dalam sebuah 'pencarian', saya berhasil menemui seorang syaikh yang berasal dari madura. menurut cerita, ini syaikh -namanya sengaja saya rahasiakan- sudah bosan hidup. saya mengenal syaikh ini melalui mursyid saya. singkat cerita, syaikh dari madura ini sudah mencoba beberapa cara untuk mati. dari menabrakkan diri ke kereta, ke tembok rumah, sehingga menenggelamkan diri ke laut. anehnya, syaikh ini tidak pernah berhasil mati. entah apa yang terjadi sebenarnya. jika ditanya kenapa ingin mati, jawab syaikh ini, "saya ingin bertemu sang maha cinta". tapi sungguh. segala usaha sudah ditempuh. tapi tak berhasil juga. sehingga akhirnya, syaikh ini bosan dan mengutuk hidupnya sendiri dan menghabiskan hidupnya untuk khalwat atau menyepi. alhamdulillah dalam sebuah 'pencarian' saya berhasil mengikuti majelis dzikir beliau. dan saya terbelalak ketika lamat-lamat melafalkan dzikir yang beliau ucapkan. "jancuk jibril, jancuk jibril, jancuk jibril..."duh. ada apa ini. meski begitu saya pun takdim & taqlid kepada beliau. saya pun mengikuti lafal itu. bahkan lebih keras dari semua yang hadir. JANCUK JIBRIL, JANCUK JIBRIL, JANCUK JIBRIL,..." kapan lagi bisa misuhi jibril, pikir saya waktu itu.
dan ketika cerita ini saya ceritakan ke beberapa orang, mereka terkekeh. antara percaya dan tidak percaya. tapi sudah lah. intinya, saya cuma ingin menegaskan tentang kerinduan terhadap sang maha cinta ini. apapun, di manapun, bagaimanapun, kapanpun, seharusnya tidak lepas dari sang maha cinta ini. aku menemukan sang maha cinta ini melalui kamu, perempuan.
nah, apa hubungannya cerita di atas dengan buku ini. buku 'pembawa matahari' ini adalah kumpulan puisi sufistik. kelebihan puisi dalam buku 'pembawa matahari' ini adalah tak ditemukannya catatan kaki seperti dalam puisi sufistik lainnya. abdul hadi mencoba meramu urusan transenden ini menjadi puisi yang jujur dan lugas. meski tetap bermain metafora. jadi ingat il postino.
puisi sufistik memang terkesan bermain-main di wilayahnya sendiri. menuju sesuatu yang telah ditentukan sebelumnya. dialah yang ahad. esa. hu.
tema-tema tentang mbah siti jenar masih mendominasi. membosankan sih. karena selain mbah jenar, sebenarnya ada beberapa tokoh yang layak dipuisikan juga. sebut saja mbah mbayat.
kumpulan puisi ini memang sangat pas dibaca bagi orang yang 'mencari'. sambil minum teh, menjalankan kehidupan.