What do you think?


Wandu: Berhentilah Menjadi Pengecut!
- GenresIndonesian Literature
223 pages, Paperback
First published January 1, 2005
About the author
Tasaro G.K.
34 books562 followersTasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan "GK", singkatan dari Gunung Kidul, pada pen-name nya) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karier sebagai penulis sekaligus editor. Sebagai penyunting naskah, kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009). Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah; menimang anak dan terus menulis buku.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
July 6, 2007
Bercerita tentang Maruta, Bhumi, Chandra, Angkasa, dan Dahana (unik ya penamaan tokoh-tokohnya?). Lima orang sahabat yang ketika kuliah bergabung dalam geng De Jour. Sebuah peristiwa membuat persahabatan mereka retak. Setelah lulus, masing-masing melanjutkan hidup dengan menyimpan tanya bahkan bara, siapa sebenarnya pelaku peristiwa tersebut?
Maruta atau Maru, berprofesi menjadi novelis, dan telah menikah dengan Kartika. Bhumi, wartawan idealis yang bekerja di sebuah harian di kota Bogor. Chandra, dosen sastra di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Angkasa, seorang yang sangat tersakiti karena peristiwa tersebut memilih melanjutkan studi fotografi di Melbourne, Aussie.
Sampai suatu hari salah satu dari mereka mengajak bertemu, reuni, tanggal 13, jam 13, di sebuah kafe di Yogyakarta, tempat mereka dulu kuliah, menjalin persahabatan. Pertemuan yang mengundang banyak tanya bagi Maru, Bhumi, Chandra, dan Angka. Apakah untuk menjelaskan peristiwa masa lalu tersebut? Atau apa…?
Segenap rasa menggerakkan langkah keempat orang itu untuk bertemu di Yogya. Bahkan Angka yang awalnya ragu, akhirnya terbang dari Melbourne untuk menghadiri reuni tersebut. Namun, pertemuan tersebut ternyata…
Wah, ini nggak boleh dilanjutkan, soalnya jadi nggak seru ntar ;).
Penulis menceritakan setiap tokoh ‘berdiri sendiri’, masing-masing dengan aktifitasnya, dengan masalahnya. Dimulai dengan Maruta, Bhumi, Chandra, dan Angkasa. Kemudian baru mempertemukan mereka dalam ‘reuni’. Di situlah juga dimunculkan tokoh ‘pengundang’ keempat orang itu dalam reuni tersebut.
Secara umum novel ini enak dibaca, alurnya mengalir, penokohannya pun cukup kuat dan detil. Penulis berhasil menyimpan klimaks dengan rapi, meski diberi beberapa clue, sehingga pembaca juga menebak-nebak.
Membaca beberapa halaman awal, menurut saya agak sedikit lambat alurnya, tapi setelah masuk bab 2 (Bhumi) saya nggak berhenti tuh buat menyelesaikan novel ini. Mungkin rasa penasaran sehingga membuat saya antusias melahap sampai akhir. Rasa penasaran ingin tahu apa ujung dari reuni tersebut, apakah diketahui siapa sebenarnya yang bertanggung jawab pada peristiwa yang membuat persahabatan mereka retak?
Sayangnya permasalahan masing-masing tokoh yang menurut saya menarik, seperti ‘terbuang’ begitu saja, tak ‘termanfaatkan’untuk membuat novel ini semakin dalam. Bhumi dengan keidealisannya sebagai wartawan yang ternyata dicintai oleh Bas, teman satu kosnya yang gay. Angka dengan keputusasaannya dan merasa lebih mencintai Aussie dibanding negerinya sendiri. Maruta dengan rasa bersalahnya pada Angka yang dipendam tahunan. Terutama Bhumi, yang menurut saya tokoh yang paling menarik. Saya suka sama tokoh ini.
Selain itu, ada banyak hal berusaha ditampilkan Tasaro dalam novel ini. Soal profesi wartawan yang sering kali memicu dilema, antara idealisme dengan tuntutan pasar (bisnis?). Soal nasionalisme. Soal homoseksual. Dan, nggak ada cinta-cintaan di sini (catett.. ;).
Yang juga menarik adalah penggunaan nama tokoh. Taufiq, pada launching Sabtu lalu, bilang kalau dia memang sangat tertarik pada falsafah Jawa yang belum lama ia sadari (padahal ia adalah roang Jawa :). Maruta yang artinya angin, sesuai dengan karakter tokoh yang menurut Taufiq seperti angin hidupnya, berhembus mengikuti arah. Bhumi. Chandra yang berarti rembulan, Angkasa, sampai Dahana, yang berarti api.
Maruta atau Maru, berprofesi menjadi novelis, dan telah menikah dengan Kartika. Bhumi, wartawan idealis yang bekerja di sebuah harian di kota Bogor. Chandra, dosen sastra di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Angkasa, seorang yang sangat tersakiti karena peristiwa tersebut memilih melanjutkan studi fotografi di Melbourne, Aussie.
Sampai suatu hari salah satu dari mereka mengajak bertemu, reuni, tanggal 13, jam 13, di sebuah kafe di Yogyakarta, tempat mereka dulu kuliah, menjalin persahabatan. Pertemuan yang mengundang banyak tanya bagi Maru, Bhumi, Chandra, dan Angka. Apakah untuk menjelaskan peristiwa masa lalu tersebut? Atau apa…?
Segenap rasa menggerakkan langkah keempat orang itu untuk bertemu di Yogya. Bahkan Angka yang awalnya ragu, akhirnya terbang dari Melbourne untuk menghadiri reuni tersebut. Namun, pertemuan tersebut ternyata…
Wah, ini nggak boleh dilanjutkan, soalnya jadi nggak seru ntar ;).
Penulis menceritakan setiap tokoh ‘berdiri sendiri’, masing-masing dengan aktifitasnya, dengan masalahnya. Dimulai dengan Maruta, Bhumi, Chandra, dan Angkasa. Kemudian baru mempertemukan mereka dalam ‘reuni’. Di situlah juga dimunculkan tokoh ‘pengundang’ keempat orang itu dalam reuni tersebut.
Secara umum novel ini enak dibaca, alurnya mengalir, penokohannya pun cukup kuat dan detil. Penulis berhasil menyimpan klimaks dengan rapi, meski diberi beberapa clue, sehingga pembaca juga menebak-nebak.
Membaca beberapa halaman awal, menurut saya agak sedikit lambat alurnya, tapi setelah masuk bab 2 (Bhumi) saya nggak berhenti tuh buat menyelesaikan novel ini. Mungkin rasa penasaran sehingga membuat saya antusias melahap sampai akhir. Rasa penasaran ingin tahu apa ujung dari reuni tersebut, apakah diketahui siapa sebenarnya yang bertanggung jawab pada peristiwa yang membuat persahabatan mereka retak?
Sayangnya permasalahan masing-masing tokoh yang menurut saya menarik, seperti ‘terbuang’ begitu saja, tak ‘termanfaatkan’untuk membuat novel ini semakin dalam. Bhumi dengan keidealisannya sebagai wartawan yang ternyata dicintai oleh Bas, teman satu kosnya yang gay. Angka dengan keputusasaannya dan merasa lebih mencintai Aussie dibanding negerinya sendiri. Maruta dengan rasa bersalahnya pada Angka yang dipendam tahunan. Terutama Bhumi, yang menurut saya tokoh yang paling menarik. Saya suka sama tokoh ini.
Selain itu, ada banyak hal berusaha ditampilkan Tasaro dalam novel ini. Soal profesi wartawan yang sering kali memicu dilema, antara idealisme dengan tuntutan pasar (bisnis?). Soal nasionalisme. Soal homoseksual. Dan, nggak ada cinta-cintaan di sini (catett.. ;).
Yang juga menarik adalah penggunaan nama tokoh. Taufiq, pada launching Sabtu lalu, bilang kalau dia memang sangat tertarik pada falsafah Jawa yang belum lama ia sadari (padahal ia adalah roang Jawa :). Maruta yang artinya angin, sesuai dengan karakter tokoh yang menurut Taufiq seperti angin hidupnya, berhembus mengikuti arah. Bhumi. Chandra yang berarti rembulan, Angkasa, sampai Dahana, yang berarti api.
May 15, 2010
Menelusuri jejak Tasaro..
Yep, saya penasaran dengan tulisan-tulisan terdahulunya Tasaro
Apakah dari dulu beliau sudah bisa menemukan bahasa yang 'indah'?
Saya menggunakan tanda kutip karena indah juga sepertinya bukan kata yang tepat untuk menggambarkan tulisan Tasaro yang saya baca di Galaksi Kinanthi dan Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan.
Seperti juga yang dikatakan bbrp teman dalam review2 kedua buku di atas. Ada sesuatu di bahasa Tasaro. Sesuatu, apakah saya menemukan'nya' di buku ini?
Nyatanya, di karya pemenang sayembara novel nasional FLP ini, saya menemukan bahasa yang masih 'kasar'. Belum 'indah', tapi cukup menarik. Tasaro sepertinya masih bergulat dengan deskripsi-deskripsi panjang. Saya cenderung melewatkannya. Agak sedikit bosan. Mungkin Tasaro sedang mencari bahasa 'indah'nya. *mode sotoy on*. Karena di dua buku yg saya baca sblmnya, saya sudah menemukannya di deskripsi2 yang Tasaro jabarkan.
Seru juga kayaknya kalau saya bisa mengikuti perkembangan bahasa Tasaro ini.
Empat bab pertama yang melelahkan. Tasaro memperkenalkan empat karakter utamanya, masing-masing satu bab. Empat bab yang 'terlalu' panjang menurut saya.
Mulai bab ke lima, rasa penasaran baru muncul, gerangan apa yang membuat kelima sahabat ini terpecah-belah? Maruta, Bhumi, Angkasa, Chandra, dan Dahana (ternyata kelebihan Tasaro menemukan nama-nama unik karakaternya sudah ada di buku ini, hmmm.. nice).
Lalu pertemuan itu, pertemuan yang saya harapkan menjadi klimaks, hanya lewat begitu saja. Dialognya kurang membuat saya merasa 'marah'. Baru ketika menuju akhir, saya menjadi mahfum. Ok, ini gaya Tasaro dulu, di tahun 2005. Ide cerita yang biasa, tapi diceritakan dalam gaya yang unik. Menemukan makna 'wandu' pada setiap diri karakter-karakternya.
Bagian yang paling saya suka adalah ketika Chandra pergi ke stasiun Tugu Yogyakarta hanya untuk merenung. I've done that for so many times while i was in Yogya. Cuma untuk merenung. Sendirian maupun bersama orang-orang yang dekat di hati saya. Saya cukup terkejut ketika mengetahui bbrp teman ternyata juga suka merenung sendirian di sana. Dan dari buku ini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa banyak orang lain yang melakukan hal yang sama. Dan kenangan-kenangan itu pun datang menyergap.
Damned, i miss Yogya very much.
Saya masih ingin menelusuri jejak Tasaro yang lain.
Ada yang mau bantu menemukan Samita?
Seperti apa bahasa Tasaro dalam cerita kolosal?
PS: ada yang janggal dalam Bab Bhumi, korban sodomi pertama-tama disebutkan bernama Nurman, lalu pada dialog Bhumi dengan teman-temannya, disebutkan namanya; Nurdin. Erwwww... yang bener yang mana, Mas Tasaro? hehehehe
Yep, saya penasaran dengan tulisan-tulisan terdahulunya Tasaro
Apakah dari dulu beliau sudah bisa menemukan bahasa yang 'indah'?
Saya menggunakan tanda kutip karena indah juga sepertinya bukan kata yang tepat untuk menggambarkan tulisan Tasaro yang saya baca di Galaksi Kinanthi dan Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan.
Seperti juga yang dikatakan bbrp teman dalam review2 kedua buku di atas. Ada sesuatu di bahasa Tasaro. Sesuatu, apakah saya menemukan'nya' di buku ini?
Nyatanya, di karya pemenang sayembara novel nasional FLP ini, saya menemukan bahasa yang masih 'kasar'. Belum 'indah', tapi cukup menarik. Tasaro sepertinya masih bergulat dengan deskripsi-deskripsi panjang. Saya cenderung melewatkannya. Agak sedikit bosan. Mungkin Tasaro sedang mencari bahasa 'indah'nya. *mode sotoy on*. Karena di dua buku yg saya baca sblmnya, saya sudah menemukannya di deskripsi2 yang Tasaro jabarkan.
Seru juga kayaknya kalau saya bisa mengikuti perkembangan bahasa Tasaro ini.
Empat bab pertama yang melelahkan. Tasaro memperkenalkan empat karakter utamanya, masing-masing satu bab. Empat bab yang 'terlalu' panjang menurut saya.
Mulai bab ke lima, rasa penasaran baru muncul, gerangan apa yang membuat kelima sahabat ini terpecah-belah? Maruta, Bhumi, Angkasa, Chandra, dan Dahana (ternyata kelebihan Tasaro menemukan nama-nama unik karakaternya sudah ada di buku ini, hmmm.. nice).
Lalu pertemuan itu, pertemuan yang saya harapkan menjadi klimaks, hanya lewat begitu saja. Dialognya kurang membuat saya merasa 'marah'. Baru ketika menuju akhir, saya menjadi mahfum. Ok, ini gaya Tasaro dulu, di tahun 2005. Ide cerita yang biasa, tapi diceritakan dalam gaya yang unik. Menemukan makna 'wandu' pada setiap diri karakter-karakternya.
Bagian yang paling saya suka adalah ketika Chandra pergi ke stasiun Tugu Yogyakarta hanya untuk merenung. I've done that for so many times while i was in Yogya. Cuma untuk merenung. Sendirian maupun bersama orang-orang yang dekat di hati saya. Saya cukup terkejut ketika mengetahui bbrp teman ternyata juga suka merenung sendirian di sana. Dan dari buku ini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa banyak orang lain yang melakukan hal yang sama. Dan kenangan-kenangan itu pun datang menyergap.
Damned, i miss Yogya very much.
Saya masih ingin menelusuri jejak Tasaro yang lain.
Ada yang mau bantu menemukan Samita?
Seperti apa bahasa Tasaro dalam cerita kolosal?
PS: ada yang janggal dalam Bab Bhumi, korban sodomi pertama-tama disebutkan bernama Nurman, lalu pada dialog Bhumi dengan teman-temannya, disebutkan namanya; Nurdin. Erwwww... yang bener yang mana, Mas Tasaro? hehehehe
March 15, 2017
Penyampaian yang berbeda yang membuat buku karya Tasaro mengesankan.
Beberapa rangkaian kisah dalam buku ini, sudah pernah saya baca di beberapa buku karya Tasaro lainnya :)
Beberapa rangkaian kisah dalam buku ini, sudah pernah saya baca di beberapa buku karya Tasaro lainnya :)
June 17, 2008
agak kurang suka endingnya ... gpp ya ... ^__^
ps : buku pertama tasaro yang aku beli, trus suprise ... pas
liat foto penulisnya ... ternyata oh ternyata ... dulu
satu kampus. hehehehe ... cuman aq taunya dengan nama yang
berbeda. ^__^
November 23, 2008
keren.. idenya segar. Dan secara tehnik penulisan pun buku ini keren..
February 24, 2010
kerennnn...pantas jadi juara satu....
June 12, 2014
Buku ini layak menang lomba FLP. Penggarapan yang tidak biasa menjadikan saya habis membaca dalam sekali baca. Menarik!
Displaying 1 - 7 of 7 reviews








