Bila tentang Aceh, selalu ada cara untuk mendekatkan. Senada dengan,”Bila tentang cinta, selalu ada cara untuk mendekatkan”. Itulah, satu-dua tahun pasca tsunami di Aceh, (entah mengapa) saya selalu menyukai hal terkait Aceh. Menyukai yang membuat saya selalu ingin tahu lebih banyak.
Dan kemarin, dalam bazaar oleh GEDEBUK di STAN, saya menemukannya (red: Jendela Cinta) dengan harga yang sangat miring. Ya, hanya sepertiga harga dari harga seharusnya (buku tersebut didedikasikan profitnya untuk revitalisasi daerah yang terkena tsunami di Aceh).
Bagaimana dengan isinya? Kumpulan cerpen dari penulis-penulis kenamaan (yang banyak didominasi penulis dari FLP). Dari 13 cerpen yang ada, 3 cerpen terakhir merupakan cerita yang mengangkat setting tsunami di Aceh. Yakni “Beribu Kafan” (M.Muttaqwiati), “Bidadari Kecilku” (Sinta Yudisia), dan “Terapung” (Haekal Siregar). Juga ada satu puisi yang syahdu sekali dari adik kita, Abdurrahman Faiz. Sedikit kutipannya:
Di Serambi cinta kita, Acehku. wajah-wajah pucat dan menggigil senantiasa akan menemukan rumahnya sebab kau, aku, kita satu
Saya pribadi, menyukai tiga cerpen terakhir yang terdapat dalam buku tersebut dan pengantar yang diberikan oleh Fauzhil Adhim. Simak saja perkataannya,”Sekarang saatnya kita berbuat, Teuku. Atas setiap tetes tinta yang mengalir menjadi kata, berhitunglah akibat apa yang dapat ditimbulkannya. Atas setiap untaian kata yang Ia perkenan bagimu untuk menjelma menjadi cerita, bertanyalah apakah ia menjadi perantara mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya melalui pena. Ataukah justru engkau masih saja sibuk bergenit-genit dengan permainan kata, yang bagi sebagian manusia menakjubkan, tetapi kering dari kebaikan?”
Paragraf penanda darinya, bahwa menulis untuk berbuat, menulis untuk kebaikan. Ada juga paragraf pengantarnya yang menenangi korban tsunami Aceh, seperti “Bangunlah, Cut! Kalian disisakan Allah dengan rahmat-Nya setelah tanah yang kalian pijak dilamun ombak setinggi gunung agar menjadi kebaikan bagi dunia seisinya.”
Secara keseluruhan, fiksi berjudul “Beribu Kafan” adalah yang paling menggetarkan (bagi saya). Dimana saat itu perkara murka-Nya dan kematian begitu bersisian.
*Ah ya, meski sudah berlalu 5 tahun sejak penerbitannya, tetap itu saya memegang keyakinan bahwa tidak ada buku lama, yang ada hanya kita belum membacanya.
Puisi “Acehku Dukaku” dari Faiz membuka ketukan nurani dalam buku ini, setelah pengantar dari Fauzil Adhim yang juga mengetuk-ngetuk nurani. Kemudian mengalirlah kisah-kisah, dari soal kecemburuan (Dia!, Asma Nadia), kesetiaan (Jendela Cinta, Fahri Asiza), sampai tentang kesigapan untuk membantu orang lain tanpa banyak berpikir (Lelaki Tua dan Proposal, Dian Yasmina). Kemudian Sakti Wibowo yang tertutur tentang “Tumis dan Sayur Asem”, Naqiyyah Syam (Telah berlalu), Arul Khan (Lukisan), sin Soekarsono (Tangkai Terakhir), Gola Gong (Surat Wasiat), Pipiet Senja (Malam Biru), Leyla Imtichanah (Bulan Mengapung), M. Muttaqwiati (Beribu Kafan), sinta Yudisia (Bidadari Kecilku), dan Haekal Siregar (Terapung). Ya, ada banyak nurani di sini.
Saya tertegun, terpana, bahkan menangis membaca cerpen-cerpen dalam buku ini. Tapi apapun, hanya satu tujuan persembahan, Aceh tercinta.
Buku ini merupakan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap bencana tsunami Aceh, jadi dengan membeli buku ini kita menyumbangkan dana utuk penduduk Aceh. Novel ini merupakan kumpulan cerita, ada satu buku yang membuat saya terharu yaitu tentang kjadian seseorang yang berjuang mempertahankan hidup ketika terjadi bencana tsunami di Aceh, sedih aku membacanya, dan sebuah cerita abstrak yang saya lupa judulnya kalau tidak salah kain apa???gitu..tentang kematian yang membuat aku merinding membayangkannya,,. Yah insya4JJI novel ini semakin membuat kita bersyukur akan nikmat 4JJI..
akus suka banget buku ini.. kisah-kisah yang disumbangkan untuk saudara kita yang tertimpa musibah tsunami di Aceh... tapi sayangnya... huuuaaaaaa.... ada yang minjem, tapi ga dikembalikan.!!!!! >o< ToT