"Budaya takut itu menyertai setiap kata yang diucapkan oleh kedua belah pihak, menyertai setiap jejak langkah dan seluruh paket keputusan kedua belah pihak. Yang satu takut pada kekuasaan, lainnya takut kehilangan kekuasaan. Bukankah kita mengetahui sering kali suatu saraf rasa takut justru memproduksi keberanian, sehingga keberanian di situ merupakan ungkapan dari ketakutan? Setiap petinju memukuli lawannya justru karena dia takut kalah"
Walah, Cak. Masih terngiang-ngiang nasehat-nasehatmu, Cak.
Diantara huru-hara skripsi yang mengenai kekuasaan, buku ini tiba-tiba "menampakkan diri" dengan duduk-duduk di rak buku "politik". Tanpa pikir panjang dan membiarkan nasihat temen saya buat beli buku ini (hai mantan ketua), langsung lah saya beli, nggak peduli tinggal uang segitu yang saya punya.
Buku dibagi menjadi empat bagian, begitu juga empat perasaan ala fiksi:
a. Pengaduan I : *mangut-mangut* wow, benar juga, benar juga, benar juga. Nggak nyangka seperti itu...
b. Pengaduan II : *nggangguk-ngangguk dengan semangat* IYA SETUJU CAK
c. Ekspresi : di sini adalah bagian dimana Cak Nun mulai mengritik semuanya dan bersifat sarkas, apalagi sudah mulai membahas mahasiswa alias saya. Saya mulai agak merasa "dipecut"
d. Visi : Inilah mulai muncul bahasan-bahasan tentang mahasiswa serta program KKN, dan wanita modern. OKE FIX SAYA SUDAH DISINDIR DAN SAYA TERSINDIR. Saya akan melanjutkan KKN dan akan menjalankan perintah cak Nun!
Akhir kata, buku ini bukan buku biasa: bukan buku pelajaran, bukan buku bacaan, bukan buku fiksi... Ini panduan hidup. Ini buku panduan untuk hidup dan mendengarkan apa yang dirasakan seluruh rakyat Indonesia, dari tukang semir sepatu hingga lurah, tak pandang buluh siapa kamu: mahasiswa, dosen. Semua perubahan dan kemajuan negara ini bukan akan menjadikanmu gelandangan di negara sendiri, nak.
Yang membuat saya lebih heran lagi: eman banget, buku ini cuma dapat rating 4 di goodreads dari 49 pe-rating, dan hanya dapat 6 review. Ayolah...