Hasil bongkaran ketika mencari buku untuk hadiah Kisah ini memiliki judul asli Hulubalang Raja: kejadian di pesisir Minangkabau tahun 1662-1667. Buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1934, mengisahkan tentang perselisihan antara raja-raja di pesisir selatan Minangkabau pada abad ke-17. Dalam buku ini, konflik yang timbul ternyata juga Belanda dan Aceh.
Serunya lagi, menurut penulis ,"segala keterangan dan cerita yang berhubungan dengan sejarah yang terdapat dalam buku ini dipungut dari kitab De Weskust en Minangkabau (1667-1668), yaitu academisch proefschrift oleh H Kroeskamp."
Buku yang menarik. Semoga suatu saat bisa menjadi bacaan wajib di sekolah
Raja Kota Hulu yang merasa putri nya Ambun Suri sudah saat nya di carikan seorang suami. Untuk itu dia mengundang para bangsawan di daerah sekitar kota Hulu ataupun dari daerah lain nya untuk mengadakan peruntungan memperebutkan putri nya itu. Namun ternyata para bangsawan itu, kecuali Sultan Muhammad Syah seorang raja serakah di Kota Hilir yang berhasil melampaui perlombaan yang di gelarkan, sehingga hanya dialah yang berhak melamar Putri Ambun Suri. Lamaran Raja Sultan Muhammad Syah yang sebenar nya sudah mempunyai istri. Rupanya Putri Kemala Sari, istri Sultan Muhammad Syah merasa iri dengan Ambun Suri dan ia berniat untuk mencelakai Ambun Suri yang tengah mandi di sungai.
Hilang nya Ambun Suri itu ternyata membuat Ali Akbar, kakak nya Ambun Suri marah besar setelah dia tahu bahwa yang mencelakai adik nya adalah Putri Kemala Sari, istri tua Sultan Muhammad Syah. Akibat nya terjadilah perang antara pendukung Ali Akbar dengan pendukung Sultan Muhammad Syah. Karena tidak mampu melawan secara terbuka, kemudian Sultan Ali Akbar lari ke hutan dan melakukan perlawanan secara gerilya. Berkat bantuan Malakewi, banyak kaum pemberontak yang hancur. Sultan Malakewi kemudian membawa Raja Ali Akbar dan Adnan Dewi adik nya itu ke kedua orang tua nya. Dan ternyata orang tua Sultan Malakewi menerima kedatangan mereka dengan sukacita. Tidak lama kemudian pesta penyambutan Raja Ali Akbar dan istrinya itu di lanjutkan pesta besar, yaitu pesta perkawinan antara Ambun Suri dengan Sultan Malakewi yang bergelar Hulubalang Raja itu.
Roman Hulubalang Raja menceritakan tentang perang segitiga antara raja serakah bersama kompeni melawan seorang raja yang membela kebenaran yang tanah nya tidak di jajah. Peristiwa ini terjadi di daerah Minangkabau dan Aceh tepat nya di daerah Kota Hulu dan Kota Hilir. Sultan Ali Akbar merupakan seorang anak raja di Hulu yang bijak, jujur, baik dan berani yang memimpin perjuangan rakyat melawan ketidakadilan yang di lakukan oleh Raja Hilir atau Sultan Muhammad Syah beserta kompeni.
Beliau memiliki seorang adik yang bernama Ambun Suri. Sultan Muhammad Syah memiliki seorang istri yang bernama Putri Kemala Sari. Beliau memiliki sifat yang pencemburu, licik, dan suka mencelakai Ambun Suri. Ini terbukti pada halaman 17 sampai halaman 26. Alur yang di gunakan adalah alur maju. Gaya penulisan nya menggunakan bahasa Melayu atau Minangkabau. Dalam penulisan nya masih terlihat ejaan zaman dulu dan tanda baca yang belum sesuai dengan EYD. Percakapan nya banyak menggunakan berbalas pantun.
Kepentingan-kepentingan yang berbenturan Menengarai adik tersayang kena muslihat orang, Sutan Ali Akbar, anak orang besar Kampung Hulu, pamit kepada orangtuanya pergi menuntut balas.
Setengah karena malu kalah berjudi dan setengah lagi karena merajuk keinginannya tak dituruti, Sutan Malekewi, anak datuk dari Kotagedang, memutuskan tak pulang kampung pergi merantau mengadu nasib di negeri orang.
Dari sepak terjang kedua anak muda inilah Nur Sutan Iskandar dengan 'Hulubalang Raja'-nya mengajak kita melongok pesisir Minangkabau abad ke-17.
Roman sejarah ini tidak begitu memberi kita ketika untuk 'berpelukan' dengan tokoh-tokohnya--paparannya yang terlalu 'berjarak' (dan sepenggal-pengal) akan menyulitkan pembaca masuk ke dalam 'ruang emosional' para karakter utamanya.
Toh dalam menggambarkan intrik tikainya, karya ini cukup jeli (bahwa pencetus atau muasal sebuah perang tidak melulu harus bermotif politis, misalnya).
Yang paling menarik adalah perspektifnya--bahwa anak negeri tak semuanya 'baik', dan tak semua Belanda (baca: kompeni) 'jahat' (bahkan ada pula yang pantas diberi hormat seperti sosok kapitan yang ksatria itu). Bahwa perang bukan soal benar-salah, tapi [perbenturan] kepentingan. Untuk sebuah karya yang terbit tahun 1934, paradigma seperti ini rasanya mengejutkan.
Novel sejarah tentang asal mula terjadinya perang di Minangkabau, awalnya karena tipu muslihat istri pertama penguasa yang menenggelamkan calon istri kedua suaminya di sungai. Sang kakak si putri yang hanyut marah, memberontak dengan mengajak rakyat yang memang sudah bosan diperlakukan sewenang-wenang. Terjadilah perang saudara. Tak dinyana, Kompeni terlibat pada pertikaian ini.
Agak bingung awalnya, "hulubalang raja" yang dimaksud di sini siapa. Ternyata Hulubalang Raja itu adalah anak bangsawan hilang yang mengabdi pada kompeni. Untungnya diakhir cerita dia tidak memihak kompeni lagi, saya jadi ikut2an lega saking terhanyutnya dengan jalan cerita.
Sayang sekali, karena bahasa yang digunakan bahasa Melayu kuno, banyak kata yang saya tidak mengerti, akhirnya cuma meraba2 maknanya saja. Mau kasih 3 bintang, tapi saya suka cerita sejarah begini, jadinya 4 bintang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku sastra klasik Indonesia yang dibaca dengan semangat, karena menceritakan tentang penentangan rakyat di wilayah Minangkabau atas kekuasaan Kompeni di abad ke-17. Seru dan banyak tindakan kepahlawanan, walau dilatarbelakangi oleh berbagai sebab, termasuk yang gara2 urusan cemburu suami istri belaka. Tapi kok akhir ceritanya antiklimaks begini! Huh!
*masih mangkel dengan akhir cerita dan tokoh2nya, walau buku ini masih sangat bisa dapat bintang 3*
Cerita yang ada di Hulubalang Raja ini membuat saya menyadari bahwa national interest tidak akan terbentuk tanpa adanya self interest yang kuat dari pihak-pihak tertentu. Self interest ini ada, baik dalam tokoh protagonis maupun antagonis karena sejatinya itulah fitrah manusia. Sekarang tinggal 'suara' siapa yang lebih 'lantang' untuk muncul ke permukaan.