Saya baru tahu Bre Redana nulis lagi dari Twitter. Lalu seorang kawan yg kebetulan ada di Yogyakarta dan menghadiri peluncuran buku ini menceritakan acara tersebut.
Jika "Blues Merbabu" isinya masa kecil Gitanyali, "65" adalah kisah masa remaja hingga dewasa. Apa yang membuatnya menggali lebih lanjut bakat yang "ditemukan" guru sekolahnya di Yogyakarta, serta nasib baik dan kesempatan bagus di kemudian hari. Sebagai pribadi yang bisa dengan mudah diberi label "korban", Gitanyali beradaptasi dengan baik dan menikmati keadaan dan hidupnya. Setidaknya itu yang saya tangkap. Entah kalo Bre Redana yang asli menangisi nasibnya.. Tapi saya yakin, "laki-laki jadi" macam dia yang menangisi perempuan pun tidak, pasti mengharamkan masa lalu mengungkungnya.
"Blues Merbabu" dan "65" adalah paparan bernada positif dari mereka yg terkena dampak petaka ideologi gagal yang dikembangkan dua ilmuwan ilmu sosial yang butuh laboratorium hidup untuk mengujicobakan teorinya. Gitanyali tidak menyerah pada nasib. Keluarga besarnya pun bahu-membahu melakukan segala yang mereka mampu agar semua yang kena dampak, terutama anak-anak, bisa hidup relatif normal dan bermartabat.
Bagi saya, peristiwa enam lima harus mulai dibicarakan dan diungkap pada forum populer seperti novel, film, teater untuk mengurai kepelikan ideologi (karena siapa yg mau baca "Das Kapital" dan dipusingkan dengan urusan dialektika, atau memahami manifesto Engels.. Haree geneee..!) dan mulai memahami sejarah dengan jujur.
Jika hanya menangkap "kegenitan" si penulis, mending baca stensilan, deh..