Jump to ratings and reviews
Rate this book

Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta

Rate this book
(Dikutip dari Bab 3: Menembus Batas, hal: 133)

* * *

Malam itu, sebuah telepon berdering untuk bapak. Telepon penting nan genting. Bapak yang saat itu berada dalam perjalanan, diminta segera datang ke rumah Pak Habibie. Hampir semua pimpinan partai politik dan pimpinan fraksi telah berada disana. Termasuk diantaranya adalah Akbar Tanjung, Ginanjar Kartasasmita, Hamzah Haz dan Yusril Ihza Mahendra. Selain para politisi dari Poros Tengah dan Golkar, ada juga perwira tinggi TNI. Setiba di kediaman Habibie, bapak langsung didaulat. Jendral Wiranto spontan menepukkan tangannya di bahu bapak.

“Bismillah Pak Amien, TNI ada dibelakang anda, jika Pak Amien bersedia dicalonkan menjadi presiden”, demikan kata kata Jendral Wiranto, yang saat itu merupakan panglima tinggi ABRI. Sebuah daulat yang diamini oleh semua orang yang berada dalam ruangan tersebut.
Bapak berkisah padaku, ia sungguh berada dalam sebuah dilemma. Menjadi Presiden. Memegang tampuk kepemimpinan paling tinggi di negara ini. Menjadi pengambil kebijakan akhir dalam setiap urusan pemerintah dan rakyatnya.

Jawaban bapak atas pertanyaan Permadi dalam sebuah seminar pra-reformasi mengiang kembali, “Pak Amien, beranikah Anda menjadi Presiden?” dan bapak menjawab, “Insya Allah Berani’’

Ia berani, karena kata kata itu semula ia maksudkan hanya sebagai wacana ice breaker untuk memecah kebuntuan demokrasi di masa orde baru. Bapak tahu benar, tidak ada celah sedikitpun untuk menjadi presiden saat itu.

Tapi sekarang? Tawaran menjadi Presiden bukanlah wacana, tapi sangat dekat didepan mata. Diusung Golkar, TNI, dan Poros Tengah. Jadi, sangat kuat dukungan di MPR. Perjuangan untuk rakyat secara konkret akan bisa segera terlaksana, seperti yang dicita-citakan bapak.
Ketika bapak menceritakan apa yang terjadi pada malam itu, aku membayangkan seperti menjadi seseorang yang melihat harta karun berlimpah tak bertuan ada didepan mata. Aku pasti akan mengambilnya. Tapi bapak, tidak.

Bapak berkonsultasi dulu dengan ibunda tercintanya tentang tawaran ini, namun nenekku kemudian memberi nasehat, “Mien, tanggung jawabmu di MPR baru saja dimulai. Kamu telah disumpah menjadi ketua MPR untuk masa bakti 5 tahun. Jangan berbelok di tikungan. Itu tidak bagus. Aku tidak setuju”.
Bapak dengan halus menampik tawaran Habibie, Wiranto, dan segenap politisi yang berkumpul di rumah Habibie malam itu. Tampuk kepemimpinan Indonesia akhirnya diterima oleh Abdurrahman Wahid sebagai calon dari Golkar, Poros Tengah, dan TNI, menyisihkan Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan Presiden di Sidang Umum MPR 1999.

* * *

Nenekku, ibunda tercinta bapak adalah figur yang begitu sentral dalam kehidupan bapak. Sosok ibu sejati bagi anak-anak dan lingkungannya. Tak heran, bila nenek pernah mendapat predikat Ibu Teladan se eks-karesidenan Solo. Sebelum bapak mengambil keputusan keputusan penting, ia selalu meminta pendapat dan restu terlebih dahulu dari ibundanya. Termasuk saran penting dari ibundanya untuk menolak tawaran menjadi calon presiden pengganti Habibie yang didukung Golkar, TNI dan poros tengah. Bagi bapak, restu seorang ibu sangat powerful, meski terkadang harus ditelan dengan kepahitan. Kepahitan karena harus menghadapi amarah massa yang tidak terima dengan gagalnya Megawati menjadi presiden. Mereka merusak dan membakar rumah nenek, ibunda bapak.

Nenek yang sudah renta, harus diungsikan dari kerusuhan massa yang membumi hanguskan kota Solo pada 20 Oktober 1999. Malam sebelum insiden pengrusakan dan pembakaran, kerabat di Solo telah mendengar ancaman dan desas desus bahwa sekelompok massa akan menyerbu ke rumah ibunda Amien Rais di Kepatihan, Solo. Kerabatku segera mengungsikan nenekku ke rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo. Tiada waktu lagi untuk menyelamatkan barang berharga apapun didalam rumah. Suara nenekku yang kebingungan karena tiba tiba harus diungsikan, masih melekat di ingatanku.

‘’Aku meh digowo nengdi?. Aku ora lara kok digowo ning PKU’’
(Aku akan dibawa kemana. Aku kan tidak sakit mengapa dibawa ke PKU?)
Pamanku Abdul Rozaq Rais yang bertugas mengungsikan nenek tak kuasa menahan air matanya. Sambil memapah sang bunda, pamanku itu terpaksa berbohong.
‘’Rumah ini akan direkonstruksi, Bu. Ada bagian yang mau ambruk harus diperbaiki. Nanti selesai rekonstruksi pasti ibu bisa kembali lagi ke rumah’’

Rasanya berkecamuk perasaan pamanku saat itu. Kenyataannya adalah rumah itu bukan akan direkonstruksi menjadi lebih baik, melainkan didestruksi besar besaran pada pagi harinya. Sekelompok orang yang beringas menjebol pintu dan jendela rumah lalu memporak poranda semua isi rumah nenek.

Rumah nenek yang sederhana, tempat bapak dan kelima saudaranya dibesarkan, luluh lantak dalam waktu kurang dari 3 jam. Beberapa bagian ruangan di dalam rumah juga dibakar. Foto kenangan keluarga tak lagi bersisa. Para tetangga yang menyaksikan aksi beringas tersebut hanya bisa diam termangu karena takut pada massa yang membawa parang dan golok. Konsentrasi kepoli...

284 pages, Paperback

First published April 1, 2010

12 people are currently reading
311 people want to read

About the author

Hanum Salsabiela Rais

8 books372 followers
Hanum Salsabiela Rais, adalah putri Amien Rais, lahir dan menempuh pendidikan dasar Muhammadiyah di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM. Mengawali karir menjadi jurnalis dan presenter di TRANS TV.

Hanum memulai petualangannya di Eropa selama tinggal di Austria bersama suaminya Rangga Almahendra dan beke rja untuk proyek video podcast Executive Academy di WU Vienna selama 2 tahun. Ia juga tercatat sebagai koresponden detik.com bagi kawasan Eropa dan sekitarnya.

Tahun 2010, Hanum menerbitkan buku pertamanya, Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta. Sebuah novel biografi tentang kepemimpinan, keluarga dan mutiara hidup.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
105 (47%)
4 stars
71 (31%)
3 stars
33 (14%)
2 stars
6 (2%)
1 star
8 (3%)
Displaying 1 - 30 of 30 reviews
Profile Image for Yuli Prihatama.
2 reviews1 follower
May 28, 2013
Amien Rais, Inspirasi Hidup Tentang Keberanian

Hari Ahad, aku menerima sebuah hadiah menarik dari salah satu adikku. Sebuah buku yang membuat hari Senin pagiku terasa nikmat dan larut untuk membaca meski waktu terus semakin siang. Sebuah buku yang dihadiahkan oleh seorang puteri yang kini menjadi jurnalis untuk sang ayah yang kita semua mengenalnya sebagai Bapak Reformasi. Buku itu adalah karya Hanum Salsabila Rais untuk ayahandanya, Amien Rais.

Siapa yang tak kenal dengan salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam peristiwa reformasi 1998. Tatkala Soeharto harus menyerah ketika negara ini dilandai badai krisis moneter dan krisis multidimensi yang sedemikian parah. Masa-masa yang pahit ketika aku masih kelas 3 SD dan tidak terlalu mengerti bagaimana kerusuhan berkecamuk di mana-mana hampir di seluruh kota besar di Indonesia, kecuali ibukota negeriku yang asri, Yogyakarta.

Rasanya tak baik aku bernostalgia terlalu lama dengan angan masa kecil tentang masa-masa adem ayem Orde Baru tiba-tiba bergejolak dan akhirnya menjadi masa yang serba bebas seperti hari ini. Amien Rais, itulah salah satu nama yang berperan untuk membidani lahirnya era Reformasi berserta rekan-rekan seperjuangannya yang menginginkan adanya penyegaran dalam kepemimpinan Indonesia yang telah lama dimonopoli oleh rezim Soeharto.

Beruntung aku sejak kecil hidup di lingkungan Muhammadiyah, sehingga nama beliau tidak terlalu asing bagiku. Kisah hidupnya yang sederhana pun telah lama terdengar di telinga ketika aku mulai tumbuh remaja dari lisan para guru dan aktivis muhammadiyah. Jadi buku ini menjadi bukti baru bahwa apa yang aku dengar memang apa adanya dan semua juga berpikir demikian. Kecuali mereka yang memang tidak sependapat dengan hal ini.

Amien Rais, seorang ayah yang memberi inspirasi besar bagi keluarganya. Kesibukannya sebagai mantan ketua PP Muhammadiyah dan berbagai kiprahnya di dunia akademis tak membuatnya lantas menelantarkan keluarganya. Buku yang awalnya kuprediksi berisi pujian luar biasa sang puteri kepada ayahandanya ternyata bagiku adalah sebuah cerita pujian yang tak sekedar memuji tapi memang realita terpuji yang pantas dicontoh oleh para politisi bangsa ini.

Amien Rais, seorang yang berani ketika banyak orang yang memilih bungkam karena melihat orang-orang berani bersuara telah dilenyapkan dari peredaran. Dia hanya berbicara tentang penyegaran kembali kepemimpinan Indonesia yang telah jenuh diperintah Soeharto selama 3 dekade. Dia kritis dan sangat berani, itulah karakternya, dan sangat wajar karena dia akademisi yang ahli di bidang politik. Banyak yang mencibir keberaniannya ini sebagai NATO (No Action Talk Only). Benarkah demikian? Jika tidak mengenal sosoknya dekat, diam itu lebih baik.

Amien Rais, sosok fenomenal yang pernah dimiliki negeri ini yang kini telah kembali ke dunianya. Sosok ketua MPR legendaris yang berhasil memimpin ratusan orang dengan selamat dalam mengamandemen UUD 1945 selama 4 kali sehingga benar-benar mengantarkan konstitusi NKRI ini menjadi negara yang berdemokrasi dengan sebenar-benarnya, tidak semu seperti yang telah dijalankan sebelum-sebelumnya. Orang yang blak-blakan ketika muncul pemberitaan tentang penerimaan suap dalam kampanye pilpres 2004 sehingga membuat calon-calon yang lain akhirnya ikut mengaku menerima uang tersebut.

Amien Rais, sosok yang mengajarkan sikap optimis di tengah kehancuran bangsa yang sangat mengerikan seperti saat ini. Sikap jiwa besarnya dalam menghadapi kekalahan dan bangkit kembali dengan cepat setelahnya adalah hal yang sangat mudah kita jumpai dalam paparan naratif sang puteri, Hanum. Kekuatan visinya mampu membuatku terbelalak lagi bahwa bangsa ini masih punya masa depan. Bangsa ini masih bisa bangkit menjadi raksasa dunia. Harapan itu masih ada.

Amien Rais, sosok yang tak letih untuk terus berpikir dan mengingatkan bangsa Indonesia ini yang kini terninabobokkan dalam budaya westernisasi yang mempengaruhi pola pikir dan tindak-tanduk masyarakat. Sebuah penyakit yang sangat kronis dan membuat bangsa ini semakin lupa akan kebesarannya hingga rela menghamba kepada Amerika. Meski dia jebolan universitas top di negeri Paman Sam itu, bahkan katanya itu adalah universitas yang membidani lahirnya neokolonialisme dan neoliberalisme yang semuanya adalah sistem kapitalis, dia tetap garang untuk berkata tidak kepada Amerika. Dialah sosok yang paling berani mengingatkan Indonesia saat ini lewat bukunya “Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia”. Mengingatkan kita bahwa saat ini kita telah kembali dijajah oleh bangsa asing dengan gayanya yang baru namun menjanjikan kemiskinan untuk negeri yang kaya raya ini.

Ah, buku ini sangat spektakuler bagiku. Memang setiap katanya Hanum adalah pujian untuk ayahandanya tercinta, tapi bukankah dia hanya menuliskan apa yang dia dapat selama menjadi anaknya Amien Rais. Bahkan dia mengatakan ayahnya adalah anugerah tuhan yang sangat besar, dan dia bersyukur bisa “magang“ bersama beliau hingga hari ini. Buku ini segar menggiring kita pada nilai-nilai yang dipegang seorang Amien Rais dan apa yang dia wariskan untuk para generasi setelahnya. Buku ini akan menjadi khazanah baru bagi mereka-mereka yang selalu berkata bahwa Amien Rais adalah pengacau yang mengubah zaman enaknya Pak Harto berubah menjadi zaman amburadul seperti sekarang. Betulkah demikian? Buku ini cukup lengkap untuk mematahkan pendapat Anda.

Amien Rais hanya manusia biasa, tempat salah dan dosa, tapi sikap dan kepribadiannya dapat menjadi inspirasi para pemuda untuk berani bersikap dan bertindak untuk bangsanya. Maka tak selayaknya kita berkata-kata tidak sopan kepada Bapak Reformasi ini yang telah membuat kita hari ini bebas belajar dan mengerti akan luasnya dunia dengan berbagai perspektif yang ditawarkannya. Semua kini terbuka untuk kita pilih, maka mari kita pilih, kemudian bertanggung jawab atas pilihan itu.

Buku Menapak Jejak Amien Rais ini telah menyitah hari seninku. Tiga ratus halaman selesai kulahap dalam waktu kurang dari 7 jam. Aku sangat tertarik dengan buku ini karena ia tak hanya bercerita tentang Amien Rais, tapi lebih bagaimana ini menjadi refleksi besar bagi para pemuda hari ini. Buku ini akan menjadi cermin dan pembanding seberapa kualitas kita masing-masing dalam mewujudkan cinta untuk Indonesia tercinta ini. Amien Rais telah memulai dari bangunan keluarga yang kokoh dan meretas badai yang dahsyat. Kini ia tetaplah manusia biasa. Saat berjayanya, tetap sederhana hingga hari ini.

Sekedar tambahan, di sini pula kita akan dapatkan tips jitu dan gambaran kualifikasi istri yang keren jika memang kita ingin membangun rumah tangga yang kokoh. Setelah Habibie dan Ainun, maka kisah hidup Amien Rais yang memang sahabat B. J. Habibie ini adalah referensi berikutnya. Buku ini sangat positif dan memberikan gambaran yang cukup obyektif tentang seorang Amien Rais, meskipun ditulis oleh puterinya sendiri. Di sini pula aku memuji Hanum yang piawai menorehkan kata-katanya sebagai seorang jurnalis yang bisa menggiring pembacanya merasakan manisnya kehidupan bersama sang ayahanda dan keluarga. Dia juga mewarisi keberanian seperti ayahnya, karena menuliskan gagasan besar ayahnya di buku ini berarti dia juga siap untuk melanjutkan ide-ide besar sang ayah untuk kebaikan Indonesia. Mari kita optimis! Indonesia pasti Berjaya!
Profile Image for Yanti.
37 reviews1 follower
May 1, 2013
Hal pertama yang membuat saya terkesan karena saya mendapat buku ini gratis dari Pak Amien Rais dan Mbak Hanum, hehehe...
Jadi, ceritanya Detik Forum membuka sesi tanya jawab dengan Pak Amien Rais dan Mbak Hanum. Daaannnn pertanyaan saya terpilih sebagai salah satu dari 3 atau 5 penanya (saya lupa jumlah pastinya) terbaik. Bangga? pasti dong, apalagi member DF cerdas-cerdas dan menurut saya, saya masih jauh di bawah mereka. Namun syukur Alhamdulillah, pertanyaan saya terpilih dan saya mendapat hadiah berupa buku ini :)

Buku ini benar-benar tulisan dari seorang anak yang ditujukan bagi ayahnya. Seandainya saya bisa membuat sebuah persembahan spesial untuk ayah saya, rasanya saya juga akan membuat sebuah buku karena ayah saya juga senang membaca. Di buku ini, Mbak Hanum menuliskan cerita hidupnya menjadi anak seorang Amien Rais. Alur ceritanya simpel dan menarik mungkin karena Mbak Hanum juga seorang jurnalis sehingga walaupun biografi tapi buku ini tidak membosankan untuk dibaca.
Profile Image for Hanum Rais.
13 reviews65 followers
August 14, 2011
my first book... I don't want to read this book for second, or the third time and so forth.. only once in a lifetime..cos.. I cant let my eyes keep dropping tears each and every time flipping through this book from page to page...;) tHere are so many mails coming to my inbox telling that they immediately hugged and kissed their fathers as soon as finishing reading the book:)
Profile Image for Aida Radar.
48 reviews2 followers
January 20, 2015
Saat masih kuliah di Makassar, saya punya kebiasaan membawa buku-buku bacaan yang saya miliki ke kampus. Bisa 6 sampai 9 buku yang saya bawa dalam sehari. Buku-buku itu saya letakkan di goodie bag dan meminjamkannya pada teman-teman yang ingin membacanya (hanya bagi mereka yang mau menaati peraturan peminjaman: bukunya tak boleh dilipat saat dibaca, halaman untuk menandai batas bacaan juga tak boleh dilipat,dan menyayangi buku itu sebagai buku sendiri yang saya izinkan membawa pulang buku-buku saya).

Namun ada satu buku yang paling sulit saya pinjamkan meski persyaratan-persyaratan yang saya ajukan telah disepakati. Iya, buku ini: Menapak Jejak Amien Rais! Walaupun hampir setiap saat membawanya ke kampus, saya hanya mengizinkan dibaca di tempat. Jika saya tidak salah ingat, hanya ada 2 orang yang berhasil meminjam buku ini. Hehe...

"Kenapa'ki tidak mau pinjamkan buku ini untuk dibawa pulang?"

"Saya ndak mau kehilangan buku ini."

"Kan tidak dihilangkan'ji. Dibaca'ji."

"Ada yang disebut dengan kehilangan yang tidak disengaja."

"Hmdendeeehhh..."

Maka tak jadilah ia meminjam buku ini. Hihi :D

*
Menapak Jejak Amien Rais adalah salah satu buku tersayang yang saya miliki. Bukan hanya karena oleh-oleh dari Mama dan Papa saat pulang dari Muktamar 1 Abad Muhammadiyah di Yogyakarta, tapi juga karena buku ini berkisah tentang Bapak, Bapak Tersayang saya, Bapak Amien Rais. Mama dan Papa tahu betul bagaimana sayangnya saya pada sosok Bapak, bahkan sejak saya belum tahu apa-apa tentang dunia: anak SD ingusan. Lahir dan besar dalam keluarga Muhammadiyah menjadi cikal bakal kecintaan saya pada sosok Bapak. Bagi saya, beliau adalah papa kedua saya, setelah papa Abdul Rahman. Owww Kedua papa saya ini bahkan mempunyai inisial nama yang sama: Abdul Rahman (AR), Amien Rais (AR). Oho! Juga inisial nama saya ternyata: Aida Radar (AR)! ^^

Apakah ini kebetulan? Saya orang yang tidak percaya kebetulan!

Untuk lebih mengenal lebih dekat sosok "keras" dalam sepak terjangnya di dunia perpolitikan Indonesia, buku ini bisa menjadi penyeimbang. Buku yang ditulis anak Bapak, Mbak Hanum Salsabila Rais, menginformasikan kita wajah Bapak dari sisi yang berbeda: wajah seorang ayah bagi anak-anaknya, wajah seorang manusia biasa.

Ada satu bagian dalam buku ini yang menjawab kekecewaan dan pertanyaan saya saat melihat foto Mbak Hanum untuk pertama kali sebelum berjilbab. "Kok Mbak Hanum tidak berjilbab? Kok putri Bapak Amien nggak menutup aurat?" Di sini, Mbak Hanum menjawab kekecewaan dan pertanyaan saya itu.

Meskipun unsur subjektif mendominasi pemaparan sosok Bapak, namun bagi saya, Mbak Hanum hanya menuliskan sosok Bapak apa adanya. Bukan karena sebuah tendensi mengangkat pamor sosok Amien Rais. Subjektifitas dalam buku ini tentu terasa sebab ini adalah kisah pengalaman seorang anak tentang ayahnya. :)

Dan karena tulisan ini adalah tentang pengalaman seorang anak tentang Papa Kedua-nya, maka dengan subjektifitas pula, saya beri rating penuh untuk buku ini! Hehehe :D
1 review
February 14, 2017
menurutku amien rais itu sosok aktor politik dan reformis yang patut di contoh dan ditiru, beliau mengkritik tidak hanya sekedar siapa orang itu tetapi bliau kritik apabila terdapat kesalaah dan kekeliruannya siapapun itu, bukankah seharusnya memang seperti itu.
Profile Image for Hujan Kepagian.
17 reviews11 followers
January 19, 2012
Menapak Jejak Amien Rais
Buku Biografi Amien Rais yang tidak sekedar menyuguhkan apa yang ada dipermukaan , apa yg pernah disuguhkan media, tp lebih detil dan mendalam karena ditulis oleh putrinya sendiri "Hanum Salsabila Rais". Hanum runtut bercerita tentang bapaknya dari masa kanak-kanaknya sampai dia berkeluarga, semua dikemas dengan bahasa yang runtut pula (ringan ke berat). Amien merupakan gambaran sosok bapak teladan dan pemimpin yang berwawasan kedepan mendahului jamannya. Menceritakan betapa konspirasi politik telah ikut mengoyak kenyamanan keluarganya , dari kasus tabrak lari yg dialami anak sulungnya sampai pembakaran rumah di Solo, begitu mencengangkan ..kadang mengharukan. Arrgghh..!!! betapa kita menyayangkan ternyata lebih dari banyak penguasa "Inlander" di negeri ini yang bisa dibeli dengan uang dan tunduk pada Hegemoni bangsa Asing. Ternyata sejarah berulang. Kita masih dijajah.
Profile Image for Achmad Lutfi.
167 reviews5 followers
July 30, 2013
Semula saya mengira, bahwa buku ini akan berkisah banyak tentang gagasan-gagasan seorang Amien Rais, pandangan serta pemikiran beliau perihal bangsa besar yang dicintainya.

Akan tetapi, rupanya tidak demikian. Buku ini, sebagaimana latar belakang penulisnya, menceritakan pengalaman dan kesan seorang putri mengenai ayahnya. Dan dengan gaya bertutur yang menarik, penulis memperkenalkan saya kepada sosok Amien Rais.

Satu hal penting yang saya dapati dari buku ini adalah dorongan untuk mengetahui lebih dalam melalui sumber informasi yang lain, tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada masa reformasi, peristiwa-peristiwa didalamnya, serta apa sesungguhnya yang dicita-citakan oleh para tokoh reformasi kepada bangsa indonesia. Sebab apalah arti sebuah kejadian besar dimasa lalu, bila kita selaku generasi yang akan memimpin bangsa ini, tak benar-benar paham dan mengerti, serta tak belajar dari mereka.

Teruntuk yang hendak menyimak buku ini, selamat berkenalan dengan tokoh reformasi.
Profile Image for yanti.
117 reviews2 followers
January 25, 2016
Saya kasih rating 5, karena ini buku non fiksi pertama yang saya baca tentang sesosok tokoh, yang saya sering lihat di berbagai Media. Gaya penulisan hanum, lagi-lagi membuatku ketagihan untuk terus membaca hingga akhir. Banyak hal yang bisa kupelajari dari sebuah buku "Menapak Jejak Amien Rais". Tentang sebuah kesederhanaan, cita-cita,harapan, prinsip hidup,keteladanan bahkan tentang pendidikan anak. Bukan hanya pengetahuan tentang Amien Rais yang bertambah, tetapi saya makin percaya tentang akan seuntai kata mutiara, bahwa dibalik keberhasilan seorang laki-laki ada wanita di belakangnya.
Dan ini saya lihat di dalam Sosok Amin Rais, yang mempunyai Istri dan Ibu yang Luar biasa, hingga dapat menjadikan Amien Rais seperti yang kita lihat.
untuk lebih lengkapnya baca di https://jendeladuniaku2015.wordpress....
Profile Image for Lesti.
2 reviews
February 23, 2015
Saya mengenal sosok Bapak Amien Rais sebagai tokoh reformasi yang garang dan tegas. Saya membayangkan beliau pasti mendidik anak2nya dengan disiplin tinggi.
Namun setelah membaca kisah ini, yang ditulis sendiri oleh putri beliau, saya jadi punya perspektif lain tentang seorang Amien Rais.
Ternyata beliau seorang ayah yang lembut. Sangat dekat dengan putra putri nya.
Yang membuat sy geli sekaligus haru adalah saat diceritakan bagaimana Bapak menjemput anak2 beliau setelah lahir dari rumah sakit.
Bapak Amien Rais selalu memakai setelan jas lengkap dengan sepatu kinclong dan dasi, layaknya mau menjemput tamu agung atau tamu kenegaraan.
Saya yakin, hanya Pak Amien satu2nya bapak di dunia ini yang melakukannya..
Bravo Pak Amien...
Profile Image for Susi.
5 reviews
February 24, 2015
Membaca buku ini seperti melihat sisi lain seorang Amien Rais. Semula saya kira isi buku ini akan membahas tentang sepak terjang Amien Rais didunia politik. Setidaknya dari pandangan Hanum sebagai seorang anak. Ternyata tidak.
Buku ini lebih menceritakan kedekatan seorang ayah dengan anaknya. Bagaimana peran seorang ayah untuk anaknya walaupun ditengah belitan kesibukan dan agenda politik yang sangat ketat.
Buku ini sangat inspiratif. Sangat saya rekomendasikan untuk pendamping hidupku kelak...:)
Profile Image for Bambang Yuno.
276 reviews13 followers
August 5, 2012
Bagus .. sisi lain Amien Rais dari sudut pandang putrinya sendiri, digambarkan dan diceritakan secara sangat objektif, dan membuat kita yang membacanya mungkin akan segera teringat dengan orang tua kita masing2..

Saya sendiri pun pada saat membaca buku ini, langsung teringat almarhum bapak dan ibu saya, dan bagaimana beliau berdua membesarkan dan membimbing 5 orang anaknya, dengan penghasilan yang dibilang "cukup" dari menjadi PNS (guru) dan sedikit usaha kost-kost an di Jogja..

Bagus ...
Profile Image for Nur Islah.
67 reviews6 followers
November 28, 2015
Jika melihat di TV, Pak Amien Rais terkesan garang menentang kebijakan2 yang merugikan rakyat. Ternyata beliau sudah puluhan tahun menjalani puasa Daud, konsisten dan tidak pernah membatalkan puasanya.

Buku ini menceritakan banyak sisi lain Pak Amien Rais yang mungkin tidak ditahu publik (saya aja kaliii hehehe) ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais sebagai persembahan seorang anak yang sangat mencintai Bapaknya.
Profile Image for Siti Awaliyah.
91 reviews1 follower
May 18, 2012
Saya bertambah kagum dengan tokoh politik kita yang satu ini. Di tengah kesibukannya masih sempat menanamkan dan mengajarkan ilmu2 dan kebaikan serta kehangatan di keluarga dan putri2nya...
Saya merasa tertampar2 khususnya pada bagian2 di mana perusahaan2 asing menguasai lahan2 sumber daya alam Indonesia terbesar, seperti freeport di papua, exxon mobil di cepu, chevron di Riau,,,,oh negeriku...
Profile Image for Debby.
6 reviews
February 26, 2015
Barusan selesai mengkhatamkan buku ini.
Sangat inspiratif. Saya seperti mengenal sosok Bapak Amien Rais secara lebih personal.
Hanum Rais bertutur dengan bahasa yang sangat komunikatif.
Terharu saat tahu bahwa buku ini adalah hadiah ultah dari Hanum Rais untuk ayahnya, Bapak Amien Rais.
So sweet.....
Profile Image for Bunga Mawar.
1,361 reviews43 followers
August 22, 2010
Kata Hanum, karena dia anak Amien Rais, maka pasti akan ada yang menilai dia subjektif ketika menulis tentang bapaknya. Kata Vera, biarin aja subjektif. Vera sendiri karena sejak SMP udah jadi fans Amien Rais, juga boleh subjektif dong ngasih buku ini bintang 4... :)
Profile Image for Bintang.
3 reviews
March 4, 2015
Buku yang sangat inspiratif. Mba Hanum, dibuat film dong mba buku yang ini.
Kan yang 99 cahaya sudah. sebentar lagi Bulan Terbelah.
Ini tidak kalah bagus mba ceritanya.
Ditambah kisah roman Bapak dan Ibu Amien Rais, pasti lebih bagus.
Ditunggu filmnya ya mba...:)
Profile Image for Sari Suharlan.
23 reviews5 followers
August 21, 2010
melihat dari sudut pandang seorang anak terhadap kiprah ayahnya di dalam organisasi dan negara.
Profile Image for Rahma.
139 reviews8 followers
October 27, 2011
bagus sekali..., buat aku yg paling haru di halaman 36-37..
3 reviews
January 10, 2015
ceritany sungguh menyentuh sekali..
sy tdk menyangka pak amien ternyata seorang ayah yg sangat hebat...
Profile Image for Anto.
2 reviews
January 13, 2015
buku ini bagus banget
jadi tahu sisi lain pak amien rais
Profile Image for Dinda.
2 reviews
January 28, 2015
membaca novel ini seperti melihat sisi lain seorang amien rais
menurut saya buku yang recomended
Profile Image for Nuri.
3 reviews
March 5, 2015
Suka banget bagian pas Hanum lagi lomba ngaji, dapat surprise ditonton Ayahnya.
Itu so sweet bgt....
Profile Image for Febri.
3 reviews
February 24, 2015
Buku ini isinya sangat bagus. Kagum dengan sosok Amien Rais. Seorang Bapak bangsa yang sangat bersahaja. Penyayang kepada keluarga dan anak2nya....
Recomended banget lah....:)
Profile Image for Rian.
2 reviews
March 5, 2015
Tidak menyangka kalau buku ini ternyata merupakan hadiah ultah dari seorang Hanum Rais kepada ayahnya, Bapak Amien Rais. So sweet.....
Profile Image for Irvan.
2 reviews
March 14, 2015
Jadi lebih mengenal sosok Amien Rais. Ternyata dibalik sangarnya beliau dalam dunia politik, beliau adalah seorang ayah yang hangat.
Aku jadi kangen ayahku.....
Profile Image for Dwi.
3 reviews
March 14, 2015
Ceritanya bagusss banget. Menyentuh...
Profile Image for Elvira Rosalina.
27 reviews6 followers
September 27, 2011
mmmm...he's just a man,but as always...reminds me to my father :), thanks for this great book
Displaying 1 - 30 of 30 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.