Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sastra, Perempuan, Seks

Rate this book
Dalam dunia sastra Indonesia saat ini "perempuan" dan "seks" merupakan dua isu yang sangat penting "perempuan" terutama dalam arti "pengarang perempuan" dan "seks" sebagai tema karya sastra yang sedang ngetren. Begitu banyak pengarang perempuan baru bermunculan dalam beberapa tahun terakhir ini dan tidak sedikit dari mereka mendapat sambutan yang luar biasa, baik dari segi respons media, penghargaan sastra, maupun jumlah buku yang terjual. Benarkah karya mereka demikian hebat sehingga pantas dihebohkan serupa itu? Berbagai klaim muncul seputar para "pengarang perempuan baru" itu : tulisan mereka hebat, menciptakan gaya penulisan baru, mereka mendobrak tabu, terutama seputar seks dan hal itu sering dipahami sebagai semacam pembebasan perempuan bahkan sebagai feminisme.

Katrin Bandel dalam buku ini berusaha mempertanyakan klaim-klaim tersebut. Menurutnya kehebohan seputar beberapa penulis perempuan (bukan "perempuan" penulis), yang secara popular disebut sebagai "sastrawangi" itu, sangat berlebihan.

166 pages, Paperback

First published January 1, 2006

18 people are currently reading
190 people want to read

About the author

Katrin Bandel

9 books11 followers
Katrin Bandel lahir 29 Desember 1972 di Wuppertal, Jerman. Menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia pada tahun 2004 di Universitas Hamburg, Jerman, dengan topik “Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia”. Puisi, cerpen, dan eseinya dimuat di Cyber Graffiti, Ini...Sirkus Senyum, Graffiti Imaji, Dian Sastro For President!, Batu Merayu Rembulan, Esei-esei Bentara 2004, Sastra Pembebasan, Les Cyberlettres, On/Off, mejabudaya, Jurnal Cerpen Indonesia, Bentara, Horison, Basis, Kompas, Bernas, Minggu Pagi, Suara Merdeka, dan di situs sastra cyberpunk Indonesia www.cybersastra.net. Katrin juga seorang pelukis dan pernah berpameran tunggal di ViaVia Café Yogyakarta. Saat ini menetap di Yogyakarta dan menjadi dosen tamu mata kuliah “Teori-teori Budaya” dan “Gender Studies” di program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.[

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (26%)
4 stars
35 (38%)
3 stars
26 (28%)
2 stars
4 (4%)
1 star
3 (3%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
109 reviews
July 27, 2019
Katrin sangat kritis dalam menanggapi berbagai karya sastra Indonesia. Ya, walaupun nggak semua esai dalam buku ini sama menariknya di mataku. Aku paling suka bagaimana Katrin jeli melihat representasi dukun dan dokter dalam karya-karya sastra Indonesia. Dari sini terlihat bahwa pandangan kita (dan juga sastrawan) terhadap beragam metode pengobatan di negeri ini terbentuk secara kuat oleh kolonialisme: biomedika adalah superior daripada pengobatan tradisional. Apapun yang dari barat sudah pasti jelas; tentu lebih oke daripada yang pakai mantra dan bunga-bunga. Ah, jadi ingat bagaimana beberapa waktu lalu masyarakat Bali gempar dengan peraturan pak gubernur tentang balian yang disediakan loket khusus untuk praktik di rumah sakit.
Profile Image for Mikael.
Author 8 books90 followers
May 20, 2010
along with saut situmorangs later politik sastra this is the best collection of essays on indonesian literature for two reasons: katrin writes about themes/issues that other indonesian essayists wouldnt touch with a barge pole/dont know anything about eg internet mailing list, is ayu utami really a great feminist, is djenar maesa ayu really a good writer, and because she writes with academic tightness unparalled recently in indonesia but, unlike eg melani budianta (great academic writer in all other respects), doesnt shy away from the politics of the indo lit scene. she doesnt just discuss the politics but states clearly which side shes on (against tuk and its sycophants). an admirable and rare openness in the pussilanimous world of indo lit.
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
July 30, 2009
Sebetulnya bisa dikatakan buku ini merupakan kumpulan resensi buku2 ttg sastra, perempuan, dan seks. Kupasan Katrin Bandel dalam terhadap buku2 tsb dalem banget!
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
October 5, 2015
Esai-esai asyik yg mengkritisi sastra Indonesia, utamanya bagian Sastra Koran dan Sastrawangi. Yg paling saya suka tentu saja resensi Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan.
Profile Image for Cintya Faliana.
42 reviews12 followers
July 14, 2020
Katrin Bandel memberikan perspektif menarik melalui caranya melihat suatu karya. Hal-hal yang kerap diabaikan menjadi penting untuk dilihat sebagai komponen penting suatu karya sastra. Buku yang menarik untuk menjadi awalan melihat perempuan dan seks dalam karya sastra.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books235 followers
July 27, 2015
Buku ini adalah kumpulan esai tentang sastra yang ditulis oleh Katrin Bandel, seorang pemerhati sastra Indonesia yang berasal dari Jerman. Katrin Bandel menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia di Universitas Hamburg, Jerman, dengan topik "Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia".

Walau judul buku ini "Sastra, Perempuan, Seks", tapi buku ini tidak melulu membahas tentang hubungan ketiganya. Di dalam kumpulan esai ini, terdapat beberapa pembahasan lain, seperti "Dukun dan Dokter dalam Sastra Indonesia", pembahasan tentang sastra pascakolonial, hingga "Religiusitas dalam Novel Tiga Pengarang Perempuan Indonesia". Hal ini sendiri diakui oleh penulis. Menurutnya, pemilihan judul buku ini bukanlah rangkuman isi buku, tapi dia merasa "Sastra, Perempuan, Seks" cukup mewakili apa yang ingin dia bahas, yaitu 'politik sastra Indonesia yang penuh sensasi dan ketidakadilan' (hal. xx).

Ada tiga nama penulis yang sangat menonjol pembahasannya di buku ini. Ayu Utami, Eka Kurniawan, dan Djenar Maesa Ayu. Ketiganya menonjol dalam hal pembelaan/kritik atas karya sang penulis oleh Katrin Bandel.

Dalam buku ini, Katrin Bandel mempertahankan karya Eka Kurniawan, 'Cantik Itu Luka', yang menurutnya telah diperlakukan secara tidak adil oleh Maman S. Mahayana dalam esai Maman di 'Media Indonesia'. Dalam esainya, selain memberikan pemikirannya akan novel 'Cantik Itu Luka, Katrin juga mempertanyakan tentang apa itu 'fakta historis', serta apakah seharusnya sejarah itu hanya 'versi resminya' saja yang boleh diikuti, bahkan dalam karya fiksi sekalipun?

Btw, saya kena spoiler novelnya. Padahal belum baca 'Cantik Itu Luka' :v.

Dalam pandangannya akan novel 'Saman' dan 'Larung' karya Ayu Utami, serta 'Nayla' dari Djenar Maesa Ayu, Katrin justru mempertanyakan pujian-pujian yang diberikan kepada novel-novel itu dan kedua penulisnya. Katrin mempertanyakan status buku-buku itu sebagai karya feminis, serta beberapa logika cerita yang ada di dalamnya. Pembahasannya cukup menarik dan disertai dengan argumen-argumen yang juga menarik. Menurutnya, kritik terhadap falosentrisme (pemikiran bahwa maskulinitas adalah sumber kekuatan dan otoritas) yang dihadirkan Ayu Utami hanya terjadi di permukaan. 'Di level yang lain, novel Ayu justru sangat falosentris' (hal. 117).

Pada novel 'Nayla', Katrin mengkritik beberapa logika serta absennya kedalaman emosi dalam cerita Djenar Maesa Ayu. Katrin merasa bahwa kekurangan dalam 'Nayla' disebabkan oleh dua hal. Pertama, 'kecenderungan untuk merayakan "sukses"-nya sendiri sebagai pengarang'. Kedua, 'kecenderungan untuk menulis dengan gaya yang potensial dinilai "baru", "canggih", dan "inovatif" oleh pengamat.' (hal. 163). Katrin merasa bahwa pujian yang berlebihan justru akan menghancurkan sebuah potensi yang menjanjikan.

Sayangnya, dengan semua kritik akan karya penulis perempuan yang diajukan, Katrin justru tidak memberikan beberapa buku karya penulis perempuan, baik dari Indonesia maupun dari luar, yang dirasa bisa mewakili 'perempuan menulis tentang perempuan'. Ada beberapa buku yang memang dituliskan secara positif, seperti 'Tujuh Musim Setahun'-nya Clara Ng, atau bahkan novel teenlit 'Nothing But Love' karya Laire Siwi Mentari, tapi pembahasannya tidak begitu mendalam dan tidak mendapat ruang sebesar novel-novel Eka, Ayu, dan Djenar. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah memang belum ada penulis wanita Indonesia yang mampu menulis tema 'menulis tentang perempuan' dengan baik? Saya rasa pasti ada.

Tapi, walau memperoleh kritik berat dari Katrin, mungkin ada benarnya apa yang ditulis oleh St. Sunardi, Ketua Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dalam prakata. 'Ketika penulis mengkritik suatu karya dengan sangat kreatif dan kadang berapi-api, menurut hemat saya, hal itu justru menunjukkan keberhasilan apa yang dikritik. Apa yang dikritik benar-benar writerly, mendorong penulis untuk menulis.' (hal. xiii).

Well, mengingat esai-esai di buku ini ditulis pada tahun 2001-2005, saya jadi penasaran bagaimana Katrin Bandel melihat politik sastra Indonesia saat ini. Lalu bagaimana pula tanggapannya akan karya-karya baru dari Ayu Utami, Djenar, Eka Kurniawan, hingga nama-nama lain yang disebutkan di buku ini?

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
Profile Image for Farrahnanda.
Author 10 books21 followers
March 5, 2016
Buku ini saya baca lebih sebagai sebuah pembelajaran, sih. Karena beberapa tulisan dikupas tajam sama Tante Bandel *euh kok berasa salah yah... Tante Katrin aja deh saya panggilnya*
Ada beberapa hal yang bikin saya mikir-mkikir lagi, terutama ketika Tante Katrin mengupas 'tulisan-tulisan perempuan' yang katanya mendobrak dan memberi suatu kebaruan. Sebagian besar poin-poin janggal yang dibeberkan blio saya setuju, sih. Semoga proyek anu saya nantinya nggak cuma tulisan soal perempuan yang ngambang di permukaan kayak tulisan-tulisan yang dibahas Tante Katrin :")
Nggak di situ aja, bahasan soal sastra dan medis pun menggelitik. Juga ketika blio bahas soal tulisan yang di dalamnya unsur 'modern/Barat' bergesekan dengan unsur-unsur 'tradisional/lokal'.
Intinya saya senang sama buku ini karena bisa buat belajar~
Profile Image for Feti Habsari.
43 reviews9 followers
February 10, 2016
sepertinya buku ini tidak cukup ringan untuk saya, butuh waktu lama untuk menyelesaikan membaca dan memahami isi buku yang tidak lebih dari dua ratus halaman ini.

saya akui, apa yang disampaikan Katrin Bandel dalam buku ini sungguh menarik untuk dibaca dan dikulik. hanya saja, untuk saya yang belum terbiasa membaca esai-esai dalam sebuah buku, terkadang bosan dan harus diletakkan dulu berganti dengan buku lain.
Profile Image for Tenni Purwanti.
Author 5 books36 followers
December 12, 2016
Sungguh, Indonesia butuh lebih banyak kritikus sastra seperti Katrin Bandel. Saya dapat melihat karya penulis-penulis idola saya dengan lebih obyektif setelah membaca buku ini. Juga ada beberapa buku penting lainnya yang selama ini tidak saya kenal dan akhirnya ingin saya baca karena buku ini.
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.