Jump to ratings and reviews
Rate this book

Back Door Java: Negara, Rumah Tangga dan Kampung di Keluarga Jawa

Rate this book
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari pintu belakang rumah kampung. Buku ini adalah sebuah buku etnografi perkotaan yang menyorot sebuah lingkungan kampung di sudut kota kraton Yogyakarta, Jawa Tengah, selama pemerintahan Orde Baru. Bertolak dari perspektif warga kampung itu buku ini mengupas budaya kelas pekerja sebagai cara untuk memahami interaksi antara masyarakat kampung dengan kekuasaan negara dan dampak kekuasaan negara, terutama pada pekerjaan dan kehidupan sehari-hari kaum perempuan. Berdasarkan kisah-kisah kehidupan kampung itu, buku ini dibagi atas tiga bagian yang secara ringkas dapat diungkapkan dengan istilah-istilah rumah, rumahtangga, dan rumah-kediaman.

“Rumah” adalah arsitektur fisik rumah kampung dan hubungannya (arsitektur) dengan pola pertukaran sosial dan hubungan keluarga. Bagi warga miskin kampung, rumah tradisional Jawa jauh dari jangkauan, tetapi bentuk fisik rumah kampung masih mencerminkan nilai-nilai kunci dalam kehidupan bertetangga di kampung. Bab ini membahas perubahan-perubahan yang terjadi dalam satu rumah dan satu keluarga dalam lingkup sejumlah rumah yang memiliki pertalian darah. Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan beberapa keluarga, perbaikan rumah dilakukan namun sambil tetap mempertahankan sejumlah aspek sosial kunci dari bentuk rumah. Rumah adalah sumberdaya ekonomi yang penting, yang tercermin dalam praktek-praktek kekerabatan. Karena itu hal-hal seperti mengasuh anak, mengangkat anak, warisan, hubungan kakak-beradik dan anak-anak juga dibahas dalam bagian ini.

“Rumahtangga” diartikan di sini sebagai ekonomi rumahtangga, yang sering dibedakan dari ekonomi formal berdasarkan pekerjaan berbayar. Bagian ini mempersoalkan garis pemisah antara umum dan pribadi ini atas dasar kisah-kisah kaum perempuan kampung dan kegiatan mereka sehari-hari. Jaringan pertukaran antar-perempuan di kampung mendukung kegiatan-kegiatan budaya kampung, seperti slametan, tetapi jaringan pertukaran itu juga terkait dengan tugas dari pemerintah, yakni tugas bagi kaum perempuan untuk mendukung upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan warga masyarakat. Bab ini mengupas bagaimana kaum perempuan dengan cara-cara mereka mendukung penghidupan kaum laki-laki yang menganggur dan setengah menganggur dan anak-anak muda yang tinggal di kampung itu. Bab ini mengajukan argumen bahwa pembangunan masyarakat di bawah pemerintah Orde Baru melalui program-program seperti Pembinaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK dimaksudkan untuk menghasilkan pekerja-pekerja yang sangat murah demi meningkatkan keunggulan banding Indonesia. Mendorong kaum perempuan untuk diam di rumah dan melakukan kegiatan ibu rumahtangga guna mendukung keluarga mereka dan masyarakat bertentangan dengan sejarah panjang kaum perempuan Jawa, yakni tradisi bekerja di luar rumah. Negara berhasil karena masyarakat digunakannya sebagai landasan bagi kesejahteraan sosial, pola yang juga digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda dan pemerintah Jepang di zaman perang.

Penggunaan kaum perempuan kampung sebagai alat untuk menghasilkan reproduksi sosial berbiaya rendah bertumpu pada ideologi kehidupan-rumahtangga-yang-tepat. Istilah “rumah-kediaman” di sini berkaitan dengan ide bahwa tempat kaum perempuan sejatinya adalah di rumah, mengasuh anak, masyarakat, dan, pada akhirnya, negara. Bagian ini membahas hasil-hasil penelitian mengenai asal usul ideologi perempuan-tempatnya-di-rumah di Barat, dan kemudian membahas bagaimana ideologi itu berkembang dan digunakan Indonesia. Ide kerumahtanggaan menyiratkan adanya suatu tatanan moral tertentu dan ide tertentu mengenai keluarga dan peranan kaum perempuan yang menempati tempat utama dalam visi pemerintah Order Baru mengenai masyarakat. Organisasi-organisasi kemasyarakatan yang dibangun kaum perempuan pada zaman kemerdekaan diserap oleh pemerintah Orde Baru, yang menggunakan program-program yang dijalankan organisasi-organisasi itu untuk memberikan pelayanan sosial berbiaya murah. Kisah dua perempuan, Bu Sae dan Bu Apik, menunjukkan bagaimana PKK dan tatanan moralitas dukungan negara digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kampung. Ketika retorika pemerintah Orde Baru mengenai perempuan yang baik digunakan untuk landasan kegiatan-kegiatan kampung, maka berbagai ide direproduksi meski tidak sesuai dengan kehidupan sehari-hari warga kampung. Bersamaan dengan itu, masyarakat kampung juga direproduksi.

284 pages, Paperback

First published January 1, 2006

2 people are currently reading
45 people want to read

About the author

Jan Newberry

4 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (30%)
4 stars
8 (40%)
3 stars
5 (25%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (5%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Repa Kustipia.
27 reviews1 follower
April 2, 2022
Buku ini dari disertasi penulis dan untuk dijadikan bahan bacaan yang muatannya tentang kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat dengan fenomena sosialnya direkomendasikan dibaca agar perspektif tentang berkeluarga itu tidak hanya berbicara peran perempuan dan laki-laki dan rumah tangga itulah cikal bakal unit analisis ekonomi termudah jika ingin mengukur suatu stabilitas ekonomi.
Nama-nama yang diceritakannya pun seperti menjelajahi kehidupan bermasyarakat sehari-hari seperti kehadiran Bu Sae, Bu Tini.
Pembahasan syukuran/hajatan/selametan itu memiliki nilai historis budaya yang perlu dihargai dan dipahami sekalipun oleh pembaca yang sudah mengaku modern, tapi ada nilai-nilai filosofi kehidupan untuk kesejahteraan.
Buku ini secara antrolologi sangat ringan dibaca.
Profile Image for Puji Hastuti.
4 reviews
December 27, 2020
Saya belum baca versi asli dari Buku ini, tapi versi terjemahannya sangat bagus. Saya suka. Ibarat kata sebuah masakan, racikan bumbu dari karya etnografi ini pas. Apalagi bagi saya yang memang tertarik pada isu konseptual "negara", "rumah tangga", dan "keluarga".
Profile Image for Marina.
2,042 reviews361 followers
April 1, 2015
** Books 96 - 2015 **

Buku ini untuk memenuhi New Author Reading Challenge 2015

3,3 dari 5 bintang!


Buku ini mengupas penelitian dari Jan Newberry mengenai apa sih Kampung, rumah, dan rumah tangga itu sendiri di Indonesia? Terlihat remeh? iya remeh tapi setelah diteliti ternyata untuk urusan hal itu semua terutama di Jawa menjadi suatu budaya/hal yang unik. Peneliti hingga melakukan penelitian dengan tinggal di perkampungan di Jogjakarta sehingga bisa berinteraksi langsung dengan penduduknya.. Ia mengontrak satu tahun rumah yang tidak belum ada yang mau menghuninya.

Apa alasan tidak lakunya?
Simpel. Rumah tersebut tidak memiliki pintu belakang.

"Tidak adanya pintu belakang tidak saja signifikan dari sisi arti pintu itu bagi hubungan kekerabatan, tetapi juga dari sisi pesan yang dikirimkannya mengenai hubungan pertukaran dalam kampung dan masyarakat dan mengenai sosio-ekonomi warga kampung yang berubah-rubah" - Halaman 15

Dalam budaya Jawa, menerima tamu sangat ditekankan. kalo misalnya ada tamu setidaknya harus disuguhi minuman (Hahaha saya yang bukan orang jawa aja merasakan hal ini LOL). nah disinilah waktu itu si peneliti ketika kedatangan tamu dan tidak ada gula dan teh. Ia minta tolong kepada Mas Yoto untuk pergi membeli gula tanpa menyadari apa yang saya minta untuk dilakukannya. Baru ketika ia kembali dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan kantong berisi gula dan teh yang terpaksa dilakukan lewat pintu depan. inilah tidak ada pintu belakang menjadi salah satu kurangnya rasa sosial..

banyak sekali sebenarnya yang dibahas dalam buku ini mengenai ibu PKK, konsep gender wanita dan pria didalam rumah, kebudayaan jawa dalam mengadakan hal slametan yang membutuhkan bantuan sanak saudara (seriusan ini mengingatkan slametan di rumah tante saya yang tante saya tidak mau menggunakan jasa catering, mulai kue, makanan berat, kotaknya harus diisi secara manual oleh sanak saudaranya.. saya waktu itu bertugas membentuk kotak, mengisi dengan air putih, mengisinya dengan kue dan tisu untuk kurang lebih 400-500 orang *tewas seketika..

buku ini membuka pandangan kita juga mengenai konsep rumah tangga, rumah dan hubungan kekerabatan di kampung seperti apa dan ini menjadi sangat menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.