Saya akan memulai tulisan ini dengan pertanyaan yang mungkin terkesan generik. Siapa yang tak kenal Tan Malaka? Maka jawabannya adalah saya. Sedikit cerita, baru belakangan mendengar nama Tan Malaka. Sepertinya di sekitar tahun 2017 ketika grup teater saya mempersiapkan pertunjukan Cinta Di-80-an dan saya memerankan aktivis mahasiswa. Ketika saya mengulik karakter, ada satu teman yang mengutip beliau, “Idealisme menjadi kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh seorang pemuda”. Apa saya tidak pernah dengar tentang Tan Malaka sebelumnya? Rasanya sih pernah membaca namanya, tapi hanya sekadar membaca namanya saja. Membaca tentang sepak terjangnya? Rasanya sulit mencari di bacaan umum, karena walaupun diangkat menjadi pahlawan nasional, rekam jejak beliau banyak yang dihilangkan. Karena itu, ketika mendapati buku Menuju Merdeka 100%, tanpa pikir-pikir langsung saja saya bawa pulang.
Nah, buku ini merupakan kumpulan beberapa hasil tulisan beliau, diantaranya; Aksi Massa, Muslihat, Politik, Rencana Ekonomi Berjuang, dan Gerpolek. Dalam judul-judul tersebut, beliau menerangkan ideologi negara, konsep merdeka, bahkan sampai ekonomi dan strategi gerilya.
Btw, saya baru tahu bahwa sebenarnya judul-judul itu juga diterbitkan terpisah ketika melihat meja sejarah Mizan di BBW kemarin, dan rasa-rasanya saya akan lebih senang baca yang terpisah daripada disatukan begini. Pasalnya, karena beratnya materi di dalam buku ini, rasanya seperti mengikuti kuliah ilmu ipoleksosbudhankam 3 sks selama 3 semester dipadatkan. Berat mamen… Kepala tak kuat. Tiap pemaparan adalah konsep gagasan yang harus dicerna baik-baik. Untuk orang yang baca karena penasaran macam saya, harus mengumpulkan tekad berulang kali untuk menamatkan buku ini. Alhasil 1 bulan baru selesai. Hahaha…
Lalu karena sebagian besar tidak dituliskan tahun penulisannya (baru di akhir-akhir), saya agak bingung mencocokkan alur waktunya dengan runutan sejarah. Maklum, beliau kan tidak ada di peta buku sejarah umum, jadi agak sulit membayangkan.
Ketika membaca tulisan beliau, pikiran “Gila, jenius banget ini orang” gak berhenti terlintas. Di masa itu, ketika bacaan saja sulit, beliau bisa merumuskan banyak hal. Konsep merdeka pun bahkan sudah dipikirkan jauh sebelum founding fathers kita merumuskan. Lalu yang menarik adalah tulisan Muslihat, Politik dan Rencana Ekonomi Berjuang. Beliau mungkin paham betapa sulitnya golongan murba mengunyah semua konsep itu, maka dituliskan dalam bentuk layaknya lakon punakawan. Buat saya ngebantu banget sih. Walaupun bagian Rencana Ekonomi Berjuang saya blank ngunyahnya. Maklum ekonomi adalah pelajaran yang justru nol besar buat saya. Hahaha…
Oya, rasanya sih buku ini harus saya baca ulang di situasi yang berbeda supaya lebih ngerti lagi. Mungkin ada tips dari yang sudah baca juga?