e son adolescence austère aux côtés d'un père libéral à Langon et à Bordeaux, Émilie ne retient que le souvenir étouffant des salons et l'ardent désir de s'en échapper pour céder à l'appel de l'inconnu. Son mariage avec Lucien Bernières, administrateur colonial détaché auprès des Hollandais dans la lointaine Java, lui permet de réaliser tout à coup ses rêves d'aventure et d'exotisme. C'est à Batavia, élégante capitale de cette île luxuriante, qu'elle découvrira au début du XXe siècle l'injustice et la perversité de l'ordre des Blancs, la lutte des indigènes opprimés, le monde mystérieux de la piraterie et de l'opium, au coeur d'une intrigue politique qui -mènera à la mort. Mais elle trouvera aussi l'amour et sa liberté dans les bras d'un jeune révolté de l'île des épices. En retraçant le destin exaltant d'une femme passionnée et intrépide à laquelle elle a donné toute son âme, Catherine van Moppès nous entraîne, des bords de la Garonne à Singapour et Java en passant par Leyde, dans un univers envoûtant, à l'heure de la colonisation hollandaise et des premiers soubresauts annonçant la fin des Empires d'outre-mer. Un récit sensuel et captivant.
Menemukan aroma Bumi Manusia di novel ini, terutama dalam latar tempat dan waktu, yakni di Batavia sekitar awal abad ke-20. Sebuah masa kritis dalam pembentukan ide tentang nasionalisme Indonesia. Pembaca Pram pasti suka novel ini karena seperti diajak menelusuri kembali Hindia Belanda di masa kemegahannya, yang sejatinya menyembunyikan pilu derita para Bumi Putera. Tapi kenapa ratingnya menengah ya, mungkin benar sebabnya ada di cara penceritaan yang terasa datar dan monoton. Banyak bagian yg seperti menempelkan satu dua halaman dari sebuah buku sejarah. Juga Emilie ini sering sekali disetir oleh hasratnya sehingga cerita begitu membosankan.
Tetapi setelah baca bagian epilog, hasrat Emilie untuk berselingkuh dengan pribumi merupakan perlambang paling nyata ttg prinsipnya. Dia membenci kolonialisme orang Eropa, yang berkedok ingin memajukan dunia timur lewat penjajahannya. Perjalanan fisik maupun pemikirannya di sepanjang buku ini menggambarkan betapa panjang yang harus dilaluinya sebelum mengalami perubahan yang sedemikian dahsyat.
Tema menarik, riset sejarah yang komplet, dan tokoh tokoh historis yang seperti nyata. Tetapi sayangnya, elemen fiksinya malah kurang kerasa. Perjalanan Emilie dari Prancis ke Jawa lebih seperti catatan pelesiran seorang wanita yang mendambakan kebebasan dan kebaruan dari timur jauh. Tapi bagian ini juga yang bikin novel ini jadi menarik.
Penulis menggambarkan latar Batavia dan Bogor pada masa itu dengan begitu deskriptif, sangat nostalgik buat para pembaca yang sering baca buku buku non-fiksi tentang Jakarta dan Jawa tempo Doeloe. Perjalanan lapal dari Prancis menuju Singapura juga tak kalah menarik. Bagian saat penulis menggambarkan dengan detail suasana masa jadoel itu bikin pengen terus membaca novel yang lumayan tebal ini.
Emilie, seorang wanita Perancis yang baru menikah dan diboyong suaminya ke daerah koloni awal abad ke-20, membawa kita menelusuri perjalanan penuh kisah dan nilai hidup dari daratan Langon di Perancis, sendunya cuaca sore di Amsterdam Belanda, godaan fatamorgana padang pasir di Terusan Zues, perjamuan nikmat bersama kelompok Cina Baba (Muslim Cina) di Singapura, serta cinta terlarang dengan pria pribumi di tanah Batavia, Hindia-Belanda. Menjawab segala rasa penasaran dan keingintahuannya pada kehidupan lain di ujung dunia, serta memuaskan hasratnya pada sentuhan asing yang pernah didamba sebelumnya, hingga terantuk pada batu pergolakan politik di zaman itu. Kebebasan, perjuangan wanita, dan krisis identitas menjadi unsur utama jalan cerita.
Sejarah bukan topik favorit saya, kecuali ditulis oleh beberapa penulis favorit saya. Tapi, membaca kata "Jawa" langsung tergoda untuk membeli. sayangnya, kebiasaan lama membuat buku ini tertimbun.
Seorang wanita istri diplomat Prancis yang lahir di Prancis dari Ibu Rusia serta Ayah Belanda asli Portugis, menulis tentang situasi indonesia saat suasana yang penuh dengan berbagai hal. Terlalu banyak tokoh yang sekedar numpang lewat bagi saya.
J'aimais le description des pays, arbres, coutumes, etc., mais l'histoire amour entre Emilie et Lucien et Anendo etait trop complique, et le fin etait comparitivement trop court. J'ai appris beaucoup par des Indes.
Buku ini berkisah tentang Emilie Capdeville, seorang wanita Perancis yang pindah ke Batavia karena mengikuti suaminya, Lucien Bernieres. Lucien ditugaskan di Batavia sebagai salah satu pejabat tinggi di Hindia Belanda yang saat itu sedang bergolak karena pemberontakan oleh gerakan-gerakan penentang penjajahan.
Emilie, yang dididik tentang kebebasan oleh sang Ayah, menemukan berbagai pencerahan dirinya saat tiba di Batavia. Melalui pertemanannya dengan para pejuang Tiong Hoa di tanah air, perkenalan serta affairnya dengan Anendo, seniman pribumi dan hubungannya dengan para istri pejabat Hindia Belanda di Batavia, Emilie mencari jati dirinya.
***** Jujur, gw bingung mereview buku ini, karena inti ceritanya adalah pencarian jati diri Emilie. Namun, cara penjabaran Catherine Van Moppes tentang pencarian tersebut sangatlah kompleks. Tokohnya banyak!! Namun, kesadaran humanisme Emilie terbangun dari hubungan-hubungannya dengan para "tokoh-yang-cuma-nongol-sebentar" itu.
Di sebuah paragraf sempat disinggung tentang R.A Kartini dan pemikirannya yang saat itu mendobrak pakem. Sempat, dituliskan bahwa Emilie hendak mengadakan surat menyurat dengan beliau, namun pengarang tampaknya lupa, karena kisah ini berkembang dengan kompleks. Penuturan tentang R.A Kartini sendiri juga dituturkan oleh wartawan Belanda (kalo gak salah, gw lupa) kepada Emilie secara sekilas lalu dan wartawan ini sempat menuturkan soal poligami yang dilakukan oleh suami R.A Kartini.
Di sisi lain, gw baru tau juga, bahwa pada masa peralihan, mafia Cina banyak berkuasa di Batavia. Mereka adalah pengendali perekonomian Batavia masa itu, terutama dengan candunya. Kemudian, bagaimana politik dunia dikendalikan dengan perdagangan rempah-rempah. Terkait dengan isu kenaikan BBM, mungkin di masa lalu, jika Hindia Belanda mampu mengelola sendiri kekayaan alamnya, kita bisa menguasai pasar dunia dengan rempah-rempah kita *ngarepdotcom, kalah sama orang-orang serakah*
Banyak yang membandingkan buku ini dengan tetralogi pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, dan secara tak langsung membandingkan Emilie dengan Minke (tokoh dalam karya Pram). Dalam esai di akhir buku, yang berupa Epilog, ditulis oleh Jean Couteau dan Warih Wisatsana, dituliskan :
- Emilie dan Minke, dari sudut pandang yang berbeda, sama-sama merumuskan apa yang dipandang sebagai masa depan antar bangsa. - Mereka sama-sama memiliki guru yang membantu dalam perkembangan pola berpikirnya. - Keduanya juga hidup di masa yang tak jauh berbeda, dimana situasi politik saat itu sedang kisruh-kisruhnya dan dicekam prasangka rasial-kultural. - Mereka sama-sama bertemu dengan para aktivis pergerakan Tionghoa dan rekan-rekan Eropa yang berpikir progresif-liberal, dimana dari situ mereka akan menyadari problematik kemanusiaan di tengah pertarungan kepentingan dan ideologi masa peralihan abad itu.
Cuma, karena karya Pram jauh lebih panjang, sosok Minke dapat dijelaskan dengan gamblang dan lugas. Sedangkan, Emilie di sini, dengan konflik yang sedemikian kompleks, hanya diceritakan dalam satu buku. Jadinya, ada beberapa bab yang nampak begitu lambat, kemudian di bab yang lain, segalanya berlalu sangat cepat.
Namun, tutur bahasa, penggambaran keadaan dan penggambaran Emilie dalam menjalani hari-harinya (meski keliatan Emilie ini adalah perempuan yang sangat halus dan sensitif) tidak terasa menye-menye. Bagi teman-teman yang suka dengan tipikal buku sejarah fiksi yang berdasarkan kisah nyata, buku ini sangat recommended.
****
Catherine Van Moppes, sang author, adalah istri duta besar Perancis, pernah tinggal di Indonesia sekitar tahun 70-80an. Namun, risetnya menurut gw luar biasa untuk buku ini. Gw sendiri kadang merasa bahwa Catherine adalah Emilie.
Emilie Jawa 1904 oleh Catherine Van Moppes. Impian Emilie untuk berkelana ke negeri-negeri yang jauh tercapai saat kekasihnya, Lucien, ditugaskan ke Hindia Belanda sebagai asisten keamanan pemerintah Belanda. Pada saat itu, Emilie masih menyanjung ide tentang kolonialisme, tentang ‘mengadabkan’ orang-orang primitif di belahan bumi sebelah timur. Namun sepanjang perjalanan, ia menjumpai banyak orang yang berpikiran progresif dan liberal, atau hanya sekadar berbagi pengalaman nyatanya, membuatnya mempertimbangkan kembali konsep luhur kolonialisme yang selama ini didoktrinkan kepadanya.
Setibanya di Batavia, seperti orang kehausan Emilie berusaha mereguk sebanyak mungkin hal yang dilihat dan didengarnya, menikmati lingkungan barunya yang eksotis (walau cuaca tak tertahankan panasnya). Namun pandangan Emilie terhadap kolonialisme baru benar-benar berubah sejak ia bertemu dengan Pei, putri seorang Tionghoa yang berkuasa di Batavia saat itu. Pei merupakan bagian dari kelompok generasi muda Tionghoa yang menggagas tentang kebebasan dan kemerdekaan bangsa. Pei juga memperkenalkan Emilie kepada Anendo, seorang pemuda pribumi dari Pulau Solor. Pergaulan Emilie dengan geng Tionghoa Pei membuka matanya akan makna sesungguhnya dari kolonialisme, sekaligus menjauhkannya dari Lucien, yang berkebalikan dari Emilie, justru malah semakin berpihak pada pemerintah kolonial.
Melihat Hindia Belanda khususnya Batavia dari mata seorang Emilie sungguh menyegarkan; ketakjuban, keheranan, serta kekaguman dan perhatian Emilie menulariku, seolah aku sendiri baru ikut turun dari kapal uap Prins Alexander. Penulis juga mengungkapkan semua pergolakan batin Emilie yang kompleks dengan mendetil; gairah menginjak negara baru dan asing, kegalauan seorang perempuan Eropa intelek mengenai kolonialisme, pemberontakannya melanggar berbagai tabu sosial, dan terutama gairah cintanya terhadap Anendo yang meledak-ledak, semua dituturkan dengan halus dan memikat.
Daya tarik lain dari kisah Emilie ini mungkin latar waktunya; 1904 merupakan tahun-tahun awal dimulainya Politik Etis, hampir bersamaan dengan cerita Minke, dan Emilie memang memiliki pandangan dan perjalanan hidup yang mirip dengan Minke (dalam jangka waktu yang lebih pendek). Keduanya sama-sama dipengaruhi oleh gagasan generasi muda Tionghoa, bertemu dengan orang-orang Eropa yang liberal, dan sama-sama mengagumi R.A. Kartini. Aku jadi berangan-angan, bagaimana seandainya bila Minke dan Emilie bertemu.
Seorang perempuan dengan suaminya bertugas di Batavia tahun 1904. Jaman ketika Belanda menerapkan politik etis di Indonesia, yang dijajahnya selama bertahun-tahun. Emilie berangkat naik kapal laut dan melalui perbagai pelabuhan-pelabuhan di Asia Tengah dan Timur. Perjumpaan-perjumpaannya dengan orang-orang Eropa yang sama-sama bertugas ke Timur Jauh tidak mengendurkan semangatnya untuk mempelajari eksotisme Timur walaupun orang-orang itu sudah memperingatinya akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi di Hindia Belanda.
Cerita ini bagaikan sebuah catatan harian, yang ditulis dengan begitu rincinya mulai dari keberang 6 2 atan kapalnya, pelabuhan-yang disinggahi, hotel-hotel yang ditinggali, restoran-restoran di sudut Colombo, sampai rumah candu di Singapura yang membuat Emilie tersesat karena ada huru hara di antaranya. Emilie tidak melihat adanya perbedaan dari Eropa hingga Asia karena semua hal yang ia terima selalu dengan gaya Eropa. Padahal ia ingin sekali mempelajari hal lokal yang ada di tempat-tempat yang ia singgahi.
Emilie menceritakan hari-harinya tinggal di Batavia, intrik politik yang terjadi antar penguasa, pembagian kelas antara orang Eropa dan pribumi lokal yang menurutnya aneh. Di sini didapat gambaran tentang kota ini di masa lampau, termasuk daerah Pecinan Glodok yang sudah terkenal sejak masa itu. Gaya sosialita nyonya-nyoya Eropa masa itu pun diceritakannya. Emilie merasa tertekan karena ia tidak bisa mengungkapkan pendapat-pendapatnya karena ia seorang perempuan. Suaminya Lucien pun merasa gamang karena mereka sendiri berkebangsaan Perancis namun bekerja untuk pemerintah Belanda, yang prinsip berpikirnya berbeda.
Ia memberontak lari, mendapati petualangan dalam cinta, yang membuatnya menyadari bahwa bangsa Eropa di tanah Hindia adalah ilusi, seharusnya tidak berada di situ karena mereka tidak pernah mencintai tanah itu, hanya demi tugas dan kedudukan saja. Apa yang ia pilih?
“Kolonialisme haruslah menjadi kebanggaan kaum humanis. Kaum pribumi harus didorong untuk berevolusi ke arah yang berkesesuaian dengan takdirnya, sejalan dengan pikiran bangsa dan lingkungannya.” (h.120)
Awalnya ini adalah kisah Hindia Belanda layaknya yang terangkum dalam dutch indies literature, ternyata bisa ya bisa tidak. Nama penulisnya bisa jadi menguatkan itu. Namun asal-usul penulisnya bisa jadi lebih kompleks, istri diplomat Perancis, lahir di Perancis dari Ibu Rusia, dan Ayah Belanda Asli Portugis.
Sontak saya teracuni dengan paragrap terakhir di sampul belakang buku ini, "Buku ini bukan sekedar kisah erotis, melainkan tuturan tentang awal lahirnya gagasan kebangsaan dan sekaligus rekahnya kesadaran lintas-bangsa. Emilie adalah sisi lain kesadaran baru yang diperjuangkan pula oleh Minke, tokoh dalam tetralogi Bumi Manusia Pramoedya yang tersohor."
Latar belakang penulis yang demikian menjadi salah satu modal besar untuk bisa melihat dan memahami apa itu berbangsa dan sekaligus berlintas-bangsa. Begitu?
Dapat di LIP juga..ihiiiyyyy nggak usah beli :) Udah lama pengin, tambah pengin baca lihat 4 bintang dr Mas Homer :)
--- Di tanah kelahiran kami, bahasa memang senantiasa diucapkan secara halus, laksana batu yang bergulir dalam air berbuih. perkataan Nyonya Slamet pada Lucien B (halaman 82)
Para priyayi sendiri bukanlah orang-orang suci. Pangeran-pangeran di Jawa yang senantiasa dihormati dan dipatuhi oleh rakyatnya juga kerap melanggar aturan, melakukan korupsi, dan menggunakan serta memperalat kawulanya semata demi memperkaya diri. perkataan mantan pejabat tinggi di Hindia Belanda pada Lucien B (halaman 86) (jadi teringat Bumi Manusia - PAT)
Kandungan sejarahnya banyak, tapi kok alur ceritanya datar ya menurutku ... kurang mak nyus gitu :P
Aku suka gaya Catherine mengungkapkan cara pikir Emilie yang "bebas" lewat novel ini. Sekecil-kecilnya kontribusi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat (bahkan dalam kehidupannya sendiri) meski memiliki cara pandang yang bebas.
Emilie dengan cara pandang yang saya anggap cukup liar untuk perempuan pada masanya, banyak membuat aksi aksi yang menarik untuk diikuti. Meski aksi aksinya tak semua bersifat positif (seperti saat memutuskan untuk memilih selingkuh bersama seorang pribumi dibanding suaminya yang kolonial dan kolot), saya rasa justru disitulah letak menariknya novel ini. Sehingga dari sini kita bisa ambil hikmah dan pelajarannya..
This entire review has been hidden because of spoilers.
I learned many interesting things from this book. As this book tells about the past days Indonesia-specifically Jakarta or so knon before as Batavia, in the early 20th century, I find another worldview of my nation's history. Many people from various races already lived in Batavia; Javanese, Chinese, Westerner. I also find a comic stuff-I just know that a mad man was regarded sacred in the past.
biasanya kita menilai penjajahan Belanda ke Indonesia dari mata bangsa sendiri, tp di sini saya melihat dari mata bangsa lain. Banyak sejarah, banyak pandangan, dan juga cerita cinta dikemas dalam satu..