Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kill the Radio - Sebuah Radio Kumatikan

Rate this book
English

127 pages, Paperback

First published January 1, 2001

1 person is currently reading
73 people want to read

About the author

Dorothea Rosa Herliany

39 books18 followers
Dorothea Rosa Herliany (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963) adalah seorang penulis dan penyair Indonesia.

Setamat SMA Stella Duce di Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Sastra Indonesia, FPBS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (kini Universitas Sanata Dharma) dan tamat dari sana tahun 1987.

Ia mendirikan Forum Ritus Kata dan menerbitkan berkala budaya Kolong Budaya. Pernah pula membantu harian Sinar Harapan dan majalah Prospek di Jakarta. Kini ia mengelola penerbit IndonesiaTera di Magelang.

Ia menulis sajak dan cerpen. Kumpulan sajaknya: Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), dan Kill the Radio (Sebuah Radio, Kumatikan; edisi dwibahasa, 2001). Kumpulan cerpennya: Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (31%)
4 stars
21 (30%)
3 stars
18 (26%)
2 stars
6 (8%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for rooslain wiharyanti.
3 reviews3 followers
January 4, 2008
Saya menemukan hal baru dalam puisi-puisi Dorothea, hal yang biasanya tidak saya temukan dalam puisi-puisi sastrwawan Indonesia pada umumnya dan perempuan penulis pada khususnya. Biasanya, sastrawan menulis tentang masalah politik dengan nada marah atau emosi yang meluap-luap. Puisi-puisi Dorothea yang terangkum dalam bagian “Sampah Kata-kata” menyampaikan tema-tema politik dengan ‘bijaksana’ dan ‘tenang’.
Dalam “Simphoni Tanpa Warna”, Dorothea berbicara tentang dominasi partai Golkar di Indonesia pada masa orde baru dengan indah. Ia mengibaratkan partai terbesar di Indonesia tersebut sebagai “matahari tua paling buruk di atap rumahku” yang digambar “seseorang tua, yang rapuh dan renta, tak bosan mencari dan berlari”. Di sana terasa kebencian dan kegelisahannya terhadap dominasi itu. Ia menggambarkannya cukup dengan tanda seru (!) di akhir kalimat “langit tidaklah biru: namun kuning semata!” dan penggambaran narator akuan yang merasa sebagai siput yang “mengusung rumah kegelisahan dari rawa ke rawa”.
Tak ada kata makian dalam puisi itu. Tak ada fakta-fakta sejarah yang biasanya memadati dan mengurangi keindahan sebuah karya sastra bertema politik. Dorothea menyampaikan tema-tema itu dalam keperempuanannya dengan bercerita dan membagikan perasaan yang dialaminya dalam sebuah deskripsi rasa. Namun, ia jiga tidak bercengeng-cengeng dan berurai air mata dalam puisinya. Ia merenungkan benar-benar tentang masalah-masalah politik itu sehingga ia dapat memberikan gambaran yang tepat tentang apa yang terjadi.
Bait terakhir dalam “Tentang Dua Orang Tua” yang menurut Harry Aveling dalam pengantar buku ini, berkaitan dengan Suharto dan Abdurrahman Wahid, mengatakan bahwa kacaunya kepemimpinan di Indonesia akibat dua tokoh pemimpin negara itu masih melanggar batas-batas kroni, kolusi, dan nepotisme. Demikian dalam “Sebuah Sajak Airmata” yang ditujukan untuk M atau Megawati, stu lagi presiden Indonesia. Kepada pemimpin negara yang perempuan itu, Dorothea mengungkapkan pengertiannya terhadap sikap Megawati yang tidak banyak bicara, “tetapi tak penting lagi berkatakata/udara ini hanya terbuka untuk segala omongkosong”.
Sebait terakhir dalam “Sebuah Radio Kumatikan –fragmen ke 23, kepada XG” juga mampu mengungkapkan permasalahan Timor Timur. “Sesungguhnya kita hanya ingin berebut tempat/dalam sehalaman buku sejarah. Yang mungkin hanya akan kita tulis dan kita baca sendiri”. Dorothea menggambarkan perebutan tanah sebagai “keinginankeinginan kosong”.
Bukan hanya masalah politik, Dorothe ajuga berbagi pemahaman mengenai budaya posmodern televisi dalam puisi “Episode Sebuah Serial Pop”. Dalam puisi itu, ia membicarakan tentang ekspoitasi tubuh perempuan, selebriti dengan gosip-gosip rumah tangga mereka, dan “berita koran: tentang rahasia umum segala kebohongan manuisa...” Ia menyimpulkan semua itu dalam larik penutup “untuk menjadikan semua terhibur”.
Emosi dalam puisi-puisi Dorothea meninggi bila ia berbicara mengenai pernikahan, relasi laki-laki dan perempuan, dan cinta. Di sana tergamvar jelas kebencian, kemarahan, dan tak adanya keercayaan terhadap hal-hal tersebut. Ia mengatakan dalam “Surat Cinta”, bahwa kesadaran –meskipun kadang labih buruk—tapi suci dibandingkan dengan cinta.
Ia jelas-jelas mengatakan “tapi aku menikahimu tidak untuk setia” dalam puisinya “Buku Harian Perkawinan”. Dalam puisi itu pula ia mengejek kaum laki-laki yang senang bersembunyi di antara ketiak ibu dan “telah menjadi budak penurutku”. Ia pun ingin menguasai mereka dengan berkata, “sekarang biarlah kudekap engkau, sebelum kulunaskan puncak laparku!”.
Kesebalannya melihat sikap perempuan yang pasrah dan tidak melawan, sereta laki-laki yang menindih mereka, jelas tertumpah dalam “Hikayat Bulan”. Ia mengatakan dengan lantang pada kaumnya, “Bawa sangkurmu, dan libas lelaki yang menindihmu/--dalam satu bisikan mematikan!/lalu campakkan umpama sampah!”
Profile Image for wen.
88 reviews1 follower
December 4, 2021
༎ຶ‿༎ຶ༎ຶ‿༎ຶ༎ຶ‿༎ຶ༎ຶ‿༎ຶ༎ຶ‿༎ຶ༎ຶ‿༎ຶ
Profile Image for Inasshabihah.
42 reviews
September 2, 2023
Pengalaman membaca puisi-puisi inj harus ku bilang cukup nikmat, beberapa ku suka.
Profile Image for Nadia Fadhillah.
Author 2 books43 followers
July 31, 2012
Aku gak ngerti gimana caranya bilang sudah selesai baca sebuah buku puisi.
Karena, entah sampai kapanpun, bagiku, sebuah buku kumpulan puisi tidak akan pernah selesai dibaca.

Aku membacakan salah satu puisi Dorothea Rosa di Radio Buku, puisinya yang Hikayat Bulan, tahun 2000. halaman 22. Kalau mau filenya, aku punya. Gak berat kok. Sini, minta emailnya.
Profile Image for owl.
162 reviews
March 31, 2016
Kata-kata yang lantang untuk mendobrak pandangan umum soal cinta dan seksualitas perempuan. Bahwa perempuan tidak melulu jadi yang subordinat dalam urusan yang dua itu. Juga kata-kata yang bersuara, sebagai respon, sikap, dan kritik terhadap situasi politik masa itu, yakni orde baru sampai pada keruntuhannya, karena sebagian besar puisi ditulis dalam rentang tahun '96-00.
Profile Image for Wicak Hidayat.
Author 6 books9 followers
July 6, 2007
i fell in love with dorothea's words in this book. and learn a bit something about translating poetry by reading Aveling's translation to englisg.
1 review
October 14, 2010
good books..
i think..
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
Read
May 8, 2015
puisi merupakan suatu tulisan yang sulit untuk dimengerti
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.