Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lontara Rindu

Rate this book
Sinopsis:

Vito dan Vino, dua saudara kembar yang terpaksa harus terpisah karena perceraian orangtuanya. Vito tinggal bersama ibunya, sedangkan Vino dibawa ayahnya. Rindu yang membuncah membuat Vito harus mencari ayahnya di Perrinyameng, Amparita, belasan kilometer dari kampungnya di daerah pegunungan.

Ayah Vito pergi ketika Vito masih kecil. Beda keyakinan membuat kakeknya tak bisa menerima ayahnya, sehingga ibunya dulu harus mengorbankan kehormatan keluarga, kabur dari rumah demi ayah Vito itu. Vito adalah anak yang terluka dan ketika masuk usia SMP ia kerap bertanya mengapa sang Ayah meninggalkannya?

Inilah kisah pencarian sekaligus kehangatan siswa SMP itu di masa belianya di Cenrana, Panc aLautang, Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, di masa kemarau panjang mendera. Di tengah upaya diam-diamnya mencari ayah, VIto dan teman-temannya mendapatkan ajaran moral islami dari Pak Guru Amin yang sering bercerita tentang kisah-kisah masa lampau yang tercatat di lontara. Namun di kemudian hari Pak Amin harus menerima kenyataan pahit ketika warga menuduhnya telah menyebarkan fanatisme agama.

Berhasilkah Vito menemukan Vino dan ayahnya? Bagaimana nasib hubungan kedua orangtuanya? Masihkah ayah Vito menganut kepercayaan leluhurnya?

340 pages, Paperback

First published January 1, 2012

23 people are currently reading
269 people want to read

About the author

S. Gegge Mappangewa

9 books12 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
60 (35%)
4 stars
54 (32%)
3 stars
26 (15%)
2 stars
17 (10%)
1 star
10 (5%)
Displaying 1 - 30 of 34 reviews
Profile Image for Azzura.
Author 19 books92 followers
October 29, 2012
Bertema pencarian seorang anak terhadap ayah dan saudara kandungnya,berlatar alam, budaya, dan sejarah beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Sangat pekat dan kental. Sangat dalam dan cukup menyentuh. Karena saya pecinta alam, sejarah, dan budaya, maka bagi saya cukuplah pemikat untuk menikmati buku ini.

Meski, saya menemukan cukup banyak kalimat rancu, bahkan sejak di halaman satu. :) Yaitu,

"Sepertiga malam di awal musim kemarau." Ini adalah kalimat pertama paragraf pertama pada prolog. Di kalimat pertama paragraf kedua, masih di halaman satu, tertulis, "Telah setahun hujan tak turun." Kalau menurut pemahaman saya yang sederhana, setahun tak hujan itu cukup lama, agak sulit jika disebut awal kemarau...

Meski, lagi, di kaver depannya tertulis bahwa jalinan cerita berganti-ganti antara haru dan lucu, tapi ternyata saya tidak sampai tertawa juga. Aneh ya? Tapi memang selera humor saya untuk buku terbilang rendah, meski ada juga beberapa buku humor yang sanggup membuat saya tersenyum dan tertawa.

Untuk keharuan di dalam kisahnya, bagi saya cukup. Walaupun saya tidak sampai menangis juga :D Tapi saya suka ending novel ini, meskipun sempat tertebak oleh saya beberapa kejadian akhirnya.

Jiwa backpacker saya terundang di sini: ingin saya menjejakkan kaki di desa Pakka Salo yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan, tempat hidupnya beberapa tokoh utama novel ini. Penasaran saya pada sungai-sungai keringnya yang kemudian digali tengah-tengahnya menjadi sumur. Penasaran ingin melihat langsung Danau Sidenreng yang diserupakan oleh Pak Amin dengan analogi Laut Merah yang dibelah Musa. Sekering apa hingga tiang-tiang kayu tinggi yang menyangga bawah rumah-rumah panggung terlihat semua. Danau yang mengering itu.

Tidak salah, novel ini benar-benar penuh dengan hela napas lokal. Sisi-sisi yang membuat negeri ini kaya. Yang seharusnya membuat para penulis tak pernah putus ide cerita.

Profile Image for Fitria Mayrani.
522 reviews25 followers
June 28, 2012
Gak salah kalo novel ini dinobatkan sebagai juara pertama. Berlatar tempat di pelosok Makassar yang saya sendiri pun baru tahu namanya setelah membaca novel ini. Satu yang menarik untuk saya ketahui lebih dalam adalah mengenai aliran Tolotang. Juga baru mengetahuinya setelah kelar baca novel ini.

Suka dengan penjelmaan karakter yang tidak too good to be true. Pak Amin, guru penjas yang tahu banyak soal Islam, mengajarkan pada muridnya memandang Islam secara luas tidak terbatas pada shalat, puasa, zakat, dan haji. Irfan dan Bimo, sangat jago membuat racikan sambal. Vito, meskipun agak bandel dia adalah remaja yang tegar dan tangguh. Vito mempunyai saudara kembar bernama Vino yang dibawa lari oleh ayahnya ke Samarinda.

Ceritanya tentang kerinduan Vito terhadap ayah dan saudara kembarnya yang terpisah selama enam tahun. Perpisahan ini dipicu karena ayah Vito, Ilham memiliki keyakinan berbeda dengan ibunya. Sang ayah menganut kepercayaan tradisional bernama Tolotang, semacam animisme. Mereka pun berpisah, Vito ikut ibunya dan Vino diambil ayahnya. Vito harus berjuang melepas kerinduan terhadap ayah dan adiknya. Segala cara ia lakukan untuk mengetahui keberadaan dua orang terkasihnya. Sayangnya, kakek dan ibunya mengunci rapat-rapat secuil informasi tentang ayahnya. Sampai akhirnya seseorang 'menculik' Vito sehabis shalat Maghrib dan mengantarkannya ke Samarainda, menuju istana ayahnya. Di sana Vito menemukan ayahnya beristri lagi. Beruntung, mama barunya bukan ibu tiri yang kejam berhias tanduk dan gigi runcing yang siap menerkam anak tirinya. Mama barunya bernama Nadia adalah wanita berjilbab berhati lembut. Di sana Vito bertemu Vino, dipeluknya dengan erat adik tercintanya itu. Namun, keadaan ayahnya sungguh menyayat hati Vino. Ayahnya terbaring tak berdaya di ranjang berselang infus. Kerinduannya yang mendalam berbuah kesedihan. Sepertinya ajal sebentar lagi akan menjemput ayahnya. Vino menciumi ayahnya. Dia berbalik badan dan kembali ke kampungnya. Satu kabar gembira yang akan disampaikan Vito kepada Kakek dan Ibunya bahwa Alloh telah memberikan hidayah Islam kepada ayahnya.

Lucu berbalut duka... Di awal-awal penulisnya berhasil membuat saya nyengir. Ada saja tingkah laku kesembilan murid Pak Amin yang mengocok perut. Dan di akhir, saya seperti menyaksikan sinetron.
Profile Image for Galihmelon.
99 reviews3 followers
August 14, 2012
Subyektif, saya suka buku ini karena berlokasi di Sulawesi Selatan dan penulisnya pun berasal dari sana.

Membaca buku ini, banyak pengetahuan yang muncul kembali ataupun yang baru saya dapatkan, padahal saya sempat hidup di Makassar selama kurang lebih 14 tahun. Selain itu, gaya penulisan Gegge Mappangewa membuat saya bernostalgia dengan cara bicara dan cara penulisan orang-orang di SulSel.

Ceritanya sendiri lumayan bagus. Rasanya bisa melihat anak-anak bandel/pintar di buku ini sedang berlarian atau bercelote di jalan. Benar-benar bikin kangen.
Profile Image for Risma Syam.
1 review1 follower
January 29, 2013
Novel ini bercerita banyak. Tentang budaya, tentang kasih sayang dalam sebuah keluarga, tentang pengorbanan dan perjuangan seorang single mother, tentang pendidikan karakater, tentang pengabdian seorang guru yang harus cerdas menyampaikan ilmu, tentang cita-cita dan impian serta motivasi untuk meraihnya,tentang keikhlasan seorang istri guru yang tidak terlalu banyak diceritakan namun menjadi tokoh yang penting yaitu istri Pak Guru Amin yang ikhlas mendampingi dan mendukung pengabdian suaminya sebagai seorang guru di daerah terpencil dan masih banyak hal menarik yang membuat novel ini pantas memperoleh predikat juara pertama dalam lomba novel yang diselenggarakan oleh Republika. Setiap orang bebas menilai novel ini. Jadi tidak salah jika saya sependapat dengan para juri bahwa novel ini terbaik. Tidak dipungkiri jika ada kesalahan yang terdapat dalam novel ini, sama halnya dengan karya yang lain yang juga ada pasti ada kesalahan. Seseorang tidak berhak memaksakan novel yang ia suka untuk menang. Meskipun dalam penilaiannya novel yang ia sukai jauh lebih baik dari novel sang juara. Pun seseorang itu tidak berhak memaksakan gaya penulis dalam bertutur harus sesuai dengan kesukaannya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa negeri ini kaya akan budaya yang melatarbelakangi gaya bertutur para penulis kita. Jadi perbedaan itulah yang membuat kita kaya warna. Anda tidak bisa memaksakan Seorang Gegge Mappangewa yang berlatar budaya Bugis bertutur seperti Azzura Dayana atau yang lain.

Profile Image for Irawan Senda.
Author 2 books15 followers
May 14, 2012
Lontara Rindu adalah salah satu novel yang menurut saya masuk dalam kategori clean, saya hampir tidak menemukan cela didalamnya, sensasi membacanya mirip ketika saya membaca Galaksi Kinanthi milik Tasaro yang menurut saya penuturannya sangat clean.

Meski begitu di awal cerita ketika saya membacanya agak sedikit membosankan, namun ketengahnya saya merasa enjoy dan larut dalam cerita yang dituturkan. Yang buat saya salut adalah kesederhanaan dan alur yang natural membuat siapa saja tertarik untuk membacanya sampai habis. Jadi nggak heran kalau novel ini jadi novel juara Republika 2011
Profile Image for Ashee.
6 reviews4 followers
June 21, 2012
Novel yang menceritakan tentang kehidupan sekelompok anak remaja, yang mencari jati diri di tengah kemiskinan dan keterasingan tempat tinggalnya. Syarat akan budaya khas Makasar. Serius tapi lucu. Membaca novel ini seolah-olah berada di Makasar dengan segala adat budaya serta kepercayaan masyarakat khas sana.


Profile Image for Vhaaks.
3 reviews1 follower
Read
July 18, 2012
Bacanya asik. Selingannya bagus. Menggelitik. :) Unsur lokalitasnya banyak dimunculkan. Jadi, bisa belajar banyak dari buku ini.
Profile Image for Fransisca Yulia.
2 reviews
July 28, 2012
Lontara Rindu...membaca novel ini membuat saya lebih memahami soal budaya dan sejarah tanah kelahiran alm. papa saya.

ceritanya sederhana, tapi cukup menyentuh.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Emira.
30 reviews
September 14, 2025
Membaca buku ini seperti sedang berada di tengah-tengah perkampungan di pelosok Sulawesi dengan suasana, budaya, adat istiadatnya. Bercerita tentang keluarga yang terpisah, perjuangan siswa daerah terpencil, hingga kekuatan iman. Meski ditulis secara mengalir, beberapa bagian buku ini seperti belum selesai dengan konfliknya sehingga dibuat bertanya-tanya kira-kira apa yang terjadi kemudian. Seolah cerita yang tertulis dalam buku ini hanya sepenggal masa hidup tokohnya dan tokoh tersebut tetap melanjutkan cerita hidupnya di dunia nyata.
8 reviews
March 5, 2023
Rindu yang begitu dalam dari seorang anak yang telah dipisahkan oleh saudara kembar dan ayahnya, cinta kedua orangtuanya berakhir karena perbedaan keyakinan, kembalinya ilham justru menambah luka begitu dalam. Nilai religius, budaya, dan kasih sayang sangat kental diringkas dalam buku cantik ini. Terimakasih karna sudah membawa saya ke Pakka Salo, Corawali, dan daerah Sulawesi lainnya
3 reviews
August 4, 2018
Saya banyak belajar tentang nilai moral yang ingin disampaikan oleh penulis, bagaimana cara anda menyampaikan menjadikannya kesan bagi saya.
Profile Image for Meta Morfillah.
668 reviews23 followers
June 2, 2014
Judul: Lontara Rindu
Penulis: S. Gegge Mappangewa
Penerbit: Republika
ISBN: 978-602-7595-01-9
Dimensi: viii + 343 halaman; 13,5 cm x 20,5 cm

Buku ini saya mulai baca pada pukul 18.00 dan selesai 21.45. Tiga jam empat puluh lima menit diselingi beberapa interupsi. Membuktikan buku ini lumayan menarik, hingga saya selalu kembali dari ragam interupsi tersebut untuk menuntaskannya.

Novel ini bercerita tentang rindu seorang anak (Vito) pada ayahnya dan saudara lelaki kembarannya. Walau pusaran utamanya ada pada tokoh Vito, tapi novel ini juga mengupas kehidupan masa lalu orang tua vito bahkan leluhur desa yang Vito diami. Desa Sidenreng. Konflik yang hadir seputar rindu anak, kisah cinta yang terpisah karena beda keyakinan dan adat serta tekad sekelompok anak desa yang memiliki mimpi berkat guru yang tulus mendidik.

Dari judulnya, penulis begitu cerdik memilih kata dan diksi. Saya suka sekali dengan judul ini. Dari penokohan, begitu kuat dan seimbang antara tokoh sentral dengan pendukungnya. Dari setting, saya jatuh cinta! Penulis mampu meyakinkan saya tentang kearifan lokal, adat-adat suku Bugis dan mengupasnya perlahan bagaikan bawang. Alurnya pun begitu lincah, maju mundur tanpa cela. Diksi yang digunakan pun begitu indah. Sayangnya ending novel ini membuat saya penasaran. Dan saya paling tidak suka dibuat penasaran! Bisa jadi, novel ini dikembangkan menjadi sekuel, karena menurut saya, masih belum tuntas.. Hahaha

Hanya saja, entah mengapa ketika membaca novel ini mengingatkan saya pada gaya penulisan Tere Liye untuk serial anak-anak mamak dan juga Andrea Hirata untuk serial Laskar Pelanginya. Apakah karena tokoh sentralnya sekelompok anak di desa terpencil yang akhirnya menjadi lebih baik karena seorang guru dan sekolah sederhana yang tulus?

Kelebihan: pemaparan yang begitu lokal, membuat saya semakin mengenal tentang suku Bugis dan sedikit daerahnya. Cerita yang ditawarkan pun, terasa nyata dan tidak begitu klise.

Kekurangan: cukup mengecewakan ketika saya menemukan typo di beberapa bagian. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan novel pemenang kedua (novel ini adalah pemenang pertama lomba novel republika 2012).

Bintang: 4,5 dari 5.

Meta morfillah
Profile Image for Indah.
22 reviews
April 4, 2013
Kisah Remaja Bugis Tanggung yang merindu Saudara kembarnya dan Sosok seorang Ayah.
Berlatar disuatu Desa di Sidendreng Rappang Sulawesi-Selatan. Berkisah tentang vito yg sedang mencari saudara kembarnya, memupuk kerinduan yang mendalam untuk bertemu sosok Ayahnya dan Vino (saudara kembarnya).

"cinta serupa medan laga, jika kurang tangguh maka akan takluk didepan luka"

Agak cengeng, mengharu biru..huhuhu, tapi keren...
Profile Image for Muhammad Ridwan.
193 reviews25 followers
November 8, 2013
Saya yakin, kalau saja sosok Vino dan Ilham diberikan porsi yang lebih, pasti novel ini jadi lebih menarik. Dan juga, coba kalau bab-bab akhirnya gak aneh bin so nge-twist tapi gagal, pasti bisa lebih logis dan gak terlalu nyesel membaca novelnya.

Jujur aja sih, bab pertama saja sudah pingin meletakkan novel ini, tapi, hati nurani saya ternyata ingin sekali-kali dijejali novel islami :D . Yang paling parah kesalahannya dan jelas terlihat ya keterangan musim di bab awal.
Profile Image for Ferindra.
15 reviews8 followers
December 25, 2013
kisah kerinduan saudara kembar,
kisah cinta buta halimah dan ilham,
kearifan pak amin,
sebenarnya hampir saya beri rate bintang 5, terlebih lagi bagaimana cara gegge menyelipkan pesan-pesan dakwah di sela cerita, sangat mengena dengan contoh yang gamblang. juga cita rasa bugis yang sangat detil, mempesona.
namun, ending ceritanya, ah, sayang sekali.
this book, deserved for 3.75 stars (if i could)..
Profile Image for Silmi Nurul 'Adilah.
24 reviews
October 30, 2012
novel yang keren :) dengan penjelasannya yang bikin pembaca ikut kebawa ke danau, kebun jambu mete, sungai kering, sampe ke samarinda :)) titian kata yang dipilin buat jadi benang rindu yang jujungnya terikat di tempat yang tepat tuh udah apa banget kerennya :D dipulas karakter islami bikin buku ini makin kede, and worth to read :D
Profile Image for Dinny.
1 review2 followers
November 20, 2013
Sad Ending. Kental dengan budaya lokal. Terlalu deskriptif dan agak bertele-tele dalam menggambarkan setting tetapi sarat makna. Banyak pelajaran yang bisa diambil disetiap potongan ceritanya. Cukup menginspirasi pembaca. Unsur humornya pas untuk genre buku sejenis. Sedikit bisa bermuhasabah dengan buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Prasetyaningtyas.
39 reviews1 follower
March 31, 2013
Buku ini menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang rindu akan kehadiran ayahnya. Selain rindu ayahnya, anak ini juga rindu dengan saudara kembarnya.
Cerita dalam buku ini berlatarkan buda dan agama, sehingga dapat memperkaya kita tentang buda yang ada di Indonesia ini.
Profile Image for Lolli Adriani.
52 reviews5 followers
January 31, 2013
novelnya lucu, bikin ketawa, nangis, terharu. lengkap semua deh. sederhana, tapi indah.
:)
Profile Image for Ixancool.
6 reviews
October 22, 2012
Bagus, sulit ditebak, humoris, terutama sy org bugis jadi rindu kampung halaman
Displaying 1 - 30 of 34 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.