“Yaaah, énté Kab, kalow soal Kopid nyang bisé bikin mati ajé solidaritas secuil, pegimané amé ekonomi nyang cumak bikin miskin?” “Saking miskinnya terus mati jugak nantinya kan?” “Iyalah, miskin dulu baru koit…” “Mati pelan-pelan namanya Dul.” “Yo-i, mati pelan-pelan…”
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Jujurly, gue memang memilih menghabiskan buku ini di momen #SeptemberHitam. Buku yang gue beli di toko Bebasari karena hari itu ada acara Mimbar Peringatan Darurat yang diadain sama KontraS. Harusnya, buku ini dibagiin untuk yang ngomong di acara tersebut. Tapi berhubung gue males ngomong (enggak, sih. gue nerveous aja parah!), akhirnya gue kehabisan buku ini dan ngabur ke toko buku sebelah acara buat borong ini buku beserta beberapa buku lainnya.
Bukunya ringan, tapi gue habisin dalam waktu 10 harian (sambil nyicil kerjaan). Cerita-cerita pendek dengan bahasa betawi omprengan nan kental, ngebuat gue sebagai warga lama pinggiran Jakarta (Bekasi) dan warga baru Jakarta beberapa tahun belakangan ngerasa related sama bahasa dan kondisi warung Mang Ayat yang sering jadi latar di berbagai cerita disana.
Yang cukup menarik disini, Mas Seno (cailah, sok akrab, lu!) banyak menggambarkan layaknya tongkrongan bapak bapak pulang gawe yang sambil main karambol atau ngopi nyantai aja di pos ronda sambil ngomongin kondisi bangsa; bedanya kalau di buku ini latarnya adalah warung Mang Ayat yang sering kali jadi basecamp Sukab dan kawan kawan bertukar pikiran. Entah itu soal kondisi politik terkini, satir pejabat, kasus pelanggaran HAM, politik identitas, batas usia calon Presiden dan wakilnya, sampai ke Esyen Gems (bahasa mereka, haha). Meskipun banyak cerpen yang dibuat sekitar tahun 2016-2018, namun keadaannya kurang lebih masih cukup related dengan apa yang terjadi saat ini, terutama di fase-fase huru-hara pilpres dan pilkada ini.
Mas Seno cukup menggambarkan kalau diskusi-diskusi populis seperti itu harusnya tak hanya bisa dibicarakan oleh sekelompok masyarakat yang dianggap "berpendidikan" saja, seperti mahasiswa, sarjana, atawa professional semata, namun juga kalangan yang dianggap "rendah" juga berhak dan bisa mendiskusikan hal tersebut, meskipun sering kali ada beberapa percakapan yang dijelaskan atau diperbaiki oleh Pak Dosen yang dulunya belajar kedokteran sebelum ngacir belajar filsafat.
Bahasanya cukup nyaman bagi gue yang sehari-hari dan sedari kecil sudah berada di daerah sekitar Jakarta; betawi mentok bosq! Namun, banyak bahasa-bahasa betawi slang yang mungkin sulit dipahami oleh orang yang tidak biasa dengan bahasa betawi dan itu hampir ada di keseluruhan isi buku. Meskipun ada di glossarium bagian belakang, namun ada beberapa kata juga yang tidak ada.
Overall, untuk buku bacaan ringan, untuk lu-lu pada yang baru pengen tau soal beginian tapi mager mikir buat baca buku non-fiksi, atau emang lu yang lagi cari buku buat brainstorming isu-isu populis dengan gaya bahasa ringan dan pendek-pendek, buku "Obralan Sukab" ini cukup oke banget. Apalagi masih dalam suasana #SeptemberHitam, buku ini bagus banget untuk merawat ingatan kita tentang apa aja sih yang terjadi sama Indonesia kita ini.
Selamat membaca, dan selamat masuk ke tongkrongan Sukab dan kawan kawan di warung Mang Ayat!
Esai-esai yang ada di buku ini merupakan kumpulan tulisan Seno yang pernah dimuat di koran Kompas dan blognya. Karena penulis tidak pernah berlangganan Kompas, penulis belum pernah membaca satu pun esai-esai di buku ini.
Berbeda dengan buku-buku Sujiwo Tejo yang kadang maknanya begitu implisit, tiap bab yang dibahas oleh Seno sangat jelas mendiskusikan hal apa.
Seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya, buku ini ditulis dengan banyak menggunakan bahasa Betawi. Karena penulis orang Jawa, penulis mengalami sedikit kesulitan ketika membaca buku ini, walau di bagian belakang buku ada kamus mini.
Menurut penulis, Seno agak condong ke salah satu golongan tertentu. Hal ini terlihat dari tulisan-tulisan yang ada di bukunya ini. Sebagai orang yang (berusaha) berpikiran terbuka, penulis sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Buku ini penulis rekomendasikan bagi pembaca yang gemar membaca kumpulan esai dengan topik permasalahan sosial yang terjadi di sekitar kita.
Untuk penulis pribadi, penulis merasa mendapatkan banyak sudut pandang baru dari sebuah permasalahan yang telah terjadi, sehingga ketika kelak ada kasus-kasus baru, penulis akan berusaha untuk melihatnya dengan berbagai sudut pandang.
Well, i must say that buku ini menampilkan Sukab yang tidak seperti biasanya. Sukab yang selalu menanti atau dinanti. Melainkan sebagai Sukab yang terpinggirkan. Namun, dengan keterpinggiran itu Sukab yang ini mampu untuk membuka obrolan-obrolan santai yang boleh dianggap serius atau hanya angin belaka.
Kalau gerundelan yang nulis sastrawan itu kok jadinya indah, bahasanya sastrawi, dan pokok bahasannya lebih menusuk. Memang ini kelas bawah yang dipotret SGA untuk dipinjam suaranya mengkritik banyak fenomena kekinian.
Dengan tokoh andalannya yang bernama 'Sukab', SGA di buku ini menceritakan tentang suasana orang-orang kalangan bawah Jakarta dalam berbagi obrolan berkaitan tentang politik, sosial, dan permasalahan kenegaraan lainnya. Ditemani tokoh-tokoh lain, seperti Mang Ayat, Bahlul, Dul Kompreng, dll., Sukab suka mendengarkan ataupun memberikan pendapat tentang isu-isu terbaru kepada mereka.
Membaca buku ini, saya jadi merasakan bahwa Jakarta bukanlah kota bagi kalangan atas saja untuk menikmati hidup, melainkan kalangan bawah seperti Sukab dkk. yang tetap mensyukuri dan menjalani perannya masing-masing. Mereka tak harus berada di kampus, kafe, atau mal untuk mengobrol tentang isu-isu "berat", di warung Mang Ayat yang sangat sederhana pun obrolan tersebut tetap seru untuk dilakukan.
Oh iya, gaya bahasa di buku ini juga memakai bahasa Betawi bercampur bahasa gaul sehari-hari, jadi saya merasa akrab.