Dan puisi Gieb –ia menyebutnya racauan- adalah sebuah dunia yang sepenuhnya retak. Retak pada kalimat-kalimatnya dan retak pada bangunan peristiwanya. Peristiwa dalam puisi di sana seolah semata ingin menebar kesakitan. Menebar kutukan dari nilai-nilai yang kini hendak dibenamkan Gieb. Sebagai penghalang dari kehendak menjadikan manusia tembus, seolah kaca pandang. Demi mencapai dan melihat eksistensi manusia itu sendiri.
Tak mudah menangkap imaji yang berselang-seling di sana. Yang berkejaran di sana. yang melompat-lompat seolah mengikuti lompatan sejarah dari pengetahuan akan manusia itu sendiri. Kadang terbaca Freud, kadang wajah Borges muncul di sana. Tentulah juga idiom-idiom dari feminis.
Tetapi semua nilai ilmu itu disentuhnya ke dalam teks kultural di seputarnya - sebuah tema sastra. Diaduknya menjadi sebuah kekacauan dan kesakitan yang lain. Gieb keluar dengan dirinya yang utuh. Korespondensi tema tak membuatnya gentar. Bahkan ia terbang dengan tema-tema itu sebagai racauan dari dunia penuh kekacauan.
Lompatan Gieb tak peduli lagi dengan aturan-aturan yang banyak hendak dikejar para penyair, larik yang bersusunan dalam struktur bait yang berkeindahan. Tapi ditabraknya saja dengan derasnya arus-arus yang datang dari jiwanya, yang memberontak pada kehendak kemapanan jiwa. Terus menerus terjun, terus menerus membelah belah diri. Ke dalam imaji puisi yang dihantarkan secara racauan.
otakku beku pada minus 10 derajat celcius. hidup enggan. mati sungkan. melupakan sesuatu yang entah. makan sesuatu yang entah. minum sesuatu yang entah. berdiri sesuatu yang entah. duduk sesuatu yang entah. berbicara sesuatu yang entah. menulis sesuatu yang entah. bercinta sesuatu yang entah. tai sesuatu yang entah. terjebak sesuatu yang entah. melingkari sesuatu yang entah. eksistensi sesuatu yang entah. esensi sesuatu yang entah. filsafat sesuatu yang entah. tuhan sesuatu yang entah. nihilisme sesuatu yang entah. aku benci (suntuk, hlm.135)
dan seakan menyetujui racauan ini, otakku cukup beku untuk memahami setiap tulisan na. tulisan yang bukan sajak, bukan puisi, namun racauan. perlukah racauan dipahami? perlukah racauan dimaknai? karena apakah orang meracau?
oleh sebab yang tidak diketahui pembaca, racauan ini ditulis. kumpulan tulisan yang dibukukan untuk dibaca. membaca untuk menikmati. namun apakah meniknati harus selalu sampai memaknai dan mengerti? untuk tahap ini kelihatan na racauan gieb masih jauh untuk itu.
dengan pikiran konvensional yang terkotak-kotak, pikiran yang terarahkan, pikiran yang tidak memiliki kebebasan maka jadilah... cover awal seakan mengarahkan ke suatu pikiran dalam racauan, namun racauan na sendiri tak lain adalah kumpulan entropi yang sulit terdeteksi apa atau siapa yang menjadi objek dan subjek na. kata-kata yang dirangkai serasa manusiawi tapi apakah yang manusiawi selalu manusia? dan di sinilah permainan kata gieb beraksi. banyak kosakata yang jarang digunakan dimunculkan, dan terbukti otak manusia sebenar na mampu memuat itu semua, namun mengapa hanya kata-kata tertentu aja yang sering digunakan sedangkan yang lain terabaikan. sedikit yang biasa kita gunakan dan selebih na adalah... racauan. dan gieb berhasil memunculkan itu kembali menjadi kumpulan racauan.
dan di akhir racauan... ternyata rhe tetap manusia konvensional yang tak juga paham.
Racauan, bisa jadi sublimasi eksistensi. Seperti tersaji apik dalam buku kumpulan racauan Gieb, "Dialah Ini dan Itu". Racaun disini meleburkan segala kemabukan: pikiran, ada, rindu, benci, substansi, birahi, bir dsb. Setiap entitas bisa saling menegasi pun bisa mengafirmasi pada entitas lain: Retak! Seolah mengeja paradoks. Namun acap pula memasung realitas dengan pisau demarkasi yang tegas: untuk meracau pada semua kekekalan pun kesementaraan.
Mengapa harus eksistensi racauan? Kita tidak sedang mewacanakan eksistensialisme ala Sartre: eksistensi mendahului esensi, atau sebaliknya, esensi mendahului eksistensi. Pada buku pertama Gieb ini, termaktub eksistensi adalah esensi itu sendiri. Hadir bersama dalam kecerlangan yang mengapung. Mungkin, eksistensi disini lebih condong pada eksistensialisme Camus: absurditas! Absurditas yang menyusui pemberontakan. Karena pemberontakan adalah salah satu sikap filosofis yang koheren. Pemberontakan terhadap kemapanan bahasa kekinian. Menidak pada arus besar hegemoni. Seperti yang dikatakan Gieb: "kau harus melawan sesuatu yang mainstream". Gieb menciptakan arus sendiri. Kotak sendiri. Kotak eksistensi racauan. Membangun labirin yang ganjil. Kunamai labirin "eksistensi keentahan": jungkir balik memahami kata, berdarah-darah mencari eksodus makna.
Penggarapan buku ini juga sebuah racauan yang mengkultuskan aktualisasi diri. Illustrasinya yang abstrak mengkonkretkan racauannya. Racaun yang menyusui konsistensi. Terlihat jua dari judul-judul racauannya: Sangka, Sumpal, Cumbu, Setubuh, sampai Hudan. Halaman kiri untuk judul, kanan untuk isi tulisan, racauannya. Dibangun dalam paragraf-paragraf yang rapi. Berisi. Berbunyi. Seperti petikan Muskil berikut: "Aku harus membangkang, menuliskanmu dengan holistik. Menolak mekanistik, materialistik, dan reduksionis (hal 59)."
Ya! Ini sebuah buku ambiguitas. Buku sajak puisi. Tidak! Buku ini sesuatu yang entah. Seolah persetubuhan puisi dan esai. Bisa juga bukan keduanya. Cukup! katakan saja buku racauan. Racauan yang mengaksentuasi estetika. Seperti tuhan dan kelamin dilebur menjadi satu keniscayaan mengada manusia. Yang kerap dipanggungkan Gieb dalam adegan ranjang. Mengasuh insting purbawi. Insting yang kudus ala sufi. Bukan insting murahan dalam nanarnya roman picisan.
Gieb, si kutu-buku halte dan bus, menguasai banyak teori filsafat. Namun, dia tidak mengabdi sebagai ansilla philosophia (hamba sahaya filsafat) semata. Gieb menikung bahasanya sendiri dalam kotak racauan, kotak tanda manusia. Teori-teori praktis tidak ditelan begitu saja, namun ditekuknya. Sering ditelanjangi. Sesekali dipuja. Saat yang bersamaan dinihilkan. Dibangun dengan indah pada saat membongkarnya dalam tatakan bahasa. Seperti ditulisnya dalam Geram: "Sadar, bahwa percintaan kita memang tidak merujuk pada realitas aktual. Tetapi sebuah realitas yang minta dipahami, dikonsepsikan, dan disimbolisasi dengan beberapa desahan (hal 11)."
Judul buku ini, "Dialah Ini dan Itu" adalah gagasan metaforis. Sebuah keentahan juga. Tak tunggal nada. Tetapi, Gieb sepertinya pemuja sekaligus pengutuk dualisme Cartesian. Yang jauh dihempaskannya hingga Sungkur, mengada, disini. Yang dekat di tendangnya sampai Redup, meniada, kesitu. Gieb selalu memaknai ketidakbermaknaan menjadi makna yang semakin bermakna. Sebuah kontingensi ala Paul Ricoeur. Berselancar diantara dua tegangan atau bandul entitas pengada manusia yang sulit disatukan. Seperti ditulisnya dalam Sumpal: "Membunuh kekecewaan dengan kompromi. Mensiasati hati dengan kemungkinan. Mengakrabi perbedaan dengan toleransi. Menjalani permusuhan dengan penjelasan. Membesarkan harapan dengan probabilistik (hal 49)."
Yang tak terbiasa dengan kotak sastra Gieb akan jatuh dalam prasangka buruk: buku porno. Erotisme maupun romansa yang dibangun Gieb bukanlah kebanalan laknat. Dia mendekonstruksi bahasa dalam elegansi pemikiran. Bisa saja Gieb terpengaruh banyak oleh minat Foucault: penjara, kegilaan, tubuh, hingga persetubuhan. Dengan selera humor teramat cerdas. Hingga banyak orang gagal menggauli senyuman karena kerutan kening berlebihan. Seperti tergores indah dalam serpihan Gusar: "Kita usir Tuhan dari jagat raya. Bersama paha yang kaubuka tinggi-tinggi". Atau pada kepingan lain, Sungkur: "Karena tubuh kita hanyalah pemakluman. Bahwa kelamin tak memerlukan hakikat. Ia 'menjadi' dalam eksistensi." Pada saat yang lain, dalam Geram dia katakan: "Bahwa keinginan ternyata menyedihkan bagi kelamin kita yang purba”. Duh.
Suatu kali di lapak maya Gieb aku berkata: "membaca satu kalimat Gieb berarti kita harus puas menerima satu paragraf". Dan dia langsung menuang segelas bir. Sebuah verifikasi sekaligus falsifikasi sebuah kejujuran persetubuhan, eh, persetujuan. Kali ini kukatakan: membaca salah satu racauan Gieb berarti Anda telah menyelami satu bab buku eksistensialis. Karena buku ini, seperti kata Hudan Hidayat, "datang dari derasnya tabrakan arus dalam jiwanya, yang memberontak pada kehendak kemapanan jiwa. Terus menerus terjun, terus menerus membelah belah diri."
Siapakah, atau, apakah Gieb - kerap chaos dalam diam yang kosmik - itu? Gieb itu bisa berarti keunikan dari berbagai keunikan. Sangat khas. Dalam metafor, imaji, ataupun aforisma ganjil yang dibangunnya. Karena kata-kata profan juga bisa disakralkannya. Bila suatu saat Gieb mengeluarkan buku, tanpa mencantumkan nama, kita akan langsung bertemu di stasiun kereta racau: itu Gieb!
Bagiku, Gieb adalah ini dan itu. Kiri. Sufis. Semiotis. Absurd. Gila. Retak. Entah. Sekaligus!
Namun, jangan percaya padaku. Aku hanya meracau.***
Jakarta; Juli 2010
PS: Saran Gieb, seperti yang sudah aku lakukan: "Sebelum membaca buku ini, tenggaklah tujuh botol bir tanpa henti!" Mulailah meracau bersamanya. Urailah absurditas itu! Angkat!
Saya harus nulis review seperti apa yah? saya bingung, karena sungguh apa yang ada dalam buku ini adalah sebuah pandangan cermat dan monolog yang menyenangkan, mengharukan, bikin kesal, menampar dan terkadang bisa jadi sangat lucu. serius! kalau mau bukti baca tulisan berjudul "sunyi" atau "bunuh" saya bertaruh sebungkus rokok kalian pasti menyukainya.
selalu ada sebuah perasaan aneh saat membaca tulisan Gieb ini. saya tidak tahu perasaan macam apa itu, tapi jarang saya mengalami gejolak seperti ini saat membaca sebuah buku. ada yang bisa menjelaskannya?
Hhhhmmm...
apa lagi yah? saya rasa buku ini tidak untuk direview -atau saya memang tidak bisa meriviewnya- tapi untuk dinikmati, apalagi membacanya bersama secangkir Kopi Hitam atau sebotol Bir dingin dan beberapa batang rokok. it will be nice..
Saat membuka halaman awal buku ini, Gieb menorehkan kata-kata. Entah kata-kata itu hanya sekedar racauan seorang Gieb atau memang dikhususkan untuk ku. Setidaknya kata-kata itu membuatku terdiam. Ya, memang hanya dengan sebuah genggaman, rindu yang kusimpan akan runtuh.
Aku hanya perlu genggam dari seorang bernama kamu.
walaupun biasanya ngacak judul kalo baca kumpulan puisi, kali ini bacanya dimulai dari DIA dan berencana urut sampai selesai. dan meskipun sejauh ini baru sampai di Goyah, rasanya seperti...seperti habis berlari jauh lalu up up and away....
mengingatkan pada sensasi saat baca dan berkelana bersama alan lightman dengan mimpi mimpi eisntein nya..
...dan ya, saya menikmati sangat...
saya yang hampir tidak pernah bisa menafsir puisi dengan cara yg diajarkan di kelas Bahasa (mencari maksud tulisan dari sudut pandang penulis)...lagi-lagi menafsir sensasi dan rasa yang bisa ditangkap sel kelabu saya saja
....tapi sepertinya saya perlu mendarat dulu, i gotta get myself back to the ground kalo kata Jammie..
Terima kasih atas kiriman buku ini dari pemudi Miaaa, hehehe.
Jika teman2 bingung dengan racauan Gieb, setidaknya penulis racauan ini, iya, Gieb sendiri memberi petunjuk sekitar sebulan yang lalu di FBnya. Apa itu? bila sebotol atau sekaleng bir masih terlampau mahal buatmu, sandingkan saja racauan Gieb ini dengan racauan Tony Blank, dan nikmatilah! hehehe.
salam separatoz
ps: perhatikan pilihan diksi gieb dan tony, sama2 ampuh!!
baru dapat kiriman buku ini dari mb ross....*tq mb..cup muah..* langsung buka dan baca. sudah sampai halaman 60,masih engga ngerti ini apa yang di ceritakan. apa otak ku yang sedang engga prima,atau memang bukunya perlu konsentrasi tingkat tinggi.
monolog yang keren.. beberapa cerita lucu juga, tapi beberapa membuat saya mengerutkan kening (entah mikir, entah karena aku yang ga ngerti), tapi keseluruhan sih oke banget.. buku macam ini yang saya suka..