1. Nyanyian Sepanjang Sungai. 2. Pembunuhan. 3. Manusia Kamar. 4. Ngesti Kurawa. 5. Daun. 6. Cerita Dari sebuah Pantai. 7. Tante W. 8. Matinya Seorang Pemain Sepak Bola. 9. Katakan Aku Mendengsrnya. 10. Matinya Seorang Wartawan Ibukota. 11. Selingan Perjalanan. 12. Khayalan Dari Tepi Kolam Renang. 13. Tentang Seorang Kawan. 15. Khayalan Dari Dalam Bis Yang Meluncur. 16. Matinya Seorang Penari Telanjang.
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Salah satu buku SGA yang patut dibaca bagi para penggemarnya. Meskipun beberapa cerpen sudah juga muncul di kumcer yang lain, tetapi dari Manusia Kamar kita bisa melihat betapa ketika berumur awal dua puluhan, Seno seperti telah digariskan menjadi maestro sastra Indonesia. Cerita pendek yang hadir di sini tidak saja mencerminkan kualitas beliau yg mumpuni justru di usia yg begitu belia, tetapi juga penghayatan yg menyeluruh dakam setiap detail cerita yg ditulisnya. Menakjubkan. Dan satu hal yang saya senangi ketika membaca semua cerpen SGA adalah bahwa kita selalu bisa merasa menulis sebaik beliau. Lihatlah kosakata dan cara dia bercerita, begitu sederhana sekaligus begitu dalam.
Cerpen2 kali ini mengambarkan isu sosial yang cukup variatif dan dijabarkan oleh Pak Seno dg baik dan lugas. Aku cukup menikmati penggambaran lingkungan yang diangkat melalui berbagai cerita pendek yang disajikan. Beberapa kali sempat membuatku berpikir keras dan refleksi sbg seorang introvert yg dulu enggan bertemu dg manusia karena capek dg pola pikir dan juga tingkah laku mereka, seperti di cerita Manusia Kamar. 🏠
Pertemuan saya dengan buku ini sebenarnya lumayan lucu. Situasinya agak sulit diceritakan, pokonya saya jadi terpaksa fotokopi buku ini ke Kineruku waktu kebetulan mampir pulang Bandung karena ada seorang teman yang katanya sakau baca SGA (ini bukan hiperbola, dia emg sakau beneran).. dan karena teman saya ini udah tua dan mulai pikun, dia lupa udah janjian sama saya buat ngasihin buku ini - jadi saya memanfaatkan kepikunan dia dengan menggasak buku sialan ini.
Setelah menggasak isinya? Wah, saya jadi paham mengapa kawan saya itu tergila-gila dgn SGA. Seharian, saya benar-benar jadi manusia kamar karena tidak bisa berhenti membacanya. Saya sempat tidak percaya bahwa cerpen-cerpan ini ditulis oleh SGA ketika berumur sangat muda (18-24 tahun). Cerpen-cerpen ini ditulis dengan pemikiran yang sangat matang. Apalagi banyak sekali cerita-cerita yang mengambil sudut pandang "tua" seperti tema-tema pernikahan, kematian, tanggung jawab, dan juga kebijaksanaan.
Dari semua cerpen, favorit saya adalah "Ngesti Kurawa". Bukan karena saya suka cerita pewayangan dan cerpen ini satu-satunya cerita yang memiliki unsur pewayangan. Tapi karena memang cerpen inilah (menurut saya) yang paling bisa mencerminkan kualitas seorang penulisnya.
Saya memang belum terlalu banyak baca buku SGA. Tapi buku yang satu ini seperti obat bius yang membuat kita sulit kembali ke dunia nyata. Bagaimana dengan cerpen-cerpennya yang lain yah? Saya jadi penasaran ingin membaca karyanya yang lain :)
Buku terbitan lama, yang agaknya sedikit related kembali di masa pandemi sekarang ini. Yah, saat tragedi pandemi saat ini membuat penghuni bumi diminta masing-masing pemangku negerinya untuk mengurung diri di rumah, Seno Gumira Ajidarma sudah memaksa tokoh ciptaannya melakukan tindakan absurd saat itu (1980). Disebut absurd karena tokoh ciptaannya, seorang penulis yang rajin ikut lomba penulisan esai pembangunan, hilang dari garis edar pergaulan lantaran mengunci diri dalam kamar. Sebut saja dia si Manusia Kamar sebagaimana judul ceritanya. Si Manusia Kamar adalah ikon dari lockdown dalam arti yang sesungguh-sungguhnya. Buku kumpulan cerita Manusia Kamar ini bisa kembali di baca untuk menstimulus kita, bahwa terdapat teladan dari tokoh manusia kamar memaknai seperti apa cara mengamalkan macam-macam hiruk pikuk yang musti di taati sebagai insan yang mau tidak mau tidak boleh egois karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Selamat membaca ...
Cerpen-cerpen SGA menjadi model keliaran imajinasi yang dikerjakan oleh pengarang Indonesia dengan bahasa dan gaya ungkap yang lincah, ilustratif, dan menawan. Dialog-dialognya cerdas dan mengesankan. Setiap cerpen seolah tak henti mengikat pembaca agar tetap duduk di kursi baca sekadar hanya memuaskan libido membacanya tanpa harus terganggu jeda atau kegiatan lainnya yang tidak perlu. Tentu saja, wajib baca bagi para penggemar ihwal cerita dunia yang penuh takjub ini.
Simple, tapi mengena krn soal2 remeh yg penuh kriminal. Menjangkau kesendirian yg penuh suka dan duka. Bag yg paling sa suka adalah katakan aku mendengarnya dan selingan perjalanan.
Walaupun cenderung berupa renungan, agaknya cerpen Seno juga pekat dengan persoalan-persoalan sosial. Bahkan dalam cerpen-cerpen “Ngesti Kurawa”, “Selamat Pagi bagi Sang Penganggur”, dan “Manusia Kamar”, persoalan sosial itu terasa begitu menonjol. Optimisme besar dalam menghadapi kehidupan juga menjadi ciri cerpen-cerpen ini. Optimisme yang timbul dalam sikap nrimo dan penuh humor dalam menghadapi kehidupan. Ia tak lepas dari canda dan melihat sisi segar kehidupan. Dalam kumpulan cerpen ini selalu terselip humor dan keinginan mencandai, walaupun kehidupan ini seperti yang sering ditemui Seno, penuh kepahitan dan kesedihan. ~ “Seno dan Perjalanan Kehidupan”, Harian Bandung Pos, Senin, 18 September 1989
Seger gitu bukunya meskipun ditulis puluhan tahun lalu tapi masih relevan sama kondisi sekarang. Omong2 Sukab itu siapa ya, kenapa hampir selalu ada di cerpennya SAD?