Sebuah peti mati berisi mayat seorang wanita keturunan ningrat lenyap dari rumah duka rumah sakit. Bukan karena dicuri. Peti mati itu mendadak bergerak sendiri, maju-mundur mengambil ancang-ancang lalu naik kemudian terbang menghilang di tengah kegelapan malam.
Keberadaan mayat si wanita tidak pernah lagi diketahui. Akan tetapi peti matinya sendiri secara mengejutkan muncul di beberapa tempat, dan tiap kali muncul lantas menghilang lagi, benda mengerikan itu selalu meninggalkan korban yang mati terbunuh secara kejam dan brutal.
Mengikuti getaran indra keenamnya, Bursok, polisi yang terkenal dengan dedikasinya yang tinggi, berusaha keras melacak lalu memburu sang peti mati maupun dalang di belakangnya. Dibantu oleh Linda, janda muda jelita yang di dalam tubuhnya mengalir darah supranatural, Bursok berhadapan dengan kenyataan mengejutkan yang sarat dengan muatan magis. Berawal dari perselingkuhan dan persaingan sepasang pangeran bersaudara di masa silam, seseorang di masa kini menyusun kekuatan mengerikan untuk merebut apa yang ia anggap sebagai hak warisnya yang sah: takhta kesultanan Cirebon.
Abdullah Harahap dikenal sebagai penulis horor Indonesia yang sangat produktif khususnya di era 1970 dan 1980-an. Ia mulai menerbitkan cerita pendek sejak kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan bandung, Jurusan Civic Hukum (tidak tamat). Awalnya Abdullah banyak menulis novel populer bertema percintaan, namun sejak 1975 ia sepenuhnya meninggalkan tema tersebut dan menulis sekitar 70 judul cerita horor dan misteri. Novelnya, Dikejar Dosa, dimuat di Tabloid Stop dan diangkat ke layar lebar oleh sutradara Wim Umboh. Judul-judul buku Abdullah Harahap antara lain adalah Sumpah Leluhur, Manusia Serigala, Menebus Dosa Turunan, Dendam Berkarat dalam Kubur, Misteri Anak-anak Iblis, Langkah-langkah Iblis, Tarian Iblis, Panggilan Neraka, dan Babi Ngepet. Buku-buku tersebut dicetak dalam format buku saku setebal 100-300 halaman, dengan sampul yang sering tidak mencantumkan tahun terbit maupun ISBN.
Tahun 1990-an, ia mulai berhenti menulis novel, meski tidak total dan mulai beralih membuat skenario untuk siaran televisi, khususnya yang bertema roman dan horor. Sejak itu pula novelnya mulai langka di pasaran. Di tahun 2010 tiga orang pengarang yakni Intan Paramaditha, Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad berkolaborasi membuat suatu proyek pembacaan kembali karya Abdullah melalui kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan. Gairah terhadap genre horor ini kemudian disambut pula oleh Paradoks, anggota Kelompok Kompas Gramedia, dengan meluncurkan Misteri Perawan Kubur, karya lama Abdullah.
Baru sekarang punya novel horor karya Abdullah Harahap, ini pun karena meunang obral. Waktu SMP pernah pinjam di taman bacaan, tapi malas bacanya karena kualitas cetakannya yang sungguh menyedihkan. Terbitan paradoks ternyata bagus cetakannya. Ceritanya juga lumayanlah, meskipun ternyata... bersambung! Huh.
wajar jika ada yang menyebut Abdullah Harahap sebagai maestro horror Indonesia, kepiawaiannya dalam meramu cerita setidaknya mampu memelihara rasa penasaran saya bertahan membaca hanya untuk tahu bagaimana kisah ini ditutup, tp akhirnya harus kecewa karena kisahnya baru akan berakhir di buku ke-2.
Kisah dibuka dengan kejadian terbangnya sebuah peti mati membawa serta sesosok mayat korban tabrak lari di dalamnya. hilangnya peti membuat gempar kota cirebon, belum lagi empat kejadian ganjil beruntun yang melibatkan peti mati, yang kesemuanya meminta korban nyawa. AKP Bursok kepala satserse polres cirebon dibuat kesal sekaligus bingung menghadapi kasusnya kali ini. Linda seorang saksi yang memiliki kemampuan suprnatural bersama ki Abimanyu kakeknya membuka mata Bursok melihat titik terang dari kasus peliknya, bagaimana kisah ini berakhir, siapa sebenarnya Juarsih? apa kaitannya dengan Kerajaan Sukamandi di masa silam? masih jd misteri.
Cerita dalam buku ini memiliki nafas sama dengan buku2 milik S. Mara GD, yang aku sukai. Awalnya sempat mengira bahwa buku ini berasal dari waktu yang sama pula, cetak ulang begitu tp ternyata tidak. Cetakan pertama dari buku ini terbit 2010 lalu. Belum cukup lama.
Aku penasaran. Itu saja. Ini bukan semata kisah mistik nan gaib tp menyangkut sejarah masa silam yang tentu membuat pembaca jd ingin mencari tahu lbh banyak. Mungkin di sana daya tariknya.
Selebihnya aku cukup terkejut dengan unsur dewasa dalam cerita. Oh ya! Aku tahu kalau novel2 pop sekarang ini tidak tabu membicarakan hal2 yg vulgar seperti halnya novel terjemahan, hanya saja ini baru pertama kalinya aku menenukan novel lokal yang unsur dewasanya demikian vulgar .__.
Buku ini memuat salah satu kepingan informasi yang saya cari selama ini. Soal Sibolangit dan ilmu karung goni sebagai teleporter itu. Salut buat Pak Abdullah Harahap yang berhasil meramu mistik Nusantara menjadi novel sekeren ini.
=EDIT=
Ada adegan 'saru' yang lebih baik tidak ditampilkan di akhir buku kedua. Adegan itu merusak suasana keren yang sudah ditampilkan sejauh ini.
Menurut saya lebih condong ke arah fantasi dan misteri daripada horor. Kecuali adegan paling horor di buku ini, yaitu adegan mayat perempuan di-gang bang kawanan monyet. Hardcore!
Sejauh ini belum tertarik membaca buku keduanya, sih.
Setelah menyelesaikan Kumpulan Budak Setan, saya mencoba untuk membaca karya Abdullah Harahap. Beberapa bagian dari buku ini menarik hingga membuat saya harus melanjutkan membacanya. Cerita tentang sebuah peti mati yang terbang dan seorang polisi yang mencoba memecahkan masalah ini.