Sebuah novel geopolitik,novel Deschooling Society dengan segala achievementnya. Dokter puskesmas yang cantik, sarjana hukum yang terpaksa menjadi pesuruh kantor pos membiayai hidupnya sebagai transmigran, seorang pematung dan pramugari, semuanya belajar dari petani dan sebaliknya petani belajar dari sarjana dan seniman dalam menghadapi banjir di sebuah Negeri Lintasan Petir.
Dilahirkan di Namodele, Pulau Rote (Timur), Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Pendidikan terakhirnya SGA Kristen Surabaya, tamat 1956. Pernah menjadi guru SMP dan SGA di Ternate (1956-1958) dan Bima, Sumbawa (1958). Terakhir menjadi Wartawan Sinar Harapan (1962-1970). Antara tahun 1970-1971, ia mendapat beasiswa untuk mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa, Amerika Serikat. Sempat mengikuti seminar sastra di India pada tahun 1982.
Cerpennya, Mutiara di Tengah Sawah mendapat Hadiah Hiburan Majalah Sastra tahun 1961. Sedangkan cerpennya yang lain, Oleng-Kemoleng, mendapat pujian dari redaksi majalah Horison untuk cerpen yang dimuat di majalah itu tahun 1968. Karyanya yang berupa novel antara lain Hari-Hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Cumbuan Sabana (1979), Giring-Giring (1982). Karya kumpulan cerpennya adalah Matias Akankari (1975), Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Jerat (1978), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requim untuk seorang perempuan (1981), Mutiara di Tengah Sawah (1984), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988) dan Poli Woli (1988).
Secara umum, Novel ini bercerita mengenai kehidupan seniman yang melakukan transmigrasi bernama Indra. Diawali dengan narasi mengeni kondisi geografis sekitar rumahnya dengan selingan flashback kehidupannya, cerita lalu bergelayut pada kisah tokoh-tokoh didalamnya. Tentang ia seorang seniman yang jatuh cinta pada dokter cantik daerah terpencil, janda dari Sarjana Hukum dengan profesi sebagai opas pos dan tentang anak buahnya yang jatuh cinta pada gadis sumbing dan bisu.setting dengan seketika berpinda ke Jakarta saat Indra mendapatkan proyek pembuatan patung perunggu. Balada romantik terjadi di Kota itu, membawa kepada pertemua-pertemuan lain dengan tokoh-tokoh lainnya dan berujung pada kisah pembangunan daerah transmigrasi.
Buknnya mau menjadi kritikus sastra, karena memang saya tidak paham mengenai perihal itu. Hanya saja, saya akan memberi pandangan jujur mengenai novel yang saya baca ini.
Dari beberapa buku novel yang saya baca, saya memiliki kecenderungan menyukai novel dengan alur dan plot yang bagus ataupun karakter tokoh yang kuat. Nampaknya, Negeri Lintasan Petir tidak memiliki keduanya. Namun, ini mungkin lebih dikarenakan karakter penulis sendiri. setidaknya saya telah membaca 2 cerpen karya Gerson yang ternyata memiliki kesamaan tipe dengan Negeri Lintasan Petir. Alur yang lambat dan plot yang datar dengan karakter aku sebagai pencerita sekaligus pelaku dari berbagai peristiwa didalam cerita. Menurut saya, proses pembangunan plot dan alur agak sedikit kasar sehingga alur yang lambat itu kurang renyah untuk "disantap". Beberapa kutipan filosofis dengan bumbu metafora yang kental kurang mudah ditangkap oleh benak saya dan saya beranggapan kitipan-kutipan itu terkadang sedikit "Berlebihan" bila tidak layak untuk dikatakan "Mekso" (hahaha... saya kesulitan mencari padanan katanya dalam bahasa indonesia). Yang mungkin menjadi nilai plus dari karya-karya Gerson adalah kekuatan narasinya terhadap kondisi geografis, selebihnya saya kurang suka.
Alurnya buku ini teramat simple, dan mengalir tenang bak air dalam danau. Covernya bikin saya salah sangka, dipikir saya ini bukan tipikal novel slice-of-life.
Pertama baca sih nggak begitu terkesan. Namun, filsafat di dalam buku ini membuat saya tertarik ke dalamnya. Tokoh Indra, seorang pelukis sekaligus pematung - duda berumur 53 tahun yang mulanya memutuskan untuk menjalani hidup di daerah yang tentram, terasa amat hidup. Serasa kayak baca diary orang. Latarnya dapet.
Dan yang membuat saya kasih bintang 4 adalah filsafat yang ada dalam buku ini. Karena novel ini enggak filsafat semua isinya. Banyak humornya. Kisah cinta remeh-temeh dan galau-galauannya juga ada. Filsafatnya tercantum dalam teks-teks yang kadang-kadang tidak begitu disadari oleh pembaca, meskipun banyak juga filsafat yang memang dituliskan secara tersurat.
Negeri Lintasan Petir… Aku baca buku ini di perpustakaan. Karena nggak boleh pinjam sih :D
Buku ini sih cocoknya dibaca oleh kalangan dewasa. Alurnya esumpah berbelit-belit karena dicampurin sama filsafat. Ya nggak cocok aja gitu dibaca sama anak-anak seumuranku.
Bercerita tentang Indra yang saat itu berusia 53 tahun serta kehidupannya di tanah transmigrasi. Pertemuannya dengan pasangan dokter puskesmas dan pak pos –yang ternyata sang suami meninggal—memulai kisah percintaannya.