Wah, Karya Tere Liye ternyata emang nagih ya..hehehe. Tetap seperti 2 buku Tere Liye yang saya baca sebelumnya, sangat menguras emosi, bisa bikin melek sampe larut sambil menatap langit-langit kamar dan begitu terasa hidup apalagi untuk karya yang ini diambil dan terinspirasi dari kisah nyata Hellen Keller seorang wanita buta dan tuli yang menjadi penulis, aktivis dunia dan dosen yang banyak melakukan hal-hal luar biasa dibandingkan orang-orang normal pada umumnya.
Diawali perasaan yang engap langsung kebawa kesuasana yang kalo kamu menarik nafas dalam-dalam tapi oksigen yang kehirup begitu sedikit, gelap, sunyi, kosong dan seperti ketiadaan batas kapan akan berakhirnya bahkan rasanya sudah mendekati pada titik keputusasaan yang akut karena seperti tiada setitik pun cahaya harapan itu akan hadir. Begitu menyakitkan. Rendah, pada titik terendah yang terus mengubur dan melunturkan setiap kali harapan itu dibangun. Tembok. Buntu. Tidak ada celah sama sekali. Coba kamu bayangkan, otakmu seakan dipaksa berhenti bekerja, tidak ada jalan keluarnya. Mungkin bagi orang yang berhenti ber-ikhtiar ia akan hidup penuh dengan perasaan mengutuk, mencaci maki dan menuntut ddengan berjuta kekecewaan sekaligus penyesalan yang juga tiada henti dan akhirnya. Kegilaan yang luar biasa.
Namun tidak yang dilakukan oleh Bunda Melati yang selalu yakin dengan harapan itu, penerimaan, mengubah apa yang ia bisa lakukan dan sisa yang tak bisa diubah ia serahkan pada-Nya karena itulah kekuasaan-Nya. Akhirnya jawaban setiap kesusahan ada kemudahan pun ia temukan. Cahaya harapan itu setitik demi setitik perlahan menyatu, awalnya pudar dan akhirnya berkilau cerah dan terang. Sesak di dada perlahan berkurang, oksigen itu perlahan penuh mengisi paru-paru pada setiap tarikan nafasnya. Tangis itu beriring senyum bahagia. Air mata bahagia yang lama dirindukan itupun menetes. Haahhh...Saya begitu terhanyut, hanyut dan terbenam sekali ketika membaca setiap paragraf pada buku ini. Senyum, menangis, bahagia, tertawa dan sedih keluar alami begitu saja. ^_^
Konsep penerimaan yang luar biasa terasa begitu dekat, optimistis yang menembus batasannya menurutku, itulah kenapa Tuhan melarang berputus asa dari setiap rahmat-Nya, ada jawabannya diujung setiap usahamu. Cahaya itu akan datang. Konsep penyatuan dan keterhubungan semesta itu berpadu dan menyatu serta mengkristal menangkap gelombang frekuensi yang di doakan berpilin menuju singgasanaNya, menyajikan menu dari bentuk penghambaan yang murni untuk dirahmati oleh-Nya. Apa yang tidak mungkin bagin-Nya ^_^
Pada akhirnya, kesejatian akan makna kehidupan pun ia temukan. Bentuk keadilan-Nya tidak dapat dimengerti oleh hamba yang selalu mempertanyakan, yang terlalu bodoh untuk mengerti, apalagi mengaku-ngaku tau maksud-Nya sendiri. Ahhh...begitu lemah untuk memahami jalan dan pilihan-Nya.
Terima kasih Tere Liye, anda selalu berhasil mengaduk emosi, menyuguhkan kisah untuk menjadi refleksi rasional dunia dan semesta. Menunduk untuk merenungkannya. ^_^
Kutipan:
"Hal yang paling menyakitkan di dunia bukanlah ketika orang lain ramai menyalahkan diri kalian. Tetapi saat kalian menyalahkan diri sendiri..."
"Dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas hal-hal yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas hal-hal yang pernah kita lakukan meski itu sebuah kesalahan…”
"Hidup ini paradoks, Tuan...Terkadang paradoks itu lucu sekali, terkadang paradoks itu amat menjijikkan. Tapi lebih banyak lagi paradoks itu sama sekali tidak bisa kita mengerti..."
"Tahukah Tuan hal yang paling menyedihkan di dunia ini? Bukan! Bukan seseorang yang cacat, memiliki keterbatasan fisik, bukan itu! Melainkan seseorang yang sehat, normal, sesempurna fisiknya, tapi justru memiliki keterbatasan akal pikiran. Bebal. Bodoh.”
"Satu hari lagi berlalu-tidak perduli kita suka atau tidak dengan hari itu"
"Ibu, rasa nyaman selalu membuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, kami sering kali tidak tahu kalau kami sudah terjebak oleh perasaan nyaman itu... Padahal di luar sana, di tengah hujan deras, petir, guntur, janji kehidupan yang lebih baik boleh jadi sedang menanti. Kami justru tetap bertahan di pondok reot dengan atap rumbia yang tampias di mana-mana, merasa nyaman, selalu mencari alasan untuk berkata tidak atas perubahan, selalu berkata 'tidak'..."
"Ibu, rasa takut juga selalu membuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, kami sering kali tidak tahu kalau hampir semua yang kami takuti hanyalah sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi... Kami hanya gentar oleh sesuatu yang boleh jadi ada, boleh jadi tidak. Hanya mereka-reka, lantas menguntai ketakutan itu, bahkan kami tega menciptakan sendiri rasa takut itu, menjadikannya tameng untuk tidak mau berubah.”
"Begitulah kehidupan ini, kau tidak pernah berhak bertanya atas takdir. Kita mengenal kehidupan, kebebasan memilih, kebebasan berkeinginan, diajarkan langsung oleh-Nya, tapi ironisnya justru tidak ada kata kebebasan, tidak ada kesempatan memilih dengan takdir milik-Nya. Kau tidak berhak protes. Tidak sama sekali..."
"Setiap kali kau protes, maka seseorang akan mengingatkan bahwa Tuhan Maha Adil...Ya, Maha adil. Karena kita terlalu bebal, maka kitalah yang tidak tahu di mana letak keadilan-Nya, tidak tahu apa maksud-Nya...Kalau kita tidak pernah mengerti, itu jelas karena kita terlalu tolol, bukan berarti tidak adil. Tuhan selalu benar..."
“Benarlah. Jika kalian sedang bersedih, jika kalian sedang terpagut masa lalu menyakitkan, penuh penyesalah seumur hidup, salah satu obatnya adalah dengan menyadari masih banyak orang lain yang lebih sedih dan mengalami kejadian lebih menyakitkan dibandingkan kalian. Masih banyak orang lain yang tidak lebih beruntung dibandingkan kita. Itu akan memberikan pengertian bahwa hidup ini belum berakhir. Itu akan membuat kita selalu meyakini : setiap makhluk berhak atas satu harapan.”
“Tapi tahukah kalian, ada yang bisa membuat kalian bertingkah lebih kelakuan seorang ‘pemabuk’: berpikir. Proses berpikir yang hebat, apa yang kalian pikirkan tak kunjung menemukan kesimpulan.”
"Janji kehidupan yang lebih baik selalu tergenggam di tangan kanak-kanak"
“Gadis kecil itu benar sekali.. mengapa dunia diciptakan dengan penuh perbedaan. Yang satu dilebihkan dari yang lain... ada yang bisa melihat. Bisa mendengar, ada juga yang tidak. Ada yang cerdas, ada yang tidak. Apakah semua itu adil? Apakah takdir itu adil? Padahal bukankah semua pembeda itu hanyalah semu. Tidak hakiki. Ketika sang waktu menghabisi segalanya, bukankah semua manusia sama...”
"Ada yang utuh memiliki seluruh panca inderanya, tapi tak sekejap pun peduli dan bersyukur."
“Mengapa manusia bangga sekali dengan perbedaan. Kasta. Kemuliaan. Yang 1 lebih hebat, lebih dihargai, lebih segalanya, sementara yang lain tidak..”
"Apakah hidup ini adil? Ya, hidup ini selalu adil. Kamilah yg terlalu bebal, terlalu bodoh untuk mengerti.”
"Terima kasih ya Allah! Terima kasih.. Mungkin kami tidak akan pernah mengerti dimana letak keadilan-Mu dalam hidup. Karena mungkin kami terlalu bebal untuk mengerti. Terlalu ‘bodoh’. Tapi kami tahu satu hal, malam ini kami meyakini satu hal, Engkau sungguh bermurah hati.. Engkau sungguh pemurah.. atas segala hidup dan kehidupan."