Australia), and initially wanted to become a journalist. She began her career as a writer in 2000 after quitting her job as a copywriter at LOWE an advertising agency. She won several top advertising awards during her career as a copywriter.
She co-wrote her first film Eliana, Eliana (2002) with director Riri Riza during which she also co-wrote What's Up with Love? (2001) with Jujur Prananto. In 2004, Rusdi won two awards from Festival Film Indonesia for Eliana, Eliana (shared with director Riri Riza) and for a teleplay called The Big Celebration. Both Eliana and The Big Celebration were produced by Miles Films, a production house that Prima considers as her 'film school'. In 2005 she co-wrote Waking Banyu with writer Rayya Makarim, and in 2006 she wrote Garasi, a coming-of-age film produced by What's with Love producer, Mira Lesmana. Garasi is a directorial debut from Agung Sentausa, a close friend of Prima's who also received his film training from Miles Films.
Prima Rusdi writes short stories and articles in various publications. She was a contributor for CosmoGirl! Indonesia between 2002-2004. In 2005, she had her first book, The Journey, published by Terrant Books. Her second book, 1095 Magical Days was published by KATAKITA in 2006.
Membaca buku ini, aku seperti tersesat, sebenarnya ini cerita tentang apa sih? Untung saja, di bagian belakang ada wawancara dengan Riri dan Prima-nya, jadi... paling tidak aku tahu sebenarnya maunya dua orang itu apa di film ini, hehehe. Btw, seingatku, aku juga belum menonton filmnya secara penuh. Aku mencoba paham, tapi aku tetep nggak ngerti ini tentang apa? Ya sudahlah...selamat membaca....
Buku fisiknya ini malah yang menarik. Wew, sepertinya ini buku cetakan pertama. Di halaman pertama ada tanda tangan keduanya... IS IT FOR REAL? wew...yap, aku emank beli buku ini di event Drive Books Not Cars, Minggu, 29 Januari 2012 di eX kemarin...cuman Rp10.000 dan awalnya ada brosur tentang launching-nya, tapi ternyata brosur itu malah ilang karena kupakai buat pembatas buku, jadi ceritanya pas aku baca sepanjang jalan ke kantor, suddenly it's gone!...Huwaaaaaaaaaaaa, cerobohnya aku! D*mn!
membaca skenario merupakan hal baru buat saya. ada pengalaaman tersendiri dan berbeda dengan membaca tulisan lain. tetapi untungnya setelah skenario ada penjelasan lanjutan dari empunya tulisan. jadi lebih jelas
Dua bintang aja deh.. karena setelah melewati waktu yang cukup lama sejak saya membacanya, ternyata cukup sulit untuk membongkar ingatan saya mengenai isi buku ini. Hal ini menandakan bahwa isi ceritanya sendiri kurang menarik bagi saya, dan tidak dapat melekat kuat di memori saya. Salah satunya mungkin karena visualisasi yang kurang, yang bagi saya merupakan komponen penting dalam buku skenario. Lain dengan novel yang seringkali memiliki deskripsi yang kuat sehingga kita dapat membangun bayangan sendiri terhadap cerita yang disampaikan. It was ok lah.