Ketika istilah ethnography masih terdengar asing di telinga awam, Amelia E. Maulana justru menjadikannya sebagai 'periuk' utama mata pencahariannya. Namun ia yakin bahwa filosofi ethnography tak sekadar menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan, tapi juga bisa memaksimalkan potensi Anda secara personal.
Dalam bukunya, wanita yang telah 12 tahun malang melintang sebagai marketing practioner di beberapa perusahaan multinasional (PT Frisian Flag Indonesia, PT Ricket & Coleman, dan PT Unilever Indonesia) ini menuturkan, bahwa produk yang berhasil di pasaran adalah produk yang mampu memberikan solusi terhadap 'pain' atau kesulitan konsumen dalam kesehariannya.
Ketidakmampuan produsen dalam mengenali konsumen ini akan membuahkan produk gagal yang hanya membuat perusahaan merugi karena kehilangan waktu dan ongkos produksi. Fenomena ini lah yang coba dieliminasi oleh Amalia melalui ilmu ethnography. Studi kualitatif ini bisa dipakai untuk mempelajari perilaku masyarakat atau konsumen, dan menjawab pertanyaan mendasar 'why do people do what they do'.
Sekitar tiga tahun yang lalu saya mengenal term Etnografi pertama kalinya, di perkuliahan semester dua. Sayangnya, yang dipelajari di sana hanyalah teknik etnografi budaya yang butuh waktu hingga berbulan-bulan untuk risetnya saja (jelas tidak cocok untuk ekosistem industri).
This book takes my mind further, memberikan insight mengenai teknik dan penerapan metode riset etnografi dalam konteks company dengan penjelasan yang relatif mudah dicerna.