Jump to ratings and reviews
Rate this book

Satan's Tragedy and Redemption: Iblīs in Sufi Psychology. With a Foreword by A. Schimmel

Rate this book
Pencitraan yang dilakukan para mistikus muslim atas sosok iblis seperti yang diretas Awn dalam buku ini memang suatu yang menarik. Sebab meski sejarah keberangkatannya sama, ternyata memunculkan dua pencitraan yang tidak saja berbeda, tetapi saling bertolak belakang. Buku yang mulanya berupa tesis doktoral di Universitas Harvard pada 1978 ini dengan apik telah membongkar dua pencitraan itu. Sebagai peneliti, Awn menghindar dari keterlibatan dalam dua pencitraan yang saling kontradiktif itu. Ia hanya hendak menjelaskan logika berpikir yang digunakan para mistikus dalam pencitraannya atas sosok Iblis tersebut dan sekaligus ingin menunjukkan bahwa iblis di mata mistikus ternyata tidak hanya diidentikkan dengan klaim pembangkangan, tetapi juga diklaim sebagai sang monoteistik sejati.

248 pages, Leather Bound

First published January 1, 1983

Loading...
Loading...

About the author

Awn

1 book

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (44%)
4 stars
10 (29%)
3 stars
6 (17%)
2 stars
1 (2%)
1 star
2 (5%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Sara.
1,802 reviews564 followers
May 10, 2025
یعنی میشه یه روز بشینم برا این ریویو بنویسم تا کامل یادم نرفته چیا میگفت؟ الان فقط یه کپه هایلایت ازش دارم.
کتاب جالبی بود واقعا. ترجمه‌اش هم به نظر خوب بود و خودمم از فیدیبو خوندمش. حالا خیلی تحقیقی و پایان‌نامه طور بود ولی به من که خوش گذشت خوندنش.
۱۴۰۳-۱۴۰۴
Profile Image for gieb.
222 reviews78 followers
July 5, 2010
Jadi, siapa sebenarnya Iblis ini? Saya yakin, selama ini kita mengenal sosok Iblis ini dari kutipan kitab suci dan petuah bijak para nabi. Selain tentu saja informasi ini diperbarui dengan aneka film dan cerita tentang para Iblis ini. Kutipan, omongan, cerita fiksi pun non fiksi inilah yang membentuk alam kesadaran kita tentang siapa sebenarnya Iblis. Sulit juga mem-visual-kan Iblis ini dalam tiga dimensi. Apakah dia bertampang seram, berkulit merah, berambut api, atau yang lain? Apakah setan pocong, kuntilanak, genderuwo, itu termasuk dalam kategori Iblis?

Seorang Islam formal ortodoks, akan memberikan definisi bahwa secara umum bahwa Iblis memang dilekatkan dengan klaim citra tentang laku pembangkangan seorang makhluk pada kehendak dan titah Tuhan, serta penggoda iman manusia, pembius hati manusia menuju jalan kesesatan. Dan kalau ditanya lebih jauh tentang sosok Iblis pasti akan mengutip sebuah ayat: "Sesungguhnya Iblis itu adalah musuh yang nyata bagimu". Dari beberapa klaim ini, sebenarnya belum ada titik terang yang menerangkan siapa gerangan sosok Iblis ini.

Memang tak terhitung Hadits Rasulillah yang menyinggung tema yang enigmatik seputar Iblis. Salah satunya adalah penyebutan ketika Iblis menetaskan tujuh telur yang masing-masing berujud tujuh bocah Iblis sebagai bala tentara terpilih yang berjuluk Mudahhish, Hasist, Zalanbur, Miswat, Dasim dan A'war. Mereka bersemayam di pasar, perempuan sundal, kamar mandi, puisi, dan tempat-tempat maksiat.

Ketujuh keturunan Iblis ini, menurut Al Muhasibi, harus senantiasa diwaspadai dalam ruang tergelap kalbu manusia. Karena, sebagaimana diwejangkan Kanjeng Nabi, "Sesungguhnya Iblis itu melarutkan tipu liciknya dalam aliran darah manusia". Legenda tentang Iblis yang bermuasal dari Al-Quran juga literatur Hadits selanjutnya menjadi topik sentral di mana benih-benih biografi Iblis meruah dalam pelbagai kajian. Di antaranya pada sekisar dramatisasi penolakan dan godaannya terhadap Adam dan Hawa juga para nabi sesudahnya. Iblis yang riwayatnya pernah menggegerkan takhta akhirat itu tentu dicatat dengan tinta merah oleh kebanyankan kaum beriman sebagai musuh terbesar nan terkutuk.

Namun sebaliknya, misteri pembangkangan dan selubung remang-senyap kepribadian Iblis justru menggelindingkan setampuk wacana diskursif bahwa pada dirinya sejak azali tersemat misteri lain yang menggelontorkan inklusivisme dan dialektika yang paradoksal dan, lantaran itu, menjadi kontroversial. "Dialah makhluk yang lebih bersifat monoteistik ketimbang Tuhan itu sendiri," begitu komentar Iqbal seraya menirukan kegundahan Attar dalam kitabnya Mazharul Aja'ib.

Bahkan Al Hallaj justru mengakui tanpa tedeng aling-aling saat ia berkata dalam Tawasin-nya, "Guru spiritualku adalah Iblis dan Fir'aun". Tentunya paham-paham seperti ini timbul karena pemahaman dan penafsiran yang mendalam atas pembangkangan Iblis. Pembangkangan yang dilakukan Iblis terhadap perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam, oleh sebagian sufi justru dipandang sebagai bentuk sikap yang muncul dari proses kesadaran monoteistik sejati (penunggalan Tuhan). Sebut saja misalnya sederet mistikus bersama karya mereka: Ibnu Ghanim (Taflis Iblis), Al-Hallaj (Tawasin), Attar (Musibatnama, Lisanul Ghayb), 'Ainul Qudhat (Tamhidat), Al-Junaid (Kitabul Fana'), Ibnu Munawar (Asrarul Tauhid), Al-Makki (Qut al-Qulub), Al-Baqli (Masrabul Arwah), Sana'i (Haqiqatul Haqiqah), Abu Nuaim (Hilyatul Auliya'), Ibnu Arabi (Ruhul Quds), hingga Iqbal di mana Hellmut Ritter kerap mengulas fenomena tragis Iblis dalam bebaris puisi Javid Nama-nya.

Buku ini ditulis oleh Peter J. Awn, salah satu murid Annemarie Schimmel yang kita tahu bersama adalah seorang teolog dengan karya-karya yang mendunia. Dalam buku ini dikisahkan beberapa sejarah Iblis dari beberapa versi dan penafsiran Iblis dari beberapa tokoh sufi. Dalam penutupnya, Peter menjelaskan, bahwa buku ini belum tuntas untuk membahas seorang Iblis yang sebenarnya. Oleh karenanya masih dibutuhkan kajian yang mendalam dan rujukan sumber yang lebih luas untuk memberikan tafsiran yang tepat tentang sosok Iblis.

Fokus dari kajian Setanologi dalam buku ini adalah Iblis merupakan simbol yang sempurna dari metode ekspresi spiritual. Karena intensitas citra kontemplatifnya, Iblis menjadi model ketaatan monoteistik. Namun, dedikasinya terhadap pikiran monoteistiknya itu telah menggerakan dirinya untuk tidak mematuhi perintah Tuhan bersujud kepada Adam.

Al Ghozali memberikan satu ilustrasi tentang alasan penolakan Iblis untuk bersujud di hadapan Adam (berupa percakapan antara Iblis dan Musa, terdapat dalam kitab al-qussas wal-mudzakkirin:

"Tidak pernah! Aku tidak akan pernah bersujud kepada seorang manusia. Wahai Musa, engkau mengaku mengalami penyatuan dengan Allah, tetapi akulah monoteis yang sebenarnya yang tidak pernah memberikan perhatian kepada yang lain selain Dia. Engkau berkata kepada Allah, "Pandanglah aku!" Tetapi engkau memandang ke arah gunung. Aku lebih beriman daripada engkau dalam monoteisme. Dia berkata kepadaku, "Sujudlah kepada yang lain!" Aku tidak bersujud, tetapi engkau berpaling untuk melihat. Dan Musa berkata kepadanya, "Bentuk lahirmu telah berubah dari bentuk malaikat menjadi bentuk setan". Dia menjawab: "Bentuk itu berubah dan akan terus berubah. Wahai Musa, setiap saat Dia menambahkan cinta-Nya untuk seseorang yang selain aku, aku akan meningkatkan cintaku untuk-Nya. Musa bertanya kepada iblis, "Apakah kau masih mengingat-Nya?" Iblis menjawab. "Aku adalah seseorang yang diingat, yang Dia selalu mengingat: "Bagimu kutukan-Ku! Tidakkah Dia telah menggabungkan 'Aku' dalam kutukan-Ku dan 'engkau' dalam bagimu di dalam pernyataan kutukan itu?" Dan Al Ghozali berkata, "Ketika Iblis diusir, dia tak mengurangi ketaatannya, tidak juga cintanya, dan tidak juga dzikir-nya ke dalam cara yang lebih rendah".

Dari cerita ini, dapat kita ambil pelajaran bahwa Allah mengutuk Iblis karena penolakan dan memisahkan dirinya dari Alam Ketuhanan. Karena Yang Maha Pengasih berkenan untuk memandangnya sekalipun pandangan itu berupa sebuah kutukan, Iblis menerima kehancurannya itu seperti sebuah mahkota kesyahidan. Bagi Iblis, kutukan adalah makanan kehidupan, dan kemurahan Allah adalah racun. Iblis yang dengan bebas memilih penderitaan -karena jauh dari Allah- menyadari bahwa pemisahan lebih dia sukai karena hal itu merupakan pemenuhan keinginan Tuhan dan bukan keinginan dirinya yang egois.

Usaha untuk merehabilitasi 'nama baik' Iblis ini dilakukan oleh kaum mistikus sufi. Seperti yang dirumuskan Al-Hallaj. Bagi Al-Hallaj, hanya ada dua monoteis di dunia ini: Muhammad dan Iblis. Tetapi Muhammad merupakan harta berharga rahmat Illahi, sedangkan iblis menjadi harta kemurkaan Illahi. Dalam teori Al-Hallaj, kehendak Allah yg kekal ialah "Tidak ada yang disembah selain Allah". Dan Iblis menolak menghormati seorang makhluk ciptaan, sekalipun ada perintah secara jelas dari Allah. Al-Hallaj menerjemahkan protes Iblis itu dalam kwatrin yang terkenal: "Pemberontakanku berarti memaklumkan Kau Kudus".

Nah, buku ini memang menyisakan pertanyaan besar seputar hubungan Iblis dan Tuhan. Peter A. Jawn mengutip pendapat dari R.C. Zaehner dalam Our Savage God, peran Iblis adalah sebagai instrumen Tuhan dalam celah-ceruk probabilitas amr dan iradah-Nya. Karena instrumen Iblis tak lain menebarkan penderitaan dan kerusakan, kendati semua tanggung-jawabnya terkembali pada Tuhan. Maka, pertanyaan yang muncul kemudian apakah Tuhan terlibat atas kebejatan yang dilahirkan Iblis? Tetapi mengapa Tuhan tidak mengendalikan Iblis dan mencegah penyebaran kejahatannya? Sebab, bagi Zaehner, masih ada kejahatan dalam hati Tuhan yang paling rahasia. Dia-lah Al-Rahman sekaligus saevus dues, Yang Maha Pengasih juga Yang Maha Kejam dan Penghancur yang menakutkan.

Akhirnya, Fatiha untuk si Terkasih yang Terkutuk ini.
Profile Image for Seyed Morakabi.
Author 7 books156 followers
August 16, 2017
در میانه‌ی رمضان یادداشت کوتاهی نوشتم در باب شیطان. چند گزاره بود که از قرآن استخراج کرده بودم. گزاره‌هایی که به نظرم مقصود از بیان برخی داستان‌های قرآن بودند و در زندگی به کار می‌آمدند. در طول یادداشت، شیطان برای من یک شخصیت و کاراکتر و کانسپت و نماد بود نه یک شخص.
این کتاب، تحقیقی است که در دانشگاه هاروارد انجام شده است. فصل اول کتاب به بررسی شیطان در احادیث اهل سنت می‌پرداخت. خوشم نیامد. فضل بعدی قرآن بود و تقریبا همه‌ی گزاره‌ها به جز تضاد شیطان با رحمان را آورده بود. فصل قرآن نظرم را در مورد کتاب و تسلط نویسنده به منابع عوض کرد. فصل‌های بعدی به متون صوفیان بزرگ می‌پرداخت. داستان‌ها و بن‌مایه‌ها را استقرا کرده بود و به عناوینی عجیب و جذاب رسیده بود:
- ابلیس یک چشم که سرشت خاکی انسان را دید اما روح الهی وی را ندید.
- ابلیس گناه «من» که خودبرتربینی‌اش او را بدبخت کرد.
- ابلیس میان اراده و امر خدا و شکل‌گیری شخصیت ابلیس در میانه‌ی فرمان سجده و اراده به عدم سجده از سوی خداوند.
- ابلیس واعظ و موحد و شهید که سجده به مخلوق را روا نمی‌داند و تنها عاشق خالق است.
- ابلیس حاجب که رسیدن به درگاه الهی جز با پشت سر گذاشتن او ممکن نیست.
همچنین در فصل جمع‌بندی نیم‌نگاهی به سرشت شر و تضاد و نسبت این‌ها با خداوند شده بود و بسیار شیرین بود. تسلط و مقوله‌بندی‌های نویسنده در بخش‌هایی از کتاب که با نویسنده حوزه‌ی مشترک مطالعاتی داشتم، مرا به تحسین واداشت. به همین شیوه می‌شود کتاب‌هایی نوشت در باب همه‌ی انبیاء و همه‌ی پدیده‌های طبیعی در قرآن و سنت و میراث تصوف. چیزی که شاید ذیل عنوان علمی انسان‌شناسی نمادین بگنجد. امیدوارم خداوند خانم شیمل را بابت معرفی این کتاب بیامرزد و کوشش‌های نویسنده را قبول فرماید. در ستایش ترجمه نیز همین بس که مترجم غایب بود. نیک می‌دانم که ترجمه‌ی چنین کتاب پرحجم و پر تحقیقی چه کار دشواری است. خدا ایشان را نیز اجر دهد. کاش روزی برسد که نمادهای دینی را بفهمیم و نیازی نباشد نام‌هم‌زبانان اقصای جهان و ینگه‌ی دنیا بیایند و ترجمه‌های پدران دلسوز و موحدمان را از دین به یاد ما بیاورند.
Profile Image for aleks.
28 reviews
Read
November 25, 2024
minu järeldus on, et iblis on stockholm sündroomiga kreizi ex armuke
Profile Image for Daniyal Khev.
1 review
Read
September 21, 2017
kisah hidup sang iblis dimata para sufi
kisah sang iblis yang menceritakan tentang kehidupannya yang malang penuh tragedi
curhatan sang iblis tentang bagaimana perjalanan hidupnya dimulai.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews