Kenapa harus ada peraduan antara cinta berbalut taat pada orangtua dengan cinta romantisme suruhan hati? Bisakah keduanya berkompromi? Atau memang harus ada yang dikorbankan?
Bagaimana rasanya menikah dengan seseorang, sementara hati ini sudah terlanjur penuh dengan nama orang lain?
Tanya-tanya itu memenuhi hati dan pikiran Kirana. Yups.. udah dapat ditebak dunk dari kalimat di atas kalau Kirana adalah episode ke sekian dari Siti Nurbaya abad 21. Dijodohkan! Kirana tak sanggup berkata tidak pada kedua orangtua terkasihnya, walau hati berteriak kalau dia tak punya perasaan apa pun untuk Ridwan, walau dia tau Ridwan adalah laki-laki yang baik, tapi hati Kirana telah penuh dengan satu nama Takayama Hiro.
Seorang pemuda Jepang yang menjadi tutornya selama satu tahun di Jepang. Kirana yang tak pernah dekat dengan seorang pria menjadi punya sesuatu berwarna merah jambu gitu deh terhadap Hiro. Witing trisno jalaran suko kulino kata orang Jawa, atau menurut pepatah Arab Qurbul wisaad wa thuluus siwaad, Cinta tumbuh karena dekatnya fisik dan panjangnya interaksi. Kalau kata orang Jepang, Ai wa kodashinise yo. Cinta yang tumbuh perlahan adalah cinta yang paling kuat. Dan Kirana merasakan itu.. eh.. ga juga ding.. pada awalnya Kirana ragu juga.. apa yang dia rasakan itu Cinta, kagum atau hanya senang terperhatikan? Tapi perlahan tapi pasti Kirana mulai menyadari kalau itu adalah Cinta. Uhuk. Bagaimana rasanya Kirana? :p
Eitss… ada lagi satu pemuda bernama Chandra (cuit… cuit.. Kirana laris manis euy :p). Nah, kalau Chandra ini nih, merasa cocok dengan Kirana karena nama mereka jadi pas gitu kalau disandingkan Chandra Kirana (ada alasan lain lagi sih). Chandra ini digambarkan cerdas dan punya impian yang sama dengan Kirana. Pengin ke Jepang. Kalau sama Chandra sih Kirana oke aja menikah.. hatinya lebih bisa menerima tapiii… pernikahan yang akan dia hadapi adalah dengan Ridwan, pilihan orangtuanya, yang dia sama sekali tak punya perasaan atau kecendrungan apapun. Bukan dengan Hiro.. bukan juga dengan Chandra. So.. gimana dunk? Temukan liukan konflik yang terjadi seputar kehidupan Kirana dalam Sakura yang ditulis oleh Nova Ayu Maulita.
Segala cinta yang tidak sampai pada pernikahan itu harus dilupakan. Harus! Harus! Harus!
Memutuskan menikah dengan siapa tentu bukan perkara enteng. Dengannya akan kuhabiskan lebih dari setengah umurku – itupun kalau Tuhan memberiku umur seperti rata-rata manusia.
Yang bikin Gregetan..
Saya gregetaaaaaannnn… Erggghhh.. pertama, gregetan dengan sikap Kirana terhadap perasaannya sendiri. kenapa sih bisa2nya Kirana menyemai asa yang begitu tinggi buat menikah dengan Hiro? Padahal Hiro tak pernah menjanjikan apa pun. Cuman bilang suka. Kalaupun ada agak2 nyinggung tentang pernikahan itu juga tersirat. Hiro hanya bilang suka sama Kirana dan minta Kirana datang lagi ke Jepang, "Kembalilah ke Tokyo pada suatu haru, Kirana!" nah lho kalau udah gitu kenapa menumbuhkan harapan tinggi2 untuk menikah dengan Hiro, Kirana???
Kadang sulit memisahkan apa yang yang kulogikakan dengan yang kurasakan. Cinta memang tak selalu bisa dijelaskan.
Kirana juga sadar sepenuhnya kalau Hiro bukan muslim dan Kirana juga ga mau menikah kalau beda prinsip. Ada proses panjang yang mesti ditempuh untuk sampai ke pernikahan. Dan juga Hiro jauuuh.. di Jepang gitu loh. Hiro juga dikatakan tak pernah membalas email Kirana. Atas sebab itu.. kenapa masih berharap pada Hiro duhai Kirana?
Dan juga nih ya, kenapa sebagai perempuan timur, mesti Kirana yang datang menemui Hiro ke Jepang? Hiro dong yang ke Indonesia..
Tidaklah mawar hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang
Dia ‘kan
datang
Dan memungutmu ke hatinya yang terdalam
Bahkan dia takkan bertahan tanpamu
(Untuk Perempuan - S07)
Tapi ya sudahlah.. berhubung Kirana tetap keukeuh pengin ke Jepang, saya hanya bisa bilang Ganbatte ne! ^_^
Kedua.. gregetan sama Ridwan.
Ridwan ini yang mau dijodohkan sama Kirana, ternyata udah punya kekasih gitu deh. Dan dia dengan penuh kerelaan hati meninggalkan cewek yang dia janjikan pernikahan demi memenuhi keinginan hati orangtuanya menjodohkan dia dengan Kirana dengan alasan Kirana oke juga jadi istri. Ihhh… gemes deh saya. Kenapa jadi plin plan kayak gitu sih? kenapa justru dengan seenaknya menyakiti hati seorang wanita. Mana janji manismu Ridwan? Tapi Ridwan pun membela diri, kalau sebagai seorang pria dia punya kecendrungan untuk mendua. Gedubrak!
Ketiga, gregetan juga dengan sikap Chandra.
Apa pada dasarnya cowok emang gitu yaa? Ga bisa ngasih ketegasan terhadap makhluk yang bertitel cantik. Oke lah kalau dia punya niatan menolong Tasya, tapi ga harus dia kan yang selaluuu mendengarkan curhatan Tasya. Minta tolong ke teman ceweknya gitu. Bisa kan Chan?
Tapiiii…. Dengan segala hal yang bikin saya gregetan itulah cerita ini ada. Jadi ada konflik. Kalau ga kayak gitu… ga seru kaliiii… :p
Yang saya suka ^_^
Membaca buku ini di halaman2 awal bikin saya jatuh suka. Soalna mengambil setting Jepang. Dan saya bisa ngebayangin gitu tentang Jepang. Ahaha… beberapa hal agak mirip dengan S'pore ya (sok tau :p). Saya juga mendapatkan beberapa info baru tentang Jepang. Misalkan nih, kalau ternyata Sakura itu cuman ada di Jepang. Kalaupun ada tumbuhan sejenis yang tumbuh di luar Jepang namanya bukan Sakura tapi cherry blossoms. Hihihi... maksa banget ya...
Trus... pernyataan Kirana kalau Orang Jepang itu belibet. Misalkan tentang kanji-kanji yang sangat sulit dibaca dan dilafalkan oleh Orang asing. Eitsss... ternyata bukan cuma orang asing yang ribet sama kanji itu. Orang Jepangnya kadang juga ada yang ribet dan mereka juga mengalami kesulitan. Wekekeke... jadi ingat cerita Sinchan.. yang suka salah gitu kalau membaca dan melafalkan kalimat.
Ada lagi saat satu ada yang mengusik pikiran Kirana, tentang mengapa Indonesia tidak menganggap tentara-tentara Jepang sebagai musuh? Padahal di Korea dan China ada catatan buruk bahwa Jepang adalah penjajah yang hingga saat ini harus dimusuhi. Satu hal yang tak pernah terbaca dalam buku catatan sejarah Indonesia. Memang sih disebutin kalau Indonesia pernah dijajah Jepang, tapi penyebutan itu datar2 saja.. tanpa emosi.. tanpa kemarahan dan tanpa dendam. Entah apa karena bangsaku yang terlalu ramah tamah dan pemaaf atau justru terlalu bodoh? Hemm...
Trus.. tadinya saya pikir ini hanya kisah cinta biasa.. Tapii.. kehadiran GARIS di mana Kirana bergelut di dalamnya membuat novel ini menjadi tak biasa lagi. Miris rasanya membaca apa yang terjadi di sana. Menggambarkan kondisi social yang mungkin memang terjadi di era sekarang ini. Jadi ingat survey yang dulu heboh itu… tentang sekian persen mahasiswi di Yogyakarta yang tidak virgin lagi. Nah, GARIS adalah lembaga yang peduli dengan masalah pornoaksi dan pornografi.
Sayangnya…tidak disebutkan apa yang dituliskan di sana emang fakta beneran atau hanya fiksi belaka atau fiksi yang berdasarkan kenyataan. Tapii.. setidaknya ini menjadi gambaran. Bikin jadi berpikir, separah inikah kondisi di era sekarang? Sebegitu bebas kah sudah pergaulan remaja (non remaja) masa sekarang? Trus, bagaimana mengendalikannya?
Btw, penulisnya ternyata seorang hafidzah ya... pantas saja di Sakura sosok Kirana digambarkan begitu intens interaksinya dengan Al-Qur'an. Dan saya suka bagian itu :)
Yang bikin bingung dan penasaran.
Ada juga nih yang bikin saya bingung. Ada bagian cerita saat-saat Kirana berjuang di GARIS, di mana teman satu Kirana yang bernama Elis dikerjai gitu deh sama Tasya. Di sms dan telpon seolah2 Elis adalah ayam kampus.
Atas ide Kirana, Elis diminta menemui saja yang menelponnya itu. Siapa tahu bisa ngebongkar sindikat chicken kampus itu? Dan posisi Elis kemudian digantikan Dewi. Udah tegang nih saya ngebacanya. Menebak2 apa yang terjadi. Ehh… ternyataaa… ceritanya hilang begitu saja. Ada awal, tapi tak berakhir. Ada sih disinggung di bab berikutnya. Tapi hanya sampai pada Tasya mendapat BBM yang berisi "kerjaan beres bos," Lalu ada gumam dari Tasya yang bilang "Kena juga akhirnya Elis dikerjainya." Dikerjai sampai gimana sih?
Satu lagi Catatan kaki yang ada di Sakura diletakkan di akhir bab, bukan di bawah halaman. Jadinya kalau mau tau arti dari bahasa Jepang atau penjelasan apa gitu, mesti bolak balik halaman gitu. Iiih.. bikin kenyamanan saya membaca terusik.
Walaupun saya tidak terlalu puas dengan endingnya, yang menurut saya terlalu maksa. Hehee… tapiii.. saya suka Kirana… eh… Sakura ^_^
Quote terfavorit dari Sakura :
Memang tak seharusnya menyimpan cinta yang tidak pada tempatnya. Bila tercerabut akan sakit rasanya, meninggalkan luka berdarah, berbekas. Andai hati ini lebih terjaga.