Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rupa dan Karakter Wayang Purwa

Rate this book
Wayang bukan sekadar fantasi, tetapi juga tuntunan hidup. Sebagian orang menonton wayang sebagai pelarian karena takut akan kenyataan hidup yang kejam dan tidak menyenangkan; untuk melupakan beban hidup sejenak, lalu “fly” atau “sakau” dengan menciptakan dunia yang lebih indah di alam fantasi. Hal itu tidak ubahnya seperti madat candu. Wayang adalah terapi psikologis sekaligus sebagai penguat rohani. Tidak salah maka di dalam wayang hal-hal yang kejam dan sadis sesekali perlu juga disampaikan. Mengingat bahwa di dunia nyata ada hal-hal yang sadis dan lebih kejam lagi.

Buku RUPA & KARAKTER WAYANG PURWA ini merupakan buku paling lengkap yang berbicara tentang wayang. Membahas seluruh tokoh dan karakter wayang, dari tokoh-tokoh dewa-dewi di kayangan, tokoh-tokoh Ramayana, hingga tokoh-tokoh Mahabharata. Buku ini bagaikan kitab suci tentang wayang yang mencapai ketebalan 1.172 halaman! Para penulisnya (Heru S Sudjarwo, Sumari, dan Undung Wiyono) telah mempersiapkan kitab ini selama 10 tahun! di mana setiap halamannya dihiasi dengan gambar tangan yang luar biasa indah dan orisinil dari penulis sendiri. Tak pelak, buku ini dikerjakan dengan penuh cinta, darah, keringat, dan juga bunga.

Selain melalui riset yang panjang, dalam penulisan buku ini para penulis sengaja bekerja sama dengan pusat aktivitas, komunitas, serta sumber literatur pewayangan. Mereka pun bahkan menemui para dalang kondang serta seniman wayang, untuk menggambarkan langsung rupa dan karakter yang dimuat dalam buku ini. Buku ini juga memuat 520 rupa tokoh wayang yang disajikan dalam bentuk CD interaktif berisi foto warna rupa, narasi, dan silsilah.

Kehadiran buku ini di tengah-tengah kita bagaikan sebuah oase sejuk di gurun gersang, yang bisa menyirnakan kehausan akut generasi muda akan pengetahuan abadi warisan nenek moyang kita yang luar biasa. Sebuah referensi wajib bagi setiap individu yang ingin mengetahui ajaran dan filosofi Nusantara; juga punya arti penting bagi para orangtua yang ingin membabar kisah-kisah pewayangan yang heroik dan penuh makna kepada anak-anaknya, baik di waktu kumpul keluarga ataupun saat meninabobokan anak-anak hingga tidur menghampiri pelupuk mata.




“Saya sungguh merasa bahagia dan bersyukur atas terbitnya buku Rupa & Karakter Wayang Purwa ini karena sangat berguna bagi perkembangan seni budaya dan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia.”
—Ki Timbul Hadiprayitno, dalang sepuh (Yogyakarta)

“Lahir batin saya trenyuh, karena bahagia. Buku ini dapat dijadikan pegangan bagi para dalang, terutama dalang junior yang belum mengenal rupa wayang yang pakem atau orisinal.”
—Ki Anom Soeroto, dalang kondang (Surakarta)

“Buku ini sangat bermanfaat bagi nusa dan bangsa, terlebih dunia pewayangan. Sebab tidak semua dalang mengetahui isi, rupa dan karakter wayang termasuk falsafah yang terkandung didalamnya. Saya bangga atas kerja keras adik-adik saya ini.”
—Ki Manteb Soedarsono, dalang kondang (Surakarta)

“Saya merasa mendapat teman dalam upaya menyelamatkan khazanah budaya bangsa Indonesia, khususnya wayang kulit. Buku ini menjadi salah satu acuan untuk melengkapi jati diri bangsa di tengah-tengah dunia global saat ini.”
—KP. Donowarih Begug Poernomosidi, dalang, Bupati Wonogiri

“Saya benar-benar terharu, tidak menyangka masih ada orang yang menyayangi karya pedalangan/pewayangan. Mudah-mudahan Allah memberi suatu dukungan sampai berhasil apa yang dicita-citakan para penulisnya.”
—RH. Tjetjep Supriadi, dalang sepuh (Karawang)

“Wayang telah dikenal dan digemari diseluruh Indonesia. Masing-masig daerah mempunyai wayang yang khas. Melalui buku ini kita dapat melihat wayang gagrak Surakarta yang dituangkan secara bagus baik gambar maupun narasinya.”
—Ki Dede Amung Sutarya, dalang wayang golek (Bandung)

“Sebuah karya yang luar biasa, terutama ditulis oleh orang Indonesia yang tanpa pamrih. Tanpa ambisi yang berlebihan, ditulis berdasarkan kecintaan terhadap khazanah budayanya. Sumbangan terbesar bagi yang ingin mengetahui pewayangan secara elementer maupun ilmiah.”
—Prof. Dr. Rahayu Supanggah, budayawan, Guru Besar ISI Surakarta

“Ini adalah upaya konkret melestarikan budaya asli Indonesia. Buku ini harus didorong agar mendapat dukungan dari semua pihak untuk menjadi bacaan bukan hanya oleh praktisi wayang, tapi juga remaja dan masyarakat umum.”
—Prof. Dr. Sarlito Wirawan, Ketua Komunitas Wayang UI, Guru Besar UI

“Saya merasakan pentas wayang kulit purwa semakin hari semakin jarang. Pemahaman masyarakat tentang wayang kulit purwa juga semakin menipis. Saya yakin kehadiran buku ini dapat ikut berperan memberi pengetahuan yang dibutuhkan bagi dunia pewayangan maupun masyarakat luas.”
—Hiromi Kano, swarawati asal Jepang

“Buku Rupa & Karakter Wayang Purwa ini menjadi sesuatu yang sangat unik dan masterpiece. Sebuah karya agung yang bukan hanya berarti pada hari ini tapi bagi anak cucu kita, bagaimana seluruh dunia akan memahami wayang itu betul-betul The Oral and Intangible Heritage of Humanity.”
—Sulebar M. Soekarma...

1169 pages, Hardcover

First published March 1, 2010

13 people are currently reading
133 people want to read

About the author

Heru S. Soedjarwo

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
26 (70%)
4 stars
7 (18%)
3 stars
2 (5%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for aldo zirsov.
494 reviews34 followers
wishlist
June 10, 2010
Sebagian orang menonton wayang sebagai pelarian karena takut akan kenyataan hidup yang kejam dan tidak menyenangkan; untuk melupakan beban hidup sejenak, lalu “fly” atau “sakau” dengan menciptakan dunia yang lebih indah di alam fantasi. Hal itu tidak ubahnya seperti madat candu. Wayang adalah terapi psikologis sekaligus sebagai penguat rohani.

Sinopsis buku ini, selaras dengan hipotesis saya untuk menjawab pertanyaan "Kenapa orang-orang (khususnya Jawa) betah berlama-lama bahkan semalam suntuk dan berhari-hari menonton pertunjukan wayang?"

Sebagai seorang non-jawa, yang pernah menghabiskan masa hidupnya ber-avonturir dari satu daerah (desa)/kota kecil di pelosok2 Jawa Tengah dan Timur, pertanyaan itu sungguh mengusik saya. Pernah beberapa kali menyempatkan diri dan waktu untuk ikut menonton wayang bersama penduduk setempat, tapi tidak bisa betah lebih dari 2 jam, terlepas bahwa sebenarnya pertunjukan wayang itu sangat menarik dan ceritanya sudah pernah saya baca di literature atau buku2 yang saya miliki.

Tapi kekaguman tetap menyeruak menyaksikan "kebetahan" dan kefanatikan penduduk Jawa untuk menyaksikan pertunjukan wayang tsb, semalam suntuk atau berhari-hari, walaupun pada saat itu media hiburan yang lain juga tersedia, seperti radio, televisi yang nyaris 24 jam, bioskop keliling ataupun hiburan lainnya.
Ada banyak nilai yang terkandung dalam pertunjukan wayang, dan ada semacam kebutuhan dan kewajiban yang terlihat pada penduduk Jawa, bahwa dengan menonton wayang, mereka akan diingatkan kembali atau disegarkan pikiran dan jiwa mereka akan nilai-nilai luhur dalam hidup, atau seperti sinopsis di atas, sebagai sarana untuk melarikan diri dan melupakan kesusahan hidup.

Tapi sungguh, menonton pertunjukan wayang bagi penduduk Jawa, dimata saya, memberikan pencerahan hidup dan kesegaran rohani yang mungkin tidak mereka dapatkan pada media-media lain. Dengan menonton wayang, mereka mengkaitkan kembali kenangan akan leluhur dan masa silam mereka dengan kondisi mereka saat sekarang, dimana kaitan dan nilai-nilai luhur itu begitu sangat dekat dan nyata serta berpengaruh sangat besar dalam kehidupan, tidak hanya kepada mereka, tetapi juga kepada orang2 yang mendahului mereka, leluhur, orang tua dan mungkin anak keturunan mereka nantinya. Kaitan emosional dan nilai-nilai ini yang tidak bisa mereka dapatkan pada media-media hiburan lain.

Pertanyaan yang sama harus saya jawab saat berada di luar negeri, bergaul dengan penduduk manca negara yang berbeda latar belakang etnis dan kebudayaan serta ketertarikan. Pertanyaannya berubah sedikit menjadi "Kenapa orang Indonesia betah berlama-lama menonton pertunjukan wayang (golek, orang dll), atau mendengar gamelan, angklung dsbnya?"
Sebagai orang yang tidak dalam kapasitas untuk menjawab pertanyaan itu, disamping posisi sebagai orang non-jawa dan tidak pernah terlibat aktif dalam kegiatan kesenian seperti itu, maka atas nama bangsa Indonesia, saya harus menjawab pertanyaan tsb berdasarkan atas hasil observasi dan hipotesis yang saya bangun sejak kecil waktu menjelajahi wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia.

Rasa penasaran dan keingintahuan warga luar dan penduduk mancanegara atas jawaban pertanyaan tsb menggiring saya dari satu pertanyaan ke pertanyaan yang lain, yang terkadang sulit bagi saya untuk menemukan jawaban yang pas dan bisa memuaskan atau tepatnya menghentikan pertanyaan berikutnya, yang tentunya semakin berat bahkan tidak jelas alias asal tanya.
Untuk menuntaskan pertanyaan itu, akhirnya saya hanya memberikan analogi kepada mereka bahwa kebutuhan menonton pertunjukan wayang kurang lebih sama dengan kebutuhan warga Amerika dan kulit putih lainnya saat butuh pelampiasan dari kesulitan hidup atau kesumukan di kantor dengan melampiaskannya kepada minuman beralkohol alias mabuk-mabukan, baik itu di tempat hiburan seperti klub dan pub, atau di rumah sendirian, sampai kemudian tidak sadarkan diri tergeletak duduk di atas kursi, di depan tivi yang tetap menyala sampai pagi dengan tangan terkulai ke samping tetap memegang botol minuman.

Atau tidak ada bedanya dengan penduduk Jepang yang dikala suntuk dan marah kepada kondisi kantor dan lingkungan sehari-hari, kemudian akan pergi ke suatu klub atau tempat hiburan yang menyediakan fasilitas bagi si tamu untuk bisa menghancurkan barang-barang yang ada di ruangan itu, setelah membayar lebih dahulu tentunya, atau melemparkan sesuatu kearah foto atau figur bentukan serupa boss atau rekan kerja yang menyebalkan. Tidak ada bedanya bukan??

Percobaan untuk betah menonton dalam jangka waktu yang cukup lama kemudian saya wujudkan dengan eksperimen menonton Serial TV "24" yang dibintangi Kiefer Sutherland aka Jack Bauer. Dengan membeli DVD Boxset season tertentu yang terdiri dari 22 bahkan 24 episode, dengan durasi 45-50 menit per episode, maka saya memulai petualangan gila ini di akhir pekan untuk menonton secara marathon tanpa jeda dua season sekaligus. Walaupun dengan stok makanan siap sedia di samping meja dan isi kulkas yang sudah terisi penuh, serta nomor telpon pizza delivery yang siap untuk dikontak, toh fakta berbicara lain, bahwa tetap saja fisik ini butuh tidur dan istirahat walau sejenak.

Walhasil, yang saya dapat setelah "kegilaan" itu adalah badan yang sakit-sakit, mata berkunang-kunang, pembalasan 2 (dua) hari tidur berturut2 sehingga harus absen kerja dan kuliah, serta sama sekali LUPA TOTAL terhadap isi cerita dari film seri yang saya tonton.
Kesimpulannya, kalo mau nonton atau cari hiburan, yang penting enjoy aja alias bisa dinikmati....:))
Profile Image for Truly.
2,771 reviews13 followers
November 17, 2012
Untung kerja di perpustakaan!
Bagaimana tidak beruntung, bisa merekomen buku ini lalu jadi pembaca pertama. Bukan pelit, tapi menilik harga serta kebijakan pembelian buku yang saya terapkan sendiri, sepertinya buku ini bakalan tidak bisa ditemukan dalam jajaran koleksi saya.

KECUALI.... ada yang mendadak sawan memberi hadiah ini he he he *merapal doa supaya ada yang sawan*

Memiliki darah Jawa bukan berarti saya cukup paham soal wayang. Kisah wayang yang saya tahu juga sangat terbatas dari dongengan saat kecil. Baru belakangan setelah dewasa saya berburu aneka buku wayang.

Dari seluruh tokoh wayang, favorit saya adalah Prabu Kresna. Sebagai titisan Sang Hyang Wisnu yang terakhir, sangat wajar jika sosoknya digambarkan sangat sakti dengan aneka pusaka sakti. Peristiwa ajal sang prabu karena hal sepele seakan tidak sebanding dengan keagungan masa hidupnya. Tapi itulah hidup, kadang hal sepele justru membawa dampak besar.

Buku ini memuat banyak hal seputar wayang. Bagi saya sendiri, buku ini memberikan pencerahan mengenai banyak hal. Dengan jujur mengakui banyak yang belum saya ketahui soal wayang.

Suatu saat, saking gemas dengan kelakuan teman sekantor yang "ajaib" spontan keluarlah kalimat "Mirip banget sih sama Gedeng Permoni" Sebenarnya kalimat itu diucapkan pelan, tak disangka salah satu teman ada yang mendengar dan spontan tertawa lepas. Ternyata dia juga menyukai wayang. Cukup unik, karena ia adalah produk kota seperti saya.

jadi ingat, sudah lama tidak nonton wayang. Padahal bagi saya menonton wayang sama dengan memberi asupan gizi bagi jiwa.

Pembatas buku wayang juga merupakan senjata saya bernegosiasi dengan pihak2 tertentu he he he

Reviewnya menyusul ahhh
Profile Image for NRifa.
10 reviews
May 20, 2011
Buku ini saya beli untuk saya pribadi yang ingin mengenal berbagai karakter wayang, dan juga dapat saya turunkan pada anak cucu nantinya supaya mereka dapat mengenal budaya asli dari leluhurnya.
Bangga dengan terbitnya buku ini. Terimakasih pada team yang menerbitkan buku Rupa dan Karakter Wayang Purwa, semoga semakin berjaya untuk Indonesia.
Profile Image for Niratisaya.
Author 3 books45 followers
September 27, 2011
you pay the best price, you get the best book with good explanation--though i have several questions arise after i read it and learn each of the characters. best thing is to go to the master and ask him, i guess.
Profile Image for Agoes Ming.
1 review
December 24, 2019
isis bukunya sangat bagus, namun sayang ketika saya beli buku itu secara online ternyata di dalamnya tidak ada cd yang berisi karakter wayang berwarna.
Profile Image for New.
6 reviews
May 29, 2016
Perjalanan mendapat buku ini tidak mudah bahkan harus menabung dahulu biar bisa dapat buku babon setebal dan terlengkap mengenai Tokoh Wayang, mempelajari wayang sejak kecil, penulis merasa selalu ingin menggali dan terus menggali sebenarnya apakah rahasia yang ada dibalik permainan Wayang Purwa, bukan permainan, melainkan pentas lakon. Lakon berasal dari kata laku, yang berarti sesuatu yang dijalankan (dilakoni dalam bahasa Jawa) dari perjalanan laku-laku itulah maka akan timbul sosok siapa yang menjalaninya dan apakah perannya? dari sana ia akan muncul suatu Rupa dan Karakter, bagaimana masing2 pribadi, masing-masing tokoh menjalani lakunya. Buku ini adalah suatu raungan luar biasa. Raungan dari sosok Heru S. Sudjarwo (penulis buku) yang hatinya tergerak mendokumentasikan Wayang Purwa, khususnya gaya Surakarta, diawali dengan kegerahan dan keprihatinan melihat karya-karya adiluhung tergolek semata di dalam museum,jika tidak kita yang mengawalinya lalu siapa lagi?? penulis Review pun terhanyut dalam setiap kisah tokoh yang ada dalam buku ini. menjadikan Buku ini menjadi semakin berarti dengan gambar dan sketsa yang berkualitas tinggi, menjelang ujian skripsi pun, penulis masih menyempatkan diri meski semenit untuk membaca buku ini. Tak salah memilih buku ini sebagai koleksi pribadi. YANG MAHAL BUKAN HARGA TAPI NILAI!
1 review
June 28, 2010
Data on this book can be equipped with a Heru S Sudjarwo and Penerbit Kakilangit Kencana facebook account. Thank you very much
Profile Image for htanzil.
379 reviews150 followers
Want to read
December 17, 2010
keren banget buku ini, buku babon wayang purwa, memuat 470 lebih rupa tokoh wayang! Gambar2nya bagus, tajam sehingga setail2 wayang terlihat jelas.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.