Based on interviews with eight hundred fathers, this look at what fatherhood means to men today addresses such issues as the effect of inadequate fathering on a man's ability to parent. 30,000 first printing. $30,000 ad/promo.
Saya butuh belasan jam (atau sekitar dua minggu kalau pembacaan dilakukan satu jam setiap malam) untuk menghabiskan buku setebal 532 halaman ini. Secara keseluruhan buku ini bagus, memberikan pemaparan secara panjang-lebar, disertai petunjuk-petunjuk praktis. Bahasa terjemahannya mudah dan luwes meskipun ada beberapa frasa yang agaknya terlalu literal? (Contoh: "terbakar" di halaman 47 sepertinya padanan dari "burn-out"--bagaimana kalau "kewalahan"? Contoh lain: "perguruan tinggi seni yang bebas" (halaman 67) jangan-jangan dari "liberal art college"--bagaimana kalau "kampus ilmu budaya"? Frasa "menundukkan kepala ke tanah" di halaman 68 juga terasa aneh.)
Saya berharap bisa mendapatkan hal-hal tertentu dari buku ini. Namun sayangnya ternyata saya kurang bisa mengaitkan diri. Mungkinkah karena saya bukan lelaki? Atau mungkinkah karena orang cenderung lebih suka membiarkan saja hal yang terlalu intim? Saran-saran dalam buku ini, misalkan agar berbicara dari hati ke hati dengan ayah sendiri, memerlukan kesungguhan hati pembaca untuk benar-benar mempraktikkannya. Kalaupun pembaca sudah bertekad, belum tentu ayah sendiri berkenan membicarakannya. Bisa dibilang, ini isu yang terlalu sensitif. Yah, memang enggak sesensitif isu SARA dan sebagainya. Dampaknya lebih pada pribadi saja, tapi bapernya itu lo, enggak nahan. Apalagi laki-laki cenderung lebih suka menutupi perasaannya. (Iya, kan? Iya, kan?)
Padahal sosok ayah ternyata berperan besar dalam perkembangan jiwa seorang anak, dan dapat menentukan akan menjadi orang tua seperti apakah dia nanti. Apalagi di era kesetaraan gender ini, ketika pria dituntut agar lebih terlibat dalam urusan domestik, caranya berkomunikasi dengan anak pun mendapat sorotan penting. Ketidakhadiran ayah--entahkah secara fisik atau psikis--atau hadir namun memberikan contoh buruk, dapat menjadikan anak pribadi yang bermasalah. Ini menjadi PR bagi sebagian orang yang masih terjebak dalam pola tradisional, di mana urusan rumah tangga--utamanya mendidik anak--cenderung diserahkan kepada perempuan/ibu saja. Kalau dikaitkan dengan konteks keagamaan, memang lelaki sebagai imam seyogianya bertanggung jawab dalam pendidikan semua anggota keluarga.
Bagi pembaca perempuan seperti saya, buku ini dapat memberikan pengetahuan mengenai sudut pandang laki-laki. (Meskipun sebagian di antaranya sudah saya ketahui dari buku lain, Boys Adrift: The Five Factors Driving the Growing Epidemic of Unmotivated Boys and Underachieving Young Men). Buku ini juga seperti hendak menanamkan empati kepada pria--karena bukan hanya wanita yang butuh dimengerti, bukan hanya wanita yang dapat dizalimi. Rupanya lelaki juga manusia, punya rasa punya hati--jangan samakan dengan pisau belati. Hanya saja cara lelaki dalam mengekspresikan rasa hatinya berbeda dari perempuan.
Secara pribadi, melalui buku ini, saya coba menerka serba-serbi tentang ayah saya sendiri. Karena terlalu segan untuk mengoreknya secara langsung, saya hanya dapat mengandalkan ingatan berikut fakta yang hanya sepintas lalu saya dengar dari sana-sini namun ternyata, sepertinya, berperan penting dalam menentukan arah hidup saya--membentuk saya menjadi sebagaimana kini.