What do you think?


Imunisasi: Dampak, Konspirasi dan Solusi Sehat Ala Rasulullah saw
309 pages, Paperback
First published August 1, 2008
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
September 17, 2012
Penulisannya terlalu emosional. Argumennya kurang kuat juga menurut saya sih.
But all in all, it was okay.
Asik juga baca argumen dari pihak lain :)
But all in all, it was okay.
Asik juga baca argumen dari pihak lain :)
November 6, 2010
Sampai saat ini imunisasi masih menyimpan misteri. Kekurang-transparan proses dan bahan pembuatan vaksin kerap menuai pertanyaan dan kontroversi. Seperti berita tentang kandungan babi dalam vaksin meningitis yang diberikan pada jamaah haji, sempat membuat gempar masyarakat. Belum lagi, ketika ada berita vaksin polio dibuat dengan mencampur ginjal kera. Semuanya terasa meresahkan. Sedangkan di sisi lain, imunisasi seperti sudah menjadi hal wajib yang bahkan menjadi prasyarat, seperti imunisasi meningitis pada jamaah haji atau imunisasi TT bagi wanita yang akan menikah.
Segala kericuhan inilah yang membuat saya memutuskan untuk membeli buku yang ditulis oleh seorang konsultan kesehatan ini. Sayangnya, dari buku ini ternyata saya tidak mendapatkan banyak manfaat atau kejelasan. Berbagai penjelasan tentang vaksin tidak membuat saya puas, misalnya ketika membahasa subbab Tata cata pembuatan vaksin, yang saya baca malah tentang bahan-bahan yang dimasukkan ke dalam vaksin. Sehingga sampai akhir pun saya tidak menemukan proses jelas tentang bagaimana vaksin tersebut dibuat.
Hampir sebagian besar penjelasan dari Ummu Salamah saya pandang hanya sekadar opini dan praduga yang diambil dari berbagai sumber. Belum lagi ketika saya dihadapkan pada cerita saat beliau mengalami hal buruk setelah mendapat vaksin meningitis, terasa sekali penyampaian beliau diliputi emosi, sehingga lambat laun keobyektifan penulis mulai mengabur.
Saya semakin dibuat tidak pas dengan cara beliau menyampaikan ilmunya ketika memasuki bab tanggapan dan jawaban. Dimana di bagian tersebut, Ummu Salamah bermaksud mengklarifikasi tanggapan YKAI terhadap bukunya. Namun, saya sungguh dibuat tidak suka dan gregetan ketika di beberapa pertnyaan, penulis terkesan lepas tangan dengan memberi jawaban bernada, "pendapat...bla bla bla... saya ambil dari buku ...bla bla bla... jadi silakan protes kepada penulisnya" HAH?! Garing bener! Bukankah seharusnya sebelum mengambil atau mengutip kalimat dari buku, si penulis harus menganalisa atau meriset kebenaran dari kutipan tersebut?
Terlepas dari sangat tidak puasnya saya dengan isi buku tersebut. Saya masih tetap tidak mengambil 'solusi' imunisasi untuk menjaga kesehatan. Cukup menjaga asupan makanan, dan lebih memilih meminum madu/ sari kurma untuk menjaga ketahanan tubuh.
Segala kericuhan inilah yang membuat saya memutuskan untuk membeli buku yang ditulis oleh seorang konsultan kesehatan ini. Sayangnya, dari buku ini ternyata saya tidak mendapatkan banyak manfaat atau kejelasan. Berbagai penjelasan tentang vaksin tidak membuat saya puas, misalnya ketika membahasa subbab Tata cata pembuatan vaksin, yang saya baca malah tentang bahan-bahan yang dimasukkan ke dalam vaksin. Sehingga sampai akhir pun saya tidak menemukan proses jelas tentang bagaimana vaksin tersebut dibuat.
Hampir sebagian besar penjelasan dari Ummu Salamah saya pandang hanya sekadar opini dan praduga yang diambil dari berbagai sumber. Belum lagi ketika saya dihadapkan pada cerita saat beliau mengalami hal buruk setelah mendapat vaksin meningitis, terasa sekali penyampaian beliau diliputi emosi, sehingga lambat laun keobyektifan penulis mulai mengabur.
Saya semakin dibuat tidak pas dengan cara beliau menyampaikan ilmunya ketika memasuki bab tanggapan dan jawaban. Dimana di bagian tersebut, Ummu Salamah bermaksud mengklarifikasi tanggapan YKAI terhadap bukunya. Namun, saya sungguh dibuat tidak suka dan gregetan ketika di beberapa pertnyaan, penulis terkesan lepas tangan dengan memberi jawaban bernada, "pendapat...bla bla bla... saya ambil dari buku ...bla bla bla... jadi silakan protes kepada penulisnya" HAH?! Garing bener! Bukankah seharusnya sebelum mengambil atau mengutip kalimat dari buku, si penulis harus menganalisa atau meriset kebenaran dari kutipan tersebut?
Terlepas dari sangat tidak puasnya saya dengan isi buku tersebut. Saya masih tetap tidak mengambil 'solusi' imunisasi untuk menjaga kesehatan. Cukup menjaga asupan makanan, dan lebih memilih meminum madu/ sari kurma untuk menjaga ketahanan tubuh.
Read
June 19, 2013Hemm saya bingung mau memberi rate berapa terhadap buku ini. Tapi sejujurnya, saya sebagai orang awam yang gatau apa-apa soal ilmu keobat-obatan, setelah baca buku ini langsung iya-iya aja dan menolak keras tentang vaksin. Buku ini menjelaskan secara gamblang tentang sejarah dan macam-macam vaksin, serta beberapa kisah menyedihkan dibalik penggunaan vaksin. Tulisan yang ada juga ditambah dengan pendapat beberapa ahli yang menolak keras tentang penggunaan vaksin. Nah bagian yang saya suka itu adalah bagian pengobatan ala Rasulullah yang memang sudah terbukti khasiatnya.
Namun, dari beberapa tulisan yang menyebutkan memang terdapat pro kontra penggunaan vaksin sejak dahulu kala, akhirnya membuat saya berada pada kondisi netral antara "Gausah vaksin dan pake ngga yah?".
Saya lihat dari beberapa komentar juga mencibirkan latar belakang penulis yang bergelar Sarjana Hukum, bukan yang ahli di bidang kesehatan. Kalau buat saya sendiri sih sebenarnya ga masalah. Toh setiap orang ngga hanya harus punya satu keahlian kan. Siapa tau si penulis memang belajar banyak tentang ilmu kesehatan di sela waktunya.
Ah tapi sepertinya masalah vaksinasi ini memang harus terus diteliti sehingga kebenarannya dapat dibuktikan, apakah boleh dipakai atau tidak. Dan jangan lupa disosialisasikan juga ke masyarakat luas. Ayo para peneliti kesehatan, mari bergerak! :D
Namun, dari beberapa tulisan yang menyebutkan memang terdapat pro kontra penggunaan vaksin sejak dahulu kala, akhirnya membuat saya berada pada kondisi netral antara "Gausah vaksin dan pake ngga yah?".
Saya lihat dari beberapa komentar juga mencibirkan latar belakang penulis yang bergelar Sarjana Hukum, bukan yang ahli di bidang kesehatan. Kalau buat saya sendiri sih sebenarnya ga masalah. Toh setiap orang ngga hanya harus punya satu keahlian kan. Siapa tau si penulis memang belajar banyak tentang ilmu kesehatan di sela waktunya.
Ah tapi sepertinya masalah vaksinasi ini memang harus terus diteliti sehingga kebenarannya dapat dibuktikan, apakah boleh dipakai atau tidak. Dan jangan lupa disosialisasikan juga ke masyarakat luas. Ayo para peneliti kesehatan, mari bergerak! :D
February 22, 2013
Pro-kontra seputar vaksinasi sebenarnya sudah ada sejak teknik inokulasi pertama kali ditemukan. Buku ini adalah "kitab kuning" bagi para antivaks Indonesia. Buku ini sebenarnya sudah banyak ditelaah oleh para ahli medis yang kompeten di bidangnya dan sudah banyak beredar mengenai kritisi terhadap buku ini. Dengan latar belakang pendidikan sebagai seorang sarjana hukum dari salah satu universitas swasta di Indonesia, buku bergenre kesehatan ini ditulis terlalu emosional dan tidak ilmiah. Bahkan, saya seperti membaca cerita fiksi. Tulisan di buku seperti ini (hanya) berdasarkan teori-teori konspirasi yang tidak memuaskan akal. Menurut saya, hal yang paling lucu adalah ketika penulis sendiri yang mendiagnosis dirinya terkena meningitis (hanya) dari seminar selama beberapa hari, kemudian mengobatinya sendiri, dan anehnya dia sendiri pula yang mendiagnosis dirinya sembuh padahal penulis tidak memiliki latar belakang pendidikan kedokteran. Namun, saya mengapresiasi penulis tentang pesannya untuk selalu mengkonsumsi produk halal dan thoyib.
Want to Read
April 2, 2019good
Displaying 1 - 5 of 5 reviews






